Mahila Arindra.

Mahila Arindra.
Kandang singa.


__ADS_3

^


^


Jarum jam sudah menunjukan pukul sembilan lebih, namun Aksa belum kunjung datang kembali ke kediaman nya yang sudah sangat di tunggu oleh Nanda.


Wanita itu terus berharap bahwa Hila akan berkunjung ke rumah nya malan ini, walau pun kedua nya sudah sering bertemu semasa Hila masih menjadi karyawan Aksa, namun Nanda seolah ingin mengetahui lebih dalam sifat gadis manis yang terus menjadi incaran putra semata wayang nya.


Suara derum mobil milik Aksa sudah sangat jelas terdengar, terlihat dengan sorot lampu mobil yang menembus sampai ruang tamu rumah nya.


Dengan penuh antusias Nanda bangkit, kemudian berjalan ke arah pintu dengan wajah berbinar.


Gadis itu terlihat turun dari mobil, bersamaan dengan Aksa yang langsung berjalan ke arah Nanda.


Hila terus menunduk, raut wajah dan senyum nya terlihat sangat gugup, walau pun sesungguh nya ini bukan pertemuan Hila dan Nanda, namun saat ini status nya berbeda, dulu Hila sering bertemu sebagai karyawan dan orang tua atasan, kini Hila akan menjadi calon menantu wanita paruh baya yang terus beridiri di ambang pintu dengan bibir nya terus tersenyum ke arah nya.


"Akhirnya kalian datang juga!"Nanda tersenyum, laku meraih tangan Hila dan memeluk gadis itu.


"Iya tante maaf kemaleman."Hila berujar.


"Eh,..ko masih panggil tante, panggil ibu biar sama kaya Aksa."Pinta Nanda pada Hila."Ayo masuk di luar sudah mulai dingin!"Cicit Nanda kembali, kemudian menarik tangan Hila ke dalam rumah.


"Duduk dulu, biar ibu buatkan teh!"Sergah wanita itu pada Hila.


"Nggak usah bu, Hila sama ka Aksa sudah banyak minum."Jelas Hila."Hila cuma mau berkunjung dan bertemu ibu kan."


Nanda yang akan segera beranjak pun kembali menoleh, lalu mengangguk dan ikut duduk di samping Hila.


"Apa kalian serius mau menikah?"Tanya Nanda.


Sesaat Hila langsung memandang Aksa dengan senyum canggung nya.


"Emm,..Hila gimana ka Aksa saja, ka Aksa yang bilang nya dadakan!"Sahut gadis itu dengan polos nya.


Nanda tersenyum tipis, kemudian beralih menatap Aksa.


"Jadi bagai mana?"Tanya Nanda.


–Ceklek..


Tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka, obrolan pun terhenti sebentar dan langsung melihat ke arah suara.


"Hila sudah datang?"Tanya Raksa sambil berjalan ke arah sofa.


"I-iya, baru saja sampai."Sahut Hila.


Perasaan Hila semakin tidak karuan, canggung, gugup, malu, semua nya bercampur menjadi satu, apalagi seluruh orang yang berada di tempat seolah terus menatap Hila dengan wajah yang berbinar, membuat Hila menjadi salah tingkah.


"Apa kabar? kerja apa sekarang?"Tanya Raksa yang langsung duduk di samping Aksa dan berhadapan dengan gadis itu.


"Hila kerja di hotel sekarang om."Jawab Hila.


Raksa mengangguk.


"Kamu mau di sedia kan pesta seperti apa?"Nanda sumringah.


Deg..


Hila tertegung.


"Hila?"Aksa menatap lekat wajah gadis di hadapan nya, yang sudah terlihat pucat marena rasa gugup yang terus mendominasi.


Aksa yang menyadari itu langsung bangkit, dan berjalan ke arah Hila kemudian duduk di sebelah nya.


"Ibu mending kita bahas nya nanti saja, pas kita kerumah Hila, ini harus di runding kan seluruh keluarga."Aksa berujar.


"Iya, seperti nya Hila masih bingung bu."Timpal Raksa.


"Yasudah, ibu ambilkan air minum dulu yah!"Nanda langsung bangkit lalu berjalan ke arah dapur.


"Sudah malam, ayah mau ke kamar dulu. Jangan sungkang Hila, bersikaplah seperti biasa, jauh sebelum kamu akan menjadi bagian keluarga kami, ibu Aksa sudah mengingin kan mu untuk menjadi menantu nya, jadi tidak usah sungkan."Raksa tersenyum.


Hila mengangguk, entah kenapa ia susah sekali mengendalikan rasa gugup nya malam ini, sampai ia hanya ingin berdiam tampa banyak berbicara.


Setelah berpamitan, Raksa segera bangkit.Berjalan menuju pintu kamar yang tertutup.

__ADS_1


"Ayah sudah mau tidur?"Nanda datang dengan nampan dan satu gelas coklat hangat untuk Hila.


"Iya, tolong ambilkan obat dan air putih."Titah Raksa kemudian langsung di angguki Nanda.


"Hila, di minum coklat hangat nya yah, ibu tinggal dulu."Nanda meletakan coklat hangat nya di atas meja.


"Terimakasih bu."


Nanda mengangguk lalu pergi.


Kini hanya tersisa Aksa dan Hila yang duduk berdampingan.


"Di minum sayang! itu ibu yang bikin khusus buat kamu."Aksa tersenyum, lalu meraih gelas yang berada di atas meja dan memberikan nya kepada Hila.


"Padahal aku sudah banyak minum yang manis-manis ka."Bisik Hila.


Aksa terkekeh pelan.


"Ayo minum, setelah ini aku punya sesuatu untuk mu."Tukas Aksa.


Hila pun mengangguk, lalu meneguk coklat hangat milik nya.


"Apa?"Hila meletakan gelas kembali di atas meja.


Aksa tidak menjawab, pria itu berdiri kemudian meraih tangan Hila dan membawa nya ke arah pintu kamar milik nya.


"Nanti ibu marah ka!"Hila berbisik.


"Kenapa marah? kita nggak ngapai-ngapain!"Jelas Aksa.


–Klek..


Pintu kamar Aksa terbuka, nampaklah ruangan yang luas dengan cat kamar berwarna abu-abu muda.


"Kamar cowok memang kaya gini yah!"Hila tersenyum."Tidak ada warna hidup, seperti kuning atau pink."


Aksa tersenyum, pria itu terus berjalan terlebih dulu, kemudian berhenti di samping tempat tidur dan membuka laci nakas nya.


Aksa meraih sebuah kota, lalu menutup laci nakas nya kembali, kemudian berjalan menghampiri Hila yang sedang berdiri di dekat jendela, memandang taman belakang rumah yang bisa di lihat dari kamar nya.


"Jangan seperti ini, kita belum sah tahu! nanti di demo."Hila menepuk pelan lengan Aksa.


"Ibu lagi nyiapin obat gula nya ayah, kamu tenang saja, dia nggak bakalan grebek kita."Aksa berbisik.


—Cup..


Aksam mencium tengkuk Hila, kemudian melepaskan pelikan nya.


"Hila?"Panggil nya lalu Hila menoleh.


"Ini buat kamu!"Aksa memberikan sebuah kotak untuk Hila.


"Apa?"


Hila menatap Aksa bingung.


"Buka saja."Titah Aksa.


Lama Hila memandangi kotak berukuran sedang yang berada dalam genggaman nya, lalu membuka perlahan.


"Gelang?"Hila beralih menatap Aksa.


Aksa menganguk.


"Ini aku beli waktu SMA dulu, aku tidak sempat memberikan nya kepada mu."Aksa tersenyum tipis, lalu menarik gelang itu keluar, dan meraih tangan kanan Hila.


Perlahan Aksa memasangkan gelang tersebut, tidak terlihat ada yang istimewa, hanya sebuah benang hitam yang di gulung tebal dengan huruf N yang menggangung.


"Maaf!"Ucap nya lirih.


"Loh, kenapa?"Tanya Hila yang langsung terlihat bingung karena berubahan sikap Aksa yang terlihat menjadi sedih.


"Aku suda menggores kan luka di sini."Aksa mengusap pergelangan tangan Hila.


"Tidak apa-apa."Hila berusaha menarik tangan nya namun Aksa menahan sedikit lebih erat.

__ADS_1


"Apa waktu itu kamu,.."


"Sudah."Hila menarik lengan nya."Biarkan itu menjadi kisah cinta kita, kaka tahu? aku sudah sangat mencintai mu waktu itu, wajar saja kalau aku kelihatan bodoh."


Aksa terdiam, kini pandangan mata kedua nya saling menyelami satu sama lain dengan tatapan penuh cinta.


"Aku lebih mencintai mu!"Ucap Aksa pelan.


Aksa melangkah untuk mengikis jarak antara Hila dan dirinya, lalu meraih pinggang Hila dan menempelkan kening kedua nya.


"Ka ayo pulang?!"Ajak Hila berusaha menghindar.


"Kenapa? apa kamu takut sekarang?"Aksa kembali berbisik.


"Tidak, hanya saja kaka terlihat aneh dan tidak nyaman ketika meneluk tubuh tinggi ku."Hila serius.


"Tinggi?"Aksa menjengit.


"Iya, tinggi ku seratus enam lima.Kamu nya saja yang ketinggian, sampai harus membungkuk agar bisa memeluk tubuh ku."Cicit Hila.


Aksa tertawa.


"Aku cuma seratus delapan puluh senti, masih banyak yang lebih tinggi dari ku."Jelas Aksa.


"Yasudah aku cari yang lebih tinggi."Ucap nya penuh candaan.


"Jangan ngaco!"Aksa menarik hidung Hila.


Hila terdiam, dengan tatapan mata yang meneliti wajah pria tampan di hadapan nya.


–Cup..


Tampa sadar Hila meraup kedua pipi Aksa, kemudian mencium singkat bibir calon suaminya.


Aksa tersenyum, mengeratkan pelukan di pinggang Hila sampai membuat gadis itu lebih menempel pada dirinya, lalu meraup benda kenyal dengan aroma strawbarry milik Hila.


Telapak tangan Hila mengusap rahang Aksa lembut, lalu mendorong nya pelan untuk menghentikan kegiatan nya.


"Kenapa?"Tanya Aksa berbisik tepat di hadapan wajah Hila.


"Aku harus pulang, sebelum menjadi makanan singa lapar, kamu tahu aku sedang berada di kandang nya saat ini."Hila tersenyum sambil terus mengusap pipi Aksa.


Aksa mendengus pelan.


"Dulu aku sangat mengingin kan mu, setelah mendapatkan nya, justru aku tidak ingin jauh dari mu! sihir apa yang kamu berikan pada ku sayang?"Ucap nya lirih dengan pandangan mata yang terus saling beradu.


Hila senyum.


"Rahasia,..ayo antar aku pulang ka!"Aksa langsung melepas kan pelukan nya.


"Bisa tidak jangan memanggil ku itu!"Pinta Aksa.


"Apa?"Sergah Hila sembari berjalan ke arah pintu.


Aksa memutar mata nya jengah.


"Aku seperti sedang berpacaran dengan adik ku sendiri!"Cicit Aksa.


"Anggap saja seperti itu, bukan nya kamu mau punya adik?"


"Iya, tapi kamu cocok untuk menjadi istri bukan adik."


–Klek..


"Ayo pamit ke ibu dulu."Titah Hila.


"Tidak usah, ibu pasti sudah tidur."Ujar Aksa yang langsung menggenggam telapak tangan Hila dan berjalan ke arah luar.


"Ih tidak sopan."Cicit Hila.


"Tidak, ibu sama ayah sudah tidur kalau jam segini."Jawab Aksa sambil melihat jam di pergelangan tangan nya.


Hila hanya menurut, sambil terus berjalan dan segera masuk kedalam mobil.


...TBC🌱🌱🌱...

__ADS_1


...Jangan lupa! like, vote, hadiah, dan dukungan untuk author lain nya....


__ADS_2