
.
.
Satu bulan kemudian.
Di dalam kamar berukuran besar milik Hila dan Aksa. Suasana terlihat remang-remang ketika cahaya matahari mulai menerobos masuk di antara celah gorden yang sedikit terbuka.
Tubuh kekar bertelanjang dada itu mulai menggeliat perlahan, mengerjap dengan tangan yang berusaha meraih sesuatu yang tampak menghilang di samping nya.
"Sayang?"Panggil Aksa ketika tidak mendapati istrinya di sana.
Entahlah, akhir-akhir ini Aksa selalu ketakutan ketika Hila tidak ada di samping nya, mengingat saat ini Aksa sedang menunghu hasil test DNA bersama janin yang di kandung Yuna.
Dengan cepat ia bangkit, beranjak menuruni tempat tidur lalu berlari ke arah luar kamar.
Nafas nya menderu-deru, mata nya terus mencari ke segala arah.
Dan. Itulah dia, wanita cantik yang sedang berdiri di hadapan meja kompor.
Daster rumahan, dengan rambut cepol sedikit acak-acakan, sama sekali tidak merubah nya menjadi buruk, justru terlihat semakin cantik dengan wajah tampa mekeup yang terlihat sedikit pucat.
"By!"Hila tersentak ketika tiba-tiba saja ada yang memeluk nya dari belakang.
"Jangan pergi!"Cicit nya dengan suara lirih.
Aksa membenamkan kepala nya di cerut leher Hila, menghirup aroma yang selalu membuat nya tenang.
"Aku nggak pergi, hanya membuat sarapan sayang."Jelas Hila sambil mengangkat telur mata sapi yang baru saja di masak nya untuk isian roti.
Trek..
Hila mematikan kompor.
"Bangunkan aku terlebih dulu sayang, aku cemas."
Hila memutar tubuh nya, menghadap Aksa yang kini terlihat sangat kacau.
"Keringetan."Hila mengusap kening suaminya.
"Jangan pergi!"Ucap nya lirih.
__ADS_1
Hila tersenyum.
"Aku disini, di apartemen kita."Jelas Hila. "Siang ini kita harus ke rumah sakit, hasil test DNA nya pasti sudah keluar."Ujar Hila dengan kedua mata yang terus saling memandang.
"Aku belum siap, aku takut."
Hila menggelengkan kepala nya lalu tersenyum, dengan telapak tangan yang terus mengusap pipi suaminya penuh cinta dan kasih sayang.
"Semua nya akan baik-baik saja sayang, kita hadapi ini semua bersama oke!"Hila berusaha menenang kan kepanikan Aksa yang sudah beberapa minggu ini selalu terjadi pada pria tersebut.
Aksa meraih tangan Hila yang sedang berada di pipi nya, dengan mata sayu yang terus menatap wanita yang sedang berada di hadapan nya.
"Kalau dia anak aku, aku harus apa?"
Hila terdiam.
"Kamu ayah nya, maka jadilah ayah yang baik."Hila tersenyum.
"Jangan memintaku untuk menikahi Yuna!"
Hila terdiam sesaat.
"Sayang, aku bikin sarapan dulu yah."Hila mulai melepaskan dekapan Aksa.
"Kamu menghindar."Aksa berbisik.
"Kita bicarakan nanti, sekarang harus sarapan dulu. Apalagi keadaan kamu akhir-akhir ini sangat membuat aku khawatir."Sergah Hila yang langsung melepaskan lilitan tangan Aksa dan segera membuatkan sarapan untuk mereka berdua.
.
.
Siang hari nya tepat puku 13:00. Aksa dan Hila memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana, termakasuk ke rumah sakit.
Rasa cemas berlebih yang Aksa alami, membuat Hila sangat khawatir. Kejadian ini memang kedua nya simpan rapat, dan pasti nya tidak ada satupun keluarga yang tahu, bahwa Aksa mempunyai calon anak dari wanita lain, walau sesungguh nya itu belum tentu anak Aksa.
Ting!
Sebuah notifikasi ponsel Aksa berbunyi.
Aksa yang tengah sibuk menonton film pun teralihkan, lalu meraih benda pipih tersebut yang terletak di atas meja.
__ADS_1
"Siapa?"Hila menatap Aksa penuh tanya, ketika melihat raut pria itu berubah seketika.
"Yuna."
Dengan perasaan takut Aksa membuka isi pesan tersebut. Lalu munculah sebuah foto.
Degg!!
"Kenapa By?"
Namun ponsel itu langsung terjatuh ke atas lantai.
Brakk..
"Sayang are you okay?"Hila meraih wajah Aksa, menarik nya agar menatap ke arah nya.
Mata itu memerah dengan linangan air di sudut nya.
"Positif."Suara itu sangat pelan.
"Hah?"Hila tertegung.
"Dia anakku Hila."Aksa terisak.
"Mbak Yuna sudah membawa test nya?"
Aksa mengangguk.
"Maaf kan aku Hila, maaf kan aku!"Aksa memeluk tubuh Hila.
Hila hanya terdiam, sambil mengusap punggung Aksa.
Sakit? tentu saja, namun ini sudah jalan takdir, dan ini bukan kebetulan, cerita hidup seseorang sudah tertulis bahkan jauh sebelum mereka lahir, saat ini Yuna hanya bisa bersabar, dan berdamai dengan diri sendiri tentu nya.
"Tidak apa, aku juga akan menjadi ibu. Anak mu juga akan menjadi anaku bukan."Hila mencoba menguatkan Aksa, walau sesungguh nya ia pu terluka.
"Tidak usah cemas, ingak!"Ucap Hila kembali seraya menepuk pundak suaminya.
...Maaf ya gusy, slow update😉...
...Tetep like sama komen nya jangan lupa...
__ADS_1
...Lempar mawar deh kalo nggak hadiah lain nya heheh...