Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Malam Pertama Sebagai Pacar


__ADS_3

Mobil Alister adalah mobil mewah nan luas hingga tempat yang diduduki Alister saat ini pun cukup luas, jadi ia tidak terlalu tersiksa duduk di bawah.


"Aku pria yang tidak suka mengambil kesempatan dalam keadaan mendesak begini. Jadi mendekatlah kemari Cinta!"


Lovely ragu untuk mengikuti ucapan pria itu hingga ia tetap duduk di sana tapi Jenar semakin mendekat ke mobil hingga rasanya ia tidak punya pilihan selain duduk di tempat Alister.


"Ayo sayang, kemarilah!"


Entah kenapa desakan panggilan pria itu seolah sengaja ingin menggodanya tapi Lovely tidak bisa terus diam di sana ketika Jenar sudah dekat.


Dengan cepat, Lovely duduk di dekat Alister dengan posisi membelakangi pria itu.


'Dia benar-benar lugu,' batin Alister, sambil tersenyum licik, Alister menarik Lovely masuk ke dalam pelukannya.


Lovely tentu terkejut, ia melirik Alister yang berada di belakangnya. "Kenapa peluk saya?"


"Aku memeluk pacarku sendiri. Lagipula, ini malam pertama kita sebagai pacar, aku tidak mau melewatkan momen ini begitu saja."


"Tapi Anda keterlaluan. Tangan Anda menyentuh dada saya." Lovely berucap sembari berusaha menyingkirkan kedua tangan AlisterĀ  yang berada didadanya.


"Ini bukan masalah besar sayang. Yang jadi masalah besar sekarang adalah bibimu sudah berdiri di dekat kita. Jadi diamlah! Jangan bicara. Sssttt!"


Lovely akhirnya diam. Sementara tangan Alister tidak bisa diam. Tangan itu menjelajah ke mana-mana, bahkan salah satu tangannya kini berada di paha Lovely.


"Ali kau ..,"


"Ssssttt! Jangan berisik, dia sudah mendekat!" Alister memang pria yang punya banyak trik untuk menggoda Lovely seperti saat ini. Ia menyuruh Lovely diam dan tidak protes apapun yang ia lakukan agar tidak ketahuan oleh Jenar. Padahal, Jenar saja tidak bisa melihatnya dari cermin mobil, bahkan Jenar sudah berjalan menjauh dari mobil itu karena tidak bisa menemukan Lovely.


"Kenapa Bibi Kecil belum masuk rumah?" gumam Lovely heran.

__ADS_1


"Entahlah. Sepertinya dia sangat mengkhawatirkanmu sampai dia tidak mau pergi sebelum menemukanmu. Tapi tenang saja. Selama ada aku, bibimu tidak akan bisa menemukanmu. Itu juga kalau kau diam dan tidak banyak protes." Bukan hanya tangan Alister yang menjelajah kulit mulus Lovely. Bibir pria itu pun ikut menjelajah. Bibirnya kini menghujani kecupan di punggung dan belakang leher Lovely.


Sungguh, ia sudah kecanduan aroma perempuan itu hingga berat rasanya untuk menghentikan kegiatannya itu. Sementara Lovely tampak kesal tapi ia tidak bisa protes karena masih mengira ada Jenar di sana. Menit berikutnya, Lovely sudah tak mendengar suara Jenar. Perlahan ia menaikkan kepalanya sampai ia bisa melihat keadaan di luar, dan ternyata sudah tak ada Jenar.


Dengan cepat, Lovely menjauh dari Alister yang masih asyik menyentuhnya. Ia duduk kembali ke tempatnya dengan tatapannya yang tajam melihat Alister terdiam bingung menatapnya.


"Kenapa duduk di situ? Memangnya bibimu sudah pergi?" tanya Alister yang masih tak rela melepaskan Lovely.


"Bibi saya sudah pergi. Dan kayaknya dia udah lama masuk ke dalam." Lovely menjawab dengan mata tajamnya yang masih melihat Alister.


Entah kenapa Lovely merasa dirinya telah ditipu oleh pria mesum ini. 'Kenapa tadi aku menurutinya sampai aku duduk di situ? Dan kenapa juga aku bisa membiarkan dia menyentuhku?"


Alister ikut duduk di sebelah Lovely dengan ekspresi datarnya. Dari wajahnya ia tampak tidak senang karena kegiatan nikmatnya tadi terhenti sebelum ia merasa puas. "Sepertinya kau sangat takut pada bibimu? Apa dia sering memarahimu?"


Lovely menoleh melihat Alister, dan ia sedikit kaget mendengar pertanyaan pria itu karena baru pertama kali ada orang yang menanyakan tentang hubungannya dengan keluarganya. "Saya nggak takut tapi menghormati dan menghargai bibi."


Alister ikut menoleh melihat Lovely. "Kau sampai bilang begitu, berarti dia punya peran penting dalam hidupmu."


"Kenapa berhenti?" tanya Alister.


"Saya nggak sadar kalau sudah cerita banyak sama Anda."


"Itu berarti kamu sudah nyaman bicara padaku." Alister yang tadinya bermuka datar, kini tersenyum lagi.


"Saya nggak tahu Anda siapa dan dari keluarga mana. Saya hanya tahu Anda adalah Ali, dan saya cukup tahu itu seperti yang Anda katakan tadi tapi saya sangat berterima kasih pada Anda karena sudah bantu saya mengenai masalah Tuan Qomar. Terima kasih banyak!"


"Cinta, aku tidak nyaman dengar kamu bicara formal begitu. Bisa nggak, kamu bicara santai di depanku," pinta Alister.


Sesaat Lovely diam dengan matanya yang menatap langsung mata Alister. Dipikir-pikir, ia memang terlalu formal bicara dengan pria ini, padahal pria ini malah bicara seenaknya padanya. "Oke. Ali."

__ADS_1


"Besok aku akan datang menjemputmu."


"Kemana?" tanya Lovely.


"Kencan. Bukankah orang pacaran harus kencan?"


Satu kalipun Lovely tidak pernah pacaran. Ia hanya tahu kalimat itu dari teman-temannya yang sudah pernah pacaran hingga ia sendiri bingung mendengar ucapan Alister. "Kencan itu seperti orang yang sedang jalan-jalan kan?"


Alister mengangguk. "Kurang lebih seperti itu."


"Aku dengar dari orang. Orang pacaran itu selalu berpegangan tangan, jalan sama-sama ke tempat yang mereka suka. Aku juga mau melakukan hal seperti itu. Kalau bagimu pacaran hanya karena ingin tidur denganku, lebih baik kamu cari saja perempuan lain. Karena aku nggak akan mau."


Alister memajukan wajahnya ke depan Lovely yang seketika kaget karenanya. "Aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Aku akan buat kamu sendiri yang menyerahkan tubuhmu padaku."


Lovely menghela nafas lelahnya melihat Alister seperti itu tapi ia tidak bisa menolak keinginan Alister setelah apa yang dilakukan Alister untuk memenuhi syarat darinya. Ia pun juga harus memenuhi janjinya. "Oke Ali, aku setuju untuk pacaran denganmu tapi janji jangan sentuh aku tanpa persetujuan dariku."


"Oke. Kalau cuma begitu nggak masalah. Besok hari minggu, jadi aku akan jemput pagi-pagi setelah sarapan, bagaimana?"


"Nggak masalah." Lovely setuju begitu saja karena setiap hari minggu, ia memang tak punya kegiatan selain menemani Hebat.


"Sekarang masuklah! Bibimu pasti pusing mencarimu. Jangan sampai dia lapor polisi kalau keponakan bodohnya tidak ada," goda Alister sambil tersenyum.


Lovely langsung melempar tatapan tajamnya tapi Lovely tidak mengatakan apapun, dan malah segera keluar dari mobil Alister.


Setelah Lovely keluar dari mobil, Alister buru-buru menurunkan jendela kaca mobilnya lalu mengeluarkan kepalanya melihat Lovely. "Kau tidak mencium pacarmu dulu sayang?"


Lovely mengerutkan keningnya melihat tingkah mesum Alister. "Kayaknya Anda ini kekurangan kasih sayang dari perempuan ya, sampai setiap saat Anda minta disentuh."


Alister tersenyum sambil meraih tangan Lovely, lalu mencium punggung tangan wanita itu. Lovely sampai kaget dengan jantungnya yang tiba-tiba berdebar.

__ADS_1


"Cukup."


Buru-buru Lovely menarik kembali tangannya kemudian segera meninggalkan Alister di sana dengan wajahnya yang berubah memerah.


__ADS_2