Mahila Arindra.

Mahila Arindra.
Cerai?


__ADS_3

Aksa terus memacu Fortuner hitam milik nya dengan kecepatan tinggi, setelah mendapati kabar bahwa istri nya Hila kini sedang berada di ruang rawat inap karena penyakit mag nya yang semakin parah.


"Suami macam apa aku ini! memperhatikan wanita lain, sementara dia sedang mengalami kemalangan."Aksa berucap, raut wajah nya bahkan terlihat sedikit frustasi.


Mobil itu terus melaju cepat, menyusuri jalanan ibu kota yang tampak sedikit ramai, lalu dia sampai setelah beberapa menit terus memacu mobil hitam nya.


-Brughh...


Aksa membanting pintu mobil nya, kemudian berlari ke arah dalam rumah sakit.


"Yoga!"suara nya memekik, ketika ia berpapasan dengan sang kaka laki-laki istri nya.


Yoga hanya terdiam, menatap tajam manik Aksa, kemudian berlalu begitu saja ke arah luar.


Ia kembali berjalan tergesa-gesa, menyusuri setiap lorong rumah sakit, mencari ruangan tempat Hila berada, setelah tadi sepulang nya ia dari apartemen Yuna, Indra menelpon nya, dan memberi tahu ke adaan Hila.


"Kenapa ponsel ku tertinggal segala!"Aksa bergumam. "Aku mulai ceroboh sekarang!"ucap nya kembali.


Sesampai nya di depan pintu ruangan Hila, Aksa berdiam diri sesaat, menatap pintu itu lekat, lalu menarik nafas dan menghembus kan nya perlahan, dan segera meraih handle pintu.


Krekk!!


Aksa mendorong pintu kamar rawat inap tersebut, lalu pandangan nya bertemu dengan Indra, sosok yang memberitahukan keadaan istrinya.


"Aksa, syukurlah kamu bisa datang."Arina menoleh. "Hila melarang mama untuk memberi tahu, kata nya kamu lagi sibuk dan banyak kerjaan."Arina kembali berbicara, dengan senyum hangat di bibir nya.


Aksa membeku, hati nya bedegup lebih cepat, dengan rasa sesak yang memenuhi rongga dada nya.


"Sudah pulang?"Hila tersenyum ke arah Aksa.


Pria itu masih terdiam.


"By, kamu sudah menyelesaikan pekerjaan di kantor?"ucap wanita itu kembali.


"Ah! i-iya!"Aksa tersenyum, kemudian segera berjalan mendekat ke arah Hila yang sedang terbaring di atas tempat tidur, dengan selang infus di tangan kanan nya.


"Maaf, kerjaan ku banyak sekali. Sampai harus kembali pulang larut, dan membuat mu kesusahan sendiri."


Hila hanya mengangguk, sungguh kebohongan Aksa terbungkus dengan baik, hingga orang tua kedua nya tidak pernah mengetahui apa saja yang saat ini tengah terjadi.


"Untung saja Abi melihat Hila!"ujar Arina.


Aksa menjengit.

__ADS_1


"Abi...Yasa?!"


"Iya, teman Hila juga."Arina mengangguk.


"Kenapa bisa? bagaimana kalau dia kembali menyakiti Hila mah? dimana dia sekarang, akan ku beritahu agar tidak mendekati Hila lagi!"


Wajah Aksa terlihat memerah, nafas nya menderu-deru.


"By! apa sih? Abi udah baik anterin aku ke rumah sakit!"cicit Hila yang juga mulai merasa heran dengan sikap suami nya.


"Abi sudah pulang, dia hanya mengantar Hila masuk IGD saja, setelah Yoga datang, dia juga segera pulang."Indra menyela.


Sementara Arina hanya terdiam, dengan pandangan penuh tanya.


"Sudah, kamu duduk. Aku tahu kamu masih cape, makanya suka emosian."kata Hila setaya menarik pergelangan tangan Aksa, membawa nya agar segera duduk di kursi samping tempat tidur.


"Kenapa harus Abiyasa?"Aksa menatap Hila tampa ekspresi.


"Kamu aneh!"Hila berbisik. "Orang dia yang nemuin aku pas aku nunggu taksi di halte."


Aksa terdiam.


"Ehh,...mamah sama bapak boleh pulang, Hila biar aku yang jaga."Aksa menatap ke arah mertua nya.


"Istirahat dirumah lebih baik, disini badan kalian akan terasa pegal dan sakit."Aksa tersenyum.


Indra dan Arina pun tersenyum tipis, kemudian menganggukan kepala nya.


"Yaudah, titip Hila yah! besok pagi mamah kesini lagi!"


"Iya mah."kata Aksa.


*


*


Kedua orang tua Hila kini sudah pulang, menyisakan dua insan yang sedari tadi hanya terdiam, dengan pikiran nya masing-masing.


"Maaf!"suara Aksa terdengar lirih. "Apa sakit mu parah, bapak menelpon puluhan kali, dan aku baru menerima nya, setelah.....


"Apa? mbak Yuna tertidur kah?"Hila memotong omongan Aksa, kemudian menoleh, menatap wajah suami nya yang saat ini memandang nya sayu.


"Tidak, ponsel ku tertinggal di apartemen Yuna, dan aku tidak tahu, kenapa notifikasi hape nya tidak pernah terdengar."jelas Aksa.

__ADS_1


Hila tersenyum miris.


"Maaf!"Aksa kembali berucap, lalu meraih tangan Hila untuk ia genggam.


"Tidak. Disini aku yang salah, sudah menyetujui apa ke inginan mbak Yuna, jadi seharus nya aku tidak sakit hati."Hila masih terus tersenyum.


Aksa terdiam.


"Aku kira kamu bisa bersikap tegas. Pulang ketika waktu nya pulang! tapi aku salah, sekarang aku merasa yang sendiri, dan keadaan seperti terbalik."


"Hanya sampai dia lahir!"cicit Aksa.


"Hubungan kita semakin merenggang, bahkan hampir setiap hari kita bertengkar, aku marah, dan kamu selalu membela mbak Yuna!"Hila mulai menangis.


"Awal nya aku hanya merasa bersalah kepada mbak Yuna, tapi hati ku juga sakit, ketika suami ku sekarang lebih banyak menghambiskan waktu dengan matan kekasih nya."


Aksa masih terdiam, pria itu hanya terus manatap Hila yang saat ini sedang menangis.


"Mungkin kemarin aku masih bisa sabar, tapi malam ini, aku benar-benar merasa kecewa dan sakit, beberapa kali aku sakit, dan setiap saat itu pun, kamu tidak ada disisi ku."Hila menyusut pipi nya yang basah dengan punggung tangan nya.


"Untung Abiyasa membawa ku kesini, menolong ku dari sakit yang sangat menyiksaku."


Deg!


Aksa melepas kan genggaman tangan nya.


"Jangan membicarakan pria lain di hadapan ku!"raut wajah nya berubah seketika. "Aku berusaha pulang cepat tadi, tapi Yuna selalu mual, kalau aku tidak ada di sisi nya!"


Hila terdiam, menatap Aksa dengan mata yang masih merah dan berkaca-kaca.


"Aku tetap suami mu, sampai kapan pun. Kalo mau, aku akan kembali mengabaikan Yuna, seperti dulu!"ujar Aksa.


Hila menggelengkan kepala.


"Mari kita bercerai, dan lanjutkan hidup mu bersama mbak Yuna dan anak kalian nanti!"ucap Hila dengan suara lirih dan terdengar bergetar.


Hila menahan tangis.


...Bersambung!...


Jangan lupa like, komen sama hadiah nya yah!


...Sayang kalian banyak-banyak......

__ADS_1


...🤩😘...


__ADS_2