Mahila Arindra.

Mahila Arindra.
Korban!


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, setelah kesepakatan Aksa kepada Yuna malam itu, kini hampir setiap hari Yuna menghubungi Aksa, meminta banyakhal dan tentu nya Hila harus mengerti dan banyak mengalah.


Sakit? tentu saja. Kini ia harus berbagi suami, meskipun Aksa selalu meminta maaf setelah seharian menemani Yuna pergi kesuatu tempat.


Hari ini contoh nya, hari sudah mulai berganti, langit hitam malam mulai terlihat menyapa, namun Aksa belum juga menampakan batang hidung nya, setelah jam 9 pagi dia pamit pergi untuk menemani Yuna memeriksakan kandungan nya.


"Aduh!"Hila meringis.


Tubuh prempuan itu membungkuk, dengan satu tangan meremat bagian perut nya yang terasa nyeri.


"Asam lambung ku naik lagi!"Cicit nya dengan suara lirih.


Hila yang saat ini sedang duduk di sofa ruang keluarga pun bangkit, memaksa kan diri berjalan ke arah dapur, untuk meraih kotak obat, dan segera meminum obat yang selalu ia minum kala asam lambung nya kumat.


Hila berjalan perlahan sambil terus memegangi perut nya, bersusah payah untuk meraih kotak obat yang berada menggantung di dinding dapur.


"Ahhhh!! sssstttt,..."mata Hila terpejam, seraya menggigit bibir bawah nya, menahan nyeri yang teramat sangat.


Setelah mendapatkan obat nya, dengan cepat Hila meneguk obat yang berupa cairan itu, lalu berlari ke arah dispenser, membawa air dan segera meminum nya.


"Astaga!"


Beberapa detik Hila berdiri di sana, kemudian segera berjalan kembali ke arah ruang keluarga, setelah rasa sakit di perut nya sedikit membaik.


"By, kamu dimana? kenapa belum pulang."Ucap nya sambil duduk di sofa.


"Sudah beberapa kali aku kesusahan, dan kamu selalu sedang tidak ada bersama ku."Ucap nya lagi.


Kemudian Hila meraih ponsel milik nya, lalu menghubungi nomor ponsel milik Aksa.


Suara sambungan telfon pun terdengar, namun tidak lama setelah itu, Aksa menolak nya.

__ADS_1


"By! kenapa? cepat pulang, asam lambung ku tidak kunjung membaik."Suara Hila merendah.


Hila tidak putus asa, ia mencoba menghubungi Aksa kembali. Nihil, hasil nya tetap sama, pria itu tidak menjawab panggilan dari Hila, sang istri yang kini benar-benar sangat membutuhkan kehadiran nya.


"Astaga By! kenapa kamu belum pulang juga!"Hila kembali merintih.


*


*


*


Sementara itu di lain tempat, Aksa terlihat sedikit gelisah.


"Yuna aku harus pulang!"Aksa mendengus kesal kepada wanita yang duduk di samping nya sambil terus memeluk erat lengan nya.


"Jangan dulu, dede bayi nya masih kangen!"Rengek Yuna sambil terus bergelayut manja.


Aksa kembali menghela nafas nya, lalu memgusap wajah nya kasar ketika mulai kehilangan akal.


"Baiklah,...baiklah!"Yuna mulai melepaskan dekapan nya. "Tapi besok temuin aku lagi yah, dede bayi nya pengen terus deketan sama papa nya."Yuna berujar.


"Aku pulang!"Tegas nya, lalu segera beranjak pergi tampa menjawab perkataan Yuna terlebih dulu.


Aksa keluar dari apartemen Yuna tergesa-tegasa. Suasana hati nya terasa tidak nyaman, entah itu merasa bersalah atau memang ada hal lain.


"Sayang maafkan aku!"Aksa bergumam sambil terus berlari.


"Aksa sudah pulang?"Tanya Yunita ketika prempuan tua itu keluar dari dalam kamar nya.


"Iya, di cariin istrinya."Sahut Yuna ketus.

__ADS_1


"Kamu yang sedikit keterlaluan akhir-akhir ini Yuna, jangan seperti itu, Hila sudah terlalu banyak mengalah untuk mu!"Raut wajah Yunita terlihat kecewa.


Yuna mendelik.


"Aku kok ngerasa yang anak mami itu Hila ya! bukan aku."Ucap nya kemudian bangkit dan segera berjalan masuk ke arah kamar nya.


Yunita terdiam, menatap punggung Yuna dengan tatapan sendu.


"Karena kamu, dan kita salah! tapi kita mengorbankan perasaan Hila."Ucap nya lirih.


Berbeda dengan Yuna yang sangat membenci Hila, dan ingin menghancurkan wanita itu lewat Aksa. Yuna malah selalu membela Hila, bahkan mencari celah, agar Hila tidak ikut terluka atas dosa Yuna dan Aksa yang telah mereka berdua buat.


Krekkk!!


Aksa mendorong pintu apartemen nya cukup kencang.


"Sayang, aku pulang!"Teriak nya sambil terus berjalan, mencari keberadaan sang istri.


"Sayang, kamu dimana?"Aksa kembali berteriak, ketika dia tidak menemukan Hila dimana pun.


Aksa merogoh kedua saku celana nya, kemudian terus meraba seluruh tubuh setelah ia tidak menemukan benda pipih milik nya yang selalu dia bawa kemana pun dia pergi.


"Astaga! dimana ponsel ku?"Aksa panik.


Pria itu terlihat berpikir, mengingat dimana terakhir dia menyimpan ponsel milik nya.


"Di mobil!"Cicit nya, lalu segera berlari kembali ke arah luar.


Bersambung!!


Guys,...guys... jangan lupa buat di like ya! supaya novel nya muncul kepermukaan..

__ADS_1


Ayodong! kasih semangat buat nulis lagi...


Uhhh readers cuyung ku :*


__ADS_2