Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Hadiah Untuk Semua Orang


__ADS_3

Mobil hitam milik Alister kini terparkir di samping rumah Tuan Arman. Alister yang tidak ingin memberitahu keberadaannya pada Jenar dan semua orang sengaja menyuruh si supir memarkir di samping bukan di depan rumah agar tidak dilihat dengan mudah oleh orang.


"Turunlah dan bagikan semua hadiah itu atas namaku tapi jangan beritahu mereka kalau aku datang!"


Sang supir yang duduk di depan, mengangguk. "Baik tuan."


"Dan berikan kertas memo ini pada Cinta," ucap Alister sembari menyodorkan sebuah kertas kecil sudah terlipat pada Pak Imron.


Pak Imron mengambilnya tapi ia terlihat bingung. "Cinta siapa tuan?"


"Lovely."


"Oh saya mengerti Tuan."


"Kau paham apa yang harus kau lakukan agar pesanku sampai ke Cinta tanpa diketahui semua orang?" tanya Alister memastikan itu.


"Tahu tuan."


"Dan ingat, Cinta tidak tahu kalau aku Alister. Jangan sampai dia tahu kalau orang yang kasih dia pesan adalah tunangan bibinya. Kau paham." Alister tidak mau rencana mendapatkan Lovely gagal hanya karena Pak Imron yang membuat kesalahan hingga Alister kembali mengingatkan Pak Imron.


"Paham tuan." Pak Imron pun keluar dari mobil lalu mengambil semua hadiah di bagasi mobil. Setelah itu, masuk ke rumah.


Jenar yang menunggu di dalam buru-buru membuka pintu ketika mendengar suara bel. Sejak tadi ia menunggu kedatangan Alister karena sebelumnya, Azil-asisten Alister sudah menghubunginya dan mengatakan bahwa Alister ingin membawa hadiah untuk semua orang di rumah. Jenar yang menganggap bahwa Alister peduli padanya, mengira bahwa Alister akan datang sendiri ke rumahnya. Namun nyatanya, pria yang Jenar harapkan tidak ada di hadapannya. Wajahnya pun kecewa melihat Pak Imron berdiri di depannya tanpa Alister.


"Pak Im datang sendiri?" tanya Jenar pada Pak Imron tapi matanya melihat keluar, berharap ada Alister berjalan dari sana.


"Sayang sekali Nona. Tuan Alister sibuk sekali dengan pekerjaan kantor. Beliau sekarang sedang mengadakan pertemuan di Hotel bersama Tuan Azil dan yang lainnya." Pak Imron mengikuti semua arahan Alister, termasuk kebohongan yang ia sampaikan pada Jenar.

__ADS_1


"Di hotel mana? Aku akan ke sana untuk lihat dia. Sekalian bawakan makan malam karena pasti dia lupa makan lagi!"


"Tidak perlu Nona. Tuan tidak suka diganggu."


"Baiklah. Kalau begitu, silahkan masuk!" Jenar mempersilahkan Pak Imron masuk dengan tampangnya yang masih kecewa karena tidak ada Alister, bahkan tidak bisa menemui Alister untuk menunjukkan kepeduliannya pada pria itu.


Perhatian Jenar untuk Alister bukanlah kepura-puraan belaka hanya karena ingin terlihat baik dimata Alister yang sejak dulu diimpikan Tuan Arman untuk menyatukan keluarganya dengan keluarga Alister yang kaya serta terhormat di Kota Jakarta. Beliau berencana menjadikan Alister menantunya tapi sayang, Lovely hamil duluan. Itulah alasan Tuan Arman mengusir Lovely serta tidak ingin menerima anak yang dilahirkan Lovely karena menganggap bahwa anak itu sumber masalahnya.


Disaat Tuan Arman putus asa karena rencananya gagal, Jenar memberikan solusi dengan menjadi tunangan Alister. Tuan Arman yang sangat menyukai Alister, tentu setuju dengan solusi adiknya. Tak masalah tidak bisa menjadikan Alister menantunya, yang penting ia berhasil menyatukan keluarganya dengan keluarga terhormat mereka.


Jenar sungguh menyukai Alister dan begitu menginginkan Alister menjadi suaminya sebelum ia menjadi tunangan Alister. Saat mereka mengumumkan pertunangan mereka pun, Jenar merasa sangat beruntung. Bagaimana tidak, pria yang diimpikan sebagian wanita di negri ini, menjadi calon suaminya.


Pak Imron kini membagikan semua hadiah pada semua orang yang tengah duduk di ruang tengah. Tanpa terkecuali, termasuk para pembantu, dan ketika ia memberikan hadiah pada pembantu rumah, ia menyerahkan sebuah memo pada salah satu pembantu yang bernama Rahmi. Pak Imron juga membisikkan sesuatu pada Rahmi apa yang harusĀ  dikatakan pada Lovely. Rahmi adalah pembantu yang datang setahun lalu, dan pembantu itu bersedia melakukan apapun jika diberikan uang banyak, termasuk disuruh menyampaikan pesan pada Lovely tanpa diketahui semua orang di rumah itu.


"Nak Alister baik sekali. Dia sampai membagikan hadiah untuk kita semua. Padahal, dia tidak perlu melakukan hal ini." Amerta-ibu kandung Jenar, menyahut sembari memeriksa hadiah yang ia terima dari Pak Imron.


Sementara Rahmi kini berdiri di depan kamar Lovely. Ia baru saja mengetuk pintu kamar, dan tak lama Lovely membuka pintunya.


"Ada apa Mbak Rahmi?" tanya Lovely.


Rahmi menarik tangan Lovely sambil melihat ke kiri dan ke kanan, memastikan tak ada orang yang melihat lalu meletakkan memo di tangan Lovely.


"Ini apa Mbak Rahmi?" tanya Lovely melihat memo itu dengan raut wajahnya yang bingung.


"Di depan ada laki-laki yang kasih saya kertas ini, dan saya disuruh kasih sama Nona Lovely," jawab Rahmi.


"Siapa Mbak?" tanya Lovely penasaran.

__ADS_1


"Saya nggak tahu. Permisi Nona, saya mau ke bawah." Rahmi sudah menyampaikan pesan itu dan tugasnya sudah selesai hingga ia segera pergi dari sana.


Lovely masih berdiri di depan kamarnya, dan ia tengah membuka memo itu lalu membacanya.


"Cinta, aku ada di depan. Kamu mau, aku naik ke kamarmu atau kamu turun sendiri ke bawah dan temui aku di depan rumah."


Di bawah pesan itu, tertulis inisial A.


Meskipun hanya tertulis inisial namanya saja tapi Lovely tahu siapa orang yang mengirimnya pesan. Jelas, satu-satunya orang yang memanggilnya Cinta, hanyalah pria Call Boy itu.


"Dia bukannya kasih tahu namanya, malah kasih inisial begini. Memangnya aku peramal bisa nebak nama orang. Terus, dia ngapain sih datang ke rumah dan ngancam orang begini." Setelah bergumam kesal, Lovely kembali masuk ke kamarnya. Ia tidak mau menemui pria itu tapi ia penasaran mengenai siapa pria itu sampai membuat Pak Qomar datang dan berlutut di hadapannya.


Orang yang bisa membuat Pak Qomar berlutut minta maaf hanyalah orang yang punya kekuasaan, dan Lovely ingin tahu. Terlebih banyak yang ingin ia tanyakan pada pria itu.


"Menemuinya untuk tahu alasan dia mendekatiku, nggak masalah kan?" gumamnya.


Dengan penuh penasaran, Lovely keluar dari kamarnya setelah memakai switer untuk menutupi gaun tidurnya. Ia tidak punya kesempatan untuk mengganti pakaiannya karena takut pria itu nekat masuk ke rumahnya. Ia berjalan cepat menuruni tangga rumahnya, dan semua orang yang tengah duduk di ruang tengah, memperhatikan Lovely.


"Loly!" seru Jenar ketika Lovely berjalan cepat ke arah pintu.


Lovely menghentikan langkahnya. "Aku mau keluar cari angin, Bi."


"Loh, memangnya Hebat udah tidur?" tanya Jenar.


"Udah Kok. Aku keluar dulu ya." Lovely buru-buru keluar, dan Jenar sama sekali tak curiga apapun, ia hanya berpikir bahwa Lovely benar-benar ingin cari angin.


Lovely kini berdiri di depan pintu pagar rumahnya. Matanya melihat ke sana kemari, mencari sosok pria yang memberikannya pesan.

__ADS_1


"Cinta!"


__ADS_2