Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Menyesal


__ADS_3

Seminggu berlalu, Lovely berangsur-angsur membaik dari patah hatinya. Ia tidak terlalu hanyut lagi dalam kesedihannya karena Alister. Meski begitu, ia masih sulit menghilangkan perasaan cintanya pada Alister. Namun, kenyataan mengenai Alister yang merupakan ayah kandung Hebat, tak membuat Lovely melupakan kenyataan itu. Oleh sebab itu, Lovely berencana pindah dari rumah orang tuanya ke apartemen sederhana yang sudah ia beli menggunakan tabungannya. Ia tidak mau masa lalunya dengan Alister, membuat pernikahan Jenar hancur. Menurutnya, jalan terbaik adalah menjauh dari mereka, karena tinggal di rumah orang tuanya, pasti akan membuatnya selalu bertemu dengan Alister yang datang untuk Jenar.


Rencana kepindahannya sudah Lovely atur. Sekarang, Lovely tengah mengumpulkan keluarganya untuk memberitahukan masalah kepindahannya itu.


"Kenapa kamu tiba-tiba mau pindah Loly? Apa karena kamu masih marah sama ayah karena Hebat? Ayah kan, sudah mengizinkanmu merawat Hebat?" tanya Tuan Arman yang duduk bersama istrinya.


Mereka berdua yang duduk di depan Lovely, tampak cemas karena Lovely tiba-tiba meminta pindah rumah. Begitu juga dengan Levon. Namun tidak dengan Jenar yang sebenarnya sangat senang jika Lovely menjauh darinya.


"Aku sudah menuruti keinginan ayah mengenai perjodohan. Kali ini, penuhi keinginanku untuk pindah dari sini," ucap Lovely memohon.


"Apa alasanmu pindah Loly?" sahut Levon penasaran.


"Aku mau tinggal di rumahku sendiri Kak. Aku tidak mau terus bergantung pada keluarga ini. Apalagi aku dan anakku sudah terbiasa hidup mandiri. Kalau aku tinggal di rumah keluarga, rasanya itu membuatku kembali menjadi manja," jelas Lovely.


"Kakak!" sahut Jenar menatap Tuan Arman, "apa yang dikatakan Loly memang benar? Dia harusnya tidak bergantung terus pada kita karena dia sudah dewasa. Bahkan sudah punya anak. Izinkan saja dia tinggal di rumah yang sudah dia beli. "


Jenar sengaja membantu membujuk Tuan Arman agar Tuan Arman setuju karena ia memang ingin sekali Lovely pergi.


Setelah mengetahui bahwa Alister adalah ayah Hebat, ia tidak pernah sekalipun kasihan atau bersimpati pada Lovely dan Hebat. Bahkan kebenciannya muncul untuk menyingkirkan Lovely dan anaknya dari kehidupannya.


Tuan Arman menghela nafas lelah sembari menatap Lovely. "Baiklah. Kamu boleh tinggal di manapun yang kamu mau. Ayah tidak akan melarangmu tapi masalah perjodohanmu dengan Brey, tetap harus dilakukan Loly. Ayah tidak ingin dengar penolakan apapun darimu."

__ADS_1


Lovely merasa berat menerima perjodohan itu karena ia sama sekali tak menyukai Brey tapi ia tidak punya pilihan untuk menolak keinginan ayahnya. Andai saja, pria yang ia cintai bukan Alister, mungkin ia akan memperkenalkan pria itu pada keluarganya dan menghentikan perjodohannya. Namun, sekarang semuanya hancur. Lovely yang menundukkan kepalanya di sana, menutup matanya sejenak, mencoba untuk menerima kenyataan yang sebenarnya. Lalu setelah ia tenang, ia kembali mengangkat wajahnya menatap ayahnya. "Baiklah! Terserah ayah. Kalau Brey setuju, aku juga setuju. Lagipula, Hebat senang sama Brey."


"Bagaimana kalau kamu dan Brey tunangan di hari ulang tahun bibi?" Tiba-tiba Jenar menyahut dengan usulannya yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Itu kan seminggu lagi Jen? Mana sempat mengatur acara pertunangannya Lovely," sahut ibunya Lovely.


"Aku yang akan mengatur semua Kakak Ipar. Aku tinggal beri tahu sama keluarganya Brey lalu menambah tamu undangan yang hadir tapi acara pertunangan Lovely kita jadikan sebagai kejutan setelah acara ulang tahunku." Kemudian Jenar beralih melihat Tuan Arman, "bagaimana menurut kamu Kak?"


"Tidak masalah. Lagipula, menurutku pesta pernikahan yang paling penting. Masalah lainnya, tidak terlalu penting menurutku," jelas Tuan Arman.


"Oke, begitu saja," balas Jenar.


Mereka bertiga mengobrol tanpa menanyakan pendapat Lovely. Mereka tidak mempedulikan bagaimana perasaan Lovely saat ini.


"Loly, kamu benar bahagia tunangan dengan Brey?" tanya Levon dengan suaranya yang pelan.


Lovely tidak ingin Levon mengkhawatirkannya hingga ia tersenyum menatap kakaknya. "Bahagia Kak."


Levon malah tersenyum miring. "Kamu bisa membohongi semua orang dengan senyumanmu tapi kamu tidak bisa membohongi kakak dengan matamu Loly. Matamu tidak menunjukkan kebehagiaan. Malah ada kesedihan yang kakak lihat dimatamu. Karena itu, kakak berpikir bahwa kamu terpaksa menerima Brey. Katakan Loly! Kamu mencintai siapa? Apa laki-laki yang pernah kakak temui di depan cafe?"


Lovely menggeleng pelan tanpa mengurangi senyumnya. "Dia bukan bagian dalam hidupku Kak. Dia orang yang cuma lewat saja. Lagipula, menurutku lebih baik bersama dengan orang yang mencintai kita ketimbang bersama orang yang kita cintai tapi hanya pura-pura mencintai kita."

__ADS_1


"Loly, kamu mencintai pria lain?" Tuan Arman yang tadinya asyik mengobrol dengan istri dan adiknya mengenai pertunangan Lovely, tiba-tiba menyahut karena sempat mendengar sedikit ucapan Lovely.


"Nggak Kok Yah. Aku cuma sekedar bicara aja tentang pemikiranku," jawab Lovely yang membuat Tuan Arman paham.


Sementara Alister yang masih tinggal di apartemennya, malah gelisah memikirkan kejadian ketika Lovely datang marah-marah padanya. Jujur, selama seminggu tak melihat Lovely, Alister sulit tidur. Bahkan ia tak bisa bekerja dengan baik di kantor. Pikirannya terganggu dan ia mengakui dirinya yang merindukan suara perempuan itu.


"Azil, menurutmu apa yang harus kulakukan sekarang?" Di tengah-tengah Alister memeriksa dokumen yang diberikan Azil, tiba-tiba ia bertanya yang membuat Azil bingung.


"Anda tanya mengenai apa? Apa tentang dokumen itu?"


"Aku tanya tentang Cinta. CINTA, paham!" tegas Alister yang uring-uringan, marah tidak jelas. Padahal, sebelumnya ia tidak mengatakan apapun pada Azil dan malah langsung bertanya.


"Kalau masalah itu kayaknya tidak bisa diselamatkan. Coba saja Anda pikir di posisi Nona Lovely. Dia sakit hati pada Anda. Anda menipunya, bahkan Anda bilang padanya bahwa Anda cuma bersenang-senang dengannya. Harusnya waktu itu, Anda jelaskan maksud hati Anda. Tapi ketika Nona Lovely pergi, Anda malah tidak mengejar. Itu menguatkan keyakinan Nona Lovely tentang Anda yang bajingan. Baru sekarang Anda menyesal. Bukankah ini sangat terlambat."


Alister langsung melempar punggungnya di sandaran kursi sembari menghela nafas panjang. Mendengar semua ucapan Azil, membuatnya semakin bersalah, bahkan saat ini, ia menyesali sikap dinginnya pada Lovely.


Azil ikut menghela nafas lelah melihat tuannya tampak putus asa. "Bagaimana kalau saya atur waktu untuk Anda bisa bertemu lagi dengan Nona Lovely? Terus, katakan semua yang Anda rasakan padanya!"


Alister kembali duduk tegak menatap Azil. "Aku malu mengungkapkan perasaanku setelah berbuat kasar padanya."


"Jadi, Anda tidak masalah kalau Nona Lovely menikah dengan pria lain?"

__ADS_1


"Maksudmu?" Alister tampak sedikit kaget mendengar ucapan Azil. Keningnya mengerut menatap asistennya.


"Saya dengar dari Nona Jenar, katanya Nona Lovely akan tunangan dengan Brey. Pertunangan mereka akan menjadi sebuah kejutan di hari ulang tahun Nona Jenar."


__ADS_2