Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Kapan Kalian Mau Menikah?


__ADS_3

Nyonya Arvita tidak peduli lagi dengan Alister. Ia menoleh melihat Lovely yang masih berdiri di depan kamar anaknya, dan Nyonya Arvita segera mendatangi Lovely sekedar untuk menyapa. “Lovely, kita sudah pernah ketemu sebelumnya. Jadi saya tidak perlu memperkenalkan diri sama kamu. Dan maksud kedatangan saya kemari untuk melihat keadaan Hebat, cucu saya. Boleh saya masuk melihatnya?”


Meski Nyonya Arvita merasa tidak perlu meminta izin pada Lovely untuk melihat cucunya tapi sebagai orang terhormat, ia tentu harus menghormati Lovely sebagai ibu kandung Hebat yang melahirkan dan merawat anak itu hingga saat ini.


“Silahkan Tante!” Lovely enggan mempertemukan anaknya dengan keluarga Alister tapi semua orang sudah tahu identitas Hebat. Oleh karena itu, ia terpaksa mengizinkan wanita paruh baya itu masuk ke dalam.


“Terima Kasih!” Nyonya Arvita membalas dengan datar. Kemudian, ia menarik Iren-anaknya, masuk bersamanya melihat Hebat.


Sementara Lovely dan Alister masih berada di luar. Untuk sesaat, mereka saling melihat satu sama lain, kemudian Alister mendekati Lovely yang terlihat marah padanya.


“Ini yang membuatku tidak senang kalau kamu tahu siapa Hebat. Kamu akan mengundang semua keluargamu datang melihatnya dan pada akhirnya keluargamu akan mengambil Hebat dariku. Ini juga alasanku ingin pergi dari sini. Itu karena aku tidak ingin berurusan dengan keluargamu, Tuan Alister,” ujar Lovely menatap Alister penuh benci.


Alister ingin meraih tangan Lovely tapi Lovely buru-buru menyingkirkan tangannya dari Alister. Itu membuat Alister tidak bisa menahan lagi perasaan kecewanya terhadap Lovely. “Kamu salah paham kalau kamu mengira keluargaku datang untuk mengambil Hebat. Mama dan adikku hanya ingin melihat kondisi Hebat. Aku juga tidak kasih tahu mereka tentang Hebat. Jadi …,”


Kalimat Alister terpotong kala Lovely malah membuka pintu kamar Hebat dan masuk ke dalam. Alister yang mencoba bersabar pada Lovely, ikut masuk ke dalam.


Lovely buru-buru mendekati anaknya. Bahkan mengambil alih tempat yang lebih dekat dengan Hebat di samping kepala Hebat.


“Halo sayang!” Nyonya Arvita sedikit kaget melihat sikap Lovely yang seolah tidak ingin dirinya dekat dengan Hebat. Namun, ia segera mengabaikannya dan lebih fokus menyapa Hebat.


Hebat yang baru pertama kali melihat Iren dan Nyonya Arvita, tidak mengatakan apapun. Hebat hanya memandang mereka dengan raut wajah bingung dan penasaran.


“Halo Hebat! Ini Tante Iren. Tantenya Hebat.” Iren yang melihat ibunya tak mendapat respon dari Hebat, ikut menyahut sembari tersenyum ramah menatap Hebat.


“Hebat masih dalam pemulihan. Tolong jangan katakan apapun padanya tentang hubungan Anda dengan anak saya.” Lovely tidak senang mendengar Iren yang langsung ingin memberitahu hubungan mereka hingga ia menyahut tegas pada Iren.


“Iren. Kamu jangan bicara dulu tentang masalah itu. Kita lakukan pelan-pelan. Oke!” sahut Alister yang berdiri di samping Lovely.

__ADS_1


Raut wajah Iren pun tidak senang melihat sikap kakaknya yang malah membela Lovely. Padahal ia hanya ingin Hebat tahu siapa dirinya, dan menurutnya wajar Hebat tahu. Bahkan jika Hebat masih kecil, Hebat harus tahu jika dirinya punya keluarga.


“Hebat. Bagaimana keadaannya Hebat? Apa ada yang sakit Nak?” tanya Nyonya Arvita.


Hebat menggeleng pelan. “Terima kasih sudah datang melihat Hebat!”


Nyonya Arvita tersenyum bangga melihat respon Hebat. Ia pun tidak menyangka anak itu bisa berterima kasih padanya layaknya orang dewasa. "Ternyata kamu lebih dewasa dari usiamu Nak."


Hebat hanya tersenyum mendengar pujian Nyonya Arvita.


"Nyonya, saya juga berterima kasih karena sudah datang jenguk Hebat," sahut Lovely.


"Ini memang harus saya lakukan tapi ngomong-ngomong, kapan kalian mau menikah?"


Pertanyaan Nyonya Arvita membuat Lovely dan Alister kaget. Keduanya saling melihat dan Alister tampak malu, tak enak hati pada Lovely karena ia belum melamar Lovely tapi mamanya sudah menanyakan masalah pernikahan.


Sementara Lovely diam, tak bisa berkata-kata mendengar pertanyaan Nyonya Arvita hingga membuat Nyonya Arvita bingung.


"Oh begitu."


Nyonya Arvita kembali fokus dengan Hebat. Ia dan Iren mengajak Hebat mengobrol. Sekitar setengah jam lebih, Nyonya Arvita dan Iren pamit pulang pada Lovely. Namun tidak membiarkan Alister meninggalkan kamar inap Hebat ketika Alister menawarkan diri untuk mengantar mereka pulang.


"Sebaiknya kamu pulang juga," ujar Lovely.


"Kamu dengar sendiri kan? Ibuku tidak ingin aku meninggalkan Hebat. Jadi aku tetap harus di sini!"


"Aku tidak ada urusan dengan Nyonya Arvita. Mau beliau bilang apapun, nggak ada pengaruhnya padaku," tegas Lovely lalu masuk kembali ke kamar anaknya.

__ADS_1


Alister ikut masuk tapi masih tidak dipedulikan oleh Lovely. Pria itu tidak peduli. Ia tetap di samping Hebat. Bahkan menjadi seorang pendongeng untuk anaknya. Lovely yang sibuk membuka makan malam untuk Hebat, sesekali melirik Alister yang juga tengah curi-curi pandang kearahnya.


"Hebat. Ayo makan Nak!" kata Lovely sembari duduk di sebelah Hebat.


"Berikan padaku. Aku ingin menyuapinya!" pinta Alister sembari mengulurkan tangannya di depan Lovely.


Lovely yang ingin tenang, memberikan mangkuk bubur itu pada Alister. "Terima kasih!" Kemudian Alister menoleh ke anaknya sambil menyodorkan satu sendok bubur, "ayo nak! Aaaaa haapp!"


Alister senang melihat Hebat menerima suapannya. Ia menikmatinya sampai hanya fokus dengan Hebat. Sementara Lovely keluar kamar ketika ia menerima telfon dari Levon.


"Kakak kirim makan malam!"


"Iya. Kakak nggak bisa temani kamu malam ini dan cuma bisa kirim makan malam untukmu tapi besok, kakak janji bakal datang ke sana soalnya sekarang kakak sibuk ngurus perusahaan. Ayah nggak bisa ngerjain semuanya setelah Bibi tiada."


Walau masih dalam kondisi berkabung, Levon dan ayahnya tetap sibuk dengan perusahaan keluarga. Terlebih banyak pekerjaan tertunda yang ditinggalkan Jenar.


"Oh nggak apa-apa kok."


"Gimana? Kamu udah terima makanannya?" tanya Levon dibalik telfon.


"Nih aku ada di depan. Dan aku udah ambil makanannya dari supir yang antar." Lovely masuk kembali ke dalam setelah dirinya berterima kasih pada supir pengantar itu. Di dalam Alister masih menyuapi anaknya, dan Lovely datang memberikannya makan malam.


"Kamu belum makan malam kan? Ini makanan yang dibawa ...,"


"Siapa yang bawa? Teman kamu si Brey?" Entah kenapa Alister berubah lagi menjadi over dan berpikir negatif.


Ketika ia melihat Lovely mengangkat panggilan dan memilih keluar, Alister memang sudah berpikir bahwa Lovely sengaja menghindar karena berbicara dengan Brey.

__ADS_1


"Itu makanan dari Kak Levon. Kalau nggak mau makan ya sudah. Nggak usah banyak alasan." Karena kesal, Lovely mengambil kembali makanan yang ia letakkan di atas meja depan Alister.


Namun Alister meraihnya kembali. "Siapa bilang nggak mau? Aku mau kok."


__ADS_2