
Satu minggu berlalu.
Sore hari tepat nya pukul 17:00, Aksa tampak berlari menuju mobil nya yang terparkir tidak jauh dari ruangan yang di tempati nya, dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia.
Ya, hari ini dia akan kembali mengunjungi Hila yang masih tinggal bersama kedua orang tua nya.
"Fan, saya duluan!"pamit nya kepada Irfan yang masih terlihat duduk di kursi berhadapan dengan layar komputer yang menyala.
Pria itu mengangguk.
"Oh ya, hari ini barang turun kah?"
"Iya, saya pesan satu truk dulu buat isi stok di gudang."kata nya yang langsung di jawab anggukan oleh Aksa.
"Kalo mau roko sama makan, potong aja dari setoran yah! Masukin ke pembukuan, saya duluan Fan."pamit nya lagi.
Suara mesin mobil itu mulai terdengar, lalu melaju perlahan keluar dari tempat dimana dia mendirikan usaha nya.
Aksa terus melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang. Kemudian merogoh ponsel milik nya dan segera melakukan panggilan suara ke pada Hila.
[Iya by?] suara lembut istrinya di sebrang sana.
"Aku udah di jalan pulang."Aksa berujar.
[Iya sayang, hati-hati!]
Aksa mengangukan kepala, seolah prempuan itu melihat nya saat ini.
"Tunggu yah, mau di bawain apa? biar sekalian."
[Nggak usah, mama udah masak.]
"Baiklah sayang ku, tunggu yah."kata nya, lalu memutuskan panggilan tersebut setelah mendapat jawaban dari istri yang sangat di cintai nya.
...••••...
Suara derum mobil sangat jelas terdengar di telinga Hila, sampai prempuan itu berlari ke arah depan dengan raut wajah yang tampak sangat bahagia.
Entahlah, padahal hampir setiap hari Aksa berkunjung, dan pulang ketika hari sudah berganti. Namun rasa rindu terus saja menghampiri kedua nya.
"Ya ampun, kelakuan anak gadis nya bapak!"Arina menatap suami nya yang tengah duduk di kursi meja makan.
Indra tersenyum, lalu menoleh ke arah belakang, mencoba melihat Hila yang berlari ke arah luar.
"Seperti nya Yoga terlaku keras, kasian Hila harus main petak umpet padahal sama suami nya sendiri."Indra menatap sendu istrinya.
Arina terdiam, meninggalkan masakan nya lalu duduk di hadapan Indra.
"Iya, tapi apa ada yang bisa meluluhkan keras kepala nya Yoga?"
"Nanti bapak coba bicara."jelas Indra.
Klek!
Hila menekan handle pintu rumah nya dengan sangat kencang, lalu pandangan nya mengedar, menatap halaman rumah dekat wajah yang terlihat riang.
"Ka Yoga!"seketika raut wajah nya berubah, ketika melihat mobil Expander silver milik Yoga.
"Kaka ngapain kesini?"ucap nya lalu menatap seseorang yang juga turun dari mobil.
Seorang wanita dengan perut yang sudah sedikit membulat.
"Kaka mu itu, dia ngidam tumis kangkung buatab mamah."kata nya kepada Hila.
"Ka Agni!"Hila tersenyum, lalu berjalan mendekat dan memeluk tubuh kaka ipar nya erat.
"Perut nya sudah besar."Hila mengusap perut Agni.
"Sudah 5bulan."Agni tersenyum.
"Mama, sama bapak lagi apa dek?"Yoga menatap Hila.
"Ada di dalam."jelas nya.
Lalu mereka bertiga pun masuk.
__ADS_1
"Eh, kebetulan mama masak, sini! kita makan bareng-bareng."sambut Arina kepada anak menantu nya.
Agni menganggukan kepala, lalu duduk di kursi meja makan bersama Yoga.
Sesaat Hila terdiam, jantung nya terus berdebar dengan raut wajah yang terlihat gelisah.
"Agni mau tumis kangkung mah!"prempuan itu tersenyum.
"Kebetulan, mamah masak kangkung sore ini."jelas Arina.
Aku telfon ka Aksa aja biar nggak kesini. Prempuan itu bergumam.
Namun ketika ia akan membalikan tubuh, suara mobil kembali terdengar.
Astaga ya tuhan!
"Siapa?"Yoga bertanya kepada Hila.
Hila terdiam.
Klek!
Pintu terbuka, lalu munculah sosok yang saat ini di benci Yoga.
Aksa datang.
"Ngapain kesini?!"Yoga hampir berteriak.
Wajah nya tampak memerah, dengan tatapan tajam yang terus ia tujukan kepada adik ipar nya itu.
"Yoga,...aku...
"Pergi! nggak usah lagi nemuin adek gua, pergi lu!"Yoga sedikit membentak.
"Abang!"Agni meraih tangan suami nya. "Jangan gitu ah! jelek."ucap prempuan itu kembali.
"Aku ke kamar dulu!"kata Hila, kemudian berjalan ke arah Aksa, dan membawa nya kedalam kamar.
"Hila!"Yoga berteriak.
"Sudah! biarkan saja!"Indra mencoba menenangkan putra sulung nya.
"Abang, nanti adek bayi marah kalo ayah nya galak."cicit Agni.
Yoga menoleh ke arah istrinya, lalu terdiam.
"Udah diem, biarin Hila sama Aksa dulu."
"Tapi sayang,...
"Kamu nggak pernah ngerasain sih jauh-jauhan sama orang yang kamu sayang!"Agni mengomel.
"Kamu belain Aksa sih?!"
"Shuttt,...udah berisik!"Agni membungka bibir suaminya itu dengan telapak tangan.
Syukurlah, ada Agni yang bisa menangani keras kepala Yoga! Indra berbicara dalam hati.
Indra bernafas lega.
...••••...
"Tunggu dulu disini, nanti kalo ka Yoga udah nggak marah, baru kita keluar."jelas Hila kepada suaminya yang saat ini duduk di tepi ranjang.
"Aku ke luar yah!"
"Sayang?"
Langkah Hila terhenti, lalu kembai menoleh ke arah belakang dengan satu tangan yang sudah siap menekan handle pintu.
"Hemmm,...kenapa by?"
Aksa bangkit, lalu berjalan mendekat k arah Hila.
"Kita bicara sama ka Yoga, sekalian izin pulang malam ini oke?!"ujar Aksa.
__ADS_1
Pria itu meraih tangan Hila, menggenggam nya erat, dan mereka keluar dari kamar sambil bergandengan tangan.
"By, tapi!"
"Kita hadapi kaka mu bersama, mau sampai kapan kita sembunyi-sembunyi?"kata Aksa sambil terus berjalan, menarik tangan Hila ke arah ruang tengah.
Aksa menarik nafas nya dalam, menyiapkan diri dari keadaan terburuk sore hari ini.
Kaki nya terus melangkah, mendekat kepada Yoga yang saat ini tengah terduduk di kursi meja makan, di temani istri dan kedua mertua nya.
"Aksa?"Indra menatap nya. "Duduk samping bapak!"kata nya lagi sambil tersenyum.
Aksa mengangguk, lalu berjalan ke sisi Indra dengan jemari yang terus terpaut dengan tangan Hila.
"Hah!"Yoga terdengar menghela nafas nya.
"Sejak kapan kamu kembali bersama Hila?"Yoga menatap Aksa.
"Sudah satu minggu, dan hari ini saya meminta izin untuk membawa istri saya Hila, untuk ikut dan kembali pulang ke apartemen."
Emosi Yoga tampak menurut, pria itu hanya terus menatap Aksa, memperhatikan kesungguhan hati suami dari adik bungsu nya itu.
"Biarin aja Hila pulang, kasian kamu misahin mereka berdua."Agni mengusap lengan Yoga, agar membuat pria itu tidak kembali tersulut emosi.
Yoga beralih menatap Agni, lalu ia melihat senyuman yang begitu menenangkan dari bibir istri tercinta nya itu.
"Jangan egois ya ayah!"Agni tersenyum, sambil meletakan telapak tangan Yoga di perut bulat nya.
"Tapi saya mau bertanya dulu!"Yoga kembali beralih, menatap Yoga dan Hila bergantian.
"Yoga! sudahlah nak. Kasian Hila, dia juga ingin menjalin rumah tangga nya seperti kamu."Arina menyela.
Yoga terdiam.
"Aksa?"Yoga menatap nya tajam, tampa ekspresi.
"Ya."
"Kamu tahu kan? soal Hila yang susah hamil lagi setelah keguguran beberapa bulan lalu, karena kehamilan yang terjadi di luar kandungan?"
Aksa mengangguk.
"Tentu saja, Dokter menyampaikan nya dengan sangat jelas."jawab Aksa.
Pandangan kedua nya terus saling beradu.
"Apa kamu akan menerima Hila? seandai nya kamu keberatan, makan kembalikan adik saya secara hormat, tampa harus merusak mental nya terlebih dulu."jelas Yoga panjang lebar.
"Ka Yoga!"Hila menatap kaka sulung nya penuh permohonan.
"Tidak Hila, kaka harus memastikan terlebih dulu, apa dia akan menerima kamu, walau kamu tidak bisa memberi nya anak!"
Indra mengangguk, ke khawatiran nya kini sudah terwakilkan oleh Yoga.
"Tapikan aku masih bisa hamil!"cicit Hila.
"Bapak juga sedikit takut, kamu menginginkan anak dari Hila, sementara keadaan dia sekarang sedikit berbeda."Indra kini menatap pria yang duduk tepat di samping nya.
Tampak raut wajah khawatir dari pria tua itu.
"Apalagi masalah kemarin, bapak sempat berfikir, kamu melakukan itu karena Hila yang tida bisa memberi mu anak."jelas nya kembali.
"Tidak masalah kalau Hila tidal bisa memberiku anak, yang terpenting dia akan selalu ada bersama saya hingga nanti, ya kita menua bersama, layak nya kalian berdua."
Aksa tersenyum, menatap Indra dan Arina bergantian.
"Aku kan masih bisa hamil, ya walaupun susah, tapi kita masih bisa usaha."sambar Hila.
"Baiklah, kalain boleh pulang!"Yoga melunak.
Akhirnya, Hila merasa lega.
Senyum di bibir Hila pun mengembang dengan sangat sempurna.
"Kalo gitu, kita makan sekarang, nanti lauk nya keburu dingin."Arina dengan antusias, kebahagiaan pun tidak bisa Arina sembunyikan, bahkan bibir nye terus tersenyum dengan raut wajah yang terus terlihat berbinar.
__ADS_1
Ig. @_anggika15.
Fb. Anggika Putri Anjani.