Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Jauhi Pria Itu


__ADS_3

Lovely terlihat takut melihat tatapan Alister yang dingin nan tajam. Apalagi mendengar ancaman pria itu yang terdengar tak main-main hingga ia memutuskan untuk mengikuti Alister. "Oke. Aku bakal ikut kamu tapi sebentar."


Kemudian, Lovely menoleh ke Brey. "Brey, aku ikut dengannya dulu. Cuma mau bicara sebentar. Nanti aku bakal balik lagi kok."


"Oke." Brey mengangguk, ia tidak bisa menahan Lovely jika Lovely sendiri yang ingin ikut bersama pria itu. Terlebih, Lovely sudah mengatakan hanya ingin bicara sebentar.


Alister pun kembali menarik tangan Lovely keluar. Tanpa mengatakan apapun, Alister mendorong Lovely masuk ke mobil lalu menyusul masuk dan duduk di samping Lovely. Matanya yang tajam karena cemburu, menatap Lovely yang terlihat takut. "Selama ini kamu menolakku, mengabaikan ku padahal aku pacarmu. Apa semua sikap dingin mu itu karena laki-laki di dalam?"


Lovely menggeleng. "Bukan. Itu karena kamu sendiri."


"Aku? Memang aku kenapa?" Kening Alister mengerut dengan tampangnya yang heran melihat Lovely yang malah menyalahkannya.


"Kamu pria yang baru aku kenal tapi tiba-tiba datang memintaku jadi pacarmu. Aku tidak suka dengan kamu yang terlalu agresif padahal kita baru mengenal. Dan aku juga nggak suka pria yang suka berubah-ubah. Kadang lembut, kadang dingin dan kadang seenaknya, semena-mena seolah aku punya hutang nyawa padamu."


Alister tersenyum miring sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Lovely. Ia meraih dagu Lovely dan mencubitnya dengan lembut kemudian berkata, "Entahlah. Mungkin aku memang sudah terikat padamu sejak lima tahun lalu."


Lovely malah semakin bingung. Keningnya mengerut menatap Alister yang semakin mendekatkan wajahnya. "Apa maksudmu?"


"Kalau kau berhenti berhubungan dengan pria di dalam lalu tidur denganku. Aku akan mengatakan maksud kata-kataku tadi." Alister bicara sembari menatap bibir merah mereka Lovely hingga dengan keinginan besarnya menyentuh bibir itu, ia mendaratkan bibirnya ke bibir Lovely dan menciumnya dengan brutal.


Lovely marah. Bukannya mendengarkan keluhannya, Alister malah makin menjadi-jadi dengan seenaknya menyentuhnya. Dengan marah, Lovely mendorong Alister lalu menamparnya.


Tamparan Lovely membuat Alister sadar dengan sikapnya yang arogan. "Cinta, aku ...,"


"Dasar laki-laki kurang ajar," umpat Lovely yang langsung memotong kata-kata Alister.


Alister sedikit kaget mendengar umpatan kasar Lovely hingga ia terdiam kaku menatap Lovely. Sementara Lovely segera turun dari mobil. Alister tidak bisa membiarkan Lovely pergi dalam keadaan marah padanya hingga ia ikut keluar dan buru-buru menarik tangan Lovely, menahannya untuk tidak pergi.


"Sebentar, aku belum selesai bicara!"


"Tapi aku sudah selesai jadi lepaskan tanganku," tegas Lovely.


"Tidak. Aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kamu mau mendengarkanku sebentar."

__ADS_1


"Aku nggak mau," tolak Lovely.


"Kalau begitu, aku tidak akan melepaskanmu."


Tiba-tiba Levon datang dan langsung memukul wajah Alister yang tidak memperhatikan kedatangannya hingga Alister melepaskan tangan Lovely bahkan nyaris jatuh ke tanah jika saja tidak ada mobil di belakang yang menahan tubuhnya.


Lovely terkejut sampai ia refleks menutup mulutnya yang menganga dengan tangannya gara-gara keterkejutannya.


Pukulan Levon membuat Alister kesakitan bahkan mengeluarkan darah dari sudut bibirnya dan itu membuat Alister marah hingga ia membalas pukulan pria itu dengan melayangkan pukulannya ke wajah Levon.


"Kak!" Refleks Lovely berteriak melihat kakaknya dipukul, dan Levon tidak ingin mengalah.


"Brengsek!" Levon kembali maju sembari mengangkat kepalan tangannya untuk meninju wajah Alister.


Lovely tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka. "Cukup!"


Mendengar teriakan Lovely, membuat Levon berhenti dengan raut wajahnya yang terkejut. "Kenapa berdiri di situ Loly? Minggirlah! Aku ingin menghabisi pria brengsek yang beraninya melecehkanmu di depan umum!" kata Levon yang belum puas menghajar Alister.


"Hentikan!" bentakan keras Lovely membuat semuanya seketika terdiam bahkan mereka sama-sama melihat ke arah Lovely.


"Ali, dia ini kakakku. Kakak kandungku. Dia cuma mencoba melindungiku jadi tolong berhentilah!" Kemudian Lovely menoleh ke Levon, "kakak juga berhentilah. Dia temanku dan dia tidak melecehkan ku."


Lovely tidak ingin perkelahian mereka diperpanjang hingga membela Alister. Padahal ia masih kesal dengan Alister yang menciumnya secara paksa.


"Temanmu?"


"Iya Kak." Lovely mengangguk.


Sementara Alister malah tersentuh dengan tindakan Lovely yang membelanya meski tidak mengakuinya sebagai pacar dan Alister tampak canggung, serta salah tingkah di depan mereka gara-gara dirinya yang mengira laki-laki itu salah satu teman pria Lovely.


"Teman tapi kenapa ...,"


Tiba-tiba Alister mengulurkan tangannya pada Levon yang membuat Levon sedikit kaget sampai Levon berhenti bicara dan hanya menatap Alister tapi Levon tidak menerima uluran tangan Alister. Tatapannya pun bahkan tajam dan penuh kecurigaan tentang Alister yang tiba-tiba ingin menjadi akrab dengannya.

__ADS_1


"Ayo Loly!" Levon tidak suka dengan Alister dari sikap Alister tadi, juga dari tatapan Alister yang datar hingga ia menarik adiknya pergi.


"Kak!"


Levon tidak mendengarkan Lovely dan malah berjalan terus sembari menarik tangan Lovely kembali ke dalam.


Alister yang berdiri menatap mereka, menghela nafas berat dan ia kesal dengan sikapnya sendiri sampai menendang ban mobilnya. "Brengsek! Dasar sialan!"


Sementara di dalam, Levon mengintrogasi Lovely. "Dari mana kamu kenal pria tadi? Kamu harus jelasin sama kakak ya. Jangan coba-coba untuk menghindar!"


"Itu ... aku kenal dia di bar. Waktu itu aku kencan buta di sana dan aku hampir dilecehkan oleh teman kencanku. Terus, orang tadi yang menolongku." Mau tidak mau Lovely harus mengatakan kejadian di bar karena desakan kakaknya. Namun ketika bicara, ia sempat melirik Brey, dan Brey paham maksud dari lirikan Lovely yang takut ia ikut bicara dan mengatakan apa yang dikatakan Alister-yang mengaku sebagai pacarnya.


"Sudah lah. Aku tidak akan tanya lagi tapi jauhi pria itu. Wajahnya saja yang bagus tapi sifatnya buruk. Dia tidak cocok untukmu."


Lovely tidak mengatakan apapun karena ingin membuat suasana menjadi tenang. Lalu setelah makan, mereka pergi. Brey mengantar mereka kembali ke rumah Tuan Arman tapi sampai di sana, Brey tidak turun.


"Brey, mampir dulu!" kata Levon ramah.


"Lain kali saja. Aku masih ada urusan. Pamit dulu!"


"Oke lah." Levon tersenyum melihat kepergian Brey dan detik berikutnya, ia menoleh ke Lovely.


"Dia pria yang baik," puji Levon yang senang dengan Brey.


"Dia cuma teman kak."


"Aku tahu. Aku cuma sekedar muji tanpa ada maksud untuk menjodohkanmu. Masalah pasangan harus kau sendiri yang memutuskan."


Lovely tidak mengatakan apapun. Lalu Levon merangkul adiknya berjalan masuk melewati pagar rumah.


Ketika Lovely ingin menekan bel rumahnya, tiba-tiba pintu itu terbuka.


"Mama!" seruan Hebat membuat Levon terkejut. Apalagi mendengar anak itu memanggil mama ke Lovely.

__ADS_1


__ADS_2