
Delapan bulan kemudian.
Lovely tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana yang disediakan Jenar ketika berangkat ke Amerika. Dan ia tinggal sendiri tanpa ditemani siapapun, bahkan Lovely menjalani hidupnya dengan begitu sulit. Ayahnya yang mengirimnya ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya sekaligus menjauh dari keluarga, hanya membayar uang kuliahnya saja. Sang ayah tidak memberikannya uang lebih atau uang makan selama tinggal delapan bulan di Amerika. Alhasil, Lovely harus banting tulang untuk sekedar membeli buku-buku pelajarannya di sana dan juga uang jajan untuk mengisi perutnya. Gadis berusia delapan belas tahun itu, sama sekali tak punya uang tabungan. Uang tiga puluh juta yang ia kumpulkan selama sekolah dulu, habis bulan lalu untuk membayar kontrakannya selama setahun ke depan. Ternyata untuk tinggal di sana, Lovely harus membayar uang rumah terlebih dulu untuk ke depannya. Tidak seperti di Indonesia yang boleh bayar kontrakan setiap bulan. Meski begitu, Lovely merasa lega dan bisa bernafas sedikit karena tidak memikirkan masalah tempat tinggalnya.
Hari ini, Lovely datang ke rumah Nyonya Margaret. Setiap hari, ia menjadi tukang cuci yang siap dipanggil kapanpun. Nyonya Margaret adalah tetangga di sebelah rumah kontrakan Lovely. Wanita paruh baya itu orang yang sangat baik, dan Lovely tidak sulit bekerja di sana karena kebaikan Nyonya Margaret padanya. Mungkin karena mereka satu kewarganegaraan. Nyonya Margaret sama seperti Lovely. Orang Indonesia yang menetap di Amerika, tapi bedanya, Lovely tinggal di Amerika karena terpaksa, sedangkan Nyonya Margaret tinggal di sana karena mengikuti kewarganegraan suaminya.
Lovely kini berada di tempat cucian pakaian Nyonya Margaret. Pakaian menumpuk di sana sudah menunggunya sejak tadi. Rasa lelah melanda Lovely karena sebelum datang ke tempat Nyonya Margaret, ia datang lebih dulu ke rumah Nyonya Briella untuk menjadi tukang bersih-bersih rumah di sana. Meski begitu, Lovely tetap semangat melakukan pekerjaannya itu. Satu persatu pakaian berwarna ia pisahkan dari pakaian putih Nyonya Margaret. Sesekali, ia berdiri tegak sembari mengusap-usap pinggangnya yang sakit agar lebih enakan.
Perut besar karena kehamilan tuanya, membuatnya sulit untuk bergerak bebas tapi Lovely tidak pernah mengeluhkan itu. Ia tetap mengusap perutnya jika merasa tidak nyaman.
Di tengah kesibukan Lovely, Nyonya Margaret datang untuk memberikan tugas baru untuk Lovely. Dan Lovely yang tadinya duduk istirahat, berdiri ketika melihat Nyonya Margaret datang, sekedar menjaga sopan santunnya pada Nyonya Margaret.
“Lovely, kalau sudah selesai. Tolong bantu saya cuci piring ya! Nanti saya tambahkan bayarannya!”
__ADS_1
“Baik Nyonya!”
“Oh ya, tadi kamu tidak direpotin sama Nyonya Briella kan?” tanya Nyonya Margaret yang khawatir dengan Lovely jika datang ke rumah Nyonya Briella karena ia tahu bahwa Nyonya Briella adalah orang yang pemarah. Masalah kecil dan besar akan dipermasalahkan olehnya.
“Nggak Nyonya. Habis kerja, saya pamit pulang sama beliau. Beliau kayaknya baik-baik aja. Nggak banyak ngomong sama saya.” Lovely pun tahu sifat Nyonya Briella karena beberapa kali Lovely mendapat amarah dari Nyonya Briella tapi ia tetap tidak kapok bekerja di sana. Selama bayaran dari pekerjaannya dibayar lunas maka ia pun akan baik-baik saja meski diperlakukan kasar sama orang.
“Syukurlah kalau dia tidak macam-macam sama kamu! Kalau misalnya dia main fisik, kamu kasih tahu saya. Saya akan balas dia untuk kamu.” Nyonya Margaret kasihan dengan Lovely yang hidup sendiri di negara orang dalam keadaan hamil, bahkan harus banting tulang untuk dirinya sendiri hingga ia akan menjadi orang terdepan membela Lovely dari orang-orang seperti Nyonya Briella.
“Iya Nyonya. Sebelumnya terima kasih atas perhatiannya!” Lovely merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Nyonya Margaret, dan ia menganggap bahwa Nyonya Margaret adalah nasib baik yang dikirim tuhan untuknya yang hidup sebatang kara di negri orang. Terlebih, Nyonya Margaret adalah orang Indonesia. Lovely seolah bersama dengan ibunya.
“Siap Nyonya!”
Nyonya Margaret pun meninggalkan Lovely sendiri di sana. Lalu, dua jam kemudian. Lovely akhirnya selesai melakukan pekerjaannya, dan ia juga sudah memakan makanan yang disediakan Nyonya Margaret untuknya.
__ADS_1
Lovely berdiri di depan rumah Nyonya Margaret. Ia tersenyum sembari mengelus-elus perut besarnya. “Anakku, hari ini kita lanjut olahraga lagi ya. Pokoknya anakku harus tetap kuat biar mama bisa dapat uang banyak terus kita bisa makan daging!”
Setelah menyemangati anak di dalam perutnya, Lovely melanjutkan kegiatannya hari ini. Ia berangkat ke kampus dengan naik bus setengah jalan. Ia berhenti di halte kedua dan karena harus naik taksi dari halte kedua ke kampusnya, Lovely memilih berjalan kaki. Sebenarnya ia masih lelah dan ingin terus naik mobil saja tetapi ia lebih memilih berjalan kaki karena ingin berhemat. Daripada harus naik taksi sampai di kampus yang pasti mengambil banyak uangnya, lebih baik susah sedikit agar bisa makan daging yang sangat ia idam-idamkan.
“Capek banget! Jalan satu kilo, benar-benar nguras tenaga!” keluh Lovely yang suda sampai di University of Chicago. Ia masuk setelah mengatur nafasnya dengan baik. Di kampus itu, ia tidak mendapat hinaan dan cibiran dari orang. Orang di sana tidak ada yang mempedulikan bagaimana dirinya. Mereka bahkan saling menyapa jika satu jurusan dan satu kelas. Salah satu kebahagiaan Lovely tinggal di luar negeri adalah karena pandangan orang di sana sangat berbeda dengan orang di Indonesia. Dan kebahagiaan lainnya, Lovely tidak mendapat tekanan lagi dari keluarganya,juga teman-teman sekolahnya.
Lima hari kemudian. Saat bekerja di rumah Nyonya Briella, Lovely tiba-tiba ingin melahirkan, padahal masih ada lima hari lagi tanggal yang ditentukan dokter kandungannya. Untung saja Nyonya Briella masih punya hati nurani. Ia mengantar Lovely ke Rumah Sakit bahkan bersedia menunggu Lovely sampai selesai melahirkan anaknya.
Nyonya Margaret juga datang ke Rumah Sakit setelah mendengar dari Nyonya Briella bahwa Lovely melahirkan di rumah sakit. Kedua wanita paruh baya itu menjadi pendamping Lovely di Rumah Sakit, dan sikap mereka seperti mertua dan ibu kandung Lovely yang tengah menanti kelahiran cucu mereka.
“Terima kasih nyonya, nyonya! Anda berdua selalu baik sama saya. Bahkan mendampingi saya sampai sekarang!” kata Lovely menitihkan air matanya.
“Itu karena saya tidak mau kehilangan tukang cuci handal seperti kamu,” sahut Nyonya Briella.
__ADS_1
“Sama-sama Lovely. Saya juga senang bisa berada di sini, menemani kamu. Dan anakmu sangat lucu. Dia pegang jemari saya. Mungkin dia kira saya omanya,” imbuh Nyonya Margaret.
Lovely tersenyum melihat kedua nyonya itu. Lalu dengan lembut dan penuh kasih sayang, ia mencium kening bayinya.