Mahila Arindra.

Mahila Arindra.
Kemarahan Nanda.


__ADS_3

Mereka terlihat turun dari mobil milik Yoga yang saat ini sudah terparkir di halaman rumah, setelah mengurus kepulangan Hila dari rumah sakit dan memutuskan untuk merawat Hila di rumah kedua orang tua nya saja.


"Hati-hati!"kata Yoga yang saat ini berdiri, membopong tubuh semampai itu yang masih terlihat sedikit lemas.


"Yoga kamu terlalu berlebihan."ucap Indra.


"Aku hanya membawa adik kesayangan ku pak, menjauh dari pria yang hobi nya bermain prempuan, itu saja!"


"Bisakah kalian berhenti membicarakan ini dulu, aku lelah."suara Hila pelan, bahkan hampir berbisik ketika rasa sedih dan ingin menangis kembali menyeruak di dalam dirinya.


Yoga langsung terdiam, ia hanya tersenyum samar sambil terus menuntun Hila masuk ke dalam rumah.


"Sudah nyaman?"Yoga menyelimuti tubuh Hila.


Hila mengangguk, kemudian tatapan nya tertuju kepada Yoga.


"Ka?"


"Hem?!"


"Jangan terlalu keras, suamiku sedang berusaha memperbaiki semua nya. Lagi pula ini atas ke mauan ku, dia bertanggung jawab kepada mbak Yuna."


Yoga menggelengkan kepala nya.


"Pulihlah terlebih dulu, setelah itu lihat nanti."kata Yoga yang langsung bangkit, lalu keluar dari kamar Hila.


Prempuan itu kembali menangis, merasakan hati nya yang kembali terasa sakit dan hampa. Bukan karena kini ia berpisah dari suaminya, namun karena ingatan nya kembali dimana Aksa kembali, dan membentak nya di hadapan Abiyasa, bahkan di dengar Yoga, yang mungkin saat itu belum di sadari kehadiran nya.


"Ka Yoga memang selalu menyayangiku, bahkan hingga saat ini, ketika aku sudah menjadi istri orang lain. Dan dia terlihat lebih sakit ketika mendengar kenyataan bahwa ka Aksa kini akan mempunyai anak dari prempuan lain."


Prempuan itu terus merintih, menangis dalam diam dengan tubuh yang terus meringkuk memeluk lutut nya erat.


Mahila yang malang.


"Sekarang malah semakin rumit."Hila berucap lirih dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.


...----------------...


Pria yang saat ini tengah mengemudikan mobil nya hanya terdiam, menatap fokus ke arah depan dengan perasaan yang juga terasa amburadul kemana-mana.

__ADS_1


Kini benang permasalahan nya semakin kusut. Hila di bawa pulang Yoga, itu pun masih beruntung ketika Yoga tidak membunuh nya saat ini, setidak nya ia masih bisa berusaha, walau ia tahu ini akan sulit, apalagi menaklukan kemarahan Yoga, pria yang amat sangat menyayangi adik nya.


"Sudah buk, jangan menangis terus! nanti Hila kita jemput lagi."kata Raksa yang terus berusaha membuat istri nya berhenti menangis.


"Menantu kesayangan ibu di bawa pulang secara paksa yah,"Nanda masih terikas. "Ini salah ibu, yang suka ngebolehin mereka berduaan di dalam kamar waktu itu."ucap nya sambil terus mengusap air mata nya dengan tisue.


Ingatan Nanda terus tertuju pada saat Aksa dan Yuna masih bersama, dan sering meng habiskan waktu di dalam kamar putra nya.


"Yang lalu biarlah berlalu, sekarang kita harus memikirkan bagaimana membuat keluarga Hila kembali percaya kepada kita, agar memberikan putrinya kembali, menantu kesayangan ibu."ujar Raksa.


Nanda mengangguk, sambil berusaha menghentikan tangisan nya.


Aksa terdengar menghela nafas, ia pun sama sedih nya dengan Nanda, namun dia pria. Sosok yang tidak mau menunjukan kesedihan nya di hadapan orang lain, sekalipun itu adalah kedua orang tua nya.


Satu jam berlalu, akhirnya mobil milik Aksa pun mulai berbelok, memasuki kawasan perumahan yang di tinggali kedua orang tua nya.


"Kita butuh penjelasan, bersihkan dirimu! lalu temui kita di ruang keluarga nanti."kata Raksa kepada putra nya.


Aksa yang mendengar perintah dari ayah nya pun mengangguk, lalu turun dan segera masuk kedalam rumah nya.


Mana yang harus ku selamatkan terlebih dulu tuhan? anak atau rumah tangga ku?!


.


.


Pintu kamar Aksa terbuka, lalu munculah sosok pria tinggi yang saat ini terlihat segar, namun mata nya terlihat memerah dan sembab.


Dia menangis.


Pria itu berjalan gontainke arah ruang tamu, dan disanalah, kedua orang tua nya duduk dengan Nanda yang masih terus terlihat menangis.


"Bisa jelaskan akar permasalahan nya?"kata Raksa setelah putra nya duduk.


Aksa mengangguk, terdengar helaan nafas, kemudian mengalihkan pandangan nya untuk menatap Nanda.


"Ini salah Aksa bu, aku yang kelewat batas. Maaf sudah menjadikan Hila korban, maaf sudah membuat menantu kesayangan ibu di bawa pulang, maaf juga sudah membuat kalian malu, karena memiliki putra seperti ku."akhir nya air mata Aksa lolos, mengalir begitu saja membasahi pipi.


"Kenapa bisa? kenapa Hila selalu terlihat baik-baik saja, padahal seharus nya dia mengadu kepada ibu, biar ibu kasih pelajaran sama kamu."Nanda berteriak.

__ADS_1


"Ini permintaan Hila, dia selalu merasa bersalah karena merasa merebut aku dari calon bayi yang berada di perut Yuna."jelas Aksa.


"Berhenti menyebut prempuan itu, sudah berapa kali ibu pringati, tapi dulu kamu seolah buta dan tuli. Lihatlah sekarang, kau akan kehilangan prempuan baik seperti menantuku."cecar Nanda.


Aksa menghambur kepelukan Nanda, lalu turun dan mencium kaki ibu nya untuk memohon ampun.


"Bantu Aksa bawa Hila pulang lagi bu, Aksa sudah hilang arah sekarang. Maaf juga kalau Aksa membuat kalian kecewa."pria itu menangis histeris.


Nanda membisu, prempuan itu hanya terus menangis.


"Ibu, maafin Aksa."Aksa memohon.


Nanda terdiam.


"Aksa tidak tau harus apa sekarang."


Lagi-lagi wanita tua itu hanya diam, seraya membuang muka seolah merasa jijik ketika menatap Aksa, yang saat ini sedang bersimpuh di hadapan nya.


"Selesaikan dulu masalah mu dengan Yuna, setelah itu baru kita temui Hila."ucap Raksa.


"Ayah tau? Hila bahkan sudah meminta cerai. Namun aku tidak mau dia pergi."


"Yuna juga?!"cicit Nanda.


"Tidak bu!"


"Serakah sekali kamu! mengingikan dua prempuan sekaligus, pergilah. Aku tidak mau mempunyai putra seperti mu."jelas Nanda.


"Bu!"


"Pergi! hiduplah menderita dengan anak dan kekasih mu itu."


"Jangan begitu bu."Raksa mengusap punggung istrinya.


"Tidak yah, dia harus pergi dan jangan kembali sebelum kamu menyelesaikan masalah mu dengan Yuna dan keluarga nya."kata Nanda, kemudian mendorong Aksa.


Ia bangkit, lalu pergi meninggalkan Raksa dan putra nya yang masih terlihat menangis.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiah nya. Setiap dukungan dari kalian sangat berarti buat othor yang hanya remahan kaleng kong guan ini.

__ADS_1


Sayang kalian banyak-banyak, my lovely readersđź’›


__ADS_2