
Lovely kini duduk di depan Ridwan yang terus memandangnya. Dari masuk restoran sampai saat ini, pria itu terus saja memandang Lovely. Bahkan ketika Ridwan menyapa Lovely lebih dulu sekedar memberitahu bahwa dirinyalah Ridwan, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Lovely. Wanita itu sungguh sangat cantik.
"Aku tidak menyangka kalau kamu lebih cantik dibanding difoto."
Lovely sudah biasa menerima pujian seperti itu sehingga ia tidak menunjukkan ekspresi malu-malu di depan Ridwan, raut wajahnya malah biasa saja. "Terima Kasih Tuan Ridwan! Tapi Anda pasti tidak tahu kalau saya perempuan yang sudah punya anak."
Ridwan terkejut karena sebelumnya ia tidak tahu status single mom yang disandang Lovely. Tuan Arman dan Jenar tidak pernah mengatakan apapun tentang Lovely selain kecantikan Lovely yang didambakan Ridwan. Ridwan sampai diam, tak bisa berkata-kata dan hanya melihat Lovely.
Lovely yang melihat respon Ridwan, tersenyum sinis. "Anak saya sudah berumur empat tahun."
"Jadi kamu sudah menikah sebelumnya. Saya kira kamu masih gadis karena wajah dan penampilanmu masih terlihat seperti gadis," kata Ridwan.
"Nggak." Lovely menggeleng, "saya hamil di luar nikah. Bahkan saya nggak tahu siapa ayahnya."
Ridwan makin terkejut sampai ia langsung meminum minumannya. Sementara Lovely senang melihat ekspresi Ridwan sampai ia tersenyum tapi ia memalingkan wajahnya agar Ridwan tidak melihat ekspresinya itu. Memang tidak gampang menerima perempuan yang sudah memiliki anak. Lovely mengerti itu dan tidak menyalahkan Ridwan jika Ridwan merespon tak baik karena sebenarnya ia memang menginginkan itu. Ia berkata jujur memang untuk mengacaukan perjodohan yang diatur Tuan Arman.
"Saya mengerti kalau Anda kaget tapi inilah kenyataannya Tuan Ridwan. Kalau Anda mau membatalkan rencana perjodohan ini, saya nggak masalah. Saya mengerti posisi Tuan Ridwan. Lagipula, kita baru bertemu, jadi menurut saya, batal bertunangan nggak masalah. Kita bisa menjadi teman baik kalau Tuan Ridwan, nggak keberatan. Kebetulan saya punya banyak teman laki-laki, jadi berteman dengan Anda yang seorang laki-laki adalah hal yang biasa bagi saya." Meski Lovely tidak ingin dijodohkan dengan Ridwan tapi menjadi teman orang itu, tidak buruk. Apalagi ia terbiasa punya teman laki-laki.
Ridwan kembali bersikap tenang. Ia meletakkan minumannya di atas meja lalu tersenyum menatap Lovely. "Ternyata Anda wanita yang berpikiran terbuka. Saya senang kalau bisa berteman dengan Anda, Nona Lovely. Jadi bagaimana kalau kita berpindah tempat untuk merayakan pertemanan kita hari ini?"
"Pindah tempat?" Lovely bingung, keningnya mengerut melihat Tuan Ridwan.
__ADS_1
"Iya. Kita pindah ke Bar. Anda pasti tahu Bar bukan?"
"Iya saya tahu."
"Kita pindah ke sana saja supaya lebih santai dan nyaman. Kalau Anda mau menganggap saya sebagai teman Anda, pasti tidak keberatan kalau pergi bersama saya."
Lovely bingung. Mau menolak, takut ia semakin menyinggung Tuan Ridwan. Mau menerima, berarti ia harus menghabiskan waktunya lebih banyak untuk sekedar minum-minum saja. Padahal, ia ingin segera menemui Hebat yang ia titipkan pada Jenar.
"Anda keberatan?" tanya Tuan Ridwan.
"Nggak. Saya nggak keberatan. Kalau sekedar mau minum saja, saya bersedia kok." Lovely terpaksa menyetujui permintaan Tuan Ridwan karena tidak ingin merusak mood Tuan Ridwan yang bisa saja mengubah pikiran pria itu. Saat ini, ia lebih takut pria itu tiba-tiba mau menikahnya.
"Oke Ridwan."
Mereka berdua pun meninggalkan restoran menuju Bar. Di mobil, mereka mengobrol biasa. Tuan Ridwan lebih banyak menanyakan tentang pendidikan Lovely dan juga pekerjaan Lovely di luar negri.
"Saya baru lima bulan kerja di perusahaan. Dan baru diangkat jadi sekertaris Mr.Jonathan, seorang direktur teknologi di sana. Pekerjaan itu sangat menjanjikan untuk karir saya tapi saya terpaksa meninggalkan pekerjaan itu dan memilih pulang ke Indonesia karena desakan dari ayah saya dan temannya yang katanya pengen jodohin saya sama anaknya. Benar-benar lucu. Demi sesuatu yang tidak bisa bertahan lama, saya malah meninggalkan karir saya."
Lovely menjawab pertanyaan Tuan Ridwan yang bertanya tentang karir Lovely tapi Lovely tidak sekedar menjawab saja. Ia juga menyindir pria di sebelahnya itu hingga Ridwan yang merasa tersindir, akhirnya diam dan hanya fokus menyetir.
Tak lama, mereka sampai di Bar. Tuan Ridwan memarkirkan mobilnya di parkiran Bar. Lalu masuk ke dalam bersama Lovely yang sebenarnya enggan untuk datang ke tempat seperti itu. Selama ia hidup, ia memang tidak pernah menginjakkan kakinya di bar atau semacamnya. Terlebih ia trauma tentang kejadian lima tahun lalu yang membuatnya hamil.
__ADS_1
Lovely dan Tuan Ridwan sudah masuk di dalam bar. Lovely yang baru pertama kali datang, sangat terganggu dengan lantunan musik dj yang begitu keras.
Karena suara musik yang begitu keras, Ridwan harus mendekatkan bibirnya di dekat telinga Lovely. "Duduklah! Aku panggil pelayan barnya dulu!"
Lovely sempat terkejut tapi itu hanya sebentar saja ketika mendengar ucapan Tuan Ridwan. Lovely duduk di sofa sembari melihat para pengunjung minum-minum. Sementara Ridwan pergi ke meja bartender untuk meminta minuman, di sana ia memasukkan sesuatu ke dalam minuman Lovely. Dan ternyata, ada Alister yang sedang duduk di depan meja bartender. Ia minum di sana sembari memperhatikan Ridwan memasukkan obat ke dalam minuman, bahkan Alister juga melihat Ridwan pergi menghampiri seorang wanita dan memberikan minuman itu pada seorang perempuan cantik tapi karena Alister merasa bukan urusannya, hingga ia membiarkannya saja, dan malah kembali menikmati alkoholnya.
"Minumlah Lovely!" pintah Tuan Ridwan.
Lovely tersenyum sembari meraih minumannya tapi ketika ia ingin meminum minuman itu, ia malah tak sengaja melihat Pak Qomar yang menghampiri Alister.
Raut wajah Lovely yang tadinya tenang, kini berubah penuh benci. Karena kejadian lima tahun lalu ketika Lovely memohon di depan Pak Qomar, Lovely sampai membenci Pak Qomar yang ia anggap pria yang merenggut kesuciannya.
Lovely meminum seteguk minumannya lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Lovely, kamu mau ke mana?" tanya Tuan Ridwan.
"Aku mau beri pelajaran untuk orang brengsek."
Lovely berjalan mendekati Pak Qomar yang sedang mengobrol dengan Alister. Dan perempuan itu langsung menyiram minumannya ke atas kepala Pak Qomar. Jika saja ia tidak mendengar dari Jenar tentang pengkhianatan Pak Qomar pada perusahaan ayahnya, mungkin Lovely tidak punya keberanian melakukan itu.
Alister dan Ridwan yang melihat Lovely menyiram Pak Qomar, tentu terkejut. Terutama Pak Qomar yang tampak bingung melihat Lovely.
__ADS_1