
Lovely baru saja sampai di Bandara Indonesia. Ia pulang ke Indonesia setelah lima tahun hidup di Amerika. Kesediaannya kembali, bukan karena keinginannya sendiri. Enam bulan lalu ketika ia diangkat menjadi sekertaris di sebuah perusahaan teknologi, Lovely sudah memutuskan untuk menetap di Amerika. Namun tiba-tiba saja ia mendapat kabar bahwa Bu Armiyanti-ibu kandungnya jatuh sakit. Tuan Arman dan Jenar meminta Lovely untuk kembali ke Indonesia. Dan meski Lovely sempat menolak tapi ia tidak ingin Hebat menjadi anak durhaka jika dirinya tidak kembali untuk melihat ibunya. Katanya, jika tidak berbakti pada orang tua maka kelak, anak juga akan seperti itu pada ibunya. Lovely mendengar itu dari Nyonya Briella yang kadang memberikan nasehat bagaimana cara mendidik seorang anak.
"Mama, ini Indonesia yang mama bilang ke Hebat?" tanya Hebat sembari berjalan bersama Lovely yang menarik koper keluar dari Bandara.
Lovely yang memegang tangan anaknya, menoleh ke bawah melihat Hebat yang mendongak-menunggu jawaban ibunya.
"Iya. Mama lahir di negara ini dan juga besar di sini."
"Kapan kita pulang lagi ke Amerika?"
Lovely berhenti berjalan setelah mendengar pertanyaan anaknya. Ia menatap Hebat dengan kening berkerut. "Kita kan, baru sampai. Kenapa tiba-tiba tanya kapan pulang sayang? Kenapa? Hebat rindu sama Nyonya Margaret dan Miss Briella?"
Hebat mengangguk. Anak empat tahun itu memang dekat dengan kedua nyonya itu. Rumahnya berdekatan dengan rumah mereka dan setiap hari Hebat bermain di rumah mereka. Ia sudah menganggap kedua nyonya itu sebagai keluarganya sendiri.
"Kita tinggal beberapa bulan dulu di sini sampai nenek sembuh ya sayang. Kalau nenek sembuh, baru deh kita balik ke Amerika."
"Loly!" Disaat yang sama, Jenar berseru memanggil.
Lovely yang mendengar suara Jenar, langsung menoleh bersama Hebat. Melihat Jenar berdiri di pintu kedatangan, membuat Lovely kembali berjalan sembari menarik koper, juga anaknya.
"Bibi Kecil, udah lama tunggu kita?" tanya Lovely penasaran.
"Nggak juga. Kira-kira lima belas menit."
Hebat terus menatap Jenar hingga Jenar yang fokus bicara dengan Lovely beralih melihat Hebat.
Jenar pun berjongkok sembari tersenyum menatap Hebat. "Kamu pasti Hebat kan?"
Hebat mengangguk. "Anda pasti Nenek Jenar?"
__ADS_1
Hebat mendengar Lovely memanggil Jenar dengan sebutan Bibi Kecil hingga Hebat bisa menebak dengan benar siapa Jenar.
Jenar mengangguk, dan ia tercengan melihat Hebat yang terlihat percaya diri. Tidak malu-malu bertemu dengan dirinya yang baru pertama kali ditemui. Padahal biasanya anak seusia Hebat pasti malu jika baru pertama kali bertemu. Dan Jenar pun baru sadar jika dirinya ternyata sudah punya cucu.
"Diusia muda begini, aku sudah punya cucu laki-laki. Dan cucuku ini ternyata pintar ngomong ya."
"Dia udah biasa aku bawa keluar Bi. Jadi dia udah biasa berhadapan sama orang," sahut Lovely.
"Pantesan dia nggak malu ketemu aku!"
"Kenapa harus malu? Nenek Muda kan, keluarganya Hebat. Hebat nggak boleh malu sama keluarga sendiri!" imbuh Hebat dengan penuh percaya diri, tak ada sedikit pun rasa malu diwajahnya melihat Jenar.
"Iya benar. Hebat nggak boleh malu bicara sama keluarga sendiri." Jenar bicara sembari mengelus atas kepala Hebat.
Hebat tersenyum lalu membalas memegang wajah Jenar dan mencium pipi Jenar. Jenar sampai terkejut dibuatnya, dan ia juga terharu melihat anak itu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Hal itu membuatnya merasa bersalah pada anak empat tahun itu, juga pada Lovely yang ia abaikan selama tinggal di Amerika.
"Terima Kasih Nenek Muda!" Hebat sendiri yang menciptakan nama panggilan untuk Jenar. Baik Jenar dan Lovely tidak protes sama sekali, bahkan kedua perempuan itu hanya tersenyum melihat Hebat.
Mereka pun berjalan meninggalkan tempat itu. Dan mobil yang dikendarai Jenar, melaju meninggalkan bandara.
"Bi, bagaimana keadaan ibuku?" tanya Lovely yang sejak tadi penasaran dengan kondisi terkini ibunya.
"Ibumu ... dia ...," Jenar yang mendengar pertanyaan Lovely, bingung harus jawab apa hingga cara bicaranya gagap, dan itu membuat Lovely makin khawatir dengan kondisi ibunya.
"Ibu baik-baik saja kan, Bi?" tanya Lovely dengan raut wajahnya yang tidak tenang.
"Baik kok."
"Tapi kenapa bibi kayak gitu? Bibi kayak menyembunyikan sesuatu dariku. Sebenarnya ada apa Bi? Apa ibu benar-benar baik-baik saja?" Melihat ekspresi dan cara bicara Jenar, tentu membuat Lovely tidak gampang percaya dengan ucapan Jenar.
__ADS_1
Jenar menghela nafas panjang. Sesuatu yang tidak tega ia katakan pada Lovely, tidak bisa ia sembunyikan. Ia harus mengatakannya dan membuat Lovely paham. Terlebih ia diperintahkan oleh Tuan Arman untuk mengantar Lovely ke sebuah restoran. "Loly, Bibi Kecil tahu kalau kamu bakal marah setelah tahu maksud ayahmu memaksamu pulang. Sebenarnya ini karena masalah perjodohanmu dengan Ridwan"
"Apa?" Lovely tentu terkejut, "perjodohan?"
Jenar mengangguk. "Iya Loly."
"Terus bagaimana dengan ibuku?"
"Ibumu baik-baik saja. Dia sehat. Nggak sakit tapi beberapa hari lalu, dia memang masuk rumah sakit karena darah tingginya."
Lovely sangat marah mendengar itu, dan ia mencoba menahan amarahnya mengingat ada Hebat yang duduk di belakangnya.
"Ridwan adalah anak salah satu pengacara ternama di Jakarta! Sekarang Ridwan punya bisnis restoran. Ayahmu sangat menyukai anak itu. Mereka dekat dan Ridwan lebih dulu mengajukan perjodohan denganmu setelah melihat fotomu. Ayahmu tidak bisa menolak karena beliau ingin berbesan dengan orang tua Ridwan. Apalagi, ayahnya Ridwan bersedia menjadi pengacara perusahaan untuk menuntut rekan bisnis ayahmu yang membawa kabur uang perusahaan."
"Jadi ini konspirasi ayah." Mata Lovely berkaca-kaca ingin menangis. Ia begitu sedih karena sebelum kembali, ia punya harapan jika ayahnya akan berubah menjadi hangat padanya tapi nyatanya, ia dipanggil pulang hanya untuk dimanfaatkan.
"Loly, kamu tahu Bibi Kecil dan ibumu tidak bisa melawan ayahmu. Ayahmu akan sangat marah kalau kami ikut campur dengan keputusannya makanya Bibi Kecil dan ibumu tidak membantumu meski kami tidak tega. Jadi Loly, kali ini kamu ikuti keinginan ayahmu ya. Ini demi Bibi Kecil dan juga demi ibumu!"
"Oke. Aku ikuti keinginan ayah tapi aku tidak jamin kalau bisa membuat perjodohan ini lancar Bibi." Lovely menurut hanya untuk membalas kebaikan Jenar dan juga ibunya yang merawatnya sejak kecil tapi meski begitu, ia tetap tak mau menjanjikan perjodohan itu lancar seperti keinginan Tuan Arman.
"Nggak masalah. Yang penting kamu mau datang menemui Ridwan hari ini. Tadi, dia menghubungi bibi. Katanya dia menunggumu di restoran!"
Lovely diam, sementara Jenar tersenyum senang karena Lovely setuju untuk datang setelah berusaha membujuknya. Ia pun menghentikan mobilnya di depan restoran. Namun sebelum turun, Lovely memberi penjelasan pada Hebat.
"Jadi Hebat nggak ikut sama Mama tapi ikut sama Nenek Muda?" tanya Hebat yang menaikkan tubuhnya di tengah kursi di mana Lovely dan Jenar duduk. Bocah laki-laki itu menjadikan lututnya sebagai tumpuan tubuhnya, dan tangannya memegang sandaran kursi Lovely.
Lovely mengangguk. "Mama bakal pulang setelah urusan mama selesai!"
"Baiklah tapi jangan lama-lama ya, Ma!"
__ADS_1
Lovely kembali mengangguk lalu mencium kening anaknya. Setelah itu turun dari mobil. Ia melambaikan tangan ketika Jenar melajukan mobilnya.