
🌺
🌺
Mata Hila mulai mengerjap, ketika merasakan pusing yang teramat sangat, di selingi rasa mual yang sudah menyeruak.
Dengan cepat Hila menepis tangan yang sedang memeluk tubuh nya erat, menurun kan dua kaki nya lalu berlari sempoyongan ke arah kamar mandi.
Uwek! Uwek! Uwek!
"Uhuk,...uhuk,..uhuk,..!"
Wanita itu membungkuk di depan washtafel, memuntahkan semua isi perut nya dengan kepala yang terasa berputar sangat kencang.
Setelah rasa mual nya mereda, Hila segera membasuh mulut nya dengan air, namun tiba-tiba saja sebuah tangan kekar memijat tengkuk nya, sampai membuat pandangan Hila mendongkak, menatap seorang yang berdiri di belakang nya dari pantulan cermin.
"Sudah,..nanti jangan coba-coba lagi!"Ucap nya dengan suara serak, muka sembab dan rambut acak-acakan.
Hila menegakan tubuh nya, kemudian berbalik segera meraih tubuh Aksa dan memeluk nya erat.
"Aku selalu muntah,... kenapa kamu nggak! padahal kamu minum lebih banyak."Ucap nya pelan.
"Karena aku sudah terbiasa sayang!"Jawab nya sambil mengusap pucuk kepala istrinya.
Hila terdiam, dengan posisi yang masih sama, menyandarkan kepala nya yang terasa pusing di dada Aksa.
"Apa masih mau muntah?"Tanya Aksa.
Hila menggeleng kan kepala.
"Bisa jalan apa mau di gendong?"Tanya nya kembali.
Hila melonggarkan lilitan tangan di pinggang Aksa, kemudian menatap wajah pria itu sambil tersenyum.
"Gendong."Pinta nya dengan nada manja.
Aksa tersenyum, kemudian segera memangku tubuh Hila dan membawa nya kembali ke dalam kamar.
"Aku nggak mau kamu muntah pagi-pagi lagi, kecuali kalau hamil."Sergah Aksa sambil mencubit hidung istrinya.
"Memang nya mau langsung? kenapa nggak kita tunda dulu?"Tanya Hila.
Kepala dan pandangan Hila terus tertuju kepada pria yang sedang berjalan memutari ranjang, kemudian naik dan berbaring miring menghadap Hila.
"Aku ingin secepat nya mempunyai hal yang paling berharga berada di rahim kamu."Aksa memgelus perut Hila.
"Apa tidak mau pacaran dulu?"Tanya Hila."Kita nggak pacaran kan By."Ucap nya sedikit berbisik.
"Apa kamu belum siap mempunyai anak?"Tanya Aksa.
Hila mengangguk.
"Yasudah, kita lihat bulan depan. Kalau kamu datang bulan, setelah nya boleh pakai pil atau kb lain nya, tapi kalau dia sudah ada, kamu harus menerima nya oke."Jelas Aksa dengan pandangan mata yang terus menatap istri cantik dengan wajah polos nya.
"Apa kamu tidak masalah?"Tanya Hila pelan.
__ADS_1
"Aku ingin, tapi kalau kamu mau kita pacaran dulu ya nggak apa-apa."Aksa tersenyum.
Hila diam.
"Yasudah, tidak usah di tunda saja."Hila langsung memeluk tubuh Aksa.
"Serius? aku tidak memaksa sayang."Cicit Aksa.
Hila mengangguk.
"Kalau begitu kamu harus berhenti kerja."Usul nya kepada Hila.
"Kenapa?"
"Sayang, kamu ini istri seorang pengusaha. Tidak usah cape-cape bekerja, tinggal diam saja di rumah tunggu aku pulang."Jelas Aksa.
"Tapi aku masih mau bekerja By."Rengek nya.
"Aku takut Abiyasa gangguin kamu lagi sayang."Aksa terlihat khawatir."Mending kalo aku langsung dateng, bayangin kalo nggak ada aku dan yang nolongin."Ucap nya kembali.
Hila diam, wanita itu terlihat mempertimbang kan semua yang baru saja Aksa ucapkan.
"Aku mau berenang, apa kamu mau?"Hila mengalihkan pembicaraan.
"Jawab dulu."Tegas Aksa.
Namun bukan nya menjawab, Hila malah langsung bangkit dan beranjak ke arah pintu untuk segera keluar menuju kolam renang.
–Klek..
Hila memejam kan mata, menghirup udara segar yang juga terasa dingin ketika menyentuh kulit nya.
"Kenapa belum masuk?"Aksa tiba-tiba memeluk tubuh nya dari belakang.
"Aku lupa kalau kolam nya dalam."Hila tersenyum canggung.
Aksa membalikan tubuh Hila, kemudian menarik gaun tidur dan melemparkan nya ke arah dalam, sampai hanya menyisakan pakaian dalam brenda berwarna merah.
"Tidak akan ada yang lihat."Jelas Aksa ketika pandangan Hila menatap sekitar.
"Iya tentu, pagar nya tinggi sekali."Ucap nya pelan.
Dengan cepat Aksa masuk ke dalam kolam terlebih dulu, kemudian mengulur kan tangan untuk membawa Hila masuk.
Perlahan kaki Hila masuk, meraih bahu Aksa untuk di jadikan nya pegangan agar tidak tenggelam.
"Dingin!"Cicit Hila pelan, ketika tubuh nya terkejut dengan rasa dingin yang menusuk kulit.
Aksa hanya tersenyum, pria itu juga sudah pasti merasakan dingin, hanya saja ia terlalu fokus memangku tubuh Hila dan berjalan pelan ke arah ujung kolam.
"By apa aku tidak berat?"Tanya Hila.
Aksa hanya menggeleng kan kepala, meletakan Hila di pinggir kolam dan menatap lekas wajah wanita yang berada di hadapan nya itu.
"Maaf."Ucap nya sambil menyapu rambuk Hila yang terkena hembusan angin ke celan daun telinga.
__ADS_1
Hila mengerutkan dahi, dengan tatapan heran ke arah suaminya.
"Kenapa tiba-tiba meminta maaf?"Ujar Hila.
"Emm,.. dulu aku jahat dan suka membentak mu bukan? aku meminta maaf untuk itu dan juga ini."Jelas Aksa sambil mengusap pergelangan tangan sebelah kanan Hila.
"Aku sudah memaaf kan nya bukan?"Tangan Hila menyentuh tulang rawan Aksa seraya tersenyum ke arah nya.
"Aku menyesal, dan rasa sesak itu sekarang berbalik ke padaku."Aksa berbisik.
"Tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah berlalu cukup lama."Wanita itu terus tersenyum.
"Maafkan aku, karena wanita itu selalu berhasil menghasut ku, menggunakan rasa cemburu ku, sampai aku selalu marah ketika kamu berdekatan dengan Irfan dan Dody."Sergah nya kembali.
Hila terdiam kali ini, menyelami iris yang terlihat penuh penyesalan di dalam nya.
"Aku tidak apa-apa."Kata Hila, lalu turun dan memeluk tubuh Aksa kembali.
Lihatlah, dia bahkan bersikap seolah dia baik-baik saja, padahal semalam dia terlihat sangat lelah dan banyak sekali ketakutan dari raut wajah nya.
"By?"Panggil Hila.
Aksa tersentak.
"Heum,.."Gumam nya.
"Ko ngelamun sayang? itu tidak usah di pikirkan, aku tidak apa-apa!"Jelas Hila kembali.
Aksa mengangguk, kemudian menyatukan kening kedua nya, lalu saling memaut satu sama lain, menghangat kan suasana yang terasa sangat dingin.
"Kita harus cepat naik, udara dingin sekali."Ujar Aksa di sela pautan bibir nya.
"Alasan."Hila tertawa, ketika merasa sesuatu di bawah sana sudah terbangun.
"Ya salah satu nya dingin, dan aku menginginkan yang lain."Pria itu berbisik sambil terus berjalan.
"Ya ya,.. gimana kamu saja."Hila terkekeh.
"Apa masih sakit?"Tanya Aksa.
Hila menggeleng kan kepala.
"Sekarang tidak."Jawab nya.
"Baiklah, kita akan melakukan nya beberapa ronde, sebelum besok pulang."Aksa menyeringai.
"Jangan terlalu berlebihan, nanti aku nggak bisa jalan."Hila berbisik.
Aksa menatap Hila.
"Aku tidak janji sayang, kamu yang membuat ku secandu ini kepada mu."Aksa menutup pintu kamar nya, kemudian menurun kan Hila dan melepas kan pakaian kedua nya yang basah dan segera naik ke tempat tidur dengan selimut yang langsung di pakai Aksa untuk menutupi tubuh polos kedua nya.
...TBC🌺🌺🌺...
...Jangan lupa! like, vote setiap hari senin, dan komen nya agar othor semakin semangat.....
__ADS_1