
Tok...Tok...Tok...
Arina mengetuk pintu kamar Hila.
"Hila, mama masuk yah?!"ucap nya kemudian menekan handle pintu dan mendorong nya perlahan.
Tampaklah ruangan yang sepi, lalu pandangan nya tertuju pada Hila, prempuan yang sedang tertidur pulas setelah Yoga memberi nya makan dan memberi nya obat.
Arina duduk di tepi ranjang, mengusap kepala putri nya lembut.
"Kaka bukan jahat, dia hanya sedang melindungi kamu dari rasa sakit, meski itu terlambat."kata Arina sambil terus mengusap kepala Hila.
"Mah?"Hila menggeliat.
"Mama membangunkan kamu?"Arina tersenyum.
Hila menggelengkan kepala nya.
"Ka Yoga masih ada?"Hila memandang ke arah pintu.
"Masih, kata nya dia mau bawa kamu ke rumah nya."
"Kenapa? aku mau disini aja."kata Hila.
prempuan itu langsung duduk, dengan raut wajah yang tampak sedikit panik.
Arina tersenyum, tangan nya mengusap lembut punggung Hila.
"Dia khawatir, takut batin kamu terluka."jelas Arina dengan suara pelan. "Setidak nya ikutlah, sampai Aksa bisa menyelesaikan masalah nya."pinta Arina.
Hila terdiam, ia sangat ingin sekali menolak nya. Namun Arina terus menatap Hila dengan penuh permohonan.
"Mama ingin aku jauh dari ka Aksa juga?"
"Tidak, setelah Aksa menyelesaikan masalah dengan wanita itu, maka kami akan menyuruh nya kesini untuk menjemput mu."
"Kalian terlalu berlebihan."Hila menggelengkan kepala nya.
Arina terus menatap Hila, mengusap kepala putri nya itu pelan.
Tiba-tiba saja Mahila memeluk Arina, lalu menangis tersedu-sedu.
"Hila sayang ka Aksa mah! Hila tau ka Aksa tidak berniat seperti itu, dia tidak mau menyakiti Hila, ka Aksa bahkan menagis setiap malam karena merasa bersalah sama Hila mah."prempuan itu terus menumpah kan isi hati nya.
Arina hanya diam, mendengar kan Hila sambil terus memeluk tubuh Hila yang saat ini tampak melemah.
"Nanti mama bicara sama kaka kamu!"Arina mencoba membuat Hila sedikit tenang.
...••••...
Hari demi hari terus berlalu sangat cepat. Kini keadaan Hila sudah semakin membaik, ia bahkan sudah bisa membantu Arina melakukan pekerjaan rumah.
Belum ada kabar dari suami nya, entahlah, saat ini Hila hanya menunggu suaminya menyelesai kan masalah lalu menjemput nya.
Cuaca hari ini kurang baik, di luar sana terlihat hujan lebat di sertai angin kencang.
"Hila?"
Arina membuka pintun kamar putri nya, lalu disanalah, Mahila yang sedang duduk di kursi sambil melihat ke arah luar jendela.
"Mah?"Hila tersenyum.
"Ini coklat hangat."
Mahila tersenyum, lalu meraih gelas berisi coklat panas yang Arina berikan kepada nya.
"Terimakasih mamaku sayang!"Hila tersenyum lebar.
Arina mengangguk. "Mama keluar yah, kalo mau mie bilang aja, nanti mama bikinin."ucap Arina.
Mahila mengangguk, seraya memperhatikan Arina yang sedang berjalan ke arah luar, dan menghilang di balik pintu setelah wanita paruh baya itu menutup nya.
__ADS_1
Pandangan Hila kembali tertuju ke arah luar, memperhatikan setiap tetes air hujan yang turun dengan sangat derah nya membasahi bumi.
Prempuan itu terus meniup coklat panas milik nya, lalu sedikit meminum dan meletakan gelas tersebut di atas meja.
Bibir nya selalu tersenyum, raut wajah nya tampak selalu bahagia, namun ada bagian kosong jauh di lubuk hati terdalam nya.
Ya, dia merindukan Aksa, sosok pria yang sangat di cintai nya.
Aku merindukan nya.
Hila berbisik lirih, kemudian terlihat air mata mengalir deras membasahi pipi.
"Aih,...kenapa aku cengeng sekali."Hila bergumam.
Hila beranjak dari duduk nya, lalu berjalan ke arah tempat tidur. Rasa sesak itu akan menghilang ketika ia tidur.
Hila berbaring, lalu menutupi tubuh nya dengan selimut hingga menutupi wajah.
Dia terdengar merintih, berusaha menahan suara tangisan nya.
"Kenapa ini sangat sulit!"kata Hila. "Cukup bersabar Hila, biarkan suami mu menyelesai kan masalah nya satu-persatu."ucap nya kembali dengan suara tangis yang terus tertahan.
Klek!
Hila langsung terdiam ketika pintu kamar nya kembali terbuka.
"Hila?"panggil Arina.
Hila memejam kan mata nya.
"Kamu tidur nak?"Arina mendekat, menyentuh bahu putri nya. "Yasudah, tidur saja."kata Arina lalu kembali berjalan ke luar.
Setelah Hila tinggal bersama nya, Arina terliha lebih sering menghampiri Hila yang lebih sering berdiam diri di dalam kamar.
Entahlah, ingatan nya tentang Hila yang pernah memotong urat nadi nya terus terngiang-ngiang, hingga ia takut kejadian itu akan terulang kembali.
"Hiks...hiks.. By, aku kangen kamu."Hila berbisik.
Hujan di luar pun semakin lebat, bahkan angin nya terdengat berhembus semakin kencang.
Klek!
Mama bolak-balik mulu, nggak tau apa anak nya lagi pengen nangis.
Hila mengupat dalam hati.
Hila mendengar Arina jalan mendekat, lalu naik ke atas tempat tidur dan berbaring bersama, lalu memeluk nya.
Deg!
Hati nya bergemuruh, ketika ia mencium bau parfume yang sangat ia kenali dan rindu kan.
Hila membuka selimut tebal yang menghalangi tubuh nya, lalu berbalik arah.
Pandangan kedua nya bertemu, lalu Aksa tersenyum.
"Sayang?"Aksa berbisik, lalu mengusap pipi istrinya penuh cinta.
"By,....
Suara Hila memekik, dengan cepat ia memluk tubuh Aksa erat.
Tangisan nya tumpah.
"Jangan nangis!"Aksa mengusap punggung Hila. "Maaf harus membuat kamu menunggu lama!"
Hila menggeleng kan kepala, dengan suara tangis yang sudah tersedu-sedu.
Cup...
Aksa mencium kening Hila.
__ADS_1
"Maaf! seharus nya aku menjemput mu lebih cepat, tapi ada seseorang yang harus aku tenang kan, dia selalu mengamuk ketika aku akan pergi."jelas Aksa.
Hila merenggang kan pelukan nya, mengusap air mata yang terus bercucuran, lalu mendongak menatap wajah Aksa.
"Jangan menangis!"Aksa menyusap sisa air mata di pipi Hila.
Hila menggelengkan kepala, lalu tersenyum.
"Abis potong rambut?"Hila menatap Aksa, lalu menyentuh rambut nya.
Pria itu menganggukan kepala. "Kenapa? masih keliatan nggak terawat yah?"ujar Aksa.
"Nggak, kamu ganteng."ucap nya lalu tertawa.
"Oh ya? kemarin sebelum potong rambut ibu bilang aku seperti gelandangan, yang tidak pernah merawat diri."kata Aksa seraya terkekeh pelan.
Cup..
"I miss you to the moon and back!"kata Aksa setelah mencium bibir Hila.
"Setelah ini kamu pergi lagi?"
Aksa menggelengkan kepala.
"Bagaimana dengan mbak Yuna?"
Aksa menarik nafas, lalu menghembuskan nya perlahan.
"Aku mau kamu, bukan dia."ucap Aksa.
"Bukan nya dia mengamuk?"
"Ya, dia tidak terima kalau kehilangan aku juga!"jelas Aksa.
Hila menjengit.
"Kehilangan kamu juga?"Hila mengulang ucapan suami nya.
"Ya, Yuna mengalami pendarahan, dan bayi nya tidak bisa bertahan."
Hila tersentak.
"Ada dua orang tua yang mengurus nya, sekarang aku hanya akan mengurus kamu, istriku, cintaku, belahan jiwaku, Mahila Arindra Mahiwara."Aksa menatap Hila lekat, lalu membawa tubuh gadis itu kembali kedalam pelukan nya.
Hila menyandarkan pipi nya di dada suaminya, mengendus lalu menghirup bau di tubuh Aksa.
"Jangan begitu, aku belum mandi."sergah Aksa.
"Kamu wangi, dan aku kangen wangi tubuh kamu By!"ucap Hila.
"Iya tapi aku belum mandi."Aksa mengusap pipi Hila.
Hila kembali menata nya.
"Mau mandi bareng?"Hila tersenyum.
"Boleh?"
Hila mengangguk.
"Boleh."kata nya tersipu malu, hingga pipi nya terlihat memerah.
"Baiklah, ayok!"Aksa menarik tangan Hila, lalu membawa nya ke arah kamar mandi.
Kini rasa yang hilang itu telah kembali. Membawa kebahagiaan nya yang sudah berminggu-minggu ini menghilang. Ya Aksa datang membawa semua nya kembali, termasuk gelak tawa yang sudah lama tidak Aksa dengar dari Hila.
Aku mencintai mu Mahila.
...~Aksa~...
Tamat.
__ADS_1
...Mampir ke Novel baru yuk!...