Mahila Arindra.

Mahila Arindra.
Hadiah.


__ADS_3

🦋


🦋


Cukup lama Aksa dan Hila berada di butik tersebut, melihat-lihat dan memilik dari sekian banyak nya model dan warna akhirnya Hila dan Aksa memilih dua baju untuk hari bahagia nya nanti.


Kedua nya keluar dari butik dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia, dan jemari tangan yang terus terpaut satu sama lain.


–Dreuk..


Aksa membuka kan pintu mobil untuk Hila.


–Cup..


"Terimakasih."Hila mencium pipi Aksa dengan bibir yang terus tersenyum.


Aksa tidak menjawab, wajah nya hanya sedikit terlihat memerah dengan senyum malu kemudian menutup pintu di sebelah Hila.


Ya ampun gadis ini kenapa selalu membuat jantung ku berpacu lebih cepat! gumam nya sambil menggeleng kan kepala, kemudian masuk.


Fortuner hitam milik Aksa mulai melaju, meninggal kan parkiran butik yang cukup luas menuju jalanan utama.


"Langsung pulang?"Tanya Hila sambil melirik pria di samping nya.


"Kita ke suatu tempat dulu, setelah itu kita ke toko mas, lalu pulang."Jelas Aksa tampa mengalih kan pandangan karena lalu lintas di depan nya cukup padat.


Mahila mengangguk, merebahkan punggung nya di sandaran kursi dengan pandangan yang juga lurus ke depan.


Mereka hanya terdiam, hanya alunan musik yang terdengar sedikit keras mengusir keheningan di antara kedua nya.


Mata Hila terlihat sayu, pandangan nya sudah tidak fokus sampai beberapa kali terlihat mengerjap karena mengantuk.


Aksa tidak menyadari nya, pria itu terus menatap ke depan dengan telapak tangan yang terus mencengkram setir mobil di hadapan nya.


Dua puluh menit berlalu, akhirnya Aksa sampai di salah satu gedung apartemen mewah.


"Sa,...


"Loh,..sejak kapan kamu tidur?"Aksa tersentak ketika ia memiring kan tubuh nya dan mendapati Hila yang sudah terlelap dengan mulut yang sedikit terbuka.


Pria itu terdiam, menatap lekat wajah yang juga terlihat sangat lelah, maklum saja, beberapa kali Hila ikut mencari tempat yang akan mereka pakai untuk menyelenggarakan pesta pernikahan nya sampai mereka berdua pulang hampir larut malam.


Tampa di sadari sudut bibir nya terangkat, tangan nya menyingkir kan rambut yang menghalangi wajah Hila, menyibakan nya ke pinggir di daun telinga.


Mata itu mengerjap ketika merasa ada yang menyentuh pipi nya.


Pandangan pertama yang Hila lihat adalah wajah Aksa yang sedang tersenyum, sambil terus mengusap pipi nya penuh kasih sayang.


"Hay sayang!"Sapa nya berbisik.


Hila berusaha menyadar kan diri, dengan mengerjap kan mata beberapa kali untuk membuang rasa kantuk nya.


"Sudah sampai?"Hila mengucek mata nya.


"Sudah, dari tadi kita sampai tapi mana tega aku membangun kan bidadari yang sedang tertidur nyenyak."Ujar Aksa.


"Maaf."Ucap nya lirih.


Aksa menggeleng kan kepela."Tidak apa, kamu pasti sangat lelah."Aksa tersenyum.


"Yasudah ayo kita turun!"


Hila mengangguk, kemudian meraih handle pintu si samping nya dan segera turun.


Aksa berjalan ke arah Hila, meraih telapak tangan nya kemudian menggenggam nya kembali. Kedua nya berjalan ke arah lobby, masuk da mencari pintu lift.


"Mau nemuin siapa ka,..temen atau rekan bisnis?"Tanya Hila ketika mereka berada di dalam kotak besi yang sedang naik ke lantai lima belas.


Aksa melirik ke Hila yang berada di samping sambil mendongkak memandang nya penuh tanya.


"Ada sesuatu."Aksa tersenyum tipis.


TING..


Aksa langsung menarik tangan Hila keluar dari lift, berjalan di lorong mencari pintu unit yang akan di hampiri Aksa.


Langkah kaki nya berhenti, kemudian merogoh saku dan membawa dompet lalu memgeluarkan kartu akses unit tersebut.

__ADS_1


Plip..


Nampaklah sebuah ruangan yang cukup luas dengan desain yang elegan, kaca besar yang terpampang memperlihat kan kota dari ketinggian di antara gedung-gedung tinggi lain nya.


Kedua nya berjalan masuk, menatap ruangan yang di dominasi warna putih.


Pria itu melepaskan genggaman tangan nya, lalu membalikan badan dan menatap Hila yang nampak kebingungan.


"Ini untuk mu!"Aksa tersenyum.


"Hah,..


Hila tertegung.


"Ini akan ku jadikan mahar untuk mu."Aksa mengulangi perkataan nya.


Raut wajah Hila benar-benar terkejut, sampai gadis itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Sayang?"Panggil Aksa.


"Iya,.. aku terkejut ka!"Cicit nya pelan.


"Kamu suka?"Tanya Aksa.


Hila mengangguk.


"Senang?"


Hila mengangguk lagi.


Aksa tersenyum, kemudian melangkah mendekat dan memeluk tubuh Hila erat.


"Kenapa kamu se-terkejut itu sayang, ini belum seberapa."Ucap nya berbisik tepat di telinga Hila.


"Aku hanya bingung harus berkata apa, selain terimakasih."Sahut Hila.


Kedua tangan Aksa menyentuh bahu Hila, mendorong nya pelan agar bisa kembali menatap wajah cantik di hadapan nya.


"Mau lihat ruangan lain?"Tawar Aksa yang langsung di angguki Hila.


Pertama Aksa membawa Hila ke arah pantry, memperlihat kan dapur yang terlihat sangat mewah dengan pasilitas yang ada, dan selalu berlapis marmer hitam.


"Apa pasilitas nya sudah se-mewah ini sayang?"Tanya Hila.


"Iya, aku mencari nya tepat setelah kamu datang lagi ke hidup ku."Jelas Aksa.


"Kamu berlebihan sayang!"Cicit Hila.


"Tidak, mana mungkin aku tidak memberi mu hal istimewa sedangkan aku memberi semua yang Yuna mau."Sergah pria itu, namun Aksa langsung menutup mulut nya rapat setelah menyadari kesalahan nya.


Gadis itu menatap nya tajam, seolah tidak suka Aksa mengingat masa lalu nya bersama Yuna yang sudah melakukan banyak hal.


Langkah kaki Hila berjalan ke arah sofa hitam besar yang ada di kamar, kemudia duduk dengan raut wajah yang sudah berubah.


Aksa menyusul, pria itu langsung duduk di sebelah Hila yang sudah nampak marah.


"Kamu marah?"Tanya Aksa.


"Tidak! wajar saja kamu memberikan semua nya, toh kaka juga mengambil keperawanan nya bukan?"Ucap nya ketus.


Aksa tersenyum.


"Kamu cemburu?"Goda Aksa yang mencondongkan tubuh nya untuk lebih mendekat pada Hila.


"Cih,..cemburu apanya, aku tidak cemburu kepada wanita yang sama sekali tidak di cintai calon suamiku!"Hila terus menatap ke arah lain.


Aksa menyeringai, dengan tubuh yang terus mendekat sampai Hila bergeser beberapa kali namun terhenti karena sudah terbentur ujung Sofa


"Kamu sedang cemburu sayang!"Aksa berbisik dengan senyum nakal nya.


Ke adaan hening, dengan pisisi Hila yang sudah berada di bawah kungkungan nya.


"Apa aku boleh melakukan nya sekarang Hila?"


Dengan cepat Hila menggeleng kan kepala, mendorong dada Aksa sekuat tenaga untuk menolak nya namun nihil.


"Jangan sekarang ak,..

__ADS_1


Suara nya terhenti ketika Aksa langsung meraup bibir Hila, menyesap nya pelan dengan tangan yang sudah menyentuh perut Hila yang terlihat karena kaos yang di kenakan nya sedikit naik ke atas.


"Ngghhh,.."Hila melengguh, ketika sudah merasakan sesuatu yang sudah menyeruak di dalam tubuh nya seperti aliran listrik bertegangan tinggi.


Aksa melepas kan pautan nya sesat, menjauh kan pandangan nya sampai kedua mata nya kembali saling memandang.


"Aku mengingin kan nya Hila!"Suara nya parau dengan mata yang terlihat sayu karena kabut gairah yang sudah menguasai nya.


Hila tidak menjawab, mata nya hanya terus menatap pria di atas nya yang sudah mulai menari kaos yang di kenakan Aksa sampai tubuh atletis itu terpampang nyata.


Akal sehat nya meluap entah kemana, bibir nya terasa kelu ketika Hila ingin mengatakan tidak.


Aksa tersenyum, kemudian membungkuk dan menarik kaos yang di kenakan Hila, sampai memperlihat kan bra berwarna hitang yang menutupi aset kembar berharga milik nya.


Aksa memandang nya dengan wajah berbinar, ini bukan pertama kali nya Aksa melihat benda seperti itu, namun milik Hila benar-bener membuat nya gila, apalagi kain berwarna hitam itu kontras dengan kulit putih milik gadis cantik nya.


"Seksi!"Ucap nya dengan suara pelan namun terdengar sangat seksi.


Aksa kembali memangut belehan kenyal milik Hila, permainan nya mulai berbalas ketika Hila mulai merangkul bahu Aksa erat.


Suara erotis yang di hasil kan dari petukaran saliva itu terdengar jelas, bersahutan dengan Hila yang beberapa kali mendesah dengan tangan yang terus meremas dada bidang Aksa.


Tangan Aksa kini beralih kebawah, mencari pengait celana jeans untuk segera membuka nya, nahas suara dering ponsel membuyarkan semua nya.


Aksa berhenti sesaat, merogoh ponsel yang berada di dalam saku celana nya.


"Ibu."Ucap nya pelan, lalu menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan suara dari Nanda.


–Iya bu?


",....


–Iya ini sudah di jalan pulang!


",...


–Iya ini juga mau mampir ke toko emas bu.


",...


–Iya.


Aksa kembali menjauhkan ponsel dari telinga nya, dan langsung memasukan ke dalam saku celana jeans nya kembali.


–Cup..


–Cup..


–Cup..


Aksa menghujani bibir Hila dengan kecupan, lalu bangkit dan berjalan ke arah di mana kaos nya tergeletak dan segera memakai nya.


"Ibu menyelamat kan mu sayang!"Cicit nya sambil terkekeh pelan.


Hila langsung bangun, membawa kaos nya dan segara memakai nya kembali.


"Kita pulang sayang!"Aksa mengulur kan tangan nya yang langsung di raih Hila.


"Aku harus memberi hadiah kepada ibu karena sudah menyelamat kan ku."Sergah Hila.


"Ya,..hadiah cucu."Timpal Aksa.


"Dasar bad boy!"Hila mencubit pinggang Aksa.


Pria itu meringis, namun tetap menuntun Hila keluar dari apartemen yang baru saja di beli nya untuk Hila.


...TBC💮💮💮...


...Jangan lupa! like, vote, dan komen....


...Lemparin bung sama kopi juga yah!!...


...☕☕☕...


...⚘⚘⚘...


__ADS_1



__ADS_2