Mahila Arindra.

Mahila Arindra.
Negatif.


__ADS_3

Setelah hasil test nya positif, dengan cepat Aksa mengajak Hila untuk segera pergi ke rumah sakit dan memeriksakan keadaan nya.


Wajah Arina dan Indra terlihat berbinar, ketika mendapati Hila yang kemungkinan kini sudah mengandung buah hati nya bersama Aksa.


"Habiskan dulu makan nya, setelah ini baru kita berangkat!"Kata Aksa kepada istrinya.


"Iya, ini aku lagi makan By! lagian mamah ngaco, masa ngasih nasi sebanyak ini."Cicit Hila yang terlihat sedikit kesal karena sikap Arina yang menurut nya sedikit lebay.


"Sekarang kamu makan untuk berdua Hila!"Arina membela diri.


"Pak, mamah lebay tau nggak sih!"Wanita itu mengadu.


"Sudah, turuti saja apa kata mamak mu Hila."Indra tersenyum.


Mahila memutar bola mata nya.


"Kalian semua sangat kompak! dapet piring cantik ini mah."Ucap Hila kesal.


"Aku udah nggak sanggup, perutku penuh!"Hila menggeser piring nya yang masih berisi nasi dan ayam yang tersisa cukup banyak.


"Habiskan!"Kata Aksa.


"Habiskan saja sama kamu."


"Sayang?!"Aksa menatap Hila lekat.


"Apa?"Hila melotot. "Aku sudah tidak sanggup lalu aku harus apa?"Cicit nya kembali.


"Dih,...kok jadi galak!"Ledek Aksa.


"Ya sudah! simpan saja kalau memang sudah kenyang."Kata Arina.


"Kalau begitu, mari kita berangkat!"Kata Aksa.


"Iya."Lalu Hila meneguk segelas air putih hangat yang di ssdiakan untuk nya sampai habis.


^


^


Dua puluh menit Aksa melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang. Akhirnya ia dan istrinya sampai, diantar Arina dan juga Indra tentu nya.


"Mas istri saya mau periksa ke Dokter kandungan."Jelas Aksa kepada seorang petugas yang sedang duduk di depan meja pendaftaran.


"Mau Dokter siapa?"Tanya nya.


"Siapa saja!"Kata Aksa.


"Kalau bapak mau, ada Dokter Muta yang sedang praktek sekarang."Usul nya kembali.


"Baiklah."Kata Aksa.


Lalu pria itu menoleh ke arah kursi belakang, dimana istri dan kedua orang tua nya duduk.


"Nama istrinya siapa pak?"

__ADS_1


"Mahila Arindra."


"Alamat rumah dan nama bapak?"Pria itu menatap Aksa.


"Saya Nash Aksa Mahiwara,..Dan kami tinggal di Jl.Green apple Azura tower's"


Beberapa detik Aksa melakukan pendaftaran untuk Hila, akhir nya mereka berempat segera beranjak, menuju poli kandungan.


"Loh! kok sudah sepi."Kata Hila.


Mereka terlihat sedikit bingung, dan saling menatap satu sama lain.


"Coba di tanyain Sa."Titah Arina.


Aksa mengangguk, namun ketika pria itu akan beranjak, pintu ruan praktek Dokter terbuka di susul keluar nya seorang wanita hamil besar bersama suaminya.


"Ny. Mahila Arindra?!"Perawat itu menatap ke arah Hila.


"I-iya saya Sus!"Ucap nya seraya menunjuk dirinya sendiri.


"Di timbang dulu yah!"Ucap nya disertai senyum ramah kepada Mahila.


Hila mengangguk, kemudian segera naik ke atas timbangan kaca yang tersedia, dan melakukan pemeriksaan lain, salah satu nya memeriksakan tekanan darah Hila.


"Berat badan nya 48kg,..tekanan darah nya 120/20. Apa ada keluhan bunda?"


"Sejauh ini belum ada si Sus, baru pake test terus garis nya dua, tapi samar."Kata Hila.


"Baiklah, silahkan masuk!"Wanita itu segera berdiri setelah memeriksakan Hila, lalu membuka pintu ruangan Dokter.


Aksa segera menghampiri, membantu Hila bangkit dan segera berjalan masuk menuju ruang praktik.


"Yasudah tidak apa-apa."Indra tersenyum kemudian menarik Arina untuk kembali ke tempat duduk nya.


Klek..


Pintu itu tertutup.


"Padahal mamah pengen masuk!"Gumam nya sedikit kecewa.


"Nggak apa-apa mah, yang pentingkan hasil pemeriksaan nya.


Arina menghela nafas nya pelan.


"Padahal mamah pengen lihat cucu mamah loh pak!"


"Iya kita bisa tanya ke Aksa atau Hila nanti."


Sementara itu di dalam ruangan praktik Dokter, kedua nya sudah kembali duduk di kursi berhadapan dengan meja Dokter setelah melakukan USG.


"Ibu Hila, tidak ada kantung kehamilan disini! baru ada penebalan dinding rahim. Jadi tidak usah yakin kalau ini hamil, bisa saja gejala akan datang menstruasi."Jelas nya pelan.


Mahila diam, kemudian melirik ke arah Aksa yang saat ini sudah terlihat muram, mungking kecewa, pikinya.


"Yasudah terimakasih Dok."Kata Aksa yang kemudian berdiri di susul Hila.

__ADS_1


Dokter Muta menganguk dengan senyuman tipis di bibir nya.


^


^


"Sudah nggak apa-apa, masih bangak waktu ini. Toh kalian juga baru sebulan nikah."Jelas Arina kepada anak menantu nya.


"Iya, mungkin memang belum waktu nya."Timpal Indra.


Namun kedua insan yang sedang duduk berdampingan si sofa ruang tamu itu hanya terdiam dengan pikiran nya masing-masing.


Aksa bahkan terus terlihat kecewa, sampai di sepanjang perjalanan pria itu bungkam seribu bahasa.


Hila membenarkan posisi duduk nya, kemudian menghela nafas.


"Aku juga sudah bilang, jangan terlalu percaya! testpack itu nggak akurat."Kata Hila pelan.


"Sekarang aku jadi yang merasa bersalah kepada kalian semua!"Ucap nya kembali.


Kemudian Hila bangkit, meninggal kan suami dan kedua orang tua nya begitu saja menuju pintu kamar.


Ceklek!


Brugh..


Hila melepar tubuh nya ke atas tempat tidur.


Akhir-akhir ini mood nya memang kurang baik, di tambah sekarang dengan sikap Aksa yang terlihat dingin.


"Tapi kenapa rasa nya aneg sekali! aku terlambat, dan testpack pun hasil nya fositif. Apa aku harus periksa lagi?"Hila bermonolog.


Sedang larut dalam pikiran nya, tiba-tiba saja suara handle pintu di terkan pun terdengar.


"Sayang?"Panggil nya pelan sambil menutup pintu kamar Hila kembali.


Hila menoleh sebentar, lalu kembali pada posisi nya semula.


"Maaf."Ucap nya yang langsung ikut naik ke atas tempat tidur dan berbaring tepat di sebelah istrinya.


"Aku nggak kecewa sayang, hanya sedang merasa aneh."Ujar Aksa.


"Kamu terlalu berharap."Sahut Hila singkat.


"Tidak sayang, aku hanya sedang berpikir, apa alat Dokter juga bisa salah mendektesi?"


"Entahlah, nanti aku mau coba menyakinkan." Kata Hila.


"Cara nya gimana?"


"Beli testpack lagi, kalo hasil nya positif lagi! berarti kita harus nyari Dokter lain."


Aksa mengangguk.


"Baiklah."

__ADS_1


Cup..


Aksa mencium pipi Hila, kemudian mendekap tubuh mungil istrinya cukup erat.


__ADS_2