Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Rencana Lamaran


__ADS_3

Lovely bingung ketika mobil Azil berhenti di depan hotel. Bahkan mobil itu melaju masuk menuju ke parkiran hotel.


“Azil, kenapa kita ke sini? Bukannya kamu mau bawa kita balik ke rumah?” tanya Lovely mengerutkan keningnya melihat ke luar dari jendela kaca mobil Azil.


“Tuan Alister suruh saya bawa Nona Lovely ke tempat ini. Katanya, Anda harus menunggu di tempat ini. Ada sesuatu yang Tuan Alister ingin bicarakan dengan Anda dan di sini adalah tempat yang nyaman untuk bicara dibanding di rumah,” jelas Azil.


Lovely tidak mengatakan apapun lagi. Ia hanya menghela nafas panjang dengan raut wajahnya yang kesal dengan Alister. Setelah mobil terparkir, Azil membawa Lovely dan Hebat masuk ke hotel. Ada perasaan tidak tenang ketika Lovely berjalan mengikuti Azil di lorong kamar hotel.


“Azil, aku bukan gadis delapan belas tahun yang gampang ditindas. Kalau Alister membawaku ke tempat ini karena punya maksud lain, aku akan melaporkannya ke polisi. Kau tahu kan, aku bisa melakukan hal itu sekarang.” Lovely bicara tegas dengan ancaman tegasnya pada Azil dan Alister tapi sejujurnya ada perasaan takut yang saat ini ia rasakan.


Azil menoleh melihat Lovely lalu tersenyum menatap perempuan itu. “Saya tahu nona. Anda tidak perlu khawatir. Tuan Alister tidak akan melakukan hal seperti yang Anda bayangkan.”


Ucapan Azil membuat Lovely sedikit lega. Sekarang ia merasa penasaran dengan Alister yang ingin bicara padanya hingga membawanya ke tempat seperti ini.


Sampai di sebuah ruangan yang tampak dari luar, mewah dan elegan, tidak seperti kamar hotel biasa. Azil membuka pintu ruangan itu hingga menunjukkan isi di dalam ruangan itu.


“Silahkan masuk nona!”

__ADS_1


Sambil memegang tangan Hebat, Lovely berjalan dua langkah sampai melewati pintu itu. Dan langkahnya terhenti di sana. Matanya hanya memandang ruangan itu. Memang bukan kamar. Lebih terlihat seperti ruangan sebuah pesta tapi di dalam tidak ada orang. Lovely bingung melihat ruangan mewah yang kosong. Kenapa Alister malah membawanya ke tempat seperti ini? Apa tujuannya?


Lovely pun menoleh melihat Azil. “Di mana Alister?”


“Dalam perjalanan kemari. Sebentar lagi sampai, dan Nona harus menunggu tuan di sini!” ujar Azil dengan serius dan dengan tampang datarnya menatap Lovely.


“Aku harus duduk di mana?” tanya Lovely yang malah bingung harus menunggu di mana pria itu, karena tempatnya memang luas dan banyak kursi kosong serta meja seperti sebuah pesta.


“Di mana saja nona? Dan saya akan tetap menemani Anda di sini,” ujar Azil yang berdiri di dekat pintu masuk.


“Aku tidak tahu apa yang direncanakan tuanmu tapi karena aku sudah ada di sini, jadi aku terpaksa menuruti kemauannya.”


“Apa itu?” tanya Lovely.


“Kalau Anda tidak ingin Tuan Alister mengambil hak asuh Hebat, sebaiknya Nona Lovely menerima keinginan Tuan Alister. Karena apapun yang Anda lakukan untuk membuat Hebat tetap berada disisi Anda, Tuan Alister juga akan melakukan sesuatu agar Anda tidak bisa memenangkan hak asuh Hebat. Nona Lovely pasti sudah memahami bagaimana Tuan Alister yang mampu melakukan apapun demi mendapatkan keinginan beliau. Saya bilang begini bukan karena menggertak Anda supaya takut tapi saya mengatakan kebenarannya. Keluarga Sandero cukup berpengaruh dan masalah perebutan hak asuh anak bukanlah masalah besar untuk Tuan Alister.” Azil berani mengatakan hal seperti itu karena ia ingin tuannya bisa bersatu dengan orang yang dicintainya dan punya keluarga kecil.


“Dia pasti ingin memaksaku agar menyerah. Pria itu bukan hanya brengsek tapi juga egois. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri.” Lovely tersenyum miring membayangkan sifat Alister yang seenaknya.

__ADS_1


Azil ingin mengatakan pada Lovely bahwa Alister sebenarnya mencintainya tapi Azil merasa terlalu ikut campur jika mengatakan hal itu. Akhirnya Azil memilih diam. Dan Lovely yang berdiri di sana, masih bingung tapi ia akhirnya duduk di salah kursi di sana bersama anaknya. Sementara Alister berada di sebuah ruangan yang bersebelahan dengan ruangan yang ditempati Lovely. Alister tidak sendiri. Ia ditemani oleh adiknya, dan ibunya. Bahkan Alister mengundang kedua orang tua Lovely, juga ada Levon di sana.


Rencananya, hari ini Alister ingin melamar Lovely tapi sebelum melamarnya, ia sudah meminta izin pada orang tuanya, juga pada orang tua Lovely. Karena itu, orang tua Lovely ada di sana. Namun Levon terlihat tidak senang karena merasa bahwa adiknya telah ditipu oleh Alister.


“Nak Alister, izin saya hanya sampai di sini saja. Selebihnya, saya serahkan keputusannya pada Lovely. Entah dia menerima atau tidak, itu tidak ada campur tangan dari saya dan ibunya.” Tuan Arman yang ingin memberi kebebasan pada anaknya untuk memilih, pun menyahut untuk membuat Alister mengerti.


Alister tersenyum. “Saya mengerti. Anda tidak perlu merasa tidak enak pada saya.”


“Kak, pokoknya kalau kakak ditolak sama wanita itu, mending paksa aja ambil Hebat. Aku tuh malu ada di sini, terus ujung-ujungnya kakak malah ditolak sama dia,” sahut Iren yang masih tidak senang dengan Lovely.


Alister tidak mengatakan apapun, ia hanya melempar tatapan tajamnya pada Iren. Sementara ibunya, berusaha membuat Iren diam agar tidak banyak mengoceh.


Alister yang menunggu pesan dari Azil, sesekali menghela nafas panjang karena merasa gugup dan canggung. Hal itu karena, ini pertama kalinya ia ingin melamar seorang perempuan dan ia takut lamarannya ditolak oleh Lovely.


"Tenang Alister. Kamu harus fokus pada tujuanmu saja. Jangan pikirkan hasilnya bagaimana supaya kamu bisa mengatakan yang ingin kamu katakan pada Lovely," ujar Nyonya Arvita.


Alister mengangguk. Disaat yang sama, Azil mengirim pesan pada Alister, mengatakan bahwa Lovely dan Hebat sudah berada di ruangan itu. Setelah membaca pesan dari Azil, Alister keluar dari ruangan itu lalu menuju ruangan di mana Lovely dan Hebat berada.

__ADS_1


Part Menuju Tamat......


__ADS_2