Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Dua Orang Tidak Dikenal


__ADS_3

"Ayah tidak ingin berdebat denganmu Loly. Ayah datang kemari hanya untuk memberikan dukungan untuk hubunganmu dengan Alister. Kalau kamu berpikir bahwa ayah tidak memikirkan perasaanmu dan bibimu, terserah. Silahkan kamu berpikir begitu! Ayah tidak akan banyak bicara tapi bukan berarti ayah mengakuinya. Suatu saat kamu akan mengerti pemikiran ayah." Setelah mengatakan itu, Tuan Arman mengajak istrinya berdiri untuk meninggalkan rumah Lovely.


Nyonya Armiyanti yang sebenarnya menyayangi putrinya, merasa kasihan melihat Lovely hanya tinggal berdua dengan anaknya di apartemen sederhana. Namun, Nyonya Armiyanti tidak ingin banyak berkomentar karena rasa bersalahnya yang tidak bisa melakukan apapun pada Lovely lima tahun lalu.


"Levon, ayo kita pulang!" seru Tuan Arman ketika dirinya berada di depan pintu yang ia buka.


Levon keluar dari kamar bersama Hebat. Ia tampak heran dan penasaran melihat Lovely malah duduk menunduk di tempatnya, tidak mengantar orang tuanya ke depan.


Hal itu membuat Levon berpikir bahwa ada sesuatu yang membuat Lovely sedih, dan pasti karena orang tuanya. Namun Levon tidak ingin bertanya sekarang karena waktunya tidak tepat. Dengan segera, Levon menyusul orang tuanya yang sudah keluar lebih dulu.


"Mama!" seru Hebat menghampiri ibunya. Dan Lovely langsung mengangkat wajahnya, menatap Hebat dengan senyuman lembut yang bersamaan muncul diwajahnya.


"Iya sayang!" Lovely mengulurkan kedua tangannya dan memeluk anaknya yang berlari kepelukannya, "kenapa sayang?"


Hebat melepaskan pelukannya dan beralih menatap ibunya. "Hebat tahu mama sedih karena kakek dan nenek marahin mama. Mama jangan sedih ya! Nenek dan kakek begitu karena sayang sama mama."


Meski ucapan Hebat tidak seperti kenyataannya tapi Lovely merasa terhibur dan kesedihannya pun berkurang karena semangat yang diberikan Hebat sangat luar biasa untuknya.


"Iya sayang. Kakek dan nenek marah sama mama karena mereka sayang banget sama mama. Mama kalau marah sama Hebat, juga karena mama sayang banget sama Hebat. Bukan karena benci. Jadi Hebat nggak boleh ngambek lagi sama mama kalau mama marah." Lovely mengiyakan saja agar anaknya itu tidak ikut membenci siapapun. Terutama untuk keluarganya sendiri. Menurutnya itu tidak baik untuk mental Hebat yang masih kecil.


Lima hari berlalu sejak orang tua Lovely datang ke apartemen. Mereka tidak pernah datang lagi selama lima hari ini. Hidup Lovely pun terasa damai dan tentram. Apalagi Alister tidak datang menemuinya bahkan pria itu tidak pernah menghubunginya. Padahal pengawal Alister masih setia berjaga di depan apartemen. Meski Lovely penasaran dengan sikap dan tindakan Alister yang tak biasanya tapi Lovely tidak ingin memikirkannya terlalu dalam. Ia memilih bersantai bersama anaknya dengan pergi berolahraga setiap pagi di tempat fitnes yang tak jauh dari apartemennya.


Lovely tidak tahu bahwa dibalik sikap diam Alister, ternyata pria itu tengah menyusun rencana untuk Lovely dan keluarganya. Pria itu kini berada di sebuah rumah sakit, menunggu hasil Tes DNA-nya keluar.


"Hasilnya sudah keluar tuan." Dokter yang Alister bayar untuk membantunya melakukan Tes DNA, memberikan hasil Tes DNA-nya pada Alister, dan Alister meraihnya.


99%Kecocokan.


Alister sama sekali tak terlalu terkejut karena ia memang sudah menebak bahwa Hebat adalah darah dagingnya setelah tahu dari Azil yang memberitahunya mengenai Hebat yang merupakan anak kandung Lovely.


Alister menghela nafas lega karena apa yang ia harapkan telah terjadi. Dengan kebenaran mengenai Hebat anak kandungnya, membuat rencananya pada Lovely pasti berjalan sesuai keinginannya.

__ADS_1


"Uangnya akan aku tambahkan," kata Alister yang terlihat senang, bahkan tersenyum pada dokter itu.


Dokter itu mengulurkan tangannya pada Alister. "Terima kasih Tuan Alister! Senang bisa membantu Anda!"


Alister pergi setelah dirinya berjabat tangan dengan dokter itu.


"Azil, kita ke apartemen Cinta!" titah Alister ketika dirinya sudah duduk di dalam mobil.


"Oke." Azil melajukan mobilnya ke apartemen Lovely.


Di mobil, Alister begitu senang karena hari ini ia akan bertemu dengan Lovely setelah lima hari ini tidak bertemu.


Di apartemen Lovely, terlihat dua orang pria berbadan besar tengah berdiri di depan apartemen Lovely. Kedua pria itu menekan bel apartemen Lovely hingga Lovely membuka apartemennya.


"Cari siapa?" tanya Lovely heran melihat kedua pria itu menatapnya datar.


Kedua pria itu saling melihat dan salah satunya memberikan kode untuk bergerak sesuai rencana keduanya. Dengan sigap, pria satunya menarik Lovely lalu membungkam mulutnya dengan kain yang sudah diberikan obat bius sampai Lovely tak sadarkan diri. Pria satunya masuk ke dalam untuk membawa Hebat.


Lalu, kedua pria itu buru-buru keluar membawa Hebat dan Lovely yang tidak sadar. Sekitar lima belas menit, mereka pergi, Alister datang.


Dengan senyuman diwajahnya, Alister menekan bel apartemen Lovely, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Bahkan dirinya sudah lima kali menekan bel.


"Coba telfon nomornya tuan!" sahut Azil.


Alister mendengarkan Azil. Ia pun menghubungi nomor Lovely dan nada dering Lovely terdengar di dalam apartemen itu. Alister menoleh ke Azil, begitu juga Azil. Keduanya saling melihat dan nampak kekhawatiran diwajah mereka berdua.


"Kau dengar bunyi hapenya kan?" tanya Alister pada Azil.


"Dengar tuan!"


"Kalau Cinta ada di dalam, harusnya dia buka pintu atau seenggaknya mengangkat panggilanku," ujar Alister heran.

__ADS_1


"Apa Nona Lovely pingsan tuan?"


Ucapan Azil malah membuat Alister semakin khawatir.


"Cepat kamu dobrak pintunya!" titah Alister.


"Kalau saya dobrak, pintunya pasti akan rusak. Kita pasti disuruh ganti tuan," ujar Azil tak mau rugi.


"Azil, jangan bersikap seperti orang miskin! Cepat buka pintunya!" titah Alister marah.


Tanpa protes lagi, Azil menendang pintu itu dengan keras. Bahkan beberapa kali hingga akhirnya pintu itu terbuka. Alister berlari masuk dan tidak menemukan Lovely di manapun. Begitu juga Hebat. Azil hanya menemukan pengasuh Hebat yang pingsan di lantai.


"Sepertinya terjadi sesuatu tuan," ujar Azil yang kini menurunkan pengasuh itu di sofa.


"Kamu cepat sadarkan dia!" titah Alister tak sabar ingin tahu apa yang terjadi.


Azil mengambil air di baskom besar untuk menyiram ke pengasuh itu. "Maaf tapi ini mungkin kasar!"


Setelah meminta maaf pada pengasuh itu, Azil lantas menyiram baskom itu ke wajah sang pengasuh hingga sadarkan diri.


Alister kemudian memegang bahu pengasuh itu sembari menatap serius. "Di mana Lovely dan Hebat?"


Sang pengasuh yang tadinya belum sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya, seketika tersadar setelah mendengar ucapan Alister.


"Nyonya Lovely dan Hebat diambil orang tidak dikenal tuan."


Alister sangat terkejut. "Apa?"


"Coba kau jelaskan lebih detail pada kami!" sahut Azil.


Pengasuh itu tampak ketakutan. Tubuhnya gemetar.

__ADS_1


__ADS_2