Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Jangan-jangan Anakku Dengan Cinta


__ADS_3

Tuan Qomar mendatangi Alister yang sedang berada di Lapangan Golf untuk melapor bahwa permintaan Alister sudah ia lakukan.


"Tuan Alister!" Qomar berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk pada Alister yang berdiri di depannya dengan posisi membelakanginya.


Alister sedang asyik bermain golf dan tidak menoleh sedikitpun ketika mendengar suara Qomar.


"Kau tahu apa yang sudah kuperintahkan padamu, Qomar?" Alister bertanya tanpa melihat Qomar di belakangnya, ia tetap asyik dengan kegiatannya itu.


"Saya tahu. Tuan suruh saya datang berlutut di depan Nona Lovely, dan saya sudah melakukannya. Bahkan saya sudah bilang kalau saya sudah mengembalikan uang bibinya."


"Begitu." Tiba-tiba Alister berbalik dan langsung memukul Qomar dengan tongkat golf sampai pria itu terjatuh ke tanah rerumputan.


"Berdiri," titah Alister tajam menatap Qomar di depannya.


Dengan wajah ketakutan, Qomar menatap Alister. "Kenapa tuan memukul saya?" tanya Qomar meringis sakit.


"Aku bilang berdiri," teriak Alister marah.


Sambil memegang kepalanya yang mengeluarkan darah segar, Qomar berdiri dan langsung menurunkan pandangannya di depan Alister yang menatap tajam seolah ingin membunuhnya.


"Saya sudah melakukan sesuai perintah Anda. Bahkan saya mengakui kesalahan saya pada Nona Lovely." Meski takut tapi Tuan Qomar tetap berani bicara untuk membela dirinya.


"Kalau kau sudah minta maaf, harusnya kau tunggu sampai dia memaafkanmu."


"Nona Lovely sudah memaafkan saya Tuan," jawab Tuan Qomar.


"Kalau Cinta sudah memaafkanmu, lalu kenapa dia memblokir nomorku?"


"Kalau itu, saya tidak tahu Tuan!"


Alister kesal. Ia mencengkram kerah baju Tuan Qomar lalu menariknya dengan kasar ke arahnya.


"Qomar, kau sudah pernah membohongiku. Kau bilang tidak tahu keberadaan wanita itu, padahal kau tahu siapa dia." Alister mengungkit kejadian ketika ia susah payah mencari Lovely lalu bertanya pada Qomar tapi Qomar tidak mengatakan padanya siapa dan di mana Lovely berada.

__ADS_1


"Waktu itu saya sungguh tidak tahu Tuan. Saya tidak bohong. Sungguh!" kata Tuan Qomar memohon pada Alister agar percaya padanya.


Alister tersenyum sinis. "Kau menipu orang, bagaimana aku bisa percaya padamu? Apa kau pikir aku bisa dibodohi seperti Jenar?"


"Bukan begitu ...,"


Brukk!


Alister kembali memukul Tuan Qomar tapi tidak memakai tongkat golf. Ia memukul menggunakan tangannya ketika Tuan Qomar masih belum selesai bicara.


Tuan Qomar sudah sangat kesakitan karena sebelumnya ia dipukuli oleh Alister ketika diperintahkan untuk datang meminta maaf ke hadapan Lovely. Ia tidak mau di pukuli lagi karena tidak merasa bersalah. Akhirnya Tuan Qomar berlutut lagi di depan Alister.


"Saya berkata jujur Tuan Alister. Saya sungguh tidak tahu kalau wanita yang saya bawa malam itu adalah keponakan Nona Jenar. Nona Jenar yang membawa gadis itu ke hadapan saya, tidak mau kasih tahu sama saya."


"Jenar?" Alister sedikit kaget mendengar jika Jenar adalah orang yang memberikan wanita pada Tuan Qomar.


"Iya tuan. Nona Jenar adalah orang yang membawakan saya gadis itu, dan saya tidak pernah berpikir kalau gadis yang dibawanya adalah keponakannya sendiri, makanya saya juga tidak tahu tentang Nona Lovely. Waktu Tuan cari gadis itu, Nona Jenar pasti yang sengaja menyembunyikan informasi Nona Lovely. Dan malam itu saya bertemu langsung dengan Nona Lovely sampai mengira saya adalah pria yang tidur dengannya makanya nona itu dendam sama saya." Tuan Qomar memang egois. Dia pria yang hanya peduli dengan keselamatan nya sendiri serta keuntungan semata hingga ia mengatakan semua yang harusnya ia sembunyikan. Untuk dirinya yang saat ini dipojokkan oleh Alister, Tuan Qomar tak segan-segan mengkhianati Jenar. Lebih baik dibenci oleh Jenar ketimbang Alister tak percaya padanya. Jika Alister sudah tak berpihak padanya maka ia juga yang akan kesulitan, mengingat Alister adalah raja bisnis di kota ini. Dengan dukungan pria itu, bisnisnya pun akan berjalan sukses.


Tuan Qomar buru-buru pergi, dan disaat yang sama, Azil datang. Pria berumur 30 tahun itu langsung membungkuk di depan Alister lalu berdiri tegak melihat bosnya. "Saya mau melapor!"


"Bicaralah dengan santai. Di sini cuma kita berdua," pinta Alister.


"Oke. Jadi, informasi yang kemarin aku dapatkan sudah benar. Nona Lovely belum pernah menikah."


Alister yang masih asyik bermain, tersenyum smirk lalu berkata, "jangan-jangan suara anak kecil yang kudengar itu, anakku dengan Cinta."


Ucapan yang dilontarkannya begitu saja hanyalah sebuah candaan karena sebenarnya Alister tidak percaya jika kejadian satu malam itu membuat Lovely mengandung.


"Sayangnya bukan. Anak laki-laki itu bukan anak kandung Nona Lovely. Nona Lovely mengadopsinya ketika berada di Amerika sekitar empat tahun lalu. Kalau tidak salah, saat usia Nona Lovely sembilan belas tahun."


"Dia mengadopsi anak saat usianya masih muda ...," Alister menjeda kalimatnya dan malah tersenyum kemudian detik berikutnya kembali berkata, "wanita itu selalu mengejutkanku. Dan aku jadi penasaran, mau lihat bocah laki-laki itu."


"Tapi mungkin kamu lebih penasaran dengan pria yang saat ini bersama Nona Lovely."

__ADS_1


Ucapan Azil membuat Alister menghentikan permainannya dan hanya fokus melihat Azil. "Maksudmu?"


"Anak buahku yang kuperintahkan memantau Nona Lovely, bilang kalau Nona Lovely keluar bersama pria muda."


"Pria muda?" Kening Alister mengerut dan matanya tajam menatap Azil, "kau mau bilang, aku tua, begitu?"


Azil menghela nafas lelah melihat Alister kesal hanya karena kata-katanya. "Jangan selalu tersinggung! Aku tidak bermaksud menyindirmu. Aku cuma menyampaikan sesuatu yang harusnya kamu tahu."


"Wanita itu blokir nomorku dan sekarang malah pergi dengan pria lain. Sepertinya dia senang bermain api."


"Bermain api apanya? Anda dan dia kan, tidak punya hubungan apapun?" sahut Azil.


"Apanya yang tidak punya hubungan. Aku sudah mewujudkan syarat yang dia minta. Berarti sekarang dia sudah jadi wanitaku," tegas Alister.


"Sebelum Nona Lovely mengakuinya, itu artinya Anda bukan siapa-siapanya."


Seketika Alister menoleh tajam ke Azil. "Kau sebenarnya bekerja untukku atau kerja untuknya. Kenapa kata-katamu terus membela wanita itu?"


Azil melihat ekspresi wajah Alister yang begitu kesal hingga ia memilih diam.


"Siapkan hadiah untuk Jenar! Malam ini, aku akan berkunjung ke rumahnya. Sekaligus menangkap pacar yang sedang selingkuh. Cih berani sekali dia di belakangku," kata Alister.


"Anda mau hadiah yang seperti apa?" tanya Azil.


"Perhiasan. Wanita itu suka sekali yang glamor. Dan sediakan juga untuk semua orang."


"Anak kecil itu juga?" tanya Azil memastikan.


"Aku bilang semua orang, berarti kamu harus berikan hadiah untuk semua orang tanpa terkecuali."


"Oke. Akan aku sediakan mereka hadiah. Termasuk para pembantunya juga."


"Terserah!" Sebenarnya Alister tidak terlalu peduli dengan hadiah-hadiah nya karena maksudnya datang ke sana dan memberi hadiah demi rencananya bertemu dengan Lovely.

__ADS_1


__ADS_2