Mahram Untuk Fatima

Mahram Untuk Fatima
berdampingan


__ADS_3

''


''


waktu berlalu begitu cepat, Leon dan Fatima semakin intens ngobrol melalui chatting di wasup, seperti biasa setiap malam Leon belajar mengaji dengan Fatima melalui daring, Leon yang cepat belajar membuat Fatima mempunyai rasa bangga tersendiri, melihat kegigihan Leon,


''Malam ini cukup ya aku sudah mengantuk, lirih Fatima,


mata nya terpejam dan bersandar di sandaran kursi tangan nya masih setia menggerak kan butir Demi butir tasbih cantik nya,


''Fatima tidur lah, kamu pasti capek, terdengar suara Leon di balik layar ponsel, tampak juga Leon sedang menutup Al-Qur'an nya,


''Fatima kamu masih mendengar ku kan, ucap Leon lagi dengan lembut,


''Hem iya aku masih disini, jawab Fatima suaranya sudah terdengar serak,


''Tidurlah Fatima nanti aku bangun kan saat shalat malam, ucap Leon seraya tersenyum tipis ingin sekali melihat mata indah Fatima,


Jam sudah menunjuk kan pukul sepuluh malam, dua jam sudah mereka daring, pantas saja Fatima sudah mengantuk, begitu juga Leon, berfikir besok hari Sabtu, waktunya pergi ke pabrik, seperti biasanya Leon menghabis kan waktu nya di rumah sepupu nya Arjuna,


Malam semakin larut jam sudah menunjuk kan jam dua dini hari rutinitas Leon setelah dia menjadi mualaf, bangun di tengah malam untuk melakukan shalat malam, tidak lupa Leon juga membangunkan fatima untuk sama sama shalat malam di tempat masing masing, setelah nya mereka tidur kembali


Di pagi hari,


''Pagi pah, pagi mah, sapa Leon pada kedua orang tuanya,


''Pagi sayang jawab Luna lembut,


''Minggu depan adik mu akan pulang,


''Oh ya apa semua sudah selesai, tanya Leon seraya mengoles selai pada roti tawar nya,


''Kuliah adik mu sudah selesai, dan kepindahan nya kesini paman Gibran mu sudah mengurus semua nya, ucap Maikel,


''Bagus pah, aku juga lebih tenang kalau Laura juga ikut ngumpul tinggal di sini bersama kita, ucap Leon kuatir mengingat pergaulan disana cukup bebas, meski kedua orang tuanya mendidik nya dengan baik tetap saja pengaruh dari luar lebih besar,

__ADS_1


''Aku pergi dulu pah, pamit Leon kepada kedua orang tuanya,


''Papa juga mau pergi memang nya kamu saja, ucap Maikel yang juga beranjak dari duduk nya,


''Mah Leon kekantor dulu, pamit Leon seraya mengecup pucuk kepala mana nya,


''Kamu nanti Lang sung ke pabrik Leon, tanya Luna sudah mengerti di Ahir pekan putra nya itu akan ke pabrik dan menginap di rumah sepupunya,


''Ya seperti biasa mana tau sendiri kan, jawab Leon sebelum menaiki mobil nya, mobil yang selalu Leon gunakan saat datang ke pabrik,


''Kamu jadi membeli lahan warga desa di sana, tanya Maikel


''Doakan saja pah, jika ada yang mau menjual nya pada Leon jika tidak ada ya terpaksa Leon akan mencari lokasi lain, untuk membangun pabrik kedua, karna Leon tidak mau memaksa mereka, ucap Leon lagi,


''Iya itu bagus karna peran masyarakat sangat penting untuk keberlangsungan hidup kita, karna kita hidup berdampingan saling membutuh kan satu sama lain, terang maikel,


''setelah itu Leon bergegas menuju kantor nya hanya sebentar untuk menandatangani beberapa berkas, kemudian lanjut datang ke pabrik,


Begitu sampai di pabrik, Juna sedang sibuk dengan beberapa warga yang datang dengan suka rela mau menjual lahan nya, Leon menghampiri sepupu nya itu,


''Ini bapak ini ingin menjual lahan nya, seluas setengah hektar tepat di samping pabrik kita, terang Juna,


''Apa itu benar pak, tanya Leon pelan,


''Benar pak saya akan menjual nya pada pemilik pabrik ini, ucap nya yakin,


''Apa alasan bapak menjual nya, tanya Leon lagi, karna tidak ingin bapak itu merasa terpaksa,


''Selain bapak ini sudah tua, tidak ada yang mengolah lahan bapak, anak bapak satu satu nya sudah menikah dan ikut suaminya, dari pada tidak menghasil kan uang mending bapak jual saja lahan nya, di uangkan bisa di pakai oleh untuk hari tua bapak sama istri bapak, jelas bapak itu,


''Benar tidak ada yang memaksa bapak kan, tanya Leon lagi memastikan semua aman agar tidak ada masalah di kemudian hari soal lahan,


''Benar tidak ada yang memaksa bapak, ucap nya lagi,


''Baik lah nanti biar Juna yang mengurus nya bapak bicarakan ini sama Juna,

__ADS_1


''Lanjut ini apa lagi, tanya Leon yang melihat beberapa ibuk ibuk juga sedang berkumpul,


''Ini pak, apa benar pabrik sedang membangun kantin, seperti yang saya dengar dari kariawan pabrik, kalau benar saya ingin menyewa tempat nya dan ingin berjualan, mendengar ucapan ibuk ibuk itu Leon tersenyum,


''Benar buk, pabrik sedang membangun area kantin ada beberapa blok, kalau ibuk mau berjualan silahkan daftar dulu, tulis ibuk mau jualan apa, kami juga tidak memungut biaya buk semua gratis, terang Leon membuat ibuk ibuk itu berbinar senang,


''Terimakasih yak pak ini sangat membantu kami, mengingat pekerja pabrik ini semakin hari semakin bertambah, selain kami bisa berjualan anak dan suami kami juga bisa bekerja di pabrik ini, terang salah salah satu ibuk ibuk itu,


''Ya Bu, kita hidup berdampingan saling membutuhkan, bukan begitu Bu, ucap Leon lagi,


''Iya benar, kalau begitu kami pamit dulu, ucap ibu itu,


''Nanti daftar nya sama pak Bagas ya Bu, silahkan ibu mendatangi ruangan nya, sela Juna


''Iya pak Juna kami mengerti,


Satu masalah sudah terselesaikan, lahan sudah di dapat kan kantin hampir jadi pembangunan nya dan ibu ibu sudah bisa mulai berjualan mungkin Minggu depan,


''Jadi apa rencananya setelah mendapatkan lahan itu, tanya Juna


''bangun pabrik lagi apa lagi, apa kamu pikir lahan itu untuk lapangan bola, ucap Leon melirik sepupu nya,


''Niat sekali kamu ingin membuat sejarah di desa ini, ucap Juna melihat Leon gencar ingin desa itu maju dalam segi ekonomi,


''Sejarah ku sudah di mulai sejak aku melihat nya di rumah mu untuk pertamakali,


''Ck ck roman picisan mulai,


''Apa kamu dulu saat jatuh cinta dengan istrimu tidak seperti ini Juna, kenapa kamu sirik sekali dengan ku,


''Aku sirik, untuk apa aku dan istriku sudah halal, kamu saling melengkapi, sedang dirimu belum tentu, kalau pak haji meng inginkan menantu seorang ustadz hafid Qur'an, kamu bisa apa tidak ada apa apa nya percaya diri sekali kamu, Fatima bukan seperti gadis di luaran sana, sekali petik jari bertekuk lutut,, apa lagi lihat hartamu langsung keluar itu biji bola mata, ucap Juna sinis,


Mendengar ucapan Juna Leon sedikit ragu dan was was, memang benar ada nya Fatima bukan seperti gadis di luaran sana, dia sangat istimewa, yang membuat Leon Sakin tertantang untuk mendapatkan nya,


''Bersambung

__ADS_1


__ADS_2