
''
''
setelah menempuh perjalanan lima belas jam pesawat yang Leon dan Fatima tumpangi Ahir nya sampai juga di bandara Berlin Jerman meski sepanjang penerbangan Fatima maupun Leon banyak tidur ternyata capek juga.
''Herzlich willcommen in Deutschland juncheree Leon Andreas.'' sapa seorang pria paruh baya. Dalam bahasa Jerman
''Danke schon we geht es ihnen.'' balas Leon dengan senyum ramah nya Fatima hanya mendengar tanpa tau artinya apa.
''Nona Fatima selamat datang di Jerman.'' pria paruh baya itu berganti menyapa Fatima
''terima kasih Paman.'' ucap Fatima tersenyum di balik cadar nya
Paman Hans mengambil alih koper yang di bawa Leon kemudian mempersilahkan Leon mengikuti nya
''Hubby paman itu bisa bahasa Indonesia.'' bisik Fatima seraya melangkah kan kaki nya
''Bisa sayang Paman Hans orang Indonesia di sini juga banyak orang Indonesia.'' tutur Leon pelan
''Sukur lah kalau banyak orang Indonesia aku pikir nanti aku bakalan kesulitan berkomunikasi disini.'' ucap Fatima pelan
''Tidak akan ku biarkan istri ku ini kesulitan selama disini, kamu bisa bahasa Inggris kan.' Fatima mengangguk dan tersenyum di balik cadar nya
''mari nona silahkan masuk.'' dengan ramah Paman Hans membuka pintu mobil untuk Fatima kemudian Leon paman hans tersenyum senang dalam hati berkata pasti istri tuan muda nya itu sangat cantik. beruntung sekali tuan mudanya yang tidak pernah membagi kecantikan istri nya dengan pria mana pun.
''Jadi berita tuan muda menikahi gadis muslimah benar adanya dan tuan muda juga sudah mualaf.'' batin paman hans berkata seraya menyalakan mesin mobil nya.
''Bagai mana kabar tuan dan nyonya besar di sana tuan muda.'' tanya Paman Hans ingin tau
''Alhamdulilah mama sama papa sehat dan baik baik semua.
''Alhamdulilah.'' jawab Paman Hans senang juga merasa bahagia mendengar kata Alhamdulillah dari tuan muda nya
''Paman Hans apa tidak ingin pulang ke Indonesia dan tinggal di sana.'' tanya Fatima penasaran
__ADS_1
''Ikut kata hati ingin sekali nona. Akan tetapi keluarga istri saya semua disini. Dan lagi tuan besar masih ada beberapa bisnis yang saya hendel di sini.'' jawan Paman Hans apa ada nya.
tak sampai setengah jam mobil yang di kemudian paman Han sudah memasuki kawasan elit di Berlin. Fatima menatap sang suami bertanya lewat sorot mata nya apakah mereka sudah sampai. Leon mengangguk pelan seakan tau tatapan sang istri seraya menyunggingkan senyum nya
''Alhamdulilah sudah sampai.'' gumam Paman Hans memarkir kan mobil nya kemudian turun dan membuka kan pintu untuk Leon dan istri nya.
''Turunlah sayang kita sudah sampai.'' bisik Leon seraya mengulurkan tangan nya membantu Fatimah turun dari mobil
Di teras rumah tampak seorang wanita usia tiga puluhan menyambut kedatangan mereka wanita itu adalah Berta istri paman hans
''Assalamualaikum bibi Berta .'' ucap Leon ramah memberi salam pada istri paman Hans yang juga seorang mualaf seperti diri nya.
''Waalaikumsalam.'' jawab bibi Berta
''Bibi ini istri ku Fatima bibi pasti sudah mendengar tentang nya.'' ucap Leon mengenal kan istri nya
''ya bibi sudah mendengar banyak nona muda Fatima dari nyonya Luna.'' jawab bibi Berta
''Sayang ini bibi Berta istri paman Hans.'' Leon mengenal kan bibi Berta pada sang istri karna mungkin Fatima bisa meminta bantuan nya selama tinggal di Jerman
''Walaikumsalam nona Fatima selamat datang di Jerman mohon jangan sungkan meminta bantuan bibi selama nona tinggal di sini.'' Fatima hanya tersenyum di balik cadar nya
''Tuan muda silahkan anda beristirahat dulu saya sudah menyuruh pelayan menyiap kan semua keperluan anda.''
''Iya terimakasih bibi Berta.''
''Leon membawa Fatima menuju kamar nya yang ada di lantai dua rumah dipercepat tu.
''Ini sangat indah hubby.'' lirih Fatima melihat kamar suami nya yang ada di Jerman tampak rapi bersih dan nyaman pasti nya.
''Tunggu belum semua sini aku tunjuk kan.'' Leon membuka pintu balkon yang mempunyai pemandangan Padang golf dan juga danau buatan tepat di belakang rumah mereka
''Wah ini indah sekali. Lihat lah di bawah sana kalau tinggal disini lama aku ingin sekali berkebun menanam bunga.'' ucap Fatima yang sangat menyukai tempat itu.
''Istirahat lah aku tinggal sebentar tidak apa apa kan. Aku ada sesuatu yang mau di kerjakan sama paman Hans di sini tidak satupun pria ku ijin kan masuk ke rumah ini. Kamu bebas membuka cadar mu kalau kamu mau. Aku ingin kamu merasa nyaman selama tinggal disini.'' ucap Leon tangan nya terulur membuka penutup wajah sang istri
__ADS_1
''Hem mungkin tanya di kamar ini saja tetap saja aku harus waspada aku tidak mau milik suami ku ini tercemar mata pria lain.'' ucapan Fatima mampu membuat hati Leon meleleh tidak menyia nyiakan kesempatan dengan lembut Leon mengecup bibir yang membuat hati nya meleleh barusan.
''Kamu suka sekali menggoda ku. Kalau tidak ingat masih jet like aku ingin sekali menerkam mu sekarang juga.''
''Bukan hanya masih jet like tapi ada janji juga dengan paman Hans.'' ucap Fatima mengingat kan
''Iya aku tau aku dan paman Hans akan membahas masalah operasi ku. Kamu tidak usah kuatir.'' lirih Leon
''Memang nya kapan operasi nya tidak mungkin kan sekarang.''
''Aku tidak tau aku dan paman Hans masih ingin menemui dokternya terlebih dulu.'' ucap Leon lagi
''Nanti kalau sudah mau operasi ijinkan aku menemani mu.'' ucap Fatima ingin menemaninya suami nya itu
''Kita lihat saja nanti aku hanya tidak ingin kamu kuatir dan cemas lebih baik kamu temani aku dalam doa doa mu semoga operasi nya berjalan lancar. Ini juga hanya operasi kecil sayang.''
'' ya tetap saja aku ingin menemani mu ini menyakit masa depan kita.'' ucapan Fatima mampu membuat Leon menahan tawa nya
''Kenapa di tahan tertawa saja kalau mau tertawa. Kenapa juga malah tertawa.'' ucap Fatima sedikit membingungkan
''Sepertinya memang seharusnya nya aku menerjang mu sekarang juga. Nanti setelah operasi aku akan puasa beberapa hari ke depan.'' ucap Leon sedikit menggoda Fatima
''Tidak apa apa puasa demi bibit unggul berkualitas super premium kamu bilang ingin anak kita Made in Jerman.'' ucap Fatima menirukan ucapan Leon beberapa waktu lalu.
''Apa kamu sudah siap nanti.'' tanya Leon memastikan
''Aku sudah sangat siap sekarang juga aku sudah siap.'' ucap Fatima lagi
''Ah..! Sayang jangan membuat ku sulit untuk meninggal kan Mu.''
Leon semakin memeluk erat istri nya rasa nya tidak ingin meningal kan Fatima sendiri di kamar
Gengss jangan lupa tinggal kan jejak like komen dan hadiah nya vote dan bintang lima nya biar author semangat update setiap hari
Bersambung
__ADS_1