
Seseorang yang datang itu adalah pengantar bunga. Ditangannya ada bunga mawar besar yang berjumlah puluhan.
"Maaf! Apa di sini ruangannya Mbak Lovely?" tanya pria pengantar bunga itu.
Lovely maju mendekati pria itu. "Saya, tapi kenapa kamu malah mencari saya di sini, bukannya di ruangan saya dan bunga ini dari siapa?"
Rentetan pertanyaan itu, membuat sang pengantar bunga bingung. "Saya jawab yang mana dulu nih mbak?" tanyanya kemudian.
"Serah kamu. Yang penting kamu Jawab aja."
Levon yang melihat adiknya bicara dengan pengantar bunga itu, malah menggeleng sambil tersenyum.
"Tadi saya tanya sama salah satu karyawan yang kebetulan berpapasan sama saya. Dia menunjuk ke ruangan ini waktu saya bilang cari Nona Lovely. Dan bunga ini dari seseorang yang saya pun nggak tahu siapa namanya. Orangnya bilang, setelah Anda menerima bunganya dan membaca pesannya, Anda akan tahu. Cukup itu saja!" Pengantar bunga itu menyodorkan bunganya pada Lovely, "pokoknya Anda harus terima biar tugas saya juga selesai."
Lovely terpaksa menerimanya dan bertanda tangan di surat penerima. Lalu pengantar bunga itu pergi, sedangkan Lovely mencari memo di bunga itu, dan membacanya. Levon ikut penasaran hingga ia diam-diam memajukan kepalanya ke depan, melihat tulisan dalam memo itu.
'Bunga seindah ini untuk wanita cantik seperti dirimu sayang. Dari cintamu yang menyukai senyumanmu.'
Lovely tahu siapa yang mengirimkannya bunga. Orang itu adalah Ali meski tak ada inisial yang tertulis di sana. Dan kali ini Lovely tersenyum malu-malu. Levon melihat ekspresi adiknya hingga ia ikut tersenyum.
"Cieee dari calon adik ipar kakak nih kayaknya," ejek Levon yang membuat Lovely sadar bahwa masih ada kakaknya di sana.
Seketika Lovely menarik senyumannya dan menunjukkan ekspresi serius pada Levon. "Siapa adik ipar kakak?"
"Tuh yang bilang dari cintamu yang menyukai senyumanmu," ucap Levon sembari menunjuk kertas memo yang masih dipegang oleh Lovely.
Buru-buru Lovely menyembunyikan kertas itu meski sudah terlambat. "Apa sih kak? Bukan kok. Ini teman aku."
"Mana ada teman ngomongnya mesra begitu tapi ya sudahlah. Kakak nggak akan berdebat lagi sama kamu. Cukup dipahami saja."
"Kak Levon!" seru Lovely dengan bibir cemberut.
__ADS_1
"Jangan ngambek begitu!"
Di saat yang sama, seorang perempuan datang mengetuk pintu. Lovely membantu Levon membuka pintunya dan wanita itu ternyata rekan kerja Lovely.
"Cari aku ya?" tanya Lovely.
"Iya. Bu Jenar butuh bantuanmu. Dia suruh kamu antar berkas ke Perusahaan Sandero Corporation. Berkasnya harus berada ditangan Pak Alister Sandero, direktur utama di sana!"
"Oke." Lovely kemudian menoleh ke Levon, "Kak, aku pergi dulu. Ada tugas dari Bibi Kecil."
Levon mengangguk. Lalu, Lovely akhirnya pergi bersama rekan kerjanya ke ruangan Jenar. Di sana, Jenar memberikannya dokumen yang harus diberikan pada Alister.
"Bibi Kecil nggak bisa pergi makanya suruh kamu bawa dokumen itu. Bibi harus menyelesaikan rapat di sini sama ayah kamu dan yang lainnya. Bibi juga nggak percaya sama pegawai lainnya. Takutnya malah bocorin isi dokumen itu ke pesaing kita makanya bibi kecil suruh kamu. Kamu bisa dipercaya dan bisa diandalkan." Jenar tidak mau jika Lovely menganggap dirinya hanya sebagai pesuruh saja di perusahaan hingga Jenar menjelaskan maksudnya memerintahkan Lovely yang pekerjaan itu, harusnya bisa dilakukan oleh seorang asisten.
"Oke Bi. Aku bakal pergi ke sana. Bibi Kecil gak perlu khawatir. Lagipula, aku ini bawahan bibi yang setia melakukan semua tugas yang bibi kasih." Lovely akhirnya meninggalkan kantor menuju Perusahaan Alister menggunakan taksi.
Sampai di sana, Lovely melapor pada bagian resepsionis agar dibiarkan masuk.
"Sudah. Kamu kasih tahu aja kalau asisten Bu Jenar datang kasih dokumen untuk Tuan Alister," jelas Lovely yang membuat pegawai resepsionis itu segera menghubungi kantor direktur.
"Katanya asisten Bu Jenar, Pak," kata resepsionis itu sembari melirik Lovely.
Setelah mendapat balasan dari kantor direktur, pegawai resepsionis itu kembali melihat Lovely. "Ayo Bu! Saya antar ke lift direktur."
Lovely mengikuti pegawai itu ke arah lift yang tidak jauh dari sana. "Masuknya ke lift ini bu dan nanti akan langsung ke kantor Tuan Alister."
"Oke. Terima kasih!"
Sementara itu, Alister baru saja keluar dari ruang rapat bersama sekertarisnya. Di depan ruangannya sudah ada Azil yang berdiri menunggu tapi tidak mengatakan jika ada asisten Jenar yang akan datang. Mereka berdua sama-sama masuk ke dalam. Di dalam, Alister langsung melempar tubuh lelahnya di sofa, membaringkan punggungnya di sana, sementara Azil tetap berdiri di sampingnya.
"Hari ini gak ada jadwal rapat lagi kan? Aku mau istirahat sebentar."
__ADS_1
Di saat yang sama, alat komunikasi di atas meja kerja Alister berdering. Azil segera ke sana dan mengangkat panggilan dari sekertaris di luar.
"Oh sudah datang! Suruh masuk sekarang!" kata Azil lalu meletakkan kembali alat komunikasinya lalu beralih melihat Alister, "Tuan, Nona Lovely ada di luar!"
Alister terkejut. Refleks ia bangun dan menatap Azil. "Siapa?"
"Nona Lovely, Tuan," jawab Azil dengan raut wajahnya yang biasa-biasa saja, tidak seperti Alister yang seketika panik.
Buru-buru Alister berdiri dan ingin bersembunyi di dalam kamar istirahatnya tapi kamar itu malah terkunci. Ia kembali menoleh ke Azil yang masih berdiri dengan tenang di sana. "Di mana kuncinya?"
"Loh bukannya kuncinya ada sama tuan."
"Astaga." Alister refleks memukul jidatnya, "aku lupa. Ketinggalan di mobil. Kenapa juga aku bawa-bawa keluar kunci kamar itu?"
"Memang kenapa tuan harus bersembunyi?" tanya Azil bingung.
"Kau lupa kalau Cinta tidak tahu aku tunangan bibinya. Dan kalau dia sampai tahu, apa yang akan terjadi? Dia akan langsung meninggalkanku. Itu tidak akan terjadi sebelum aku benar-benar bersenang-senang dengannya."
Disaat yang sama, pintu perlahan-lahan terbuka. Alister tidak punya tempat untuk bersembunyi hingga ia mendorong Azil duduk di kursinya lalu dirinya duduk di sofa. Azil malah melongo tak mengerti. "Saya ngapain di sini tuan?"
"Jadi Alister."
Akhirnya Lovely masuk ke dalam tapi wanita itu langsung terkejut melihat kekasih barunya itu duduk memandangnya di sofa.
"Cinta, kamu di sini!" Pria itu pura-pura terkejut bahkan tiba-tiba berdiri yang malah membuat Azil sedikit kaget.
"Saya datang untuk ketemu Tuan Alister. Justru saya yang tanya, kenapa kamu di sini?"
"Aku berteman dengan Alister, rekan bisnis!" Alister bicara sembari melirik Azil yang hanya diam.
Azil yang melihat kode bosnya, pun berdiri. "Silahkan duduk Nona!"
__ADS_1
Azil yang kaku malah bicara terlalu sopan, aura seorang bos sama sekali tak ada. Hal itu malah membuat Alister kesal hingga melirik tajam ke Azil. Azil malah refleks kaget. "Maaf Tuan!"