
.
.
.
Setelah mendapat panggilan dari Nanda, kini kedua nya tengah berjalan menuju ruang tamu perlahan. Suara obrolan setiap orang pun sudah terdengar jelas, sampai ketika. Hila terkejut dengan perasaan bahagia ketika mendapati Yoga yang juga ikut duduk bersama Agni dan ibu nya.
"Ka Yoga sama ka Agni juga kesini?"Hila sedikit berteriak.
"Pelankan suara mu! nanti luka cesar nya sakit lagi."Sergah Aksa dengan suara sedikit berbisik.
"Bagaimana dengan luka nya Hila?"Yoga bangkit, lalu berjalan mendekat dan memeluk adik bungsu kesayangan nya.
"Udah agak baikan ka, ka Yoga di kasih tahu bapak? atau kebetulan ada di rumah mamah?"
Yoga merenggangkan pelukan nya, menyentuh kedua bahu Hila, yang kemudian meneliti wajah cantik adik nya lalu tersenyum.
"Malah senyum-senyum!"Tukas Hila.
"Kamu sudah bawel! berarti sudah sembuh."Yoga mengacak-acak rambut Hila.
"Ayo duduk! Hila jangan terlalu lama berdiri."Titah Nanda.
Yoga, Hila dan Aksa pun mengangguk bersamaan, lalu segera duduk di sofa bersama anggota keluarga lain nya.
"Ibu tinggal kebelakang dulu sebentar,...Aksa bisa bantu ibu nak?"
"Bisa bu."Sahut Aksa.
"Tidak usah repot-repot bu!"Ucap Arina.
"Tidak, hanya membawa minuman dan beberapa kue kering jeng."Nanda tersenyum, kemudian beranjak pergi di susul Aksa yang berjalan di belakang nya.
"Mamah! Hila kangen."Rengek Hila manja.
"Dasar,...anak bungsu mamah ini kenapa semakin manja?"
"Biarin!"Cicit nya sambil terkekeh pelan."Bapak?"Hila mencari sosok yang selalu menemani ibu nya.
"Ada di luar sama ayah mertua mu, cantik!"Goda Arina yang langsung mendapat senyuman hangat dari Hila.
.
.
.
"Ayo jeng,...Agni,...Yoga! di minum dan di cicipi kue kering nya."Ucap Nanda sambil meletakan nampan gelas berisi teh tawar hangat.
Setelah membantu Nanda membawakan minum dan kue kering, kini Aksa sudah ikut duduk di samping Hila dan keluarga yang lainya.
"Jadi setelah ini bagai mana Aksa?"Yoga menatap ke arah adik ipar nya.
__ADS_1
"Mmm,...Hila masih harus istirahat total. Dan harus menunda dulu sampai satu tahun."Jawab Aksa.
"Iyalah,...udah nggak usah mikirin kerja Hila! dirumah aja tungguin suami kamu pulang dari tempat kerja nya."Timpal Arina.
"Awal nya Hila emang mau kerja mah,... tapi keadaan Hila emang nggak memungkin kan, ya kali harus izin terus."Jelas Hila.
"Ka Agni gimana? udah isi lagi kah?"Hila tersenyum.
"Kabar baik Hila, setelah kejadian itu sekarang kami sudah di beri kepercayaan kembali."Wajah Agni pun berbinar.
"Wah! selamat ka Yoga."
"Iya Hila, bersabarlah! mungkin setelah satu tahun kamu bisa dapet dua bayi sekaligus."
"Yang penting sehat-sehat semua nya."Cicit Nanda.
"Iya,.. masalah bayi bisa nanti lagi. Toh kalian menikah juga baru beberapa bulan, masih banyak waktu."Sahut Arina.
Perbincangan antara keluarga Hila dan Aksa pun terus berlanjut hingga larut malam. Membahas apapun yang terlintas sesaat di pikiran mereka. Canda tawa pun terdengar begitu hangat di dalam rumah yang selalu nampak sepi itu, hingga setelah jam menunjukan pukul 22:45 akhirnya Arina, Indra bersama Yoga dan Agni pamit pulang.
"Cepat membaik Hila, kapan-kapan kalian mainlah ke rumah kita."Pinta Agni setelah memeluk tubuh nya.
"Iya ka Agni, kalau ka Aksa ada waktu nanti sempetin main."
"Kami pulang ya nak, jangan terlalu banyak pikiran, apalagi kecapean."Pesan Arina.
Hila mengangguk.
"Yasudah terimakasih jamuan malam nya jeng, maaf merepotkan."Pamit Arina pada Nanda.
"Pak Raksa mari!"Pamit Yoga dan Indra bersamaan.
"Mari! hati-hati di jalan, semoga tidak ada apapun yang menghambat kalian."
Keluarga Hila pun masuk ke dalam mobil, kemudian mundur perlahan dan melaju setelah membunyikan klakson terlebih dulu.
"Ayok masuk, Hila harus segera istirahat."Titah Nanda yang langsung di jawab anggukan Hila dan Aksa.
.
.
.
Klek...
Aksa menutup pintu kamar nya perlahan, lalu berbalik arah menatap punggung Hila yang sedang berjalan ke arah tempat tidur.
"By,..ayok sini!"Senyuman indah itu terbit dengan telapak tangan menepuk tempat kosong di samping nya.
Aksa mengangguk dengan senyum tipis yang juga ia perlihatkan.
"Sayang!"Panggil Aksa.
__ADS_1
"Iya?"Hila menatap suaminya yang baru saja duduk di samping nya.
"Mmmm,...
"Kenapa?"Hila meraih tangan Aksa."Aku berhenti bekerja By, jangan di bahas lagi yah, aku nurut kok sama kamu."Jelas Hila.
"Bukan itu sayang!"Aksa merematkan jemari nya di tangan Hila. "Aku ingin jujur, tapi jangan marah ku mohon!"Ucap nya pelan dengan raut wajah yang terlihat sangat gusar.
"Bicara saja By! memang nya kenapa?"Hila masih terus tersenyum.
"Kamu boleh nampar aku,...atau apapun itu. Tapi kumohon jangan pernah berfikir untuk pergi."
Sesaat Hila diam, memandang dalam manik pria yang terlihat berkaca-kaca dan di penuhi rasa takut dan gelisah.
"Apa?"Raut wajah Hila terlihat serius.
"Yu-yuna,..dia...
"Mbak Yuna! kenapa dengan dia?"Tanya Hila penuh penekanan.
"Dia,...dia sedang hamil!!"
Deg..
Hila kembali terdiam.
"Sayang kumohon, aku hanya berusaha jujur padamu, sebelum Yuna berbicara kepadamu."Ucap nya sambil mengeratkan genggaman tangan nya.
Hila masih terdiam, menatap tajam dan penuh ketidak percaya. Namun tampa Hila sadari, air mata nya jatuh begitu saja membasahi pipi nya yang akhir-akhir ini terlihat lebih tirus.
"Aku tahu kamu pasti ma,..
Plak!!
Mata Hila memerah, nafas nya menderu-deru ketika ia melayangkan satu tamparan untuk suaminya.
"Hila!"Ujar Aksa dengan suara yang semakin pelan dan tangan yang terus menyentuh pipi nya yang terlihat memerah.
"Maafkan aku sayang."Aksa penuh permohonan.
"Tidurlah, aku akan menenangkan pikiran ku dulu! setelah itu ayok temui mbak Yuna bersama."Jelas Hila dingin, lalu beranjak pergi meninggalkan Aksa.
Brakk!
Pintu kamar mandi di tutup sangat kencang.
"Aksa kamu bodoh,...bodoh!"Umpat nya pada diri sendiri.
Aksa kembali terdiam, dengan rasa sesal yang memenuhi otak dan hati nya tentu saja. Tidak ada yang bisa dilakukan nya saat ini, selain meminta belas kasih dari Hila agar wanita itu dapat mengerti posisi nya sekarang.
.
.
__ADS_1
.
.