
"Kenapa kau menyiramku?" teriak Tuan Qomar dengan matanya yang melotot melihat Lovely.
"Itu karena Anda brengsek dan tidak bermoral. Anda sudah menipu bibi saya dan juga melakukan kejahatan sama saya. Asal Anda tahu, saya masih ingat kelakuan bejat Anda pada saya Pak Qomar. Kalau saya mau, saya bisa membeberkan semua perbuatan Anda sama saya dan Bibi saya pada polisi." Setelah mendengar keburukan Pak Qomar dari Jenar, Lovely memang bersumpah jika ia bertemu dengan Pak Qomar, ia akan melampiaskan amarahnya pada pria itu meski hanya bisa melontarkan kata-kata kasar.
"Dasar perempuan brengsek!" Tuan Qomar marah mendengar ucapan Lovely yang menuduhnya bejat dan tidak bermoral hingga ia mengangkat tangannya untuk memukul wajah Lovely tapi tangannya tiba-tiba ditahan oleh Alister.
Dengan kasar, Alister menurunkan tangan Tuan Qomar. "Jangan memukul perempuan di depanku!"
Lovely yang tadinya memalingkan wajahnya untuk menghindari tangan Tuan Qomar, kembali menoleh dan langsung menatap Alister yang berdiri di sampingnya. Bahkan ia tidak mempedulikan Ridwan yang ingin menariknya pergi.
"Sikapmu buruk sekali Qomar. Bukannya menyelesaikan masalahmu baik-baik, kau malah mau main tangan," Alister kembali bicara tegas pada Tuan Qomar. Matanya yang kecoklatan, menatap tajam pada Qomar yang terlihat ketakutan.
Lovely masih melihat Alister. Tubuhnya yang tinggi tegap, wajahnya yang gagah serta sikapnya yang gentleman, membuat Lovely tak bisa mengalihkan pandangannya dari pria itu.
"Saya minta maaf Tuan!" kata Tuan Qomar.
"Pergilah!" titah Alister dengan tegas tapi suaranya tetap rendah.
Lovely masih diam menatap Alister. Diamnya itu bukan hanya sekedar diam saja tapi ia memperhatikan cara bicara Alister yang tegas dan tidak banyak bicara.
Dan setelah Tuan Qomar pergi, Alister menoleh ke Lovely yang masih saja menatapnya. "Kau membutuhkan sesuatu Nona?"
Lovely sadar dengan sikapnya yang terus memperhatikan pria itu hingga ia canggung sendiri. "Mau bilang makasih karena sudah bantuin tadi!"
Alister yang tidak tertarik dengan Lovely, tidak membalas ucapan terima kasih Lovely, bahkan ia kembali duduk membelakangi Lovely. Ia malah lanjut minum alkoholnya.
__ADS_1
"Lovely, ayo kita kembali ke sana!" sahut Ridwan.
Mendengar suara Ridwan, membuat mood Lovely kembali buruk. Bagaimana tidak kesal dengan Ridwan. Tadi, ketika ia marah-marah pada Tuan Qomar, Ridwan malah ingin menariknya pergi, bahkan tampak ketakutan. Ridwan juga sempat menghindar ketika Tuan Qomar ingin memukul Lovely. Padahal Ridwan anak seorang pengacara yang katanya tidak takut apapun tapi saat dihadapkan masalah seperti ini, malah mau kabur. Tidak mencerminkan sebagai pria sejati yang melindungi wanitanya.
Lovely kembali ke tempatnya tanpa bicara apapun dengan Ridwan. Raut wajahnya tampak kesal dengan Ridwan yang seolah menempel padanya.
"Aku sudah menemanimu minum. Itu sudah cukup. Jadi sebaiknya kita kembali saja."
"Kita belum sempat menikmatinya Lovely. Kamu lupa, barusan kamu malah datang cari masalah sama orang. Kita nikmati dululah minuman ini." Ridwan kembali meminta minuman pada pelayan bar lalu memberikannya pada Lovely, dan ia menuangkan minuman ke gelas Lovely berkali-kali sampai Lovely mabuk.
Pria itu memang sengaja melakukannya untuk melancarkan rencananya.
Melihat Lovely menyandarkan tubuh mabuknya di sofa, membuat Ridwan beraksi dengan berpindah tempat duduk di sebelah Lovely. Bahkan pria itu merangkul bahu Lovely. "Sepertinya kamu sudah lelah. Bagaimana kalau kita istitrahat di hotel dekat sini?"
"Aku juga mabuk Lovely. Tidak bisa menyetir mobil. Jalan satu-satunya, kita menginap di hotel. Lagipula, kita bisa bersenang-senang di sana," kata Ridwan dengan suara lembutnya ditelinga Lovely.
Lovely langsung menoleh ke Ridwan. "Kepalaku pusing. Badanku panas. Apa kau kasih sesuatu diminumanku?"
"Aku cuma ingin mempersingkat waktu saja. Supaya kamu tidak malu-malu di depanku!"
"Brengsek!" Lovely langsung berdiri dengan tubuhnya yang sempoyongan. Dan Ridwan ikut berdiri sembari menatap Lovely dengan kening mengerut.
"Ternyata kamu memang laki-laki brengsek! Bodohnya aku percaya padamu sampai mengikutimu kemari. Kamu membawaku kemari cuma untuk menjebakku saja. Kamu sengaja memberiku obat supaya aku tidur denganmu. Enak saja kamu!" teriak Lovely penuh amarah.
"Kenapa kamu harus marah? Bukannya kamu sudah biasa tidur dengan laki-laki sampai punya anak di luar nikah? Dan kamu sendiri yang bilang sama saya kalau kamu punya banyak teman laki-laki. Bukankah itu kode supaya aku mengajakmu tidur? Dan aku tahu, kamu malu mengatakannya langsung, makanya aku kasih kamu obat supaya terlihat bahwa kamu tidak terlalu menginginkannya."
__ADS_1
Plak!
Lovely menampar wajah Ridwan saking marahnya karena merasa dijebak oleh Ridwan. Terlebih ia memang trauma dijebak oleh orang.
"Beraninya kau menamparku!"
"Itu pantas kamu dapatkan karena suka jebak orang."
"Hei Lovely! Harusnya kamu bersyukur, aku bersedia tidur dengan wanita murahan sepertimu. Kalau laki-laki lain pasti tidak mau menyentuh wanita yang suka gonta-ganti pria. Kalau saja kamu tidak cantik, mana mau aku sama wanita yang punya anak di luar nikah. Cuihh!" Ridwan sampai menunjuk-nunjuk wajah Lovely yang tidak bisa berdiri tegak karena mabuk.
Lovely tersenyum smirk. Laki-laki yang tadi bicara lembut padanya, kini berubah kasar dengan kata-katanya yang menghina. "Ternyata inilah aslimu. Sepertinya ayahku salah memilih calon suami untukku. Oh aku lupa. Ayahku memang hanya mencari rekan bisnis yang bisa sejalan dengannya, bukan calon suami untuk anaknya!"
Setelah mengatakan itu, Lovely berjalan pergi tapi Ridwan tidak ingin Lovely bicara buruk pada ayahnya tentangnya, dan juga tidak ingin Lovely menceritakan kejadian ini hingga Ridwan mengejar Lovely yang kini berjalan sempoyongan ke arah pintu.
"Lovely, kau tidak bisa seperti ini. Ayahmu sudah berjanji untuk menjodohkan kita." Ridwan memang menghina Lovely tapi pria itu tetap menyukai Lovely, dan ingin menikahi perempuan itu karena kecantikan Lovely. Ia sulit mendapatkan wanita secantik itu, dan setelah bertemu Lovely, tentu ia tidak bisa merelakannya begitu saja.
"Lepaskan!" Berontak Lovely pada Ridwan yang memegang erat lengannya sampai terasa sakit.
"Tidak akan!"
"Aku tidak akan menuruti ayahku. Apalagi kamu. Kalau aku mau tidur, aku akan tidur dengan pria pilihanku sendiri! Dan malam ini, aku akan tidur dengan pilihanku itu."
"Kau bercanda ya?"
"Aku nggak bercanda Tuan Ridwan. Aku sedang serius. Dan aku akan memilih pria itu di sini tapi pastinya bukan kamu." Lovely geram sampai ia berani mendorong keras tubuh Ridwan sampai menjauh darinya. Lalu, Lovely buru-buru mendatangi Alister yang saat itu, ingin meninggalkan tempatnya. Tanpa mengatakan apapun, Lovely menarik Alister sampai menempel padanya lalu merangkul leher pria itu. "Tidurlah denganku!"
__ADS_1