Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Bayaran Untuk Semalam


__ADS_3

"Anda sudah mabuk Nona!" Alister berucap sembari berusaha melepaskan tangan Lovely dengan menarik pelan kedua tangan wanita itu dari lehernya. Alister seperti itu bukan karena tidak suka berdekatan dengan seorang wanita. Ia suka, bahkan selalu tidur dengan wanita yang ia inginkan tapi ia bukan tipe laki-laki yang langsung mengikuti keinginan perempuan meski wanita yang berdiri di hadapannya saat ini adalah wanita cantik. Ia sama sekali tidak tertarik pada wanita yang sudah memiliki pasangan.


"Saya nggak mabuk. Saya sadar sepenuhnya Tuan. Tidurlah dengan saya!" Lovely kembali melingkarkan kedua tangannya dileher Alister.


Alister sedikit kesal melihat kelakuan Lovely tapi ia tidak ingin membuat masalah di tempat itu dengan seorang perempuan hingga Alister membiarkan tangan Lovely dilehernya. "Kau sudah dua kali mengajakku tidur. Apa kau sadar, kau sedang bicara dengan seorang laki-laki normal, Nona?"


Lovely tersenyum sembari berjinjit hingga bibirnya dekat dengan wajah Alister. "Saya serius. Sekarang saya ingin sekali tidur dengan pria dewasa yang punya wajah rupawan seperti Anda. Bukan pria brengsek seperti laki-laki di belakang saya."


Alister melihat Ridwan yang berdiri di belakang Lovely. Wajah pria itu tampak marah, dan Alister akhirnya paham kenapa perempuan itu malah mendatanginya padahal punya pasangan sendiri. "Ternyata begitu."


Lovely tersenyum melihat Alister yang seolah tahu alasannya seperti itu. "Apa yang Anda tahu?"


"Kau tidak menginginkan pria brengsek seperti dia. Dan aku bisa menebak kalau kau sedang mengacaukan kencanmu dengan pria itu tapi apa kau tahu, kalau aku juga pria brengsek Nona."


"Memang kenapa kalau Anda brengsek? Saya lebih suka pria tampan seperti Anda daripada pria seperti dia." Lovely tidak peduli tentang Alister yang katanya brengsek. Toh ia tidak kenal dengan pria itu. Ia mendatangi Alister pun hanya ingin mengacaukan rencana ayahnya dan menyingkirkan Ridwan darinya. Bukan menjadikan Alister pasangan hidupnya. Sementara Ridwan pergi dengan penuh amarah.


Alister memegang dagu Lovely lalu tersenyum miring menatap Lovely, dan disaat yang sama, Lovely malah mencium bibir Alister.

__ADS_1


Alister terkejut. Mata coklat pria itu membulat sempurna tapi ia menutup matanya dan menikmati sentuhan bibir Lovely ketika Lovely terus mencium bibirnya. Bahkan tangan Alister perlahan menyentuh pinggang Lovely lalu menariknya sampai wanita itu menempel padanya. Tak bisa dipungkiri, Alister yang sempat menolak tadi, kini tergoda wanita cantik itu. Terlebih ketika merasakan bibir lembut Lovely.


Detik berikutnya, Alister melepaskan bibirnya dari bibir Lovely lalu berbisik ditelinga wanita itu. "Aku punya kamar di sini! Apa kau ingin pindah ke sana?"


"Terserah Anda, Tuan!" Sudahlah. Lovely terlanjur melempar dirinya pada pria itu. Ia mengiyakan saja dengan keadaan dirinya yang setengah sadar.


Alister tersenyum miring. Ditawarkan kenikmatan oleh wanita cantik yang juga menyukai hal nikmat itu, tentu tidak bisa ia tolak. Terlebih ia menyukai bibir Lovely yang menyentuh bibirnya seolah ia pernah merasakan bibir lembut wanita itu.


"Oke. Aku akan membawamu ke sana!" Melihat Lovely tidak bisa berjalan karena mabuk, hingga Alister menggendong Lovely.


Setelah berada di kamar, Alister menurunkan Lovely lalu mendorong tubuh wanita itu ke dinding dan langsung mencium bibir Lovely. Lovely membalas sentuhan Alister. Ia kembali merangkul leher pria itu, dan terus mencium bibir Alister.


Nafas terengah-engah dari Alister terdengar di ruangan itu, dan Lovely bisa merasakan nafas panas dari mulut Alister ditelinga nya, membuat tubuhnya pun terasa panas menggelitik.


Alister ingin mencari posisi yang nyaman hingga ia menggendong Lovely ke kasur. Perlahan ia menurunkan tubuh wanita itu di atas kasur lalu berdiri kembali dan melepas semua pakaiannya sampai hanya tertinggal celana hitam pendeknya.


Pria itu naik ke kasur- dan berada di atas tubuh Lovely yang berbaring terlentang. Perlahan, kedua tangannya masuk ke gaun Lovely dan meraba-raba kulit mulus wanita itu kemudian melepas dalaman Lovely.

__ADS_1


Detik berikutnya, Alister memindahkan tangannya ke gunung kembar Lovely, meremasnya dengan lembut sampai Lovely mengeluarkan suara desahannya.


Alister menyukai suara lembut wanita itu, ia ingin terus mendengarnya hingga ia memainkan puncak merah mudah yang menonjol dengan mulutnya. Ia memasukkan ke dalam mulutnya, menghisapnya berkali-kali. Menit demi menit berlalu, Alister puas mencium, menikmati kulit mulus Lovely yang meninggalkan bekas memerah yang hampir memenuhi tubuh Lovely. Pria itu pun memasukkan miliknya ke milik Lovely, bersamaan suara erangannya dan suara ******* Lovely.


Malam semakin larut, waktu semakin berjalan dan Alister berkali-kali memasukkan miliknya sampai ia merasa puas. Lovely tidak mengeluh sedikitpun, ia mengikuti keinginan pria itu yang lebih dominan dari dirinya hingga akhirnya Alister berhenti sendiri. Lovely tidak mengatakan apapun. Ia yang mabuk dan kelelahan langsung tertidur di sana, sementara Alister duduk bersandar di sandaran kasur sembari merokok. Habis bercinta, ia malah tak bisa tidur karena tiba-tiba saja terganggu oleh sesuatu. Sesekali Alister melihat Lovely yang tertidur dengan memakai selimut. Setelah rokoknya habis, barulah Alister berbaring lalu menutup matanya.


Esok paginya, Lovely membuka matanya lebih dulu. Ia bangun sembari memegang kepalanya yang sungguh berat dan begitu sakit. Lalu, ia menoleh ke samping di mana Alister masih tertidur di sana.


"Astaga!" Lovely sedikit terkejut tapi kemudian ia sadar dan ingat tentang kejadian semalam.


"Lagi-lagi aku tidur dengan pria tak dikenal. Ini sudah kedua kalinya aku begini walau yang ini bukan jebakan tapi keinginanku sendiri." Buru-buru Lovely berdiri lalu memungut pakaiannya dan memakainya. Setelah berpakaian dan merapikan rambutnya, Lovely mengambil tasnya yang ia jatuhkan semalam ke lantai.


Untuk sesaat, Lovely berdiri menatap pria itu. "Dia ini laki-laki yang cuma minum saja di bar atau dia seorang call boy?" Meski Lovely tidak pernah ke bar atau tempat hiburan seperti itu tapi ia tahu apa itu Call Boy. Di Amerika Call Boy sangat populer. Mereka dibayar untuk melakukan permintaan pelanggan wanitanya yang kesepian.


"Aku nggak tahu dia pria seperti itu atau bukan tapi aku nggak bisa pergi gitu aja setelah kejadian semalam di luar. Lebih baik aku kasih dia uang," gumam Lovely sembari menatap Alister yang tidur dengan posisi tengkurap.


"Ini untuk bayaranmu semalam. Semoga kita nggak ketemu lagi." Lovely meninggalkan uang serta memo di atas meja kemudian meninggalkan kamar itu. Setelah keluar dari bar itu, ponsel Lovely berdering tapi ia membiarkannya saja dan memilih naik taksi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Hebat pasti menangis. Haaaa, gara-gara mabuk, aku sampai berakhir tidur dengan Call Boy. Dan semuanya juga gara-gara Ridwan. Pria brengsek itu pasti akan mengadu pada ayah," gumam Lovely yang sebenarnya takut pada ayahnya meski ia sudah memprediksi bahwa akan ada masalah di rumahnya setelah masalah yang ia buat semalam pada Ridwan.


__ADS_2