
Hari demi hari pun berlalu, kini Aksa dan Hila terlihat semakin dekat, rasa canggung yang Hila rasakan sudah meluap entah kemana, kini hanya tersisa rasa nyaman bahkan kedua nya sering menghabis kan waktu bersama.
Malam ini contoh nya, kedua nya sudah sepakat untuk keluar, mendatangi pasar malam yang di usulkan Hila pada Aksa.
TOK..TOK..TOK..
Aksa mengetuk pintu rumah Hila.
—Ceklek..
"Eh,... Aksa."Arina menyambut pria yang sedang berdiri di hadapan nya dengan senyuman hangat.
"Aksa ada janji sama Hila bu."Ucap Aksa.
"Iya,... Hila tadi bilang.Ayo masuk, tunggu Hila nya di dalam saja."Arina meraih tangan Aksa lalu menuntun nya ke arah ruang tamu.
"Mau minum apa? biar ibu buatkan."Tanya nya ramah.
"Tidak usah bu, sebentar lagi Hila selesai.Soal nya kita janjian jam tujuh."
Arini mengangguk.
"Ya sudah, ibu panggil Hila dulu kalau begitu."
Arini langsung undur diri, terus berjalan ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat.
"Hila, Aksa udah dateng."Panggil nya, lalu pergi masuk ke dalam kamar.
"Iya mah.."Teriak dari dalam sana.
Sementara itu Aksa yang sedang menunggu Hila sendirian di ruang tamu, mata nya terus meneliti setiap poto yang terpajang rapih.
Perlahan Aksa bangkit, lalu melihat-lihat foto-foto kecil yang berjejer di lemari kaca.Seketika tubuh nya menegang, mata nya membulat, ketika melihat foto dirinya dengan kaca mata besar, rambut belah dua, berfoto dengan Hila dengan pose tertawa lepas.
Deg..
Hati nya bagai terbentur benda keras, darah nya terasa berhenti, pikiran dan kata hati nya yang sudah tidak sejalan.
Bagai mana ini? aku harus bagai mana? Hila masih menyimpan kenangan ini walau beberapa kali aku jahat dan selalu semena-mena ketika dia pertama masuk kerja.
Hati nya selalu berkata untuk berhenti jika Aksa akan menyakiti Hila, namun di otak nya selalu terngiang-ngaik ucapan nya dulu kepada Yuna atas tujuan nya mendekati Hila.
Ya tuhan aku harus bagai mana sekarang!
"Ka..."Panggil Hila tiba-tiba.
Aksa tersentak, pria itu terkejut bukan main ketika suara Hila tiba-tiba memanggilnya.
"Su-sudah siap?"Aksa menoleh, raut wajah nya merah padam dengan perkataan yang tergagap-gagap.
"Sudah, mau berangkat sekarang?"Tanya Hila tersenyum.
Ya tuhan, lihatlah dia.Kemeja hitam lengan panjang, di padukan dengan skini jeans yang juga menutupi kaki jenjang nya, namun dia terlihat sangat cantik, apalagi dengan rambut nya yang di biarkan terurai, ya ampun Hila! kamu selalu memporak-poranda kan hati aku.
"Ka?"Panggil Hila kembali."Aih,... malah bengong."Ujar Hila, lalu tergelak.
"Kamu masih simpan foto waktu kita ikut kemah?"Tanya Aksa tiba-tiba.
Pandangan Mahila langsung tertuju pada pigura kecil di dalam lemari kaca, bibir nya tersenyum, lalu kembali menatap pria tampan di hadapan nya.
__ADS_1
"He'em,... itu tahun terakhir kaka bukan? jadi aku pikir mungkin kita tidak akan bertemu lagi waktu itu."Jelas Hila sambil terus tersenyum.
"Baiklah, ayo kita berangkat."Aksa tersenyum, lalu mengulur kan tangan kepada Hila.
"Ayo."Cicit Hila antusias, lalu meraih telapak tangan Aksa hingga jemari kedua nya saling meremat erat.
Kedua nya berjalan ke arah luar dengan tangan yang terus saling menggengam.Seulas senyuaman malu-malu Hila ukir di bibir mungilnya, begitu pun dengan Aksa.Pria itu terus tersenyum, ketika rasa bahagia terus menyeruak dalam hati nya, hingga menimbulkan rasa seperti banyak nya kupu-kupu yang beterbangan di dalam dada.
TUIT..TUIT..
—Dreuk..
"Silahkan masuk, gadis cantik."Aksa membuka kan pintu mobil nya untuk Hila.
"Terimakasih pak Aksa."Hila tersenyum jahil.
"Terserah kau saja."Aksa memutar bola mata nya sambil tersenyum.
Oh jantung, jangan terlepas oke.Terserah saja mau berdegup sekencang apa, tapi jangan sampai kau kepas!
Hila mengusap dada nya sambil sesekali meniup kan nafas lewat mulut nya.
—Brugh..
Aksa duduk tepat di samping nya, lalu mulai menyalakan mesin mobil, dan langsung melajukan mobil nya perlahan.
Beberapa kali Aksa menoleh, melihat ke arah gadis canti di samping nya yang sibuk memain kan ponsel.
"Hey,... jangan main ponsel saat kita kencan!"Cicit Aksa sambil meraih tangan kanan Hila untuk di genggam nya dengan pandangan yang terus fokur ke depan.
Hila langsung memasukan ponsel milik nya ke dalam tas, memandang Aksa yang kini sedang fokus dengan setir mobil nya.
"Ha'hhh?!"
"Kamu cantik Mahila, selalu cantik sampai membuat hatiku tidak karuan."Tutur Aksa.
Pria itu menoleh, lalu tersenyum.
"Kaka juga ganteng."Balas Hila."Loh!... kita pakai kemeja samaan toh?"Tukas nya sambil melihat baju yang di kenakan nya.
"Hemmm, padahal kita tidak janjian.Tapi sama-sama punya filing buat pake kemeja hitam."Aksa tertawa.
"Apa kita jodoh?"Celetuk Hila.
Aksa hanya terdiam, dengan perasaan dada yang sudah terasa makin sesak ketika jantung nya terus memompa lebih cepat lagi.
^
^
"Ka? aku mau boneka itu."Kata Hila sambil menunjuk beberapa boneka yang terpajang.
"Beli saja."Aksa tersenyum.
Hila menggekengkan kepala nya.
"Itu harus bermain lempar karet dulu, menang baru boleh ambil boneka nya."Ucap Hila berbisik tepat di telinga Aksa dengan kaki yang berjinjit.
"Aku harus main?"Tanya Aksa sambil menunjuk diri nya sendiri.
__ADS_1
"He'em."Hila mengangguk.
Hah! dia selalu membuat ku gemas dengan senyuman manis nya.
"Baiklah ayo kita main."Aksa meraih tangan Hila, kemudian membawa nya ke arah tenda yang sempat di tunjuk Hila untuk segera bermain.
Dengan semangat yang berkobar, Aksa langsung membeli karcis dan segera bermain.
Beberapa kali Aksa gagal, hingga membuat nya kembali membeli karscis untuk bermain kembali.Tawa Hila pun terdengar lepas, tidak ada rasa malu atau canggung dengan pria di samping nya.
"Aku menang Hila! ini boneka kuda mu."Aksa tersenyum, lalu memberikan boneka kuda berwarna ungu dan biru yang di ingin kan Mahila.
"Makasih ka Aksa."Ucap nya pelan, lalu menerima boneka tersebut.
"Apa kamu mau minum kopi?"Tanya Aksa, pandangan nya melihat gerai es kopi yang sangat menggiurkan.
"Ka Aksa ingat! aku ada asam lambung.Dia akan menyakiti ku tahu,"Hila tergelak."Lucu bukan? kalau ada yang ingin menyakiti ku tidak usah repot-repot, tinggal kasih kopi aja."Hila tertawa lepas kembali.
-Deg
Aksa terdiam sesaat.
"Baiklah ayo kita pulang!"Ucap Aksa lalu menarik tangan Hila sampai tempat Fortuner hitam nya terparkir.
—Brugh..
Kedua nya sudah berada di dalam mobil.
"Hila?"Aksa memposisi kan duduk nya agar menghadap gadis di samping nya.
"Hum?"Hila menoleh.
"Aku sudah memberi mu waktu satu minggu, dan aku ingin jawaban mu sekarang."Aksa meraih tangan Hila.
Mahila terdiam, mata nya menatap iris tajam milik Aksa, melihat kejujuran atas pernyataan cinta terhadap nya.
"Apa kaka yakin?"Kata Hila.
"Yakin apa?"
"Yakin dengan aku dan cinta kaka?"Tanya Hila kembali.
Pria itu mengangguk.
"Kalau begitu mari kita jalani, aku bukan gadis belia lagi, kita sama-sama sudah dewasa bukan?"Tukas Hila tersenyum, lalu mengusap punggung tangan Aksa yang sedang menggenggam nya.
—Cup..
"Baiklah, kita jalani."Ucap Aksa setelah mencium punggung tangan Mahila.
Aksa mulai menyalakan mobil nya, lalu melaju perlahan menuju perjalanan pulang.Dengan bibir yang tak henti nya tersenyum.
Ayolah Aksa, mangsa sudah masuk perangkap.Tinggal satu langkah lagi, kuatkan hati mu dan jangan bawa perasaan apapun terhadap nya.
Namun hati Aksa berkata lain, hati nya terus meyakin kan bahwa Aksa sudah benar-benar mencintai Hila.Gadis yang menjadi cinta dan patah hati pertama nya.
...TBC🌻🌻🌻...
...Jangan lupa! like, vote, tips, hadiah, dan komen nya ongghey......
__ADS_1
...Othor tungguin ini🤭🤭🤭...