
''
''
Pagi yang indah setelah melaksanakan shalat subuh Leon dan Fatima tertidur di sofa dengan Fatima yang tertidur di atas dada Leon yang bidang.
''Mama kak Leon belum turun.'' seru Laura seraya menjatuh kan bobot tubuh nya di kursi
''Biarkan saja kakak mu tidur. pagi ini kamu dan papa yang akan menggantikan meeting klien dari Jepang.'' tutur maikel seraya menggigit roti tawar dengan selai kacang nya.
''Memang nya kak Leon tidak ke kantor.'' tanya laura lagi.
''Biar kan kakak mu istirahat. kamu hendel dulu pekerjaan kantor dengan papa mu.'' Luna berdoa sedari semalam semoga pernikahan putra nya cepat di berikan Momongan.
''Papa apa kita akan mengundang saudara kita yang ada di Jerman saat resepsi kak Leon dan kak Fatima nanti.'' tanya Laura penasaran
''Papa masih belum memikirkan nya kita lihat saja nanti.'' jawab maikel ia juga memikirkan ucapan putri nya. keluarga istri nya kebanyakan tinggal di Jerman seperti nya memang harus mengundang mereka.
''Menurut mama kita harus mengundang nya pah. apa nanti kata mereka jika kita tidak memberi kabar dan mengundang mereka.'' Luna memberi pendapat nya
''Kalau begitu kita tentukan dulu tanggal nya setelah itu baru mengabari keluarga yang ada di Jerman.''
''Iya betul Ara setuju.'' sela Laura
Setelah selesai dengan sarapan nya Laura dan sang papa segera berangkat ke kantor hari ini begitu banyak pekerjaan yang harus mereka selesai kan di tambah lagi Leon hari ini belum bisa masuk kantor.
''Pak nur tolong buatkan sup herbal untuk menantuku dia pasti sangat kecapean.'' seru Luna seraya membuka pintu kulkas mencari bahan untuk membuat sup herbal
''Biar kami yang siap kan bahan nya nyonya.'' ucap pelayan bernama Susi
''Ah iya silahkan.'' Luna mundur dua langkah dari pintu kulkas memberi ruang untuk susi mencari bahan sup herbal
''Pak nur beruntung di rumah kita tidak pernah masak masakan non halal tidak seperti kita waktu di Jerman.'' ucap Luna pelan
''Itu karna kemurahan hati nyonya yang tidak pernah membedakan soal makanan dengan kami para pelayan yang notabene nya kami semua muslim.'' jawab pak nur ramah
''Iya mungkin Tuhan sudah merencanakan hari ini pak. aku punya menantu seorang muslimah yang taat. semoga kehadiran nya membawa perubahan dalam keluarga ini dan kebahagiaan.'' tutur Luna merasa bahagia dengan pernikahan putra nya.
''Amin nyonya kami semua ikut senang dan bahagia.'' bukan hanya pak nur yang merasa senang seluruh penghuni mansion keluarga Andreas menyambut dengan bahagia atas pernikahan tuan muda keluarga Andreas
''Buatkan puding juga untuk menantuku pak. apa lagi ya yang di sukai Fatima.'' ucap Luna lagi
''Sebaik nya kita tunggu nona muda turun dulu nyonya dan kita tanya nona muda ingin makan apa.'' ucap pak nur memberi saran
''Mungkin sebaik nya begitu pak nur. kita tunggu Fatima turun dulu. kita buat kan sup nya terlebih dulu dan puding atau kita buat salad buah juga. biar Fatima makan banyak maklum ini malam pertama mereka.'' ucap Luna pelan setengah berbisik
Sedang di kamar Leon Fatima masih dengan tidur ternyaman nya berada di atas dada bidang sang suami dengkuran halus masih Leon rasakan meski sebenar nya lengan nya sudah mulai kebas semenjak subuh tadi Fatima tidur dengan posisi itu hingga hampir jam sepuluh
Tampak Fatima menggeliat terusik dengan tangan Leon yang menyingkap anak rambut Fatima dan menyelip kan nya di belakang telinga.
''Jam berapa ini.'' guma Fatima masih memejamkan mata nya
''Hampir jam sepuluh.'' jawab Leon kembali menyelip kan anak rambut Fatima yang menutupi sebagian wajah cantik nya.
''Hah beneran.'' Fatima kaget langsung terbangun
''Mau kemana.'' tanya Leon melihat Fatima langsung bangun.
__ADS_1
''Ini susah sangat siang kamu belum sarapan apa kamu tidak pergi kerja.'' seru Fatima dari dalam ruang ganti baju hendak mengganti baju nya.
''Dengirin hari ini aku tidak kerja.'' terang Leon
''Kenapa kemarin bilang sama Abi pagi ini ada meeting penting.'' tanya Fatima
''Ada dua hal kenapa aku tidak kerja hari ini.''
''Apa.''
''Yang pertama aku kesiangan. yang ke dua aku ingin menghabiskan waktu ku dengan istri ku menemani nya hari ini.'' jelas Leon meraih pinggang istrinya dan memeluk nya erat dari belakang.''
''Jadi kamu tidak bekerja karna aku. apa bos mu tidak marah.'' Leon terkekeh mendengar ucapan istri nya
''Kenapa tertawa.''
''Tidak apa apa.''
Leon merasa lucu sampai detik ini Fatima tidak tau apa pekerjaan suami nya meski kabar di pabrik sudah menyebar bahwa Leon adalah pemilik pabrik itu,
''Tidak akan ada yang marah hanya karna aku tidak masuk hari ini.'' tutur Leon menjelas kan
''Apa kamu tidak lapar.'' tanya Fatima
''Lapar sangat lapar tapi pengen nya makan kamu saja.'' bisik Leon di telinga Fatima pipi Fatima sudah merona malu mendengar ucapan Leon mengingat kejadian semalam
''Kenapa pipi mu merah. kita sudah melakukan nya semalaman kamu masih malu.''
''Tidak.''
''Jadi mau melakukan kan nya lagi.''
''Aku hanya bercanda. maaf aku menyakiti mu.'' ucap Leon lagi
''Tidak apa apa.'' lirih Fatima
''Apa kamu belum punya panggilan yang pas untuk ku.'' tanya Leon sedari tadi Fatima memanggil dirinya dengan sebutan kamu.
''Mas Leon.'' ucap Fatima
''Tidak buruk hanya saja aku kurang familiar.''
''Lalu mau di panggil apa.'' tanya Fatima lembut
''Terserah.'' Leon menenggelamkan wajah nya di ceruk leher Fatima
''se se sayang.'' lirih Fatima sedikit mendesah hembusan nafas Leon yang jangan mampu membuat bulu kuduk Fatimah merinding.
''again.''
''Sayang.''
''I love it'
Leon menyesap lembut bibir istrinya rasa yang baru semalam ia rasakan seumur hidup nya yang membuat nya candu rasa nya sangat manis.
Fatima merasakan lemas di seluruh tulang kakinya jika saja Leon tidak menahan tubuh nya yakin Fatima sudah limbrung ke bawah.
__ADS_1
''Kamu kenapa.'' tanya Leon melepas ciumannya
''Tidak tau kaki ku lemas.'' jawab Fatima menenggelamkan wajah nya di dada bidang Leon
''Naik lah kait kan kaki mu di pinggang ku.'' bisik Leon lembut
Leon mengendong istrinya layak nya anak koala.
''Kita makan di kamar saja ya. biar pak nur membawa makanan kita kesini tidak usah turun.'' Leon berkata lembut
''Tapi aku ingin turun.''
''Tapi kamu seperti ini.''
''Aku kan mengganti baju ku.''
''Bukan masalah baju mu. jalan mu katanya masih sakit.'' Fatima semakin menyembunyikan wajah nya karna malu dengan ucapan Leon
''Aku ingin ber cengkraman dengan mama. rasa nya tidak enak aku baru tinggal disini dan tidak keluar kamar seharian.'' lirih Fatima
''Mama tidak akan mempermasalah kan hal itu. mama pasti mengerti.'' kekeh Leon tidak ingin istri nya turun
''Tetap saja aku tidak enak.'' Fatima juga kekeh ingin turun ke bawah
''Ya sudah ayok pakai cadar mu.'' titah Leon tidak ingin pelayan pria melihat wajah istri nya.
Leon membawa istrinya turun ke bawah menggunakan lif. dengan menggendong nya
''Turunkan aku nanti ada yang melihat.'' Fatima takut ada yang melihat kelakuan suami nya
''Biarkan saja mereka melihat.'' jawab Leon cuek bahkan sampai bawah Leon masih menggendong Fatima dan mendudukkan nya di meja makan bahkan pak nur dan beberapa pelayan lain melihat nya
''Pak nur mama di mana.'' tanya Leon cuek seakan tidak terjadi apa apa,
''Nyonya ada di ruang keluarga.'' jawab pak nur
''Pak nur masak apa hari ini.'' tanya Leon langsung menanyakan makanan karna perut nya sudah sangat lapar tenaganya sudah terkuras habis untuk olah raga tadi malam.
Pak nur memerintah kan pelayan lain menyiap kan makanan untuk kedua majikan nya,
''Ini ada sup herbal nyonya sendiri yang masak.'' terang pak nur meletak kan dia mangkuk sup herbal.
''Ini untuk apa pak. kita tidak lagi sakit.'' tanya Leon penasaran karna sup herbal itu setau Leon mama nya suka memberikan nya pada sang papa dengan alasan sedang tidak enak badan atau capek capek.
''Itu untuk memulihkan stamina. mama tau kalian pasti membutuh kan itu sekarang. sup herbal itu juga bisa menghilangkan capek capek dengan cepat.'' seru Luna menimpali.
''Fatima sayang bagai mana tidur mu tadi malam nyenyak.'' tanya Luna
uhuk uhuk...!
''Kamu kenapa Fatima.'' dengan cepat Luna menyodorkan segelas air putih
''Fatima tidak apa apa mah.'' jawab Fatima pelan mendengar pertanyaan mama mertua nya Fatima mengingat kembali kejadian malam panjang yang ia lewati tanpa tidur sampai setelah shalat subuh Fatima baru bisa terlelap.
begitu juga luna melihat menantunya terbatuk merutuki dirinya sendiri yang sebenar nya tidak sengaja mempertanyakan hal itu, sudah jelas putra dan menantunya baru bangun mungkin mereka menjelang subuh baru tidur
Semoga cepat dapat momongan
__ADS_1
Bersambung