
Lovely sudah berada di Bandara bersama Brey dan keluarganya yang mengantar kepergiannya. Hanya Alister yang tidak datang. Lovely tidak memberitahu pada Alister mengenai kepergiannya hari ini. Menurutnya, untuk apa ia beritahu pada Alister yang bukan siapa-siapanya.
"Loly, kamu janji sama ayah. Kamu akan balik lagi ke Indonesia setelah sudah tenang ya Nak," ujar Tuan Arman yang sedih melihat anaknya ingin pergi.
Lovely mengangguk. "Pasti ayah. Negara ini adalah tempat aku lahir dan dibesarkan. Aku dan Hebat bakal balik lagi kok."
"Loly, jangan lama-lama di sana ya Nak! Biarkan kami menyaksikan Hebat tumbuh dewasa," sahut Nyonya Armiyanti yang menangis di depan Lovely.
Lovely yang melihat itu, memeluk ibunya sebentar lalu melepaskannya ketika memandang Levon dan Brey yang tersenyum kepadanya.
"Kak Levon, tolong jaga ayah dan ibu ya!" pinta Lovely.
"Iya Loly tapi kamu benar-benar nggak mau kalau kakak ikut temenin kamu di Amerika. Anggap aja kita sedang liburan." Mungkin sudah sepuluh kali, Levon meminta hal itu pada Lovely dan itu tidak membuatnya bosan karena ia merasa khawatir membiarkan adiknya ke Amerika tanpa ditemani seorang pria.
Lovely meraih tangan kakaknya, menggenggamnya untuk menghilangkan kekhawatiran Levon. "Nggak usah kak. Aku baik-baik aja kok karena aku udah tinggal di selama lima tahun."
Levon menghela nafas panjang sembari mengangguk pelan.
Kemudian Lovely beralih ke Brey. "Brey, makasih banyak untuk semua kebaikan yang kamu kasih ke aku. Aku doakan, semoga kamu bisa menemukan perempuan yang cocok untukmu. Aku ingin kamu bahagia Brey."
Brey mengangguk. Lalu keduanya saling berpelukan. Setelah berpelukan dengan Lovely, Brey beralih ke Hebat.
__ADS_1
"Hebat, jangan lupakan Om Brey ya!"
Hebat mengangguk. "Hebat tidak tinggal lama kok di sana. Hebat cuma mau jenguk tetangga Hebat aja. Nanti kalau Hebat pulang, Hebat bakal ajakin Om main lagi."
Brey tersenyum sembari mengusap atas kepala Hebat. "Anak baik."
Setelah puas berpamitan dengan mereka, Lovely membawa anaknya masuk ke dalam untuk cek in sebelum keberangkatan. Ia dan Hebat melambaikan tangan kepada orang tuanya, kakaknya dan temannya yang juga melambai kepadanya. Selesai cek in, Lovely duduk menunggu keberangkatannya yang tinggal menghitung menit.
"Ma!"
"Emm!" Lovely menatap anaknya yang duduk di sebelah kanannya. Ia tersenyum sementara anaknya tampak serius.
"Kok Hebat tanya begitu? Memangnya Hebat tahu siapa Om Ali?" Lovely malah bertanya balik.
Hebat mengangguk. "Tahu. Dia papa kandungnya Hebat."
"Siapa yang kasih tahu kamu?" tanya Lovely dengan kening mengerut dan dengan ekspresi kaget anaknya tahu hal itu.
"Mama dan Om Ali ngomong keras-keras di depan Hebat waktu Hebat bobo di rumah sakit. Hebat nggak tuli. Hebat juga nggak bodoh. Bisa mengerti bahasa indonesia dan bisa ngerti apa itu papa kandung. Om Levon udah jelasin sama Hebat artinya papa kandung dan mama kandung, jadi Hebat tahu pas mama dan Om Ali ngobrol. Papa kandung dan mama kandung itu kayak mama sama kakek dan nenek."
Lovely memegang kepalanya. Dirinya tiba-tiba merasa pusing setelah mendengar penuturan anaknya. Ternyata bocah itu sudah mengerti bahasa orang dewasa. Lebih tepatnya, sudah paham apa yang dibicarakan.
__ADS_1
"Maaf kalau Hebat bikin mama marah!" Seketika Hebat menundukkan kepalanya karena merasa bersalah melihat respon ibunya yang seolah tidak senang.
Lovely memegang tangan anaknya sembari menghela nafas pelan. "Hebat nggak bikin mama marah kok. Cuma kaget aja dengar Hebat ternyata tahu kalau Om Ali itu ...,"
Rasanya Lovely masih belum sanggup menyebut kata 'papa' di depan Hebat meski Hebat sudah paham, karena merasa terlalu cepat.
Hebat tersenyum melihat ibunya. Ia senang karena ternyata ibunya tidak marah padanya. "Terus kalau Om Ali beneran jadi papanya Hebat, nggak apa-apa."
Lovely terdiam sejenak menatap anaknya yang terus tersenyum kepadanya. Rasanya ia tidak tega jika senyuman anak itu menghilang jika ia menjawab tidak. "Nggak apa-apa. Om Ali memang papanya Hebat."
"Cinta, Hebat!" Disaat yang sama, terdengar seruan Alister dari samping Lovely. Lovely menoleh ke sana dan melihat Alister dari kejauhan. Ia terkejut melihat pria itu berdiri menatapnya. Refleks, Lovely berdiri kala Alister berlari mendatanginya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Lovely saat Alister berdiri di hadapannya.
"Justru aku yang harus tanya sama kamu. Kamu kenapa nggak kasih tahu aku kalau kamu pergi hari ini?" Tampang Alister terlihat marah. Matanya yang tajam, memandang penuh rasa kesal ke mata Lovely.
"Aku udah ngomong kan, sama kamu waktu di rumah sakit kalau aku dan Hebat mau balik ke Amerika."
"Kamu cuma mau bilang balik ke Amerika tapi nggak bilang kalau kamu berangkat hari ini. Lovely, hari ini kamu nggak bisa berangkat ke Amerika karena aku sudah mengajukan tuntutan padamu atas hak asuh Hebat."
Lovely tentu terkejut mendengar hal itu. "Gila kamu Alister!"
__ADS_1