Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Kecewanya Lovely


__ADS_3

Tuan Arman yang tadinya memegang kedua bahu Jenar, kini menyingkirkan tangannya dari Jenar, bahkan raut wajahnya yang lembut, berubah dingin pada Jenar.


“Kalau kau tidak menuruti kata-kataku. Lebih baik kau pergi saja dari rumah ini, Jenar,” ujar Tuan Arman dengan tegas.


Sikap Tuan Arman tidak bisa diterima oleh Jenar dan ibunya. Jenar tercengan sampai dirinya terdiam kaku menatap Tuan Arman. Ibunya pun sampai berdiri di depan Tuan Arman.


“Tega sekali kamu melakukan ini pada Jenar, Arman. Walau beda ibu tapi kamu dan Jenar satu ayah. Jenar adalah adikmu, Arman,”sahut ibunya Jenar marah pada Arman.


Tuan Arman tersenyum miring sebentar kemudian kembali bermuka dingin menatap ibu tirinya. “Jenar memang adikku satu-satunya. Aku baik karena Jenar bisa diandalkan di keluarga ini. Tapi kalau dia membuat keluarga ini makin bermasalah, untuk apa lagi dia berada di sini.”


Jenar masih diam karena terlalu syok melihat sikap kakaknya yang tega mengusirnya jika tidak menurut. Dan Jenar baru sadar bahwa Tuan Arman memang hanya peduli dengan kehormatan keluarga, juga kepentingan perusahaan. Kakaknya sama sekali tidak peduli dengan perasaan keluarganya sendiri. Dulu, Jenar tidak menyadari sikap keterlaluan kakaknya ketika Tuan Arman mengusir Lovely pergi. Sekarang, ia mengalaminya sendiri dan


akhirnya sadar akan sikap Tuan Arman yang tidak mementingkan perasaannya.


“Kamu bisa pergi bersama putrimu kalau tidak bisa mendengarkan ku. Aku tidak butuh orang-orang tidak berguna seperti kalian,” lanjut Tuan Arman kesal pada ibu tirinya yang malah melawannya.


“Kakak!” Jenar tiba-tiba menangis.


“Jenar, kamu harus mengerti. Keluarga Sandero adalah orang-orang terhormat. Alister yang merupakan pewaris di keluarga itu, bisa mengangkat derajat keluarga kita. Kalau dia bisa menjadi bagian dari keluarga kita, aku sangat bersyukur. Tidak peduli siapa yang harus dia nikahi. Yang penting dia harus menjadi bagian keluarga kitta,” jelas Tuan Arman yang membuat Jenar kehabisan kata-kata.


“Jadi selama ini ayah menjodohkan mereka hanya untuk menaikkan derajat keluarga kita. Apa ayah tidak memikirkan bagaimana perasaan Loly kalau mendengar ayah melakukan ini demi kehormatan keluarga kita? Dia akan sedih Yah.” Levon pun tidak terima dengan sikap ayahnya hingga ia berani menyahut untuk menentang ucapan ayahnya.

__ADS_1


“Kalau kamu sudah menjadi kepala keluarga seperti ayah, kamu juga akan mengerti bagaimana pandangan orang di luar sana, Levon. Setelah kamu paham, kamu tidak akan bicara seperti ini pada ayahmu.” Lalu Tuan Arman kembali menatap Jenar, “Jenar, jangan melakukan sesuatu yang menghancurkan rencanaku! Kau diam saja kalau kau masih ingin tinggal di rumahku.” Setelah mengatakan itu pada Jenar, Tuan Arman naik tangga ke kamarnya.


Istrinya yang tidak berani membantah, menyusul suaminya ke kamar. Sementara Jenar langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa lalu menangis di sana karena sikap Tuan Arman.


Levon hanya mendesah kasar kemudian keluar dari rumah untuk mencari keberadaan Lovely. Lovely tidak mengangkat panggilan Levon. Perempuan itu yang sudah berada di mobil Azil bersama Hebat dan pengasuhnya, menonaktifkan ponselnya agar tidak diganggu oleh siapapun. Untuk menenangkan pikirannya, ia harus mengabaikan semua orang.


"Nyonya, saya sudah utus orang untuk menjaga depan apartemen Anda. Ini saya lakukan atas perintah Tuan Alister," ujar Azil sembari melirik Lovely sebentar.


"Terserah tapi tolong, jangan panggil saya nyonya. Saya bukan majikan kamu. Panggil nama saja." Meski Lovely tidak suka dengan Alister yang menempatkan pengawal untuknya tapi ia tidak mau bertengkar lagi karena pertengkaran hanya membuatnya semakin stress. Saat ini, Lovely ingin tenang tanpa memikirkan apapun.


Tak lama, mobil Azil sampai di depan gedung apartemen. Azil mengantar Lovely dan Hebat sampai di depan pintu apartemen Lovely. Ia pergi setelah Lovely masuk ke dalam.


"Bagaimana tugas yang kuperintahkan?" tanya Alister saat Azil masuk ke dalam.


"Semuanya beres."


Mendengar jawaban Azil, membuat Alister lega karena rencananya berjalan sesuai keinginannya.


Di Apartemen baru Lovely.


Meski tinggal berdua bersama anaknya tapi ia merasa damai seperti ketika tinggal di luar negri. Lebih baik hidup seperti ini daripada hidup bersama keluarganya yang tidak pernah memikirkan perasaannya.

__ADS_1


Esoknya, Lovely memilih tinggal diam di apartemennya untuk menenangkan diri. Namun, ia tidak menyangka bahwa orang tua dan kakaknya malah datang menemuinya di apartemen.


"Silahkan duduk!" Meski tak senang dengan kedatangan mereka karena mereka pasti akan menyalahkannya gara-gara kejadian di pesta tapi Lovely tetap bersikap sopan pada kedua orang tuanya.


Tuan Arman dan istrinya pun duduk, sementara Levon menggendong Hebat ke kamar dan mengajaknya bermain di sana.


"Loly, kamu lebih senang tinggal di apartemen murahan ini ketimbang tinggal sama kami di rumah," sahut Nyonya Armiyanti.


"Tempat ini memang terlihat biasa Bu, tapi aku tenang dan senang tinggal di sini," jelas Lovely yang duduk di depan kedua orang tuanya.


Tuan Arman memberi kode pada istrinya untuk diam agar ia bisa bicara dengan Lovely, dan akhirnya Nyonya Armiyanti menurut. Lalu Tuan Arman fokus pada Lovely. "Loly, ayah datang kemari menemuimu bukan untuk menyalahkanmu lagi atas kejadian di pesta ulang tahun bibimu."


"Ayah nggak salahin aku?" tanya Lovely yang malah heran dengan sikap ayahnya. Ayahnya tiba-tiba saja mengalah dan tidak memarahinya.


"Iya. Setelah ayah berpikir panjang semalam, ayah akhirnya mengerti bahwa ayah harusnya tidak menyalahkanmu. Kalau kamu mau menikah dengan Alister, ayah sangat mendukung. Bahkan ayah akan mengatur pesta yang mewah untukmu, Loly!"


Lovely heran mendengar ucapan ayahnya dan ia mengerutkan keningnya menatap sang ayah. "Lalu bagaimana dengan bibi kecil kalau aku menikah dengan tunangannya."


"Kamu tidak usah memikirkan bibimu. Sekarang dia mengerti dan menerima semuanya. Ayah pun sudah berjanji untuk mencarikan laki-laki yang pantas untuknya. Kamu tidak perlu khawatirkan dia. Dia baik-baik saja Nak. Yang harus kamu pikirkan saat ini adalah Alister. Kamu beritahu padanya untuk datang melamarmu supaya orang-orang tidak berani bergosip lagi pada keluarga kita. Ayah benar-benar malu kalau Alister tidak jadi bagian dari keluarga kita," jelas Tuan Arman.


Namun, Lovely malah tersenyum getir mendengar penjelasan ayahnya. "Aku pikir, ayah menjodohkanku karena ayah memikirkan masa depanku. Aku mau marah tapi aku selalu menekankan dipikiran ku bahwa ayah berbuat seperti itu padaku karena menyayangiku. Ternyata ayah hanya peduli dengan kehormatan ayah, harga diri ayah dan rasa malu ayah di depan semua orang. Aku benar-benar kecewa sama ayah. Ayah nyatanya tidak pernah memikirkan perasaanku dan Bibi Jen."

__ADS_1


__ADS_2