
Sore hari setelah Aksa menyelesai kan pekerjaan nya.Pria itu langsung menuju Hotel di mana Hila bekerja saat ini, tidak peduli berapa lama ia harus menunggu, Aksa hanya ingin bertemu dan mungkin sedikit berbincang dengan Hila mengenai perjodohan yang pernah Arina jelas kan pada nya.
Aksa memarkirkan mobil milik nya di bahu jalan, kemudian turun untuk menyebrang dan menunggu Hila di halte yang biasa gadis itu singgahi.
"Iya aku tunggu di halte yah,....iya kamu hati-hati oke!"Suara Hila yang sedang berbicara kepada seorang yang ada di dalam telpon sambil terus berjalan ke arah halte tampa menyadari keberadaan Aksa.
Apa hubungan mereka sudah sangat sedekat itu! bahkan Hila meminta untuk di jemput oleh nya.
Aksa bangkit dari duduk nya, berajalan perlahan mendekat ke arah Hila yang berdiri dengan ponsel di genggaman nya yang menyala.
Mahila terperanjak, raut wajah nya terhilat begitu terkejut ketika pergelangan tangan kanan nya di genggam.
"Ini aku!"Ujar Aksa dengan nada pelan.
Deg..
"Kaka ngapain di sini?"Cicit nya sambil terus berusaha melepas kan genggaman Aksa dari tangan nya.
"Ada yang mau aku bicarakan, ikutlah sebentar."Pinta nya kemudian menarik Hila pelan.
Namun gadis itu menolak, ia menarik tangan nya secara paksa sampai Aksa tidak bisa menggenggam Hila kembali.
"Hila ku mohon jangan seperti ini! aku hanya ingin berbicara kepada mu."Ujar nya lirih.
Hila terdiam, kedua nya saling memandang dengan tatapan sendu.
"Tidak usah bicara apapun, kita sudah selesai ka."Ucap Hila pelan.
"Kamu masih marah? ya kamu masih marah, dan kau ingin menghukum diriku."Aksa tersenyum getir.
"Aku sudah memaafkan, tapi aku tidak berbicara soal melupakan apa yang sudah terjadi pada ku."Tukas Hila."Jadi biarkan aku hidup dengan caraku, dan ka Aksa hidup dengan mbak Yuna, ini terlalu rumit ka."Jelas Hila kembali dengan pandangan mata yang terus menatap iris coklat pria di hadapan nya.
Aksa kembali meraih tangan Hila, kemudia segera membawa gadis itu di belakang nya.
Namun suara derum motor berhenti bersamaan dengan teriakan yang mampu membuat Aksa berhenti.
"Jangan memaksa bro!"Suara nya sedikit berteriak, Abiyasa berjalan cepat dan melaih Hila.
"Lepasin bro, cewe nya nggak mau!"Kata Abi kembali.
"Tidak, siapa anda memerintah saya?"Jawab Aksa pelan bahkan tampa ekspresi.
"Wih,... kalem bro nggak usah lihat saya dengan tatapan seperti itu."Abi tersenyum."Hila teman saya, dan dia sudah janji akan pulang bersama saya."Sergah pria itu.
Tampa menjawan Aksa langsung menarik Hila kembali, namun tubuh gadis itu tertahan ketika Abi juga ikut menarik lengan Hila.
"Hila ikut aku sebentar!"Aksa menatap Hila.
__ADS_1
"Hila sebaik nya kita pulang sekarang."Timpal Abi.
Hila yang merasa tubuh nya terombang-ambing, di tarik ke kanan dan ke kiri merasa kesal, sampai akhir nya ia berteriak untuk menghentikan kedua nya.
"Stop!!"Hila menjerit.
Abi langsung melepaskan tangan Hila, namun berbeda dengan Aksa yang terus menggenggam pergelangan tangan nya erat.
"Ikut aku sebentar."Raut wajah nya penuh permohonan.
"Aku tidak mau ka."Cicit Hila."Aku harus pulang!"Kata Hila kembali.
"Dan aku yang akan mengantar mu."Jelas Aksa.
"Tapi aku nggak mau!"Suara Hila memekit.
"Lepasin bro, nggak usah maksa orang kalo nggak mau!"Teriak pria di samping kiri Hila.
"Lepasin aja kenapa sih, cewe nya udah nggak mau, masa lalu biarlah berlalu, kenapa masih maksa-maksa sih!"Ujar Abiyasa kembali.
Aksa menghela nafas nya kasar, kemudian pandangan nya beradu dengan pria yang terus menghalangi nya.
"Saya akan pergi dan melepas kan Hila, kalau dia yang meminta saya untuk melakukan hal itu."Tegas Aksa.
"Hila?"Abi menatap ke arah Hila.
Deg..
Aksa langsung diam, sesuatu terasa menghantam dada nya sangat keras sampai membuat nya sedikit sesat.
"Hila tapi,..."
"Pergi dan jangan temui aku lagi!"Ucap nya bersungguh-sungguh.
Aksa mengangguk, lalu melepas kan tangan Hila begitu saja dari genggaman nya.
"Baiklah, perjuangan ku selesai sampai disini, aku akan pergi dan tidak akan pernah menemui mu kembali."Ucap nya dengan suara pelan.
"Tapi satu yang harus kamu ketahui, aku menyesali apa yang sudah aku perbuat, aku benar-benar serius dengan perasaan ku, dan Yuna, kita sudah selesai sejak lama!"Jelas Aksa berusaha kuat agar tidak meniti kan air mata nya.
"Aku pergi, terimakasih satu minggu yang indah nya Mahila Arindra, jagalah dirimu dengan baik, karena aku tidak akan berada bersama mu lagi."
Aksa memutar tubuh nya, kemudia berlari menyebrangi jalan, dan masuk ke dalam mobil milik nya.
Hila mematung, mata nya terus memandang Aksa yang mulai pergi meninggal kan nya, bibir dan otak nya berbicara bahwa ia tidak ingin Aksa menemui nya, namun hati nya berkata lain.
Dunia terasa berhenti, langin nya runtuh, bahkan cahaya hidup nya seolah pergi.
__ADS_1
"Hila ayo kita pulang!"Pria itu menyadar kan lamunan Hila.
"Ah,..iya aku lupa."Bibir nya tersenyum, namun terlihat banyak gurat kesedihan di dalam mata nya.
Kedua nya langsung berjalan ke arah moto, segera memakai helm dan mulai beranjak untuk segera pulang.
Di sepanjang jalan Hila hanya terdiam, bahkan pandangan mata nya terlihat kosong dengan air mata yang beberapa kali terjatuh, namun dengan cepat Hila menyusut nya dengan tangan.
^
^
"Terimakasih, aku masuk duluan yah?"Ujar Hila setelah memberikan helm nya kepala Abiyasa.
"Nggak di ajak mampir?"Pria itu tersenyum.
"Lain kali saja yah? aku beneran nggak enak badan, mau istirahat."Jelas Hila kemudian meninggal kan pria itu tampa banyak bicara.
-Klek..
Brak..
"Lo kenapa ko pintu nya di banting?"Arina terlihat heran dengan sikap putri nya.
"Hila kebelet mah!"Dengan cepat Hila berlari ke arah kamar, masuk dan mengunci nya dari dalam.
Arina menjengit, dengan pandangan mata yang terus tertuju pada Hila sebelum gadis itu menghilang di balik pintu kamar nya.
–Brugh..
Hila melempar kan tubuh nya ke atas tempat tidur, menenggelam kan wajah nya di atas bantal agar suara tangis nya tidak terdengar.
"Maaf,...maaf,...maaf,...!"Suara Hila lirih.
"Aku pikir ini akan mudah, tapi kenapa susah sekali, aku yang meminta nya pergi, aku pula yang langsung merasa sakit hati."Ucap Hila dengan isak tangis nya.
"Maafkan aku!"Cicit Hila kembali dengan perasaan penuh penyesalan.
Gadis itu terus menangis pelan, rasa sesak nya terus menyeruak ketika dengan gampang nya Aksa pergi berlari mejauh dan meninggal kan nya.
Baiklah, perjuangan ku sudah selesai.
Kata-kata yang Aksa lontar kan terus terngiang-ngiang, sampai membuat nya tidak bisa berhenti menangis.
...TBC🌿🌿🌿...
...Jangan lupa! like, vote, tips, hadiah dan komen nya guys.....
__ADS_1