
Klek!!
Pintu ruang rawat Hila terbuka, kemudian munculah seorang perawat dengan sesuatu yang ia bawa dan di letakan nya di atas nakas.
Prempuan itu terlihat menatap sekitar, lalu kembali menatap Hila dan memeriksakan cairan infus yang hampir habis.
"Ibu Hila!"ucap nya sambil tersenyum ketika Hila mulai mengerjapkan mata.
"Saya ganti infusan nya yah, sekalian ada obat juga yang harus saya suntikan."ucap nya kembali.
Hila yang masih merasa ngantuk pun hanya mengangguk, sambil terus berusaha mengumpulkan kesadaran nya.
"Keluarga nya kemana bu? kenapa tidak ada yang menunggu! untung saya cepat datang, kalau tidak, infusan nya habis. Dan nggak ada yang tau!"
"Suami saya sedang keluar membeli sarapan Sus!"sahut Hila.
Perawat itu hanya mengangguk, sambil terus menyiapkan jarum suntik.
"Agak sakit ya bu!"kata nya.
"Ah iya!"Hila kembali mengangguk, dengan pandangan yang terus tertuju pada jarum suntik yang sedang berada di selang infus nya.
"Kok gatel ya, Sus?"
"Iya, kaya banyak semut yang jalan yah?"
"Iya."Hila sedikit tertawa.
"Efek obat yang di suntikan memang seperti ini bu."jelas nya. "Kalau begitu saya pamit, kalo ada apa-apa bisa di pencet bell nya."
"Iya Sus, terimakasih."Hila menatap ke arah nya, lalu tersenyum.
Perawat itu menganggukan kepala, dengan senyum tipis yang terus terpancar.
"Semoga lekas sembuh."perawat itu berujar, kemudian segera beranjak setelah mendapat anggukan dari Hila.
Pandangan Hila mengedar ke setiap penjuru ruangan, kemudian ingatan nya malam tadi kembali teringat, ketika Aksa pergi setelah menerima telfon tampa meminta izin terlebih dulu.
"Entahlah, aku harus bagai mana sekarang!"prempuan itu bergumam, lalu mengalihkan pandangan nya ke arah jendela.
Klek!
Suara pintu ruangan nya kembali terdengar di dorong dari arah luar.
Sontak pandangan Hila tertuju ke arah sana.
"Hay!"sapa nya dengan senyum canggung.
Hila hanya terdiam, dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan.
"Aku di titipin ini sama mama kamu."jelas nya sambil terus berjalan masuk dengan rantang makanan di tangan kanan nya.
"Kamu sendiri, kemana suami kamu?"ucap nya kembali sambil meletakan rantang yang di bawa nya di atas nakas samping tempat tidur Hila.
Hila mengangguk, dengan senyum tipis di bibir nya.
"Boleh duduk?"suara nya terdengar lembut.
Hila kembali mengangguk.
"Duduklah."kata Hila.
"Terimakasih sudah mau repot-repot membantu mama dan juga aku waktu itu."Hila berujar.
Abiyasa tersenyum.
__ADS_1
"Anggap saja itu permintaan maaf atas perbuatan buruk ku di masa lalu."pria itu menundukan pandangan nya.
Jelas ia merasa malu atas apa yang pernah ia lakukan kepada Hila, walau keadaan nya mabuk saat itu, tapi memori di kepala nya, seolah terus berputar dan mengganggu nya setiap saat.
"Aku menyesal, aku bodoh dan tidak pernah berpikir panjang."Abi menatap Hila sendu.
"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu."
"Sekali lagi maaf!"
Hila pun kembali mengangguk.
"Emm,..boleh minta bukain bekel nya nggak sih? aku jadi laper pas tau itu masakan mama."Hila tersenyum canggung.
"Tentu saja boleh."Abi langsung meraih dan segera membuka bekal yang Arina titipkan kepada dirinya.
"Wahhh! wangi nya enak."Hila tersenyum bahagia.
"Aku menunggu ini dari subuh. Sejak semalam tante Arina menghubungi ku untuk mengantar bekal ini, kata nya bang Yoga sibuk, Aksa juga pasti pergi kerja, sementara dia masih harus mengerjakan banyak pekerjaan rumah, dan menguruh bapak mu tentu nya."jelas Abi.
"Ini, makanlah yang banyak."Abi memberikan nasi tim ayam, serta meletakan kembali beberapa wadah isi buah dan cemilan pasar.
"Kamu mau?"Hila menatap Abi.
"Aku udah tadi."Abi berujar sambil tergelak pelan.
"Ohh! gimana?"
"Apa nya?"Abi terlihat bingung.
"Masakan mamah enak bukan?"
"Hmmm,...enak sekali."Abi bergumam.
"Aksa sudah berangkat kerja sepagi ini?"Abi kembali bertanya. "Padahal kamu lagi sakit loh, masa dia tega sih!"ujar Abi kembali.
"Makan dulu aja, nanti kalo mau cerita aku dengerin."kata nya kepada Hila yang langsung di jawab anggukan prempuan berwajah pucat itu.
Hila menikmati setiap suapan nasitim ayam yang ibu nya buat khusus untuk dirinya. Seketika pikiran nya tentang Aksa memudar.
"Haduh kenyang."Hila meletakan makanan nya di atas nakas, lalu membawa borol air mineral yang terlihat sudah tersisa setengah.
"Masih sisa banyak itu!"ledek Abi.
"Dari dulu makan ku emang sedikit Bi!"Hila tersenyum, lalu meletakan botol air nya kembali ke atas nakas.
Obrolan dan candaan mengalir begitu saja, tampa Hila sadari ia terus tertawa dengan cerita Abi ketika ia berbuat buruk kepada Hila.
"Iya,..ibu jewer aku kenceng banget, mana di pukul sapu lagi, kata ibu dia malu sama tante Arina."
Hila hanya tertawa kencang dengan cerita yang ia dengar dari Abi. Hingga Abi lupa untuk berpamitan, dan hampir 3 jam ia menemani Hila di dalam kamar rawat nya hanya berdua.
"Ngapain lo disini!"suara Aksa tiba-tiba terdebgar.
Seketika pandangan Abiyasa dan Hila pun tertuju ke arah pintu, dimana Aksa berdiri dengan wajah yang terlihat merah padam karena amarah nya.
Abiyasa yang saat ini tengah terduduk si samping tempat tidur Hila pun langsung berdiri, ketika melihat Aksa berjalan cepat ke arah nya dengan amarah yang sudah berkobar.
Bug!
Bug!
Pukulan bertubi-tubi Aksa berikan tepat di pipi dan perut Abiyasa.
"Aaaaa,...stop!"Hila bergeriak histeris.
__ADS_1
"Bisa-bisa nya lo manfaatin ke adaan, ba*gsat!"Aksa berteriak.
"By udah, kasian dia cuma nganterin makan buat aku."Hila berteriak.
Namun ia terlihat bingung, bangan mana cara nya melepaskan Abiyasa dari amukan suaminya.
Lalu Hila menatap ke arah tombol yang tersedia tepat di atas tempat tidur nya.
"Gua tinggal sebentar aja lu udah maju satu langkah yah!"Aksa kembali berteriak.
Namun bukan nya melawan, Abi hanya berusaha terus menghindar tampa perlawanan, meski pukulan terus mendarat tepat di tubuh nya.
"Bapak tolong hentikan, ini rumah sakit!"tegas perawat yang baru saja tiba dengan raut wajah yang terlihat panik.
Aksa yang mencengkram erat kerah baju Abi pun melepaskan nya begitu saja.
"Ada apa ini, sebaik nya kalau ada masalah bisa di selesaikan dengan kepala dingin, ini rumah sakit pak, kasian bu Hila sedang berusaha pulih dari sakit nya."ucap perawat itu lembut.
Aksa dan Abiyasa hanya terdiam.
"Sus, terimakasih!"Hila tersenyum mengisyarat kan ia boleh segera pergi.
"Baiklah, maaf ya pak. Kalau terjadi keributan lagi terpaksa saya akan memanggil security."jelas nya kemudian berjalan ke arah luar dan pergi.
"Apa maksud dan tujuan lo?!"
"Hanya mengantar makanan yang di titipkan tante Arina."jawab Abi santai.
"Minta maaf sama Abi!"
Sontak Aksa menatap Hila.
"Kamu bela dia?"ucap nya dingin.
"Bukan bela, tapi kamu udah salah sangka!"
"Hila ayolah, kamu jangan membuat pikiran ku semakin kalut. Tidak bisakah kamu jaga diri selagi aku ada kepentingan!"
Deg!
Hati Hila terasa sesak.
"Maksud dengan omongan mu itu apa?"Abi menyela.
"Jangan ikut campur!"
"Hila nggak ngelakuin apapun, dia cuma makan masakan tante Arina yang dia titipkan."sergah Abi.
"Ck! alasan."
"Sesungguh nya mau mu apa? kamu pergi dan meninggalkan ku begitu saja, tapi ketika ada orang lain yang membantu merawat ku kau marah!"
"Yuna mengalami pendarahan Hila!"suara Aksa meninggi.
Aksa tampa sadar membentak Hila.
Hila yang mendapat bentakan dari suaminya pun hanya memejam kan mata.
"Nasib anak ku di ujung tanduk, Mahila! maka bisakah jaga dirimu untuk ku, dan berusahalah menjauhkan diri dari pria mana pun!"
"Termasuk aku?!"
Teriak seseorang di ambang pintu.
Bersambung.....
__ADS_1
Hayoloh siapa?☺