
Pandangan Hila dan kedua pria yang sedang bersitegang pun langsung tertuju ke arah suara.
Dan terlihatlah, seorang pria yang sedang berdiri tegap, dengan tatapan mata tajam sambil mengepalkan tangan.
"Kau sedang membicarakan anak siapa Aksa?!"cecar nya dengan pandangan yang terus menatap tajam suami dari adik nya tersebut.
Kedatangan Yoga yang tiba-tiba membuat Hila terlihat panik, hingga Hila turun dari tempat tidur nya dengan satu tangan yang mendorong gantungan infus yang terus menempel di tangan nya.
"Kaka, kapan datang?"ucap nya sambil tersenyum.
Sesaat mata Yoga melirik Hila, namun kembali menatap Aksa tampa menjawab pertanyaan Hila.
"Kau menikahi adiku, tapi menghamili wanita lain?"Yoga sedikit meninggikan suara nya.
"Kaka!"Hila meraih lengan Yoga.
"Biar aku jelas kan!"sahut Aksa.
Bugh!
Mata Hila membulat, hati nya bergemuruh ketika mendapati Aksa terjatuh akibat pukulan Yoga yang cukup kencang.
"Kau tau, aku mencoba menepis kecurigaan ku selama ini. Namun hari ini kau membuktikan nya sendiri tentang keraguan ku Aksa!"
Yoga memberi pukulan tepat di wajah adik ipar nya, ia menumpahkan amarah kepada Aksa.
"Ka, sudah!"Hila kembali meraih tangan Yoga, lalu menuntun nya untuk duduk di sofa yang berada di sudut ruangan kamar rawat nya.
Yoga terlihat memejamkan mata nya sesaat, mengatur nafas nya berulang kali dengan tangan yang sudah memijat kepala nya yang mulai terasa pusing.
"Minum dulu!"Hila memberika satu botol air mineral kepada Yoga.
"Kenapa kau ini!"Yoga menatap tajam ke arah adik prempuan nya itu. "Kau menutupi rahasia menjijikan ini dari orang tua kita untuk melindungi pria bren*sek itu!"suara Yoga pelan, namun penuh penekanan.
"Nanti aku jelaskan ka, sekarang tenang dulu. Aku malu kalo harus ribut terus, tadi sampai aku panggil suster loh!"
Yoga menghela nafas nya pelan, lalu mata nya beralih menatap Aksa yang masih terduduk di lantai sambil menatap ke arah nya.
"Panggil mertua Hila agar mereka datang kesini sekarang!"kata Yoga.
"Yoga,....ta-tapi!"Aksa mulai glagapan.
"Panggil!"tegas Yoga.
"Ka Yoga! udah, jangan marah-marah!"bisik Hila.
__ADS_1
"Jangan melindungi dia lagi, kaka sudah rela tidak masuk kerja, jadi kita selesai kan sekarang."
Hila mengangguk, hari ini dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan apa yang selama ini ia dan suami nya tutupi dari keluarga mereka.
"Sudah belum?"Yoga menatap Aksa.
"Sudah, mereka sedang di jalan dan memang sudah berencana akan kesini."Aksa berujar.
"Baguslah, tuhan memang sudah muak dengan kebohongan kalian berdua, jadi dia mengirimku terlebih dulu, hingga rahasia menjijikan mu itu akan terbongkar."Yoga masih terlihat marah, kepada Hila dan adik ipar nya.
"Abi, tolong jemput orang tua saya."titah Yoga. "Pakai mobil saya."kata nya kembali sambil memberikan kunci mobil milik nya.
Hila semakin terlihat panik, prempuan itu kini memandang dengan tatapan penuh permohonan, bahkan wajah nya sudah bersemu merah dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
"Ka, jangan kasih tau mamah sama bapak!"cicit Hila, kedua tangan nya memegangi lengan Yoga .
"Cara kamu dari awal salah Hila."Yoga menggelengkan kepala nya. "Bagaimana bisa kamu membiarkan ini semua terjadi tampa ada orang yang tahu, ini salah!"Yoga terlihat kecewa.
"Jangan kecewa sama Hila, yang salah disini saya."Aksa menyela.
"Memang, dan yang paling membuat ku semakin kesal adalah, kau tidak ada ketika Hila masuk rumah sakit, tapi dia masih membela mu. Aku yakin ini memang ada yang aneh, namun Hila selalu membela mu dengan menjelas kan kalau kau sedang banyak kerjaan."
Aksa dan Hila hanya terdiam.
......................
Akhir nya orang tua dari Aksa dan Hila mulai berdatangan, di susul Abiyasa yang berjalan tepat di belakang Indra.
Sudut bibir pria itu tampak membengkak, dengan sedikit noda darah yang terlihat sudah mengering akibat pukulan Aksa tadi.
"Yoga kamu tidak kerja?"ucap Arina yang baru saja berdiri di ambang pintu.
"Yoga meliburkan diri, tadinya khawatir sama Hila."
Arina dan Indra tersenyum kemudian duduk di samping Yoga yang kini terlihat sedikit berbeda.
"Aduh, pada kumpul!"tiba-tiba saja Nanda dan Raksa masuk dengan keranjang buah di tangan nya.
"Iya, saya di telfon Yoga!"sahut Arina.
"Kita juga di suruh kesini sama Aksa."Nanda tersenyum.
"Jadi ada apa ini?"Indra bertanya kepada putra nya. "Terus wajah Abi kenapa?" tanta nya kembali.
Yoga terdiam sesaat, suasana pun tampak tegang ketika semua yang ada di sana terdiam, hingga membuat ke empat orang yang baru datang terlihat bertanya-tanya.
__ADS_1
"Aksa bibir nya,.."Arina terkejut. "Abi juga, apa kalain berantem, sampai Yoga memanggil kita?"tanya Arina kembali.
Namun Yoga mengglengkan kepala.
"Aksa, kamu dulu yang jelaskan kepada orang tua mu!"kata Yoga.
Aksa yang sejak tadi terlihat menundukan kepala nya, kini mendongkak, menatap sendu ke arah Nanda dan Raksa.
"A-aku!"
"Ada apa ini?"Raksa terlihat sudah sedikit panik.
"Yuna!"
"Bicaralah yang jelas!"Yoga mulai merasa geram.
"Ada apa dengan kamu dan Yuna?"Nanda mulai gelisah.
Lagi-lagi Aksa terdiam, kata-kata nya terus tertahan.
"Dia menghamili kekasih nya!"Yoga memekik. "Astaga aku jijik setiap kali mendengar kata-kata itu."Yoga mendengus kesal, hingga mata nya berkaca-kaca ketika rasa kesal terus me jalar di seluruh dada nya.
Deg!!
Nanda terlihat sangat terkejut, begitupun dengan Raksa, Indra dan juga Arina.
"Kaka!"Hila terlihat memohon.
"Bagaimana bisa?"Raksa menjengit.
"Ya ampun!"Arina menutup mulut nya yang terlihat sudah terbuka lebar, seraya menatap putri nya yang saat ini sudah terisak.
Aksa tidak mampu berkata-kata lagi, kini rahasia yang ia dan istrinya sembunyikan sudah terbongkar karena kelalaian nya sendiri.
"Maaf!"Aksa berkata lirih.
"Urus bayi mu itu, dan biarkan Hila pulang dengan ku!"
"Yoga, jangan begitu! kita cari jalan keluar nya sama-sama."Nanda sedikit memohon.
"Maaf ibu, saya tidak mau."tegas Yoga. "Titip Hila, aku akan membawa Hila pulang hari ini juga."jelas Yoga yang langsung berjalan ke arah luar tampa menunggu jawaban terlebih dulu.
Arina hanya terdiam, tidak ada yang bisa menghentikan putra sulung nya saat ini.
"Jeng?"Nanada meraih tangan Arina.
__ADS_1
"Saya tidak tau harus apa, Yoga sangat menyayangi Hila dan juga keras kepala."Arina menangis.
"Sulit untuk meyakin kan nya kalau dia sudah kecewa."Arina kembali berujar.