Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Pasangan yang Cocok


__ADS_3

Kali ini Tuan Arman tidak menyuruh anaknya kencan buta, malah beliau memanggil sang pria pilihannya untuk datang ke rumah bertemu langsung dengan Lovely. Hal itu ia lakukan demi menghindari kegagalan rencananya untuk menikahkan Lovely segera dengan pria pilihannya.


Lovely turun dari lantai dua kamarnya setelah dipanggil oleh pembantu rumahnya. Ia mendatangi ayahnya yang kini duduk bersama seorang pria muda nan tampan. Namun, pria yang duduk di ruang tamu itu, malah membuat Lovely terkejut, sebab ternyata pria itu adalah Brey-sahabatnya semasa di SMP.


Brey yang melihat Lovely berdiri untuk menyapa wanita itu tapi wajahnya sama sekali tak kaget seperti Lovely. Itu karena sebelumnya, Brey sudah melihat wanita yang dijodohkan dengannya lewat foto yang dikirim Tuan Arman.


Sambil tersenyum, Brey mengulurkan tangannya pada Lovely.


"Hai selamat pagi Nona Lovely!" Brey menyapa Lovely seolah tak mengenal Lovely.


Lovely mengikuti sikap pria itu dengan bersikap biasa seperti baru melihat Brey. "Selamat pagi! Kamu ...,"


"Oh aku lupa memperkenalkan diri. Aku Breyga Hermawan."


"Lovely, dia ini anak rekan bisnis ayah. Papanya punya perusahaan kosmetik yang cukup sukses di Jakarta dan Surabaya. Sekarang Nak Breyga ini sudah jadi pengacara. Dia baru pulang dari London dan langsung ke sini setelah tahu kalau ayah dan papanya menjodohkan dia denganmu. Dan Nak Brey ini lulusan terbaik di luar negri, Lovely. Dia cerdas dan laki-laki bertanggung jawab." Tuan Arman mulai lagi memuji calon pilihannya dengan senyuman lebar.


Lovely tidak mengatakan apapun tapi ia tetap tersenyum hanya untuk menyenangkan ayahnya, dan juga menghargai Breyga meski sebenarnya ia masih tak senang dijodohkan dengan temannya sendiri.


"Om Arman terlalu berlebihan memuji. Saya ini juga banyak kekurangannya Om," sahut Brey merendah.


"Kamu memang pria yang baik Nak Brey. Masih saja merendah di depan Om. Bahkan setelah tahu Lovely punya anak adopsi, kamu masih bersedia datang." Kali ini Tuan Arman menjelaskan pada Brey bahwa Lovely punya anak yang dirawatnya sejak bayi agar Lovely tidak punya kesempatan untuk mengacau seperti yang dilakukan Lovely pada Ridwan.


Brey sama sekali tak terkejut karena sudah mendengar dari Tuan Arman tentang cerita Lovely yang mengadopsi anak. Ia hanya tersenyum sembari melihat Lovely sebentar. Dan raut wajah Lovely tampak tak senang. Bagaimana tidak, Tuan Arman tidak mengakui Hebat sebagai cucunya sendiri bahkan memalsukan kelahiran Hebat sebagai anak adopsi. Itu dilakukan Tuan Arman ketika Lovely baru saja melahirkan Hebat, dan yang masih sangat muda, tidak bisa melakukan apapun. Terlebih saat Tuan Arman mengancamnya akan memisahkannya dari Hebat.


"Oke. Kalian lanjutkan obrolannya. Om tinggal dulu ke kantor!" kata Tuan Arman.

__ADS_1


"Iya Om." Brey membungkuk pada Tuan Arman untuk menghormati pria paruh baya itu. Dan setelah Tuan Arman pergi, keduanya sama-sama duduk.


Namun raut wajah Lovely masih tampak serius melihat Brey dan Brey tahu dari ekspresi Lovely bahwa wanita itu meminta penjelasan darinya.


"Kalau mau tanya, tanya aja. Jangan melihatku seperti itu! Kau seperti mau melahapku saja!"


"Kamu tahu apa yang mau kutanyakan. Harusnya kamu jelasin langsung, nggak harus nunggu aku tanya dulu!" kata Lovely.


"Oke, aku jelasin. Jadi sebulan lalu, papa kirim foto beberapa perempuan untuk aku pilih. Dan aku tidak suka dijodoh-jodohkan oleh mereka tapi aku juga nggak mau bikin kedua orang tua kecewa, jadi pas aku lihat foto kamu diantara foto-foto para perempuan itu, aku terpaksa setuju. Lagipula aku tahu, kamu juga pasti dipaksa sama Om Amran makanya aku tenang kalau pilih kamu." Sebenarnya Brey memilih Lovely bukan karena terpaksa. Pria itu memilih Lovely memang karena menyukai Lovely dan tentu senang ketika tahu ia dijodohkan dengan Lovely. Hanya saja ia tidak jujur pada Lovely karena ia tidak ingin Lovely merasa tak nyaman dengannya.


Lovely yang tadinya serius melihat Brey, kini tampak santai. Bahkan ia berdiri dan duduk di sebelah Brey agar lebih nyaman bicara. Brey sedikit kaget melihat Lovely tiba-tiba duduk di sebelahnya. Ia canggung dan salah tingkah sendiri.


Brey memang sudah lama mengenal Lovely. Dari sejak mereka duduk dibangku SMP tapi karena Lovely adalah wanita yang sudah lama mengambil hatinya jadi ia selalu canggung dan tingkah sendiri setiap kali wanita itu mendekatinya tapi itu hanya sebentar saja ketika ia sadar lagi bahwa ia tidak boleh menunjukkan sikapnya yang canggung.


"Jadi Brey, ayah itu kalau udah pilih laki-laki dan kalau beliau udah suka, dia bakal berusaha untuk menjadikan dia menantunya. Kalau seperti itu, berarti sama aja kamu bikin aku susah. Bukan cuma aku aja sih tapi kamu yang datang cuma karena kenal aku. Terus kalau udah kayak gitu, kamu bakal ngapain. Masa kamu beneran mau nikah sama aku." Kening Lovely mengerut dan ia memicingkan matanya melihat Brey seolah tengah mencurigai sesuatu yang dilakukan Brey.


"Lalu kenapa?" tanya Lovely penasaran.


"Cuma mau nostalgia aja sama kamu, karena udah lama sekali kita nggak pernah ketemu. Dan tadi juga aku sudah bilang, kalau aku terpaksa. Terus terang, kalau pilih kamu, aku tahu kamu nggak bakal dituntut untuk nikah dan kita bisa pura-pura saling suka. Beda kalau cewek lain. Aku pasti disuruh nikahin mereka." Brey baru bertemu lagi dengan Lovely sejak ia pergi enam tahun lalu. Baginya terlalu awal untuk jujur dengan perasaannya.


Lovely tersenyum setelah mendengar penjelasan Brey. "Akhirnya aku punya pasangan yang cocok."


Brey tampak kaget karena mengira Lovely telah mengakuinya sebagai pasangannya. "Kamu mau menikah denganku?"


Lovely langsung memukul bahu Brey. "Sembarangan."

__ADS_1


"Sakit!" keluh Brey sambil mengusap-usap bahunya.


"Aku nggak mau nikah sama kamu. Aku bilang pasangan cocok untuk pura-pura di depan ayah biar dia berhenti cari laki-laki untukku," jelas Lovely.


"Mama!" Di tengah obrolan mereka, Hebat berseru sambil berlari mendatangi Lovely.


Lovely yang melihat anaknya langsung menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Brey. "Kok lari-lari sih sayang."


"Hihihi." Hebat hanya tertawa kecil melihat ibunya.


"Dia anak kamu, Loly?" tanya Brey.


"Iya," jawab Lovely sambil melihat Brey lalu kembali menatap Hebat. "Hebat, ini temannya mama, Om Brey. Ayo beri salam dulu sama Om Brey nya."


Hebat yang bermuka datar, lantas maju mendekati Brey lalu membungkuk hormat. "Halo Om Brey!"


Brey tersenyum. "Hai Nak! Namamu Hebat ya?"


Hebat mengangguk.


"Kamu gagah sekali Hebat," puji Brey sembari mengelus kepala Hebat.


"Nona Lovely, di depan ada laki-laki yang cari Anda." Tiba-tiba pembantu datang melapor pada Lovely.


"Laki-laki? Siapa?"

__ADS_1


"Saya tidak tahu. Dia bilang ingin ketemu sama nona!"


Lovely diam sambil membatin, 'jangan-jangan pria itu yang datang.'


__ADS_2