
''
''
pagi ini Fatima dan Aqila sudah dalam perjalan menuju kota seperti biasa keduanya ada acara seminar di salah satu universitas Islam di kota jakarta, sedang kio di jaga asma dan Sofyan
Setelah selesai Fatima dan Aqila berbelanja sebentar di salah satu mall ternama di jakarta, membeli pita kertas dan lain nya untuk keperluan kios bunga nya, tanpa di sengaja keduanya bertemu dengan Rima yang kebetulan ada di mall yang sama,
''Mbak Rima, panggil Fatima,
''Fatima Aqila kalian disini, sapa Rima dengan ramah,
''Mbak Rima berdua aja sama arka, tanya Fatima yang memang tak melihat suami Rima,
''Aku sama mas Juna, Fatima sekarang mas Juna masih ada pertemuan dengan pemilik mall ini, jelas Rima,
''Fatima boleh kan aku bersama mu sebentar sampai mas Juna kembali sebenar nya aku sedikit bosan, ucap Rima tampak memohon
''Boleh tidak apa apa mbak, Rima bergabung dengan Fatima duduk menikmati eskrim sambil menunggu arka bermain di Timezone,
Tak berapa lama kemudian Arjuna datang bersama Leon, meeting kedua nya sudah selesai, Leon sedikit kaget ada Fatima bersama istri sepupu nya, sedetik kemudian hatinya merasa senang,
''Sayang,,! panggil Juna, Rima Fatima dan juga Aqila menoleh ke sumber suara,
Fatima sedikit terpana melihat penampilan Leon jauh dari biasanya, hanya mengenakan pakaian kasual terkadang kemeja dengan celana bahan nya, hari ini Leon dengan pakaian kantornya jas hitam legam dan dasi nya, tampak berkarisma dan berwibawa,, Fatima tersadar sedetik kemudian buru buru mengalih kan pandangan nya,
"Fatima kamu disini juga, tanya Leon cepat, mendahului Rima yang ingin menjawab panggilan suaminya,
"Iya kami tidak sengaja bertemu dengan mbak Rima, aku baru selesai dari acara seminar di universitas tak jauh dari sini, terang Fatima, tersenyum samar di balik cadar nya,
"Kita makan siang dulu ya, aku sudah sangat lapar, ucap Juna mengelus perut nya,
"Sayang di mana arka, Juna melihat sekitar tak menemukan putra nya,
"Itu arka di sana mas, tunjuk Rima Juna mengikuti arah yang istrinya tunjuk kan, tampak arka juga sedang berlari ke arah nya,
"Sudah kita makan sekarang ya, seru Juna lagi,
__ADS_1
"Kalian ikut juga, ucap leon pada Fatima dan Aqila,
"Em kami,,!
"Kalian berdua ikut saja, kalian belum makan, seru Rima menimpali,
"Baik lah kami ikut, jawab Aqila cepat, membuat Fatima mencubit pelan pinggang Aqila sebenar nya Fatima ingin menolak karna merasa sungkan,
"Fatima lihat lah tampang kekasih mu, segak layak nya bos CEO perusahaan terkenal gitu, bisik Aqila pada Fatima,
"Qila apaan sih dia bukan kekasih ku, Fatima melotot kan bola matanya,
Leon membawa semua orang ke restoran yang cukup mahal, yang ada di dalam mall itu,
"Leon, Panggil seseorang,,
"Papah disini, mau ngapain mama juga ikut, tanya Leon heran melihat kedua orang tuanya,
"Papa sama Mama mau makan siang juga, datang ke restoran mau ngapain, jawab maikel heran dengan pertanyaan putra nya,
"Juna,, Rima kamu juga ikut jawab maikel seraya mengusap lembut pucuk kepala arka, kemudian pandangan Maikel tertuju pada dua gadis bercadar di samping Rima,
"Ini kenalin paman Fatima dan Aqila ini teman Rima, Rima memperkenal kan Fatima dan Aqila sebagai teman nya, namun Maikel mengerti dengan tatapan putra nya,
"Ya sudah ayok kita masuk, seru Maikel,
"Fatim siapa mereka apa itu kedua orang tua leon, tanya Aqila,
"Aku tidak tau qila sepertinya begitu, jawab Fatima keduanya saling berbisik,
"Mereka seperti orang kaya Fatima, ucap Aqila lagi,
"Aku juga tidak tau qila, sudah diam lah,
"Fatima Aqila ayok cepat kalian kenapa jalan nya lambat, panggil Rima,
"Iya mbak Rima ini kamu datang, seru Aqila, sedikit cepat jalan nya menghampiri Rima,
__ADS_1
"mbak Rima disini halal kan bisik Fatima, dengan ragu melihat banyak nya pengunjung tanpa satupun yang mengenakan hijab, bahkan kebanyakan mereka berpakaian minim,
Rima menunjuk kan logo halal di dinding besar tepat di depan mereka,
"Oh aku tadi tidak fokus, jawab Fatima, Leon mendengar obrolan Fatima dan Rima juga mengikuti arah pandang yang Rima tunjukkan logo halal itu,
Sedetail itu, batin Leon,
Tempat VIP di pilih Leon untuk menjamu semua orang, siang ini hati Leon di selimuti rasa senang bisa makan siang bersama Fatima meski ramai ramai, tidak mengapa apa lagi ada kedua orang tua Leon ikut serata, biar setelah ini papa dan mama Leon bisa menilai seperti apa sosok Fatima, hidangan yang tersaji pun Leon memilih best seller di restoran tersebut,
Sedari tadi Aqila tak henti hentinya bergumam dalan hati, ini pasti mahal hidangan nya tempat nya restoran mahal, mereka pasti orang kaya, Leon tak sesederhana yang Aqila lihat, sedang Fatima tak begitu memperhatikan hal itu, baginya Leon sosok yang baru ia kenal, iya Fatima sedikit merasa nyaman,
Leon tak henti hentinya menatap Fatima lekat, meski Fatima menunduk kan pandangan nya, menunggu bagai mana cara Fatima makan dengan cadar nya, Leon sedikit berharap dua gadis bercadar di depan nya itu melepas cadar nya ketika mana terutama Fatma, rupanya salah, Fatima dan Aqila sama sekali tak melepas cadar nya kedua nya menikmati makanan nya tanpa melepas cadar nya, hanya menyingkap sedikit kain cadar nya dari bawah,
''Unik,, batin Leon berkata
''Fokus lah makan sedari tadi kamu aku perhatikan tidak fokus dengan makanan mu, bisik Juna, pada Leon,
''Iya ini aku maka, Maikel pun sama merasa fokus putra nya sudah terpecah,
makan siang ini, sudah selesai Juna sudah kembali membawa istri dan putra nya kembali ke desa begitu juga fatima dan Aqila, tujuan mereka juga sama,
''Apa itu gadis mu, tanya Maikel pada putra nya, Leon hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan papa nya,
''Mama sangat yakin dia sangat cantik, Leon mengagumi pelan setuju dengan ucapan mana nya, meski tak melihat wajah Fatima seperti apa,
''Dengan ini Leon mohon ijin sama papa dan mama, Leon ingin mengejar apa yang Leon rasakan ini, jika Leon harus berganti agama untuk mendapat kan nya bagai mana, apa papa sama Mama merelakan Leon, tanya Leon pada kedua orang tuanya,
''Pergilah kejarlah perasaan mu, apa pun itu asal kamu bahagia, papa sama Mama akan selalu merestui mu, mendukungmu, ucap Luna lembut,
''yang mama ku katakan benar, kami selaku orang tua mu akan selalu mendukung mu, kami tidak bisa mencegah atau melarang, kami berkaca pada paman Pram mu, dahulu kakek nenek mu sempat menentang, saat paman mu ingin mengikuti agama calon istrinya, takut kami sekeluarga saling menjauh karna perbedaan itu, nyatanya tidak hubungan kami sebagai keluarga masih sama, terang Maikel
''Pah,, mah terimakasih atas ijin dan dukungan nya, ucap Leon,,
''
Bersambung
__ADS_1