Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Cinta Punya Anak?


__ADS_3

"Tuan, Nona Jenar datang!" Kepala pelayan rumah Alister datang melapor pada Alister yang tengah duduk santai di ruang bacanya.


Dan Alister tampak tidak senang mendengar kedatangan tunangannya. Raut wajahnya yang tadi baik-baik saja, kini berubah dingin menatap sang kepala pelayan yang sudah tua itu. "Kau bilang apa padanya?"


"Saya bilang tuan sedang baca buku. Tadinya beliau mau masuk tapi saya larang dan akhirnya menunggu di ruang tamu," jelas Bu Nany.


Nafas kasar berhasil lolos dari mulut Alister. Jujur, ia sungguh malas bertemu dengan Jenar tapi karena sudah terlanjur berada di rumahnya, mau tidak mau ia harus menemuinya. Dengan perasaan yang sedikit kesal, Alister akhirnya keluar dari ruang bacanya lalu menuruni tangga bersama Bu Nany.


Jenar yang melihat Alister berjalan mendekatinya, berdiri dari tempat duduknya sembari menerbitkan senyumannya.


"Selamat Malam sayang!" sapanya dengan manja.


"Malam." Alister tetap membalas sapaan Jenar tapi sikapnya tetap saja dingin. Bahkan ketika Jenar ingin mengecup pipinya, ia malah duduk, padahal ia sadar jika wanita itu ingin mencium pipinya.


Jenar sedikit kecewa. Ia yang tadinya tersenyum senang, seketika menarik kembali senyumannya melihat Alister malah duduk di depannya. Namun ia sama sekali tidak marah karena ia mengerti betul sifat Alister yang seperti itu. Jenar pun kembali tersenyum lalu segera duduk di sebelah Alister sembari menunjukkan kotak makan yang ia bawa.


"Kenapa kamu bawa makanan? Memang kamu pikir, di sini nggak ada orang yang bisa masak?" Alister malah tersinggung melihat kotak makanan yang dibawa Jenar. Bahkan ia melirik tajam ke Jenar yang duduk di sebelahnya.


"Bukan gitu sayang! Aku bawa makanan ini karena makanan ini aku sendiri yang masak. Dan aku pengen banget kamu rasakan makanan buatanku. Sekalian pengen makan malam sama kamu," jelas Jenar.


"Eh Jenar! Ternyata kamu yang datang. Tante kira siapa." Tiba-tiba Nyonya Arvita datang dan langsung menyapa Jenar dengan ramah.


Jenar yang mendengar suara calon ibu mertuanya itu, segera berdiri sembari tersenyum. "Selamat malam tante!"


"Malam!" Nyonya Arvita membalas sambil duduk di depan mereka, "tumben datang malam-malam?"


"Tadi sore saya ngajak Alister makan malam tapi karena Alister capek, makanya saya yang datang kemari tante. Sekalian mau nunjukin masakan saya."


"Ooooo begitu." Nyonya Arvita melirik anaknya dan memberikan kode untuk memperhatikan Jenar.


Alister yang tadinya cuek, meraih kotak makan ditangan Jenar. "Aku makan."


Jenar tersenyum melihat pria itu akhirnya mengambil makanannya, bahkan Alister memakannya sampai habis. Hal itu membuat Jenar semakin suka pada Alister karena walaupun pria itu dingin tapi tetap menghargai pemberiannya. Jenar juga menawarkan makanan itu pada Nyonya Arvita, dan Nyonya Arvita hanya mencicipi sedikit hanya untuk menghargai Jenar.

__ADS_1


Setelah makan, Jenar mengobrol santai dengan Nyonya Arvita sedangkan Alister hanya diam tapi ekspresinya terlihat bosan dan ingin sekali meninggalkan ruangan itu.


Menit berikutnya, Alister sudah tidak tahan hingga ia berdiri dari sana.


"Alister, kamu mau ke mana?" tanya Nyonya Arvita.


"Aku masih punya pekerjaan yang belum selesai. Tidak bisa menemani ibu dan Jenar."


Lalu Alister beralih melihat Jenar yang masih duduk mendongak melihatnya. "Kalau kamu mau pulang nanti, ada Azil. Dia yang akan antar kamu pulang."


Setelah mengatakan itu, Alister pergi, dan Nyonya Arvita langsung menghela nafas lelah melihat anaknya yang cuek pada tunangannya.


"Jen, kamu jangan tersinggung dengan sikap cuek Alister. Dia begitu bukan karena tidak suka padamu. Itu karena luka dihatinya. Setelah disakiti oleh Felicia, dia jadi dingin dan pendiam pada perempuan. Tapi Tante yakin, kamu bisa balikin Alister seperti dulu lagi. Menjadi pria yang hangat dan suka bercanda." Nyonya Arvita menyebut Felicia karena sudah mengakui Jenar sebagai calon menantunya dan baginya Jenar bukanlah orang luar.


Jenar sama sekali tak kaget mendengar Nyonya Arvita membahas Felicia karena ia pun tahu kisah Alister bersama perempuan itu. "Iya Tante. Saya mengerti!"


Sementara Alister yang kini berada di ruang bacanya, ternyata tidak bekerja. Ia malah sibuk menghubungi nomor Lovely. Entah kenapa, bicara dengan Lovely dan mendengar suara wanita itu malah membuat nya semangat dibanding mengobrol dengan ibunya dan tunangannya. Dua kali panggilannya tidak diangkat oleh Lovely hingga membuatnya jengkel bahkan ia semakin jengkel ketika panggilannya yang ketiga malah direject oleh Lovely.


"Sialan! Beraninya wanita ini tidak mengangkat telfonku bahkan berani mematikan panggilanku."


Alister: "Hai Nona Cinta! Apa kau masih mengingatku?"


Lovely: "Dari mana Anda dapat nomor saya?"


Lovely bisa langsung tahu pria yang sedang bicara kepadanya karena hanya pria yang pernah tidur dengannya di bar yang memanggilnya Cinta. Namun ia merasa tidak pernah memberikan nomor ponselnya hingga ia tidak membalas sapaan Alister dan menjawab pertanyaan pria itu, malah bertanya balik.


Alister: "Nona Cinta, aku ini pria yang menyukaimu. Jadi untuk dapat nomormu sangatlah mudah."


Lovely: "Ada urusan apa Anda menghubungi saya?"


Alister: "Aku hanya ingin dengar suaramu saja. Apa tidak boleh?"


Lovely: "Kalau nggak ada yang mau Anda katakan, saya matikan."

__ADS_1


Alister: "Oke. Jangan tutup dulu. Ada yang ingin kutanyakan."


Lovely: "Apa?"


Alister: "Mengenai Qomar, maksudku Tuan Qomar. Kamu bilang mau balas dendam padanya. Memang apa yang sudah dia lakukan padamu?"


Sebenarnya masalah Qomar tidak penting bagi Alister. Jika ia ingin menghancurkan pria tua itu, ia akan melakukannya tanpa bertanya pada Lovely. Hanya saja, ia tidak punya bahan obrolan untuk bisa berlama-lama bicara dengan Lovely. Terlebih ia tertarik semua yang berhubungan dengan Lovely.


Lovely: "Orang itu berbisnis dengan bibi saya dan ternyata dia cuma seorang penipu. Dia sudah mengambil uang bibi saya."


"Mama!" Tiba-tiba Hebat berseru, dan Alister yang mendengar suara anak laki-laki itu, terkejut sampai terdiam kaku.


"Sayang!"


Alister: "Kamu memanggilku sayang?"


Lovely: "Bukan kamu tapi anakku."


Alister lagi-lagi dibuat terkejut.


"Maaf, saya sibuk tidak bisa temani Anda bicara!" Lovely langsung mematikan panggilan dari Alister.


Dan Alister masih terkejut mendengar Lovely mengatakan anak kecil itu adalah anaknya. "Cinta punya anak? Bukannya wanita itu belum menikah?"


Sementara Lovely yang ada di kamarnya, memblokir nomor Alister karena tidak ingin diganggu oleh pria itu.


"Mama bicara sama Miss Briella ya?" Hebat benar-benar merindukan mereka sampai menanyakan tentang Miss Briella.


"Nggak sayang! Mama ngomong sama penjual mainan."


"Mama mau beliin Hebat mainan ya?" tanya Hebat.


Lovely mengangguk. "Mama bakal beli banyak mainan kalau Hebat tidur sekarang!"

__ADS_1


Hebat yang baru saja diturunkan di kasur, seketika menutup matanya. Lovely tersenyum lalu mencium kening anaknya. "Selamat tidur sayang!"


__ADS_2