Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Hebat Shangkala Langit


__ADS_3

Sebulan sejak Lovely melahirkan bayinya, perempuan itu kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa tapi tugasnya semakin berat dengan adanya sang bayi yang kadang membuat Lovely kewalahan. Jujur, Lovely kadang mengeluh ketika di tengah kesibukannya kuliah dan bekerja, ia harus mengurus sang buah hati juga. Wajar saja, ia masih muda dan harusnya menjalani hidupnya layaknya remaja lain tapi karena kejadian malam itu, Lovely harus menanggung beban seberat ini. Belum lagi dengan keluarganya yang malah melemparnya jauh-jauh, padahal Lovely sangat membutuhkan dukungan moral dari mereka tapi mereka malah menjatuhkan mentalnya lebih dalam hingga kadang lelah sendiri dengan hidupnya.


"Hebat sayang! Tidur ya Nak. Mama bakal mendongeng untuk Hebat yang terhebat buat Mama!" Kadang Lovely merasa aneh dengan panggilan mama untuk anaknya, bahkan ketika pertama kali mengajak anaknya bicara dengan menyebut mama dan anakku, ia merasa kaku dan canggung sendiri. Itu karena ia masih belum terbiasa dengan statusnya seorang ibu. Bahkan Lovely kadang merasa dirinya sedang bermimpi menjadi ibu, dan menganggap seolah ini tidak nyata tapi ia sendiri menyaksikan, melewati dan merasakan semuanya. Wajar saja sih, Lovely adalah remaja yang masih dalam tahap pubertas. Usia seperti dia adalah masa-masa di mana harusnya naksir sama cowok yang seumuran dengannya tapi malah jadi seorang ibu, dan harus membiasakan diri dengan statusnya itu.


Ketika Lovely asyik-asyiknya bicara santai dengan bayinya, tiba-tiba saja ia teringat dengan Jenar. Jenar yang dulu Lovely anggap sebagai orang yang sangat penting, entah kenapa malah membuatnya kecewa. Alasannya karena sejak ada di Amerika, Jenar tidak pernah menghubunginya, sekedar menanyakan kabarnya. Bahkan Lovely beberapa kali mengirim pesan pada Jenar. Ia juga membagikan kabar kelahiran buah hatinya itu tapi satupun balasan dari Jenar tidak ada. Ditambah lagi dengan kebohongan Jenar yang membuatnya semakin heran dengan sikap bibinya yang seolah menjauh darinya. Nafas berat pun berhasil lolos dari mulut Lovely karena perubahan sikap Jenar.


"Hebat, Mama nggak tahu, kenapa Bibi Jenar nggak pernah nanyain kabar kita. Padahal dia yang paling sayang sama Mama."


Bayi mungil itu akhirnya tertidur pulas digendongan Lovely. Lovely meletakkan bayinya di box bayi, dan disaat yang sama, ponsel Lovely di atas meja nakas, berdering. Lovely menoleh dan melihat dilayar ponselnya. Ia terkejut melihat nama Jenar dilayar ponselnya.


"Baru saja diomongin dan diingat, bibi malah menghubungiku." Karena sudah lama tidak dihubungi oleh Jenar, membuat Lovely heran dengan bibinya itu, dan sebenarnya Lovely marah pada sikapnya bibinya selama ini hingga ia tidak mengangkat segera panggilan dari Jenar. Perempuan itu kembali menyimpan ponselnya di atas meja tapi ada rasa penasaran yang membuatnya kembali mengambil ponselnya.


"Kalau nggak bicara sama Bibi Kecil, bagaimana aku bisa tahu alasan dia berubah."


Panggilan video dari Jenar pun ia angkat dan ia berusaha terlihat baik dilayar ponselnya dengan membuat bibirnya tersenyum.


"Hai Loly! Gimana kabarmu di sana?" Jenar menyapa lebih dulu sembari tersenyum dan juga melambai-lambai pada Lovely.


"Aku baik Bi. Bibi Kecil gimana kabarnya? Baik?"

__ADS_1


Jenar mengangguk tersenyum lalu raut wajahnya tiba-tiba berubah serius. "Loly, Bibi Kecil minta maaf sama kamu ya karena baru hubungi kamu sekarang. Beberapa bulan ini, masalah perusahaan ayahmu kacau. Kita kehilangan banyak modal gara-gara kerja sama dengan Pak Qomar. Orang itu berkhianat."


Lovely yang tadinya marah pada Jenar, berubah kasihan hingga menjadikan hatinya luluh pada cerita Jenar. "Aku nggak nyangka kalau Bibi Kecil sangat kesusahan. Sejak aku datang kemari, aku nggak pernah dapat kabar dari Bibi Kecil. Aku pikir, Bibi Kecil sengaja menghindariku, dan mengabaikanku, ternyata akulah yang selalu berpikiran buruk pada Bibi. Maafkan aku Bibi Kecil!"


"Nggak apa-apa Loly. Bibi Kecil mengerti kok, kalau kamu punya pikiran negatif sama bibi, karena Bibi Kecil memang punya salah sama kamu. Bibi sengaja berbohong sama kamu mengenai rumah kontrakanmu. Bibi nggak bayar selama setahun tapi cuma lima bulan saja, dan bibi nggak jujur karena nggak mau kamu memikirkan masalah itu."


Mendengar sang Bibi Kecil membahas masalah kontrakan itu, membuat Lovely kembali mengingat kebohongan bibinya yang membuatnya marah. "Masalah itu, aku benar-benar marah sama Bibi Kecil. Harusnya bibi jujur sama aku. Kenapa harus bohong yang malah bikin aku hampir diusir dari rumah ini? Kalau saja aku nggak punya uang tabungan yang kukasih sama pemilik rumah ini, aku bakal didepak dari rumah ini. Kalau seperti itu, aku harus cari rumah di mana lagi? Pasti aku bakal jalan ke sana kemari cuma buat cari rumah."


"Maafkan aku Loly!" Tampak diwajah Jenar yang seakan menyesal dan merasa bersalah pada Lovely gara-gara kebohongannya itu.


"Sudahlah! Itu sudah berlalu. Bibi nggak perlu ngerasa bersalah begitu. Aku juga udah nggak marah sama bibi karena aku mengerti, bibi lagi kesusahan." Lovely memang tidak bisa terus marah serta menyalahkan Jenar karena masalah kontrakan itu. Sebab, jika dipikir-pikir, Lovely diusir dari rumah keluarganya, dan Jenar bukanlah walinya jadi menurut Lovely, Jenar tidak berkepentingan untuk membiayai hidupnya.


Lovely tersenyum. Jika menyangkut bayi mungil itu, Lovely memang selalu bersemangat. Dengan senyumannya itu, ia mengarahkan layar ponselnya ke arah bayinya. "Lihat Bibi Kecil. Ini anakku."


"Lucu banget Loly." Wajah Jenar terlihat senang menatap bayi mungil itu. Ingin rasanya ia memeluknya dan menciumnya melihat wajah imut bayi itu, "namanya siapa Loly?"


"Hebat Shangkala Langit!" Lovely pun ikut menatap bayi mungilnya yang tertidur pulas.


"Namanya bagus banget. Kamu yang kasih dia nama?"

__ADS_1


Lovely mengangguk. "Iya Bibi. Aku mau dia tumbuh menjadi anak yang hebat dan bertanggungjawab."


"Jenar!" Tiba-tiba suara Tuan Arman terdengar yang membuat Jenar terkejut.


"Loly, kayaknya kakak panggil Bibi Kecil. Bibi sudahi dulu ya. Selamat pagi!"


Panggilan VC itu akhirnya mati. Dan di saat yang sama, suara bel terdengar. Lovely beranjak dari tempatnya dan membuka pintu rumahnya.


"Saya bawa makanan untuk kamu makan!" Ternyata yang datang Nyonya Margaret. Ia membawa makanan untuk Lovely karena ia tahu bahwa hari ini, Lovely mulai bekerja di pusat perbelanjaan dan pasti tidak punya waktu untuk membuat makanan.


"Makasih Nyonya!" kata Lovely sembari mengambil nampan makanan dari Nyonya Margaret.


"Saya kira, saya terlambat kemari karena pikir kamu sudah berangkat kerja," ucap Nyonya Margaret.


"Saya bicara sama Bibi Kecil saya, Nyonya!"


"Kamu sudah baikan sama bibi kamu?" Nyonya Margaret tahu mengenai hubungan Lovely dan Jenar karena sebelumnya tidak sengaja membaca pesan Lovely untuk Jenar dilayar komputernya. Waktu itu, Margaret datang membantu Lovely yang baru melahirkan dan ada komputer Lovely yang baru dibuka oleh Lovely sendiri hingga membuat Nyonya Margaret melihat pesan itu.


"Sudah nyonya!"

__ADS_1


"Kamu ini benar-benar masih lugu, Lovely. Padahal bibimu tidak pernah membalas pesanmu tapi sekarang malah sudah berbaikan. Kayaknya kamu memang pantasnya dipanggil mama muda yang lugu, Lovely."


__ADS_2