Mahila Arindra.

Mahila Arindra.
Menemui Yuna.


__ADS_3

.


.


.


Siang hari nya tepat pukul 09:15, Hila sudah terlihat rapi dengan kemeja biru langit di padukan dengan celana jeans berwarna hitam dan rambut yang ia ikat asal dan polesan makeup tipis yang masih membuat Hila terlihat sangat cantik tentu nya.


Hari ini tidak seperti biasanya, wanita yang selalu tersenyum dan bersikap manja kini berubah dingin dan selalu mengabaikan Aksa, yang bahkan Hila sudah diamkan sejak semalam.


Ceklek..


Suara handle pintu di tekan pun terdengar jelas, lalu munculah Aksa dari balik pintu kamar mandi, dengan hanya menggunakan handuk yang pria itu lilitkan di atas pinggang.


Pandangan nya menatap Hila yang kini sedang duduk di meja rias dengan lipstik di tangan nya.


"Apa masih marah?"Aksa mendekat, membungkukan tubuh nya lalu mencium pipi Hila.


Cup..


"Sayang, sebaik nya kamu menamparku ribuan kali dari pada harus di diamkan seperti ini."Cicit Aksa dengan pandangan yang tertuju pada cermin di hadapan nya.


"Aku tidak marah, hanya kecewa saja dengan semua yang baru saja terjadi."Jelas Hila. "Tapi aku akan terlihat tidak tahu diri, ketika aku ingin menampar mu kembali. Seharus nya yang lebih marah dan kecewa itu mbak Yuna, aku yang mengambil mu dari dia dan calon anak kalian bukan?!"Jelas nya kembali sambil tersenyum getir.


"Sayang!"


"Sudahlah,..cepat ini sudah siang! nanti cuaca nya semakin panas."Titah nya kepada Aksa.


Pria itu menghela nafas nya dalam, kemudian segera berjalan ke arah lemari dan menyusul Hila yang sudah berjalan terlebih dulu untuk segera keluar kamar ketika Aksa sudah berpakaian lengkap.


"Loh! mau kemana?"Tanya Nanda yang kebetulan lewat di depan pintu kamar Aksa.


"Hila mau keluar cari angin bu."


"Bukan nya luka operasi kamu masih suka nyeri? sebaiknya nanti lagi saja kalau benar-benar sudah pulih."Nanda menusap lengan Hila.


"Sebentar bu, Hila bosen."Ucap nya dengan senyum merekah.

__ADS_1


Pandangan Nanda menatap Hila penuh ke khawatiran, namun sesaat berpaling dan menatap Aksa yang saat ini berdiri di belakang istrinya.


"Kalian serius mau jalan-jalan?"Nanda menatap Aksa.


"Hah?


"Iya bu, ka Aksa juga tadi nya nggak nge- bolehin. Tapi cuma sebentar ko bu, Hila kelamaan di kamar rawat rumah sakit, jadi udah bosen banget ini."Jelas Hila kembali.


Aksa menatap Hila sendu.


Bahkan dia menutupi aib ku!


"Yasudah, hati-hati oke! ibu nggak mau kamu kenapa-kenapa."


Hila tersenyum lalu menganggukan kepala.


"Hila sama ka Aksa berangkat ya bu."Pamit nya lalu mencium punggung tangan Nanda.


.


.


.


"Sayang?"Aksa membuka obrolan setelah sekian lama bungkam.


Mata Hila terpejam sesaat di selingi tarikan nafas lembut, kemudian menoleh.


"Iya?"Hila menatap Aksa.


"Maaf."Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Aksa.


Tangan kiri nya terulur, lalu meraih telapak tangan Hila dan menggenggam nya.


"Berhenti meminta maaf, lebaran masih jauh."Jawab Hila datar.


"Berjanjilah untuk tetap disisi ku apapun yang terjadi."Pinta nya dengan suara pelan.

__ADS_1


Helaan nafas Hila kembali terdengar.


"Aku akan mencoba bersikap dewasa semampuku, menghadapi semua masalah dengan kepala dingin."Cicit nya seraya menegakan tubuh nya.


"Aku tahu kamu marah, kecewa,... bahkan mungkin menyesal menikah dengan pria brengsek sepertiku, tapi aku minta tetaplah bersama suamimu ini."Suara Aksa lirih.


Hila terdiam.


"Hila?"


"Entahlah, mungkin aku akan mundur kalau itu memang benar anak mu."Ujar Hila. "Aku memang payah, tidak sekuat wanita-wanita di luar sana yang suaminya mempunyai istri lebih dari satu."Pandangan Hila terus menatap lurus kedepan.


Aksa menatap wanita di samping nya, lalu menggeleng kan kepala.


"Anak itu butuh ayah, butuh keluarga yang utuh. Setidak nya aku akan belajar mengikhlas kan dari sekarang."Cicit Hila dengan suara bergetar.


"Sayang tapi....


"Kamu mendengar nya bukan? Dokter bahkan memponis aku akan sulit hamil, dan kamu mengingin kan anak."Sergah Hila.


"Jangan berkata seperti itu! kita belum tahu itu anak siapa."


"Seandai nya itu anak kamu?" Kini pandangan Hila berlih kepada suminya. "Walau memang dia tidak berdosa, tapi tetap. Dia adalah ranjau di dalam rumah tangga kita atas perbuatan kamu dan mbak Yuna."


Aksa terdiam, pandangan nya fokus kedepan ketika mobil itu berbelok ke kanan, memasuki kawasan elit apartemen.


"Kita lakukan test DNA baru kamu boleh berbicara soal perpisahan."Tegas Aksa sambil menarik rem tangan mobil nya.


"Ayo turun, kita selesaikan masalah ini secepat nya."Aksa berujar, kemudian mencium pipi Hila secara tiba-tiba lalu segar turun.


Hila membeku, mata nya melihat punggung Aksa yang mulai beranjak pergi.


Aku harus apa sekarang? gumam nya lirih dengan tatapan sendu.


–Dreuk..


"Sayang ayok!"Aksa mengulurkan tangan nya.

__ADS_1


Hila mengangguk, menarik kedua sudut bibir nya, lalu menggenggam tangan Aksa dan segera keluar dari mobil milik suaminya itu.


__ADS_2