
^
^
"Ya tuhan segar nya!"Ucap Hila pelan ketika membuka jendela kamar nya yang langsung memperlihat kan halaman samping rumah yang memperlihat kan rimbur nya pepohonan.
Sinar matahari masih malu-malu terlihat, semilir angin pagi yang sejut masuk menembus tirai putih tipis yang membentang di jendela kamar nya.
Setelah duduk lama di tepi ranjang menghadap ke arah luar cukup lama, menghirup dalam segar nya udara pagi, Mahila pun bangkit dan segera duduk di meja rias untuk segera mengering kan rambut basah nya yang masih terlilit handuk.
Suara mesin hairdryer mulai terdengar, wangi strawbarry mulai menyeruak ketika Hila menyugar rambut pendek nya yang mulai mengering.
Rangkaian make up di poles kan di wajah cantik Hila setelah selesai dengan rambut nya, kemudia segera berganti pakaian ketika merasa semua nya sudah selesai.
—Ceklek...
Gadis dengan stelah kerja nya keluar dengan wajah ceria nya, berjalan pelan menuju dapur sambil terus menatap layar ponsel dan berbalas pesan dengan pria yang baru kemarin di temui nya.
"Selamat pagi mah, pak?"Sapa nya sambil tersenyum dan duduk di kursi berdampingan dengan sang ayah.
"Selamat pagi."Jawab Indra dengan ekspresi datar nya.
Ahh, bapak masih marah! umpat nya dalam hati.
"Selamat pagi anak mamah."Sahut Arina tersenyum."Mau sarapan atau di bikinin bekel?"Tanya Arina.
"Sekarang sarapan mah, masih sempet kok!"Ujar Hila.
Arina mengangguk, kemudian membawa beberapa piring ke atas meja makan, mengisi setiap piring dengan nasi kemudian di letakan di hadapan Hila dan suaminya Indra.
"Lauk nya silah kan ambil sendiri-sendiri."Arina berkata sambil mendudukan dirinya.
Hila mengangguk, lalu membawa telur ceplok dengan racikan bumbu kecap sang ibu, tidak lupa Hila juga menyendok sayur bayam jagung yang berada di dekat nya.
Suasana pagi ini hening, sibuk dengan sarapan nya masih-masing, atau mungkin ada hal lain sehingga membuat dua wanita itu merasa gugup dan memlilih untuk diam.
"Bapak berangkat duluan!"Tukas Indra kemudian bangkit sambil meneguk segelas air putih hingga tandas.
Mahila dan Arina mengangguk, tidak ada yang bersuara selain menatap punggung ayah nya yang muali berjalan menjauh di antar Arina sampai teras seperti biasa.
Dengan cepat Hila segera menyelesai kan sarapan nya, lalu meminum segelas air perlahan sampai habis.
"Sudah selesai?"Arina kembali duduk di hadapan Hila.
"He'em, Hila berangkat ya mah!"Hila bangkit, meraih tas kecil nya yang tergeletak di samping meja makan nya.
"Mah, bapak masih marah!"Gumam nya pelan.
"Tidak, hanya sedikit kesal mungkin karena putri bungsu nya mulai di dekati orang!"Jelas Arina kembali yang terus tersenyum.
__ADS_1
"Mamah selalu bilang nggak, tapi nyata nya bapak memang sedang marah pada ku!"Cicit Hila pelan."Aku berangkat ya, bye!"Hila beranjak dengan tangan yang melambai ke arah ibu nya.
^
^
"Nggak sarapan?"Tanya Nanda kepada Aksa yang berjalan melewati meja makan ke arah dispenser untuk membawa air hangat di gelas yang ia bawa dari kamar.
"Hemph,... ada banyak pekerjaan, nanti saja di sana kalau sempat aku akan sarapan."Jelas Aksa kemudian meminum air nya sampai habis.
"Aku berangkat dulu bu."Pamit nya.
—Cup.
"Kamu baik-baik saja?"Tanya nya kepada Aksa.
Aksa mengangguk.
"Tentu bu, aku selalu baik bukan!"Sergah nya kembali.
Nanda hanya mengangguk, membiarkan putra nya segera betanjak pergi.
Setelah Aksa mencium pipi Nanda, pria itu berjalan ke arah luar dengan tas, kunci mobil dan jaket yang berada di tangan nya.
"Aksa berangkat ya yah?!"Pamit nya kepada pria yang sedang duduk di teras depan rumah.
"Ya, hati-hati! jangan memacu mobil mu terlalu cepat!"Cicit Raksa.
Aksa mulai memundur kan mobil nya perlahan, kemudian melaju dengan kecepatan rendah.
PIM...PIM...
Aksa menekan klakson mobil, ketika melewati pos security dan mendapati Indra yang sudah berada di sana.
Pria itu mengangguk dengan senyuman nya seperi biasa.
"Seperti nya Aksa sedang tidak baik-baik saja!"Jelas Nanda yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu rumah nya.
Raksa menoleh, menatap ke arah istrinya penuh tanya.
"Maksud nya apa bu? Aksa terlihat sehat."Ucap Raksa.
"Bukan badan nya, tapi hati nya."Jelas Nanda.
"Anak muda wajar seperti itu! biar kan saja nanti juga tidak lagi."Ujar Raksa.
Nanda menghela nafas nya pelan.
"Ayah ini nggak pengertian sekali, dia nggak berani ngomong sama ibu karena ibu prempuan, coba tanya sama ayah, kalian kan sama-sama laki-laki, jadi bisa saling mengerti."Sergah nya dengan nada sedikit kesal.
__ADS_1
^
^
—Brugh...
Aksa turun dari Fortuner hitam milinya, setelah puluhan menit mengendarai mobil di jalanan kota yang sealu terlihat padat dan menimbulkan ke macetan di mana-mana.
Langkah kaki Aksa berjalan ke arah gudang, di mana sedang ada truk besar dan beberapa pekerja menurun kan muatan air kemasan galon.
"Pak apa kabar?"Tanya supir truk tersebut.
"Saya baik, berapa truk yang di pesan Irfan?"Tanya Aksa.
"Hanya dua, dan ini yang terakhir."Sahut nya.
"Irfan nya di mana?"Tanya Aksa.
"Ada di kantor pak!"
Aksa mengangguk.
"Saya ke ruangan saya dulu."Pamit nya undur diri kemudian di angguki para karyawan nya.
—Ceklek..
Aksa menekan handle pintu, kemudian membuka nya perlahan, sampai terlihat Irfan yang sedang berkutik di hadapan meja komputer.
"Apa ada ke sulitan?"Tanya Aksa.
"Sejauh ini tidak, hanya cara mengetik saya masih lambat karena belum terbiasa."Jelas nya sambil terus mencatat data realisati dengan jemari tangan yang masih terlihat kaku.
"Kalo ada apa-apa kamu bisa keruangan saya!"Aksa berujar.
Irfan mengangguk.
Aksa pun kembali keluar dari ruangan yang saat ini sudah di isi Irfan, menutup pintu mya kembali lalu berjalan ke arah ruangan pribadi milik nya.
—Klek..
Ruangan nya nampak gelap, kemudian Aksa metaih saklar lampu setelah menutup pintu ruangan nya kembali.
"Hah,....Astaga kenapa aku lemah sekali dengan Hila, bisa-bisa aku tidak bersemangat hanya karena memikir kan dirinya!"Gumam Aksa sambil menyandar kan punggun nya di sandaran kursi.
Bayang-bayang Hila yang semalam di antar seorang pria terus menghantui nya, sampai Aksa tidak bisa tidur nyenyak dan tidak berselera untuk makan.
Beberapa kali Aksa memeriksa salah satu penghubung nya dengan Hila, namun sayang status nya masih di blokir oleh sang pemilik nomer.
"Lagi-lagi dia membuat hidup ku tidak tertata dengan baik, membuat ku selalu memikir kan banyak hel tentang nya."Gumam Aksa dengan raut wajah sedikit kacau dan frustasi.
__ADS_1
...TBC🌿🌿🌿...
...Jangan lupa! like, vote, tips, hadiah, dan komen nya......