Mahram Untuk Fatima

Mahram Untuk Fatima
Cantik


__ADS_3

''


''


begitu sampai di mansion para pelayan sudah menyambut kedatangan mereka rupanya yang ikut ke acara hari ini hanya sebagian di rumah masih ada banyak


''Kak Fatima ayok masuk.'' Laura meraih tangan Fatima


''Ara sebaik nya kamu masuk duluan.'' Leon berkata seraya mengambil alih tas yang di bawa Fatima


''Ini rumah..''


''Sementara kita tinggal di sini nanti perlahan kita cari rumah sendiri. tidak apa apa kan.'' Leon menyela ucapan Fatima


''Tidak apa apa di mana pun aku tinggal asal ada kamu.'' lirih Fatima masih canggung.


''Mari.'' Leon mengulurkan tangannya meminta Fatima menggenggam tangan nya, Fatima menyambut uluran tangan suami nya dan mengangguk pelan


''Nona Fatima selamat datang.'' sambutan para pelayan tersenyum dengan ramah


''Terimakasih bibi.'' jawab Fatima tidak kalah ramah seraya tersenyum di balik cadar nya,


''Welcome home kak Fatima kakak ipar ku.'' seru Laura dari dalam rumah,


''Pak nur tolong bawakan ini ke atas.'' Leon memberikan tas Fatima pada pak nur untuk di bawa ke kamar nya,


''Kita makan malam dulu Fatima, maaf sudah terlambat untuk makan malam tadi mau mampir di restoran kamu tau sendiri adik mu merengek ingin cepat sampai rumah. tidak apa apa kan sayang.'' seru Luna membawa Fatima duduk di meja makan.


''Tidak apa apa mah.'' lirih Fatima


''Kak Leon.'' panggil Laura saat Leon mencuci tangan nya


''Apa.'' jawab Leon cuek


''Kak Leon tadi saat di kamar kak Fatima sedang istirahat sudah lihat wajah kakak ipar.'' tanya Laura penasaran,


''Memang nya kenapa.'' ucap Leon penasaran


''Jawab dulu sudah belum.'' ucap Laura lagi.


''Sudah.'' jawab Leon bohong.


''Apa.. bohong kak Leon pasti belum melihat nya.'' ucap Laura lagi


''Memang nya kenapa.'' tanya Leon penasaran


''Ara sudah pernah melihat nya.'' jawab Laura


''Kapan dimana kamu melihat nya. perasaan Fatima tidak pernah melepas cadar nya. bahkan saat di rumah nya tadi.'' Leon mengingat dua hari berada di rumah Fatima Leon belum pernah melihat Fatima membuka cadar nya bahkan saat Fatima terlelap kemarin malam bersama Laura.''


''Hari itu sebelum Ara mengantar kak Fatima pulang, Ara sempat membelikan kak Fatima baju dan menyuruh nya mencoba di saat itu lah Ara melihat betapa sempurna dan cantik ciptaan Tuhan waktu itu. kakak ipar sangat cantik.'' jelas Laura

__ADS_1


Leon diam mendengarkan ucapan adik nya secantik itukah wanita yang di nikahi nya, Leon percaya adik nya tidak akan pernah berbohong.


''Sudah yang lain sudah menunggu aku juga sudah lapar.'' Leon meninggal kan adik nya yang masih berdiri depan wastafel


''Kamu kemana saja sih kami sudah menunggu.'' seru Luna begitu melihat Leon


''Maaf sudah menunggu lama aku mencuci tangan.'' jawab Leon seraya menarik kursi nya duduk di samping sang istri di ikuti Laura yang juga sudah datang


Pelayan datang bersiap untuk melayani majikan nya di meja makan saat salah satu pelayan mengambil piring Leon Fatima memintanya dan menolak pelayan itu melayani Leon karna bagi Fatima ini sudah menjadi tugas Fatima


''Biar saya saja.'' tolak fatima


dengan cekatan mengambil piring Leon dan mengisinya dengan nasi,


''Mau pakai apa.'' tanya Fatima lembut.


''Terserah.''


Luna tertegun sepanjang perjalanan rumah tangganya bersama sang suami belum pernah sekali pun ia melayani sang suami di meja makan semua pekerjaan di lakukan oleh Pelayan


Setelah selesai mengisi piring Leon kemudian Fatima mengisi piring nya sendiri. tidak lupa menuang air putih nya juga.


Perlahan Fatima makan dengan tenang tanpa merasa kesulitan atau terganggu cadar nya. para pelayan menyaksikan dengan takjub.


Setelah selesai makan malam Leon mengajak istrinya untuk beristirahat. naik lif keatas menuju kamar nya lagi Fatima tertegun rumah keluarga sang suami ada lif nya. belum lagi kamar nya seperti apa batin Fatima.


''Masuk lah kamar mandi ada di sana kita shalat isya dulu.'' Leon berkata lembut menunjuk kan diana letak kamar mandi


Leon memang merasa tubuh nya sudah sangat lengket magrib tadi dia tidak mandi hanya mengambil air wudhu. Leon bergegas masuk ke kamar mandi dan berendam sebentar,


''apa ini.'' Leon merogoh saku celana nya dia ingat tadi Juna sempat memasuk kan sesuatu ke dalam saku celananya,


''Cih Juna apa dia selalu memakai ini. dasar.'' leon menuang isi botol kecil itu kedalam toilet lalu membuang botol nya kedalam sampah.


Fatima sudah menghubungi Abi nya memberi kabar Fatima sudah sampai dengan selamat sekaligus berpesan pada Abi nya untuk tidak kuatir,


Tak berapa lama kemudian Leon sudah selesai dengan mandi nya dan sudah siap dengan sarung baju Koko dan peci nya


''Em Fatima aku sudah selesai sekarang ambilah air wudhu.'' Leon berkata lembut rasa canggung dan gugup masih ada


Fatima mengangguk pelan seraya tersenyum


''Fatima belum melepas cadar nya.'' batin Leon berkata.


''Fatima aku sudah menyiap kan semua kebutuhan dan keperluan mu di sini.'' Leon membawa Fatima ke ruang ganti dan menunjuk kan lemari Fatima di sana sudah lengkap semua nya.


''Ini semua untuk ku.'' Leon mengangguk pelan dan tersenyum,


''Aku amb air wudhu dulu.'' Fatima meninggal kan Leon dan bergegas menuju kamar mandi


Tak berapa lama kemudian Fatima sudah selesai menghampiri Leon yang sudah menunggu di atas sajadah nya,

__ADS_1


''Aku sudah siap.'' lirih Fatima tanpa menoleh kebelakang Leon berdiri dan memulai shalat nya sebagai imam. Leon sudah hafal meski tidak fasih, Fatima merasa senang ini shalat jamaah pertama bersama sang suami. setelah selesai shalat keduanya berdoa dan berzikir bersama kemudian Leon lanjut shalat sunah dua rakaat sedang Fatima sudah selesai ia kembali ke ruang ganti baju, dengan ragu Fatima kembali menemui suami nya


''mas Leon.'' panggil Fatima dengan lembut Leon tidak menjawab karna masih bicara di tlp dan posisi nya membelakangi Fatima,


Fatima memberanikan diri memeluk Leon dari belakang,


''Tito sudah dulu besok aku hubungi lagi.'' Leon mengakhiri panggilan nya menatap ke bawah sebuah tangan mungil melingkar di perut nya. tampak halus dan putih, tangan yang biasanya hanya terlihat sampai pergelangan saja kali ini Leon melihat nya sampai ke siku.


''Fatima kenapa kamu tidak mengenakan lengan panjang.'' ucap Leon pelan


''Kenapa aku harus memakai baju panjang ini sudah malam. dan Waktunya untuk tidur.'' jawab Fatima


''Oh begitu ya.'' jawab Leon gugup lalu berbalik badan sangat kaget melihat Fatima Leon tidak bisa mengenali Fatima kecuali mata dan suara


Ternyata cadar bukan hanya menutup aurat nya tapi juga menyembunyikan kecantikan nya istrinya ternyata sangat cantik bahkan lebih cantik jauh dari bayang bayang Leon selama ini.


''Apa kamu sudah siap.'' tanya Leon lembut


Dengan malu Fatima mengangguk kan kepala nya seraya menunduk.


''Kenapa masih menunduk kan pandangan mu bukan kah aku sudah menjadi mahram mu seperti yang kamu mau.'' Leon tersenyum tipis melihat istri nya malu malu.


Perlahan Fatima memberanikan diri menatap lekat manik mata pria yang sudah menjadi mahram nya


''Terima kasih sudah menjaga nya untuk ku. aku pria paling beruntung di dunia ini yang tidak akan pernah berbagi kecantikan mu dengan pria mana pun.'' tutur Leon lembut


''Boleh aku mengambil hak ku.''


Fatima tersenyum bicara lewat sorot matanya yang tampak berbinar


''Dari mana kamu mendapatkan baju ini.'' tanya Leon penasaran istrinya memakai lingerie


''Apa pun yang akan mendatangkan pahala aku akan melakukan nya termasuk menyenangkan mu.'' Fatima tertunduk malu


''Benar kah. kalau begitu aku akan berterimakasih padamu.'' tanpa Aba aba Leon menggendong Fatima menuju ranjang


***


...*Bismillahil aliyyil azhim...


Allahummaj'alhu dzurriyyatan thayyibah in qaddartu antakhruja min shulbi allahumma jannibnis syalthana wa jannibnis syaithana marazaqtani*


Artinya:''


dengan nama Allah yang maha tinggi lagi maha agung tuhan ku jadikan lah ia keturunan yang baik bila kau takdirkan ia keluar dari tulang punggung ku tuhan ku jauh kan aku dari setan dari benih janin yang engkau anugrah kan pada ku


Leon memulai dengan mencumbu dan mencium istrinya dengan lembut. Fatima yang telah pasrah menyerah kan seluruh hak suami nya atas dirinya melakukan kewajiban nya sebagai seorang istri dengan melayani sang suami sepenuh hati membiarkan Leon menguasai tubuh nya mengambil hak seorang suami terhadap istri nya,


Malam indah dua insan saling beradu kenikmatan di malam pertama. saling berbagi rasa mengungkap kan cinta tanpa bicara bukan semata melepaskan sahwat semata. semua karna mengejar pahala dengan niat ibadah ke pada nya


''Hah yakinlah author senyum senyum sendiri

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2