
Nyonya Margaret tidak setuju jika Lovely dan bibinya berbaikan hingga ia bicara sedikit tegas pada Lovely tentang sikap Lovely pada bibinya. Namun, Nyonya Margaret tidak punya hak untuk ikut campur lebih jauh urusan keluarga mereka, karena ia hanya orang luar bagi Lovely. Karena itu pun, Nyonya Margaret tidak berani menasehati Lovely panjang lebar. Dan Lovely yang mendengar ucapan Nyonya Margaret-yang mengatakan dirinya lugu, tidak bisa berkata-kata. Ia hanya tersenyum melihat Nyonya Margaret.
"Oke. Saya pulang dulu ya." Daripada mulutnya terus berbicara, lebih baik Nyonya Margaret kembali saja ke rumahnya.
"Nyonya nggak masuk dulu ke dalam," kata Lovely.
"Kamu mau pergi kerja. Lain kali saja!"
Akhirnya Nyonya Margaret pergi, dan setelah beberapa menit kepergian Nyonya Margaret, Lovely meninggalkan rumahnya. Ia membawa bayinya menggunakan kereta dorong menuju tempat kerja barunya. Sekitar setengah jam, Lovely sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Ia masuk sembari mendorong kereta bayinya. Di sebuah toko perlengkapan bayi adalah tempat kerja Lovely. Pemilik toko itu tidak melarang Lovely membawa anaknya, malah pemilik tokonya senang jika Lovely membawa anaknya bekerja. Alasannya untuk menarik perhatian para pelanggan. Benar saja. Beberapa pelanggan masuk ke toko itu ketika melihat Lovely berdiri di depan toko dengan pakaian khusus karyawan yang dikasih pemilik toko, dan ada Baby Hebat yang tertidur di kereta dorong-di samping Lovely. Dan sebagian pelanggan, ada yang menjadikan bayi Lovely sebagai model tapi Lovely membiarkannya karena berpikir itu tidak masalah asalkan bisa membantu orang.
"Hari ini, toko saya dapat banyak pelanggan karena kamu. Jadi saya mau tambahkan bonus dua kali lipat untuk kamu tapi besok-besok kalau kerja, kamu harus bawa bayimu ya."
"Siap Bos!" Lovely mengiyakan saja permintaan bosnya. Ia tidak menyadari bahwa ia dan bayinya saat ini sedang dimanfaatkan bosnya itu. Lovely hanya memikirkan kebaikan bosnya yang tiba-tiba memberikannya bonus banyak padahal ia baru bekerja di sana. Bahkan ia membanggakan anaknya sebagai pembawa keberuntungan untuknya.
"Anakku sayang! Berkat kamu, kita dapat uang lebih. Hebat memang yang terbaik deh!"
__ADS_1
Hebat Shangkala Langit, seperti namanya, bayi itu memberi keberuntungan untuk ibunya, karena semenjak kehadiran Hebat, Lovely selalu beruntung. Mulai dari masalah kuliahnya, dosen yang mengajar di kampusnya itu, tidak pernah mempersulitnya ketika terlambat ujian seperti dulu ketika mulai kuliah. Kedua, masalah Nyonya Briella, Nyonya Briella yang dulu galak kini berubah sangat baik padanya dan juga Baby Hebat. Dan terakhir pekerjaannya, Nyonya Margaret memberikannya pekerjaan di pusat perbelanjaan yang ternyata cocok untuknya. Karena itu semua, beban hidupnya sedikit berkurang. Namun pekerjaan menjadi tukang cuci panggilan, masih dijalani Lovely demi menambah uang sehari-harinya bersama Baby Hebat.
Selesai bekerja, Lovely ke kampus untuk mengikuti mata kuliah Ekonomi dan Bisnis. Seperti hari-hari sebelumnya, Lovely membawa bayinya ke kampus. Tentunya ia sudah meminta izin pada pihak kampus untuk membawa bayinya ke kampusnya. Karena merasa kasihan pada Lovely yang hidup berdua saja dengan bayinya, membuat pihak kampus mengizinkan Lovely membawa anaknya, tapi tentunya anak itu tidak boleh mengganggu selama jam pelajaran berlangsung. Baby Hebat memang selalu membanggakan Lovely karena selama beberapa hari ia membawa Baby Hebat, Baby Hebat tidak pernah menangis keras. Paling jika menangis, hanya menangis sebentar minta susu atau menangis karena buang air.
Di tengah jam pelajaran, Baby Hebat tiba-tiba saja menangis keras, membuat semua orang terkejut. Terutama Lovely yang langsung melihat anaknya yang ada di kereta dorong-di sebelahnya.
"Sayang, Hebat!"
"Lovely, bawa anakmu keluar dan suruh dia diam. Ini sangat mengganggu semua orang yang sedang belajar. Dan untuk hari ini, kamu tidak usah mengikuti mata pelajaran saya!" Profesor itu marah sampai meninggikan suaranya pada Lovely yang tengah menggendong bayinya.
"Sayangnya Mama! Kenapa kamu nangis sayang? Huss, huss, cup, cup sayang! Jangan menangis!" Kadang Lovely bingung harus bagaimana jika anaknya menangis. Maklum, karena ini pertama kalinya ia merawat seorang bayi, tidak punya pengalaman sama sekali. Bahkan ia tidak pernah membaca buku tentang merawat bayi. Ia melakukan apa saja yang ada dipikirannya. Seperti sekarang ini.
"Aduh Hebat! Kamu kenapa sih sayang? Kenapa kamu menangis!" Lovely sudah mengecek, anaknya tidak buang air. Lovely juga menyusui bayinya tapi Hebat tetap saja menangis hingga membuat Lovely semakin stress.
"Bagaimana ini? Hebat, jangan bikin mama pusing dong Nak! Mama nggak tahu harus bagaimana?" Di tengah kebingungannya harus bagaimana, akhirnya Lovely menghubungi Nyonya Margaret untuk meminta bantuan, karena ia tahu Nyonya Margaret sudah punya tiga anak dan pastinya sangat berpengalaman dibanding dirinya. Nyonya Margaret menyuruhnya kembali ke rumah, dan sesampainya di rumah, sudah ada Nyonya Margaret yang menunggunya.
__ADS_1
"Badannya tidak panas. Perutnya juga kayaknya tidak sakit. Coba deh kamu ayun dia dulu. Mungkin dia mau diayun!"
Akhirnya Lovely melakukan seperti yang dikatakan Nyonya Margaret. Ternyata Hebat berhenti menangis, bahkan tertidur pula diayunan. Lovely dan Nyonya Margaret bernafas lega melihat bayi mungil itu tenang kembali.
"Seharian kamu bawa ke sana kemari selama beberapa hari ini. Itu pasti membuatnya tidak nyaman, makanya dia rewel begitu. Lain kali kamu jangan panik! Coba lakukan apa yang sudah menjadi kebiasaannya. Kalau tidak bisa juga, berarti dia lagi sakit."
"Iya Nyonya. Terima kasih banyak bantuannya tadi! Kalau nggak ada nyonya, saya nggak tahu harus bagaimana lagi." Sungguh, Lovely sangat bersyukur ada Nyonya Margaret. Kehadiran Nyonya Margaret begitu sangat membantunya sekarang ini. Nyonya Margaret yang mendengar ucapan terima kasih Lovely, hanya tersenyum.
Sementara itu, disebuah kamar hotel, Alister baru saja bersenang-senang dengan seorang gadis yang menemaninya selama seminggu ini. Sudah ada lima perempuan muda yang ia tiduri selama beberapa bulan ini. Ia berusaha mencari gadis yang bisa memuaskannya tapi tak ada yang seperti gadis yang diberikan Pak Qomar. Bahkan kelima gadis itu masih perawan tapi tetap saja, ia masih tak puas dengan kesenangan sesaatnya itu.
"Aku sudah kirim uang seratus juta ke rekeningmu. Mulai besok, tidak usah datang menemuiku lagi!" kata Alister pada seorang perempuan yang masih duduk di kasur dengan kondisi tubuh tanpa pakaian.
"Baik Tuan Alister!" Perempuan itu segera turun dari kasur lalu memakai pakaiannya. Setelah itu keluar dari kamar Alister.
Alister yang tadinya berdiri di depan kasur, kini duduk di sofa. Ia menghela nafas panjang, merasa semakin stress karena belum bisa menemukan perempuan yang bisa memuaskan dirinya. Dan tiba-tiba saja, Alister teringat malam pertamanya bersama Lovely yang sampai sekarang pun tidak tahu keberadaan Lovely, bahkan nama Lovely saja ia tidak tahu. Senyum miring tampak diwajah Alister karena mengingat kejadian itu. "Pertama memang susah dilupakan. Alister, Alister. Bisa-bisanya kamu sangat menginginkan pelacurr kecil itu!"
__ADS_1