
Lovely membuka matanya dan menoleh ke sebelah kanannya. Di sana, tak ada Alister yang ia lihat. Tempatnya kosong. Hal itu membuat Lovely tiba-tiba berpikir bahwa Alister telah meninggalkannya sendiri di apartemen itu. Buru-buru Lovely bangun dan memakai pakaiannya lalu keluar dari kamar itu. Saat keluar kamar, ia melihat Alister tengah meletakkan makanan di atas meja. Ternyata pria itu tidak meninggalkannya.
Alister yang menyadari kehadiran Lovely, menoleh ke arah Lovely. "Sudah bangun? Kenapa tidak tidur lagi? Kau pasti lelah karena aku."
Lovely tersenyum menatap Alister yang ternyata menyiapkan makanan untuknya.
"Aku nggak capek. Lagipula, aku nggak bisa terus tiduran di sini. Aku harus balik ke rumah." Lovely berucap sembari melangkah mendekati Alister.
Alister segera menarik kursi untuk Lovely, dan Lovely duduk di sana dengan bibirnya yang kembali tersenyum menatap Alister.
"Terima kasih!"
Alister mengangguk tersenyum kemudian duduk di hadapan Lovely. "Kamu tidak mau bermalam di sini?"
"Hebat nggak biasa aku tinggalkan. Biasanya dia nggak mau tidur kalau nggak ada aku. Sory!" Lovely merasa sedikit tak tega pada Alister karena sudah menolak permintaan kecil pria itu.
"Tidak apa-apa. Santai saja. Aku sudah dewasa dan bisa mengalah untuk anak-anak."
Seketika Lovely tertawa kecil mendengar candaan Alister. Alister tampak senang melihat perempuan itu terhibur karena ucapannya hingga ia pun tersenyum menatap Lovely.
"Ayo makan, baru aku antar pulang!" kata Alister.
Lovely mengangguk pelan tanpa mengurangi senyumnya. Karena kejadian beberapa jam lalu hingga Lovely terus saja tersenyum jika saling bertatapan dengan Alister. Jantungnya berdebar karena pria itu. Hatinya sungguh sudah dipenuhi oleh Alister.
"Ini semua kamu yang masak?" tanya Lovely penasaran.
Alister menggeleng. "Aku tidak bisa masak. Semua makanan ini aku pesan dari restoran depan. Kenapa? Apa semua makanan ini bukan seleramu?"
"Nggak. Aku suka kok. Cuma biasanya pria tampan itu pintar masak."
"Itu cuma berlaku di drama Cinta. Kenyataannya, pria yang tampan tidak bisa masak. Pria yang bisa masak hanya koki di rumahku."
__ADS_1
Lovely malah terkekeh mendengar ucapan Alister. Begitu juga dengan Alister yang ikut tertawa karena terbawa suasana.
"Ternyata aku salah paham," ujar Lovely.
"Kenapa? Kamu kecewa karena bukan aku yang masak?" tanya Alister.
"Nggak kok. Karena walau bukan kamu yang masak, aku tetap senang. Kamu peduli sama aku."
Alister tersenyum dan matanya tak pernah berpaling dari Lovely yang tampak malu-malu di depannya. Selesai makan, Alister mengantar Lovely kembali ke rumah.
"Nggak mampir dulu!" Lovely sudah sepenuhnya menerima Alister sebagai kekasihnya sehingga ia tak masalah jika Alister masuk ke rumahnya sebagai tamu. Bahkan tak peduli jika waktu menjelang sore.
Alister memandang rumah Lovely sesaat sebelum kemudian menjawab, "lain kali saja. Sekarang aku masih ada pekerjaan."
"Oh oke." Lovely mengerti. Perempuan itu lalu mencium pipi Alister yang membuat Alister terkejut sampai pria itu terdiam kaku seperti patung. Lovely malah tersenyum sembari keluar dari mobil Alister.
"Sampai jumpa besok!" kata Lovely melambaikan tangannya pada Alister yang seketika sadar dengan Lovely yang ternyata sudah keluar dari mobilnya.
Di dalam rumah, Lovely disambut oleh Hebat yang tiba-tiba berlari ke arahnya. "Mama, ke mana aja? Hebat tunggu mama untuk main tapi mama ingkar janji."
"Astaga, mama lupa sayang! Mama bakal temenin Hebat main deh tapi mama mandi dulu ya," ujar Lovely menatap Hebat yang mendongak di depannya.
Hebat mengangguk-ngangguk. Lalu Lovely memegang tangannya anaknya ke lantai dua kamarnya. Di sana, Hebat dengan setia menunggu ibunya selesai mandi.
Namun, Lovely malah senyum-senyum sendiri di dalam kamar mandi gara-gara mengingat kebersamaannya dengan Alister.
"Mama!"
Teriakan Hebat di luar, seketika membangunkan Lovely dari pikirannya yang tengah dimabuk cinta. Buru-buru Lovely memakai jubah mandinya kemudian keluar menemui anaknya.
Malam hari setelah makan malam, Jenar memberitahu semua orang bahwa dirinya akan mengadakan acara ulang tahunnya di sebuah hotel. Tidak ada yang menentang. Mereka semua senang dan setuju dengan rencana Jenar. Bahkan Lovely dan Levon pun berniat membantu acara ulang tahun Jenar. Jenar yang tidak ingin membuat mereka kecewa, menyetujui permintaan kedua keponakannya.
__ADS_1
"Bibi, aku boleh kan, undang teman aku?" tanya Lovely.
"Boleh dong."
"Thankyou Bi." Lovely senang mendapat persetujuan Jenar karena sebenarnya ia ingin mengundang Alister ke pesta ulang tahun Jenar. Sekaligus ingin mengenalkan Alister pada keluarganya agar orang tuanya, terutama ayahnya, tidak menjodohkannya lagi dengan Brey.
Dua hari kemudian, setelah undangan ulang tahun Jenar jadi. Lovely mengambil satu undangan untuk ia berikan pada Alister. Dengan perasaan senang, ia mengendarai mobilnya ke apartemen Alister. Namun, sebelum pergi, ia sudah mengirim pesan pada Alister mengenai keberadaan pria itu tapi Lovely tidak mengatakan bahwa dirinya akan datang ke apartemen karena ingin memberikan kejutan pada Alister.
Sekitar dua puluh menit lebih, Lovely sampai di Gedung Apartemen mewah itu. Lovely memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen kemudian melangkah masuk dengan senyuman yang terus tampak diwajahnya karena senang bisa bertemu dengan Alister lagi.
Namun, senyuman itu seketika menghilang, kala ia bertemu dengan Pak Qomar yang baru saja keluar dari lift. "Pak Qomar! Kau sedang apa di sini?"
"Ini apartemen yang bisa didatangi semua orang. Wajar kalau saya datang kemari."
Lovely tidak ingin merusak moodnya dengan meladeni Pak Qomar hingga berjalan melewati Pak Qomar. Namun Pak Qomar tiba-tiba menyahut.
"Anda pasti mau bertemu dengan Tuan Alister."
Lovely menghentikan langkahnya lalu menoleh melihat Pak Qomar. "Alister?"
"Bukankah Nona Lovely sedang bersama dengan Tuan Alister? Kenapa respon Anda seperti tidak tahu siapa Alister?" Pak Qomar mengira Lovely tahu mengenai Alister hingga ia terlihat bingung melihat respon Lovely.
"Maksud kamu apa Pak Qomar?" Kening Lovely mengerut karena penasaran dengan kata-kata Pak Qomar.
"Pria yang bersama saya di Bar waktu Anda memukul saya, itu Tuan Alister. Anda tidak mungkin tidak tahu itu."
Lovely terkejut. Matanya membulat sempurna melihat Pak Qomar. "Pria itu Tuan Alister? Tunangan Bibi Jenar? Jangan sembarangan bicara Pak Qomar!"
"Ternyata Anda tidak tahu. Atau pura-pura tidak tahu. Aaaa, apa jangan-jangan nona juga tidak tahu kalau pria yang tidur dengan Anda lima tahun lalu adalah Tuan Alister? Tidak mungkin kalau sampai sekarang Anda masih mengira pria itu adalah saya." Seketika Pak Qomar tertawa karena menganggap Lovely bodoh yang masih saja tidak tahu tentang kebenaran itu.
Lovely sangat syok. Bahkan ia tetap diam di tempatnya ketika Pak Qomar pergi.
__ADS_1