
—Klek..
Pintu kamar Hila terbuka lebar, kemudian munculah seorang prempuan cantik dengan kemeja putih di padukan dengan celana jeans hitam.
"Mau kemana?"Tanya Indra yang sedang duduk di sofa kecil ruang televisi nya.
"Mau keluar sebentar pak, ketemu temen."Hila tersenyum."Mamah mana?"Tanya Hila.
"Memang nya tidak kerja? tumben main keluar dan-dan nya rapih banget."Ujar Indra kembali yang terus menatap putrinya dari atas ujung rambut sampai ujung kaki.
"Hari ini Hila libur, mau ketemu anak nya temen mamah pak, tenang.Hila nggak macem-macem ko."Jelas nya kepada Indra yang terus menatap nya dengan tatapan aneh dan tidak suka.
"Ibu mu ada di kamar."Jawab Indra."Jangan pulang malem!"Tegas nya.
"Iya pak, aneh deh.Dulu keluar sama Aksa biasa aja,... eh!"Hila langsung menutup mulut bya, kemudian berlari menuju pintu kamar yang tertutup di mana Arina berada di sana.
TOK..TOK...
"Moms?"Panggil Hila setelah mengetuk pintu kamar orang tua nya."Hila boleh masuk nggak?"Tanya Hila.
—Klek..
"Kenapa? siapa moms"Tanya Arina dengan lilitan handuk di kepala nya.
"Mamah baru mandi?"Cicit Hila."Siang banget udah mau jam dua loh ini!"Kata Hila kembali.
"Kenapa?"Arina mengulangi perkataan.
"Bapak nggak tahu yah? ko kaya nggak suka aku bilang mau ketemu temen."Ucap Hila sedikit berbisil.
Arina terperangah, kemudian menepuk jidat nya pelan.
"Mamah lupa, tapi nanti biar mamah yang bicara, secarang kamu boleh berangkat."Arina mendorong punggung Hila agar cepat beranjak pergi.
Hila terus berjalan pelan ke arah pintu luar dengan dorongan kecil tangan ibunya, namun sepasang mata pria paruh baya terus menatap nya tajam, sampai membuat Hila takut, bahkan ketika gadis itu melewati ayah nya hanya mengangguk dan tersengum canggung.
"Heheh,.... apa kabar pak Indra!"
Plak...
"Dasar ngaco!"Arina menepuk lengan Hila sambil terkekeuh.
^
__ADS_1
^
Setelah keluar dari pekarangan rumah nya.Hila terus berjalan bebrapa meter untuk menuju halte dan memberhentikan taxi untuk ia tumpangi.
Kepala Hila mencondong, ketika melihat taxi dari ke jauhan yang melaju ka arah halte tempat nya berdiri saat ini.
"Taxi!"Hila melambaikan tangan nya.
Mobil burung biru itu berhenti tepat di hadapan nya, kemudian segera masuk dan duduk di kursi penumpang.
–Brugh..
"Ke cafe coffe ya pak!"Ucap nya kemudian di jawab anggukan oleh supir taxi yang sudah mulai melajukan mobil nya perlahan.
Tiga puluh menit Hila menumpangi taxi, akhirnya gadis itu sampai di tujuan alamat yang Arina berikan.
"Terimakasih pak."Ujar Hila tersenyum, kemudian keluar dari taxi dan segera berjalan menuju pintu masuk cafe.
Mahila masuk, pandangan mata nya meneliti sekitar kemudian segera memilih tempat duduk.
Hila mebawa ponsel di dalam tas nya, membuka benda tersebut dan memeriksa pesan masuk.
Tidak ada notifikasi satupun, ponsel nya selalu hening ketika ia memblokir kontak Aksa beberapa waktu lalu.
Sedang asik dengan ponsel nya, tiba-tiba saja seorang waiters datang dan membawakan buku menu kepada Hila.
"Iced coffe saja mbak."Pesan nya sambil menggeser buku menu mendekat ke arah waiters kembali.
"Siap,... di tunggu ya kak!"Ujar nya kemudian pergi.
Sementara itu di sisi lain, pintu cafe di dorong dengan lebar, kemudia munculan pria tinggi dengan stelan kemeja dan celana bahan datang menghampiri Hila yang sudah duduk menunggu.
"Mahila?"Panggil nya.
Hila mendongkak, menatap wajah pria yang baru saja memanggil nama nya.
"Ah,... iya."Sahut Hila yang masih belum ngeuh.
"Ini aku, anak nya temen mama kamu!"Pria iru menepuk dada nya pelan.
Hila terperanjak.
"Owh,... duduk-duduk."Titah nya dengan senyum ramah.
__ADS_1
"Aku sering lihat kamu kalo lagi anter ibu aku ke rumah kamu, tapi kamu nggak pernah tahu aku kaya nya?!"Ujar nya.
Hila tersenyum.
"Aku nggak tahu kalo tante Ruri punya anak bujang."Tukas nya.
"Oh iya,... aku Abiyasa Ganendra!"Pria itu tersenyum, kemudian mengulur kan tangan kepada gadis cantik di hadapan nya.
"Mahila Arindra."Hila meraih tangan pria di hadapan nya.
Kedua nya terus berbincang, bahkan di pertemuan pertama Hila dan Abi sudah terlihat akrab, bahkan mungkin sedikit terlihat cocok.
^
^
Sementara di kediaman Aksa, pria itu memilih berdiam diri di rumah, dan meninggal kan kantor nya kepada Irfan yang beberapa waktu ia bimbing untuk lebih mengerti pekerjaan kantor.
Pria itu hanya berdiam diri di kamar setelah melalukan makan siang nya.Tubuh nya seperti lemas, dengan ponsel di tangan nya yang terus melihat chat terakhir nya bersama Hila.
Sudut bibir nya mengangkat, ketika ada bebrapa pesan kedua nya yang saling melontar kan candaan.
"Hah,..!"Aksa menghela nafas nya, kemudian menekan rombol power dan meletakan ponsel milik nya di atas nakas.
Bibir bawah nya di gigit cukup keras, kedua tangan nya ia rumpukan di atas kepala, berfikir bagai mana agar Hila ingin kembali terlibat komunikasi dengan nya walau hanya sebatas teman.
Namun nyata nya tidak, gadis itu menolak nya bahkan ketika hanya ingin menjadi teman akrab nya saja.Aksa tahu betul, mungkin ada sedikit rasa trauma pada dirinya, sampai Hila tidak mau kembali berhubungan secara langsung ataupun hanya melalui pesan singkat.
Pikiran nya semakin kalut, ketika beberapa waktu lalu dirinya menemui Arina hanya sekedar untuk menanya kan kabar Hila.Namun wanita paruh baya itu memberi tahu nya hal yang menurut Aksa paling buruk.
Yaitu Hila akan segera di jodoh kan dengan putra teman dekat nya.Hati nya seakan retak, harapan nya di putus begitu saja, terlebih ketika Aksa berusaha menemui Hila sepulang gadis itu kerja.
Namun lagi-lagi gadis itu menghindar, Hila bahkan izin pulang lebih cepat hanya untuk menghindari Aksa yang mulai sering menemui nya kembali.
"Dia memang mengi-nginkan perjodohan itu?"Bisik Aksa."Atau hanya ingin menguji perasaan ku, atau menghindar?"Aksa terlihat gusar.
Ya ampun Hila, harus seperti apa lagi.Agar aku bisa kembali meraih mu agar lebih mendekat, seperti kita dulu.
Aksa terus larut dalam pikiran nya sendiri, membayang kan Hila bersanding dengan pria lain saja sudah membuat hati nya seperti meledak dengan dada yang terus terasa berat dan sesak.
"Kalaupun kamu ingin menghindar, itu tidak akan bisa kalau aku memang jodoh mu.Kamu tidak sadar Hila, beberapa kali kita terpisah, tapi tuhan selalu mempunyai cara nya untuk kembali memper temukan kita."Sergah Aksa.
"Kalau kau mau aku berjuang, maka aku akan berjuang.Tapi ketika kamu meminta ku untuk pergi, maka dengan segera aku akan pergi, meski dengan banyak luka di hatiku, walau luka ku tidak sebesar luka mu karena diriku, tapi aku akan lebih hancur dari pada kamu!"Ucao nya kembali.
__ADS_1
...TBC🌿🌿🌿...
...Jangan lupa! like, voge, tips, hadiah, dan komen nya guys.....