
"Loh, kenapa Hebat digendong?" tanya Lovely ketika mereka mendekat, dan Alister segera menurunkan Hebat setelah anak kecil itu memintanya.
"Om Ali yang maksa Ma. Bukan Hebat yang minta." Hebat buru-buru menjawab karena tidak ingin keduluan Alister.
Alister yang mendengar kebohongan anak itu, sedikit terkejut dan tercengan karena tidak menyangka bocah sekecil itu bisa berbohong. Namun, entah kenapa Alister hanya bisa diam menuruti kebohongan anak itu.
"Ali, maaf ya! Kamu sudah repot karena Hebat. Lain kali nggak usah begitu."
"Tidak masalah. Aku senang melakukannya." Alister bicara sambil tersenyum.
"Iya tapi Hebat sudah bisa jalan sendiri. Kalau kamu perlakukan seperti itu, dia akan jadi manja sama orang."
"Sekali-kali menggendong Hebat, tidak akan buatku repot dan tidak akan buat dia manja. Jadi tidak perlu khawatir kalau dia akan manja hanya karena menggendongnya. Asalkan dia senang, aku juga senang melakukannya." Kata-kata yang dikatakan Alister bukan untuk membuat Lovely tenang atau menghilangkan rasa tidak enak Lovely padanya tapi kata-kata itu, dari dalam hatinya yang entah kenapa senang jika menggendong bocah laki-laki itu. Pertama kali bertemu anak kecil yang mulanya ia benci karena mengganggu rencananya, tapi anak itu malah membuat hatinya tergerak dan ingin membuatnya bahagia walau sebentar.
Lovely menghela nafas panjang melihat Hebat yang mendongak tersenyum kepadanya. Melihat anaknya tersenyum senang, membuatnya pun tak bisa protes lagi. "Baiklah. Terserah kalian saja. Ayo masuk. Aku sudah beli tiket masuknya."
Lovely pun melangkah masuk ke dalam, sementara Hebat memberikan jempolnya pada Alister sembari tersenyum. Hal itu membuat Alister penasaran dan ingin bertanya pada Hebat hingga ia kembali menggendong bocah laki-laki itu.
"Kenapa tadi kau sengaja berbohong?" tanya Alister penuh penasaran.
"Katanya Om Ali pengen dibaikin di depan mama. Hebat bohong karena menepati janji aja karena om yang udah baik belikan Hebat es krim, juga membeli semua mainan si abang tadi. Dan sebenarnya, ini pertama kalinya Hebat bohong sama mama. Hebat ngerasa bersalah sama mama," jelas Hebat.
"Jadi kamu menyesal?"
Hebat menggeleng. "Nggak kok. Hebat udah berpikir panjang sebelum melakukannya. Kata mama, kita harus balas kebaikan orang pada kita makanya Hebat nggak menyesal melakukannya. Hanya saja, Hebat ngerasa bersalah sama mama. Itu aja."
"Kata-katamu seperti orang dewasa. Apa mamamu yang mengajarimu?"
Hebat menggeleng lagi. "Mama nggak pernah ngajarin Hebat buat bohong. Malah mama selalu bilang kalau Hebat harus jadi pria yang jujur dan bertanggungjawab. Nggak kayak papa Hebat."
Hebat mengira bahwa Alister menanyakan tentang sikapnya yang sengaja berbohong hingga ia menjawab dengan itu. Padahal Alister kagum dengan cara bicara Hebat yang melampaui umurnya. Ia tidak tahu bahwa sejak bayi, Hebat sudah dibawa ke mana-mana, jadi Hebat sudah terbiasa bertemu dengan orang dan tentunya pintar bersosialisasi hingga ia pun bisa dengan mudah bicara baik dan apa adanya pada orang.
"Papa? Kamu sudah pernah ketemu sama papamu sampai bilang begitu?"
"Nggak pernah. Hebat menebak aja tapi tebakan Hebat pasti benar karena kalau papa Hebat bertanggungjawab, papa akan datang ke mama dan Hebat. Nggak bakalan biarin mama rawat Hebat sendiri."
__ADS_1
Mendengar ucapan Hebat, membuat Alister merasa kasihan dengan anak itu, padahal ia tahu bahwa Hebat diadopsi oleh Lovely yang belum menikah. 'Kasihan juga. Anak ini malah menganggap dirinya anak kandung Lovely, dan menganggap ayahnya pergi meninggalkan mereka. Padahal kenyataannya dia cuma diadopsi.'
Lovely yang berjalan di depan, menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. "Kalian lagi ngobrolin apa sih sampai jalannya lambat banget?"
"Tidak ada. Cuma ngobrol biasa." Alister kembali menurunkan Hebat. Lalu mereka jalan berdampingan sembari melihat-lihat beberapa binatang lucu yang membuat Hebat antusias.
"Ma, lihat. Pandanya lucu!" Anak itu bicara sembari menunjuk ke arah panda yang berada di dalam kandangnya. Lovely hanya tersenyum mengangguk melihat anaknya.
Saat Hebat asyik melihat binatang, Alister malah melancarkan aksi mesumnya dengan maerangkul bahu Lovely. Lovely kaget. Ia menoleh melihat Alister dengan tatapannya yang tajam tapi pria itu malah tersenyum melihat ke depan, pura-pura tidak tahu dengan ekspeesi Lovely yang sudah kesal dengannya.
Tanpa protes, Lovely menyingkirkan tangan Alister darinya. Namun Alister kembali merangkulnya.
"Ali, di sini ada anak kecil. Nggak pantas kamu berbuat begini di depan mereka."
Alister melihat ke arah Hebat yang tidak memperhatikannya dan hanya memperhatikan hewan langka di depannya lalu detik berikutnya menatap Lovely sembari tersenyum miring. Dengan pelan, ia mendekatkan bibirnya di telinga Lovely dan berbisik, "anak itu tidak melihat kita."
"Dia anakku bukan anak itu." Lovely kesal mendengar kata-kata Alister yang seolah menghina Hebatnya.
"Iya, iya. Anakmu."
Setelah Hebat puas jalan-jalan di kebun binatang, mereka meninggalkan tempat itu.
"Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Hebat lapar kan?" tanya Alister yang baru saja menyalakan mobilnya.
"Iya Om. Kita ke KFC aja. Hebat mau makan KFC."
"Oke kita makan KFC." Tadinya Alister mau mengajak mereka makan di restoran mahal tapi Hebat lebih dulu mengajukan tempat makan yang diinginkannya hingga Alister pun setuju.
Sementara Lovely diam saja tapi sejujurnya ia ingin menolak ketika Alister mengajaknya makan siang. Hanya saja ia keduluan oleh Hebat.
Tak lama mereka sampai di KFC. Alister memarkirkan mobilnya di depan tempat itu. Kemudian turun sama-sama dengan Lovely dan Hebat. Namun Alister malah diam sejenak melihat tempat itu.
"Anda baru pertama kali datang ke sini ya?" tanya Lovely yang melihat tatapan diam Alister.
"Pertama kali tapi bukan karena nggak suka. Cuma karena nggak ada yang bisa diajak kemari dan kupikir, ini tempat makan khusus anak-anak."
__ADS_1
Lovely tersenyum lalu mengajak Alister masuk ke dalam. Di dalam, mereka duduk di tempat yang dekat dengan permainan anak-anak, tapi Hebat memilih duduk diam di tempatnya karena baginya lebih seru mengobrol dengan Alister.
"Om, kita cuci tangan dulu baru makan," ajak Hebat.
"Cuci tangan?"
Bukannya menjawab, Hebat malah melihat ke ibunya. "Ma!"
Lovely tahu maksud anaknya. Ia pun berdiri, disusul Hebat kemudian. "Ayo, kita cuci tangan dulu di sana!"
Tanpa mengatakan apapun, Alister menurut dan pergi bersama Lovely. Di sana ia mengikuti yang dilakukan Lovely tanpa sekalipun bertanya.
Semua yang ia lakukan hari ini adalah hal yang baru untuknya. Termasuk makan menggunakan tangan tapi Alister tidak mengeluh dan malah menganggap itu menyenangkan. Terlebih Hebat suka berdekatan dengannya.
Selesai makan di sana, ia mengantar Lovely dan Hebat Kemabli ke rumah.
"Cinta, hari ini aku mengajak kalian jalan-jalan untuk membuat kalian senang tapi malah aku yang begitu senang dan antusias sampai aku mau mengajak kalian lagi." Alister bicara ketika ia menghentikan mobilnya berhenti di depan rumah.
"Terima kasih untuk hari ini karena bawa Hebat ke tempat yang dia suka!" Lovely tersenyum.
"Makasih ya Om. Lain kali, Hebat yang bakal bawa om jalan-jalan ke tempat yang om suka," sahut Hebat yang membuat Alister kembali tersenyum. Bahkan ia mengusap atas kepala Hebat yang berdiri di belakangnya.
Lalu Lovely dan Hebat turun dari mobil. Sementara Alister melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu.
Alister tidak pulang ke rumah. Pria itu lanjut ke kantor. Dan ia langsung melempar tubuhnya di kursi ruangan di kantornya. Di sana ada Azil yang siap memberikannya dokumen untuk ditanda tangani.
"Bagaimana hari ini tuan? Apa Nona Lovely sudah menerima Anda?" tanya Azil penasaran.
"Susah sekali kalau berhadapan dengan wanita itu. Dia ngambekkan."
"Bagaimana kalau Anda lakukan seperti yang anda lakukan pada Nona Felicia?"
"Kalau Felicia marah atau ngambek. Aku langsung menciumnya dan dia akan tersenyum lagi. Kalau aku begitu juga pada Cinta, yang ada malah digampar," kata Alister tak senang.
"Atau kalau nggak, kayak wanita yang sering Anda ajak tidur."
__ADS_1
"Cinta tidak suka dikasih hadiah perhiasan. Wanita itu berbeda Azil. Sebenarnya yang buat Cinta luluh apa sih?" Alister bingung sendiri bagaimana cara menghadapi Lovely. Wanita itu sungguh berbeda dari wanita yang sering ia hadapi.