
Alister menuruni tangga sambil bersiul-siul, bahkan ketika pria itu berjalan ke ruang makan, ia masih bersiul, membuat Iren sang adik yang sedang sarapan, heran melihat Alister seperti itu.
"Kakak kelihatan senang banget kayaknya. Tumben banget. Ada apa nih?" kata Iren sembari memperhatikan Alister yang tengah mengambil sepotong roti tawar.
"Mau tahu aja urusan orang." Alister berjalan meninggalkan ruangan itu sembari menggigit roti miliknya. Lirikan tajamnya pada Iren, membuat sang adik memilih diam meski masih penasaran dengan sikap Alister yang tidak biasa. Namun seketika Iren berdiri dan berlari mengejar Alister ketika ia ingat tentang pesan Jenar.
"Kak, bentar!" seru Iren yang menghentikan langkah Alister.
"Ada apa sih?"
"Mbak Jenar hubungi aku semalam. Katanya pengen ngomong sama kakak," ucap Iren.
"Kenapa dia menghubungi kamu, tidak menghubungiku kalau memang mau bicara?"
"Masalahnya ada sama kakak. Nomor kakak nggak aktif. Dia udah coba hubungi kakak beberapa kali dan katanya kakak nggak angkat juga, terus nggak aktif. Makanya Mbak Jen hubungi aku," jelas Iren.
"Terus?"
"Dia mau ke sini katanya. Mau ngomong sama kakak."
"Aku ada urusan. Kalau dia datang, kamu temenin dia aja. Kakak nggak bisa, Sibuk."
"Ini kan, hari minggu Kak. Kakak nggak kerja, emang sibuk apa lagi?"
"Sibuk senang-senang. Udah nggak usah bawel. Aku pergi." Alister pergi setelah mengatakan itu, tak peduli dengan Iren yang masih ingin bicara kepadanya.
"Kak!"
__ADS_1
Alister kini menaiki mobilnya sendiri. Ia ingin berduaan dengan Lovely hingga ia tidak membiarkan Pak Imron atau Azil menyetir atau menemaninya.
"Anda yakin mau pergi sendiri tuan?" tanya Pak Imron.
"Yakin. Kamu pikir, aku tidak bisa menyetir sendiri." Tampak diwajah Alister yang kesal melihat Pak Imron berdiri di samping mobil, menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
"Bukan begitu tuan. Saya cuma khawatir saja pada tuan yang pergi sendiri." Selama ini, Alister memang selalu ditemani oleh Azil atau dirinya hingga ketika melihat Alister membawa mobilnya hari ini, ia merasa khawatir.
"Aku bukan orang yang perlu dikhawatirkan. Kau antar Iren saja ke kampusnya!"
"Baik tuan." Pak Imron membungkukkan tubuhnya pada Alister yang duduk di dalam mobil. Lalu mobil itu pun melaju meninggalkan rumah.
Diperjalanan menuju rumah Lovely, Alister sesekali menerbitkan senyumannya. Jujur, ia seperti ABG labil yang sedang jatuh cinta. Padahal, ia berpacaran dengan Lovely hanya untuk senang-senang saja. Bukan karena ingin serius.
Sekitar dua puluh menit, Alister sampai di rumah Lovely. Ia menghentikan mobilnya di tempat semalam diparkir oleh Pak Imron tapi senyumannya seketika menghilang dan berubah datar ketika menatap Lovely berdiri di depan rumah bersama bocah laki-laki yang baru pertama kali dilihat oleh Alister.
"Anak kecil?"
Alister menurunkan jendela kaca mobilnya ketika Lovely sudah berdiri di samping pintu mobilnya. "Kau bawa siapa?"
Lovely menoleh melihat Hebat yang berdiri di sebelah kanannya sembari tersenyum kemudian detik berikutnya ia kembali melihat Alister. "Hebat, dia anakku. Setiap hari minggu, aku selalu menemaninya jalan-jalan dan main, jadi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Kamu nggak keberatan kan, kalau ada Hebat? Anggap aja kita sedang kencan bertiga!"
Alister terdiam dengan muka kesalnya, karena jujur, ia tidak senang melihat ada orang yang mengganggu rencana kencan berduanya. Meski orang itu anak Lovely.
"Kalau kamu keberatan nggak apa-apa. Aku bisa naik mobil lain karena aku dan anakku tetap jalan-jalan hari ini dengan atau tanpa dirimu." Lovely melihat ekpsresi Alister yang tidak senang hingga ia mengatakan hal seperti itu tapi ia sama sekali tidak kecewa jika tidak pergi bersama Alister, bahkan ia senang jika tidak jadi pergi dengan pria yang ia anggap pria mesum yang banyak trik untuk menggodanya.
Seketika Alister menerbitkan senyumannya di depan Lovely. "Aku sama sekali tidak keberatan sayang. Mau kamu bawa ayahmu, ibumu atau tantemu sekalian, aku tidak masalah. Asalkan kamu senang."
__ADS_1
Karena kesal, Alister sampai menyindir Lovely tapi itu tidak mengurangi senyumannya pada Lovely meski sebenarnya ia tersenyum paksa untuk menunjukkan bahwa ia tidak kesal.
"Berarti kita boleh naik sekarang?"
"Tentu saja boleh. Naiklah!" Alister sudah tidak mempermasalahkan keberadaan anak Lovely yang ikut bersamanya. Ia sudah bisa menerimanya tapi ketika Lovely dan anaknya duduk di belakang, ekspresi Alister kembali kesal. Ia pun menoleh melihat Lovely yang duduk di belakangnya. "Kenapa kau duduk di situ? Apa kau menganggapku supir pribadimu?"
"Maaf Ali! Anakku nggak mau duduk sendiri di belakang, jadi terpaksa aku duduk bersamanya di sini untuk menemani dia. Kalau kamu keberatan, aku bisa panggil teman untuk menemanimu duduk di depan." Lovely menunjukkan ekspresinya yang tidak enak hati pada Alister karena duduk di belakang tapi itu hanya kepura-puraan semata untuk mengerjai Alister.
"Aku sama sekali TIDAK KEBERATAN Cinta. Aku baik-baik saja jadi kamu tidak perlu panggil orang," kata Alister sambil tersenyum pada Lovely tapi tentu itu hanya senyum paksaan, karena ketika memutar wajahnya ke depan, raut wajahnya pun seketika berubah kesal.
'Bagus sayang, kau sengaja mengerjaiku agar aku tidak tahan padamu dan akhirnya memilih pergi. Cih, bukan Alister namanya kalau sesuatu yang dia inginkan dibiarkan begitu saja. Sebelum aku mendapatkan dirimu sepenuhnya, aku tidak akan pergi Cinta. Silahkan! Lakukan saja yang kau mau. Aku juga akan lakukan keinginanku untuk membuatmu menyerahkan sendiri dirimu padaku.'
"Oh ya Ali. Hebat pengen banget ke kebun binatang. Boleh ya, kita ke sana dulu?' kata Lovely.
"Terserah. Dengan senang hati, aku akan jadi supirmu." Suara Alister terdengar tak semangat menjawab tapi ia tetap tersenyum ketika tak sengaja bertatapan dengan Lovely dicermin kaca tengah mobilnya.
"Terima kasih!"
'Seandainya aku tahu akan dijadikan supir, aku pasti bawa Pak Im.' Baru sekarang Alister menyesal tidak menyuruh Pak Imron saja yang menyetir untuknya. Sekarang ia malah susah sendiri karena dijadikan supir.
Hebat yang sejak tadi memperhatikan Alister, kini menarik lengan ibunya hingga Lovely melihatnya.
"Ada apa sayang?"
Hebat memberikan kode pada ibunya untuk lebih dekat lagi, dan Lovely menurutinya kemudian Hebat berbisik, "Ma, kayaknya om itu nggak suka sama Hebat."
"Nggak kok Nak. Dia cuek karena baru pertama kali kenalan sama kamu. Kamu juga kan, cuek sama dia, padahal biasanya banyak ngomong. Itu karena kamu masih canggung dan kaku ngomong sama orang yang baru kenal." Lovely tahu bahwa Alister memang tidak senang melihat Hebat ikut bersamanya tapi Lovely tidak ingin membuat anaknya kecewa karena tidak disukai orang hingga ia sengaja berbohong pada Hebat.
__ADS_1
"Oke. Karena Hebat paling muda, Hebat bakal ngomong duluan sama om itu."
Lovely mengangguk tersenyum pada anaknya.