
Hari ulang tahun Jenar tiba. Jenar mengatur acara ulang tahunnya di sebuah hotel mewah dengan dekorasi dan hiasan bagaikan putri raja, bahkan ia menyediakan souvenir mahal untuk para tamunya. Sebagai seorang perempuan dari kalangan atas, Jenar tentu tidak mau mengadakan acara ulang tahunnya di tempat yang sederhana. Terlebih ia tunangan seorang pebisnis konglomerat yang punya banyak relasi dari luar Kota Jakarta maupun luar negara. Dirinya akan malu jika hanya mengadakan pesta biasa.
Malam ini bukan hanya acara ulang tahun Jenar tapi acara pertunangan Lovely dan Brey. Meski begitu, mereka tidak mengadakan pesta besar-besaran untuk pertunangan mereka. Jenar dan Tuan Arman hanya menganjurkan mereka untuk tukar cincin saja setelah Jenar melakukan acara tiup lilin. Pesta besar nan mewah, baru akan dilakukan jika Lovely dan Brey akan menikah nantinya.
“Loly, kamu benar-benar nggak masalah menikah denganku?”
Seminggu ini, Brey tidak pernah bertemu dengan Lovely. Dirinya kaget ketika diberitahu oleh orang tuanya bahwa keluarga Lovely ingin mereka segera bertunangan di pesta ulang tahun Jenar. Baru malam ini, Brey punya kesempatan menemui Lovely yang tengah bersiap-siap di sebuah ruangan ganti di hotel itu.
“Justru aku yang harusnya tanya sama kamu, Brey. Keluargaku tiba-tiba mau kita bertunangan, apa kamu nggak masalah?” Lovely masih belum sadar sepenuhnya bahwa Brey sebenarnya sangat menginginkan perjodohan ini karena cintanya hingga Lovely bertanya mengenai pendapat Brey. Bahkan Lovely merasa tidak enak hati pada Brey karena tiba-tiba bertunangan dengannya.
Brey tidak langsung menjawab Lovely. Dirinya malah menghela nafas pelan. Kemudian, ia menarik kursi ke depan Lovely dan duduk begitu dekat dengan Lovely. Lovely tampak heran melihat sikap Brey yang tidak biasa tapi ia tidak mengatakan apapun, dan hanya menunggu Brey menanggapi kata-katanya tadi serta mendengar pendapat Brey tentang pertunangan ini.
Dengan pelan nan lembut, Brey memegang kedua tangan Lovely yang tampak kebingungan. Sejenak, Brey menundukkan wajahnya di sana, mencoba menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan serta mengatur perasaannya sebelum mengungkapkan perasaannya yang sudah lama ia pendam.
“Brey!” panggil Lovely pelan dengan ekspresi khawatir melihat Brey yang hanya diam menunduk di depannya, tidak seperti biasanya.
Brey mengangkat wajahnya, menatap Lovely yang serius menatapnya. “Masalah pertunangan, sebenarnya aku senang kalau kita tunangan Loly. Bahkan aku sangat bahagia kalau kita sampai jadi menikah.”
“Apa karena kamu menyukaiku? Kalau itu, aku tentu saja tahu. Dari dulu kan, kamu memang suka padaku? Karena itu jugalah, aku bersedia tunangan sama kamu.” Selama ini, Lovely hanya tahu bahwa Brey menyukainya sebagai teman. Menikah dengan temannya, menurutnya tidak masalah. Bahkan baginya itu sangat bagus ketimbang menikah karena cinta yang pada akhirnya membuat hatinya malah sakit.
__ADS_1
“Kamu dengarkan aku dulu. Aku belum selesai bicara,” ujar Brey.
“Oh baiklah!”
“Sejak dulu, aku sudah menyukaimu. Bukan sekedar menyukaimu saja tapi aku mencintaimu Loly,” ungkap Brey yang membuat Lovely terkejut tapi Lovely diam saja menatap Brey dengan matanya yang terbuka lebar.
Brey kemudian memegang dadanya. “Di sini sudah dipenuhi oleh dirimu. Dan itu sudah sangat lama Loly. Karena itu, setelah melihat foto dirimu yang diberikan orang tuaku, aku langsung setuju untuk dijodohkan denganmu. Hanya saja, aku nggak berani jujur padamu selama ini karena aku takut kamu malah menjauh dariku. Sekarang, aku berani mengatakannya karena kamu yang setuju menikah denganku.”
“Sejak kapan kamu menyukaiku, ah bukan, maksudku, sejak kapan kamu mencintaiku?” tanya Lovely penasaran.
“Sejak pertama kali kita bertemu di lapangan basket.”
Saking tak percaya dengan kejujuran Brey, sampai Lovely beranggapan salah terhadap Brey.
“Nggak lah. Mana mungkin aku menuruti keluargaku dengan mempermainkan perasaaanmu Loly. Dan kamu sangat mengenalku, aku bukan orang yang sembarangan bicara mengenai hati dan perasaan. Kalau aku nggak suka, ya aku bilang nggak suka. Aku nggak mungkin kasih orang harapan,” jelas Brey yang membuat Lovely akhirnya paham.
Namun, Lovely belum bisa menenangkan keterkejutannya terhadap Brey. “Aku benar-benar nggak nyangka kalau kamu cinta sama aku, Brey. Aku yang bodoh karena nggak sadar atau kamu yang terlalu pintar menyembunyikan semuanya.”
Brey hanya tersenyum. Di saat yang sama, pelayan hotel datang ke ruangan itu dan menyuruh mereka untuk keluar karena acara ulang tahun Jenar sebentar lagi di mulai.
__ADS_1
Mereka pun keluar dari ruangan itu. Brey yang merasa lega karena sudah mengungkapkan perasaannya, tidak malu-malu atau khawatir lagi jika menunjukkan perasaannya di depan Lovely. Bahkan dengan bangga dan bahagia, ia memegang tangan Lovely. Lovely yang tangannya dipegang, menoleh melihat Brey, dan dirinya tersenyum. Meski tak cinta tapi ia cukup beruntung karena Brey adalah laki-laki yang sudah lama ia kenal. Ia mengenal baik sikap pria itu.
Sambil berjalan bersama Brey ke tempat pesta, Lovely malah memikirkan Alister. Namun, ia tidak mengharapkan apapun pada pria itu. Ia hanya berpikir bahwa pria itu pasti sudah datang dan tengah mendampingi Jenar di sana. Namun, sampai di tempat pesta, Alister malah tidak terlihat. Jenar yang sudah lama menunggu tunangannya, tampak gelisah.
“Kenapa acaranya nggak di mulai Bi?” tanya Lovely penasaran.
“Alister, tunangan Bibi Kecil sudah janji kalau bakal datang ke acara ulang tahun bibi tapi sampai sekarang, dia belum muncul.” Jenar menjawab sembari menatap luar, mencari sosok pria yang sudah lama ia tunggu-tunggu.
Lovely ikut berdiri di samping Jenar. Matanya pun memandang keluar. Di saat itu juga, Alister melangkah masuk
ke dalam bersama Azil. Jenar yang melihat sosok pria itu, seketika tersenyum lebar. Bahkan dengan terburu-buru, ia berjalan cepat mendekati Alister.
Alister yang berdiri di dekat pintu masuk pesta, malah melihat ke sana kemari. Padahal, Jenar berjalan di depannya, bahkan perempuan itu memanggilnya tapi Alister seolah tak melihat Jenar. Barulah, ia berhenti ketika matanya tertuju pada Lovely yang seketika memalingkan wajahnya. Bahkan Lovely menjauh dari tempatnya berdiri. Brey memperhatikan tingkah Lovely yang menghindari sesuatu dan juga Alister yang memandang ke arah Lovely hingga ia meraih tangan Lovely lalu menggenggamnya dengan erat.
“Loly, kamu sudah memutuskan untuk bertunangan denganku. Jangan lihat pria lain lagi selain aku!” bisik Brey yang membuat Lovely tercengan.
“Jadi ternyata kamu begini sama pasanganmu. Aku baru tahu kalau kamu, ternyata posesif,” ujar Lovely tersenyum mengejek Brey.
“Jangan begitu dong! Ini karena aku nggak senang kamu mandang cowok lain.”
__ADS_1
Lovely malah terkekeh mendengar ucapan Brey. Sebab, sungguh ia tidak terbiasa mendengar Brey mengatakan hal seperti itu.