Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Perempuan Lain Alister


__ADS_3

Lovely sudah kembali ke rumah. Kini wanita itu tengah menghabiskan waktunya bermain ular tangga bersama Hebat. Namun, ia malah tak fokus. Pikirannya tidak ada dalam permainan. Ia malah memikirkan Alister yang memberikannya kejutan ulang tahun. Jujur saja, ia sangat tersentuh pada tindakan Alister kali ini. Terlebih Alister tidak memaksanya lagi melakukan sesuatu yang tidak disukainya.


"Mama!" seru Hebat tapi tidak dipedulikan Lovely. Ibunya itu malah senyum-senyum sendiri hingga Hebat meninginggikan suaranya, "Mamaaaa!"


Suara Hebat yang keras, sampai membuat Lovely kaget, dan pikirannya tentang Alister pun seketika menghilang bersamaan dengan keterkejutannya itu. "Ya sayang! Ada apa? Kamu sakit?"


"Mama yang sakit. Dari tadi, Hebat manggil mama tapi mama nggak nengok. Mama senyum terus kayak orang gila."


"Kok Hebat bilangin mama orang gila?"


"Ya karena mama senyum sendiri tanpa sebab. Kata Nyonya Margaret, kalau orang senyum sendiri tanpa sebab, berarti orang itu gila," jelas Hebat yang membuat Lovely langsung menghela nafas panjang.


"Mama itu senyum karena lagi senang. Dan senangnya itu karena bisa main sama Hebat."


Tanpa mengatakan apapun, Hebat tiba-tiba berdiri dan berlari mengambil sesuatu di laci mejanya. Sebuah kertas gambar ia ambil dari laci itu kemudian berlari kembali mendekati ibunya, dan menunjukkan kertas gambar itu yang sudah digambar oleh Hebat. "Selamat ulang tahun Mama!"


Lovely terharu melihat gambar anaknya. Meski gambar wanita dan anak kecil saling bergandengan, terlihat hancur tapi itu tetap membuat Lovely bangga pada anaknya yang memiliki empati padanya. Bahkan Lovely tak sadar telah meneteskan air matanya karena mendengar Hebat mengucapkan 'selamat ulang tahun' padanya. Hebat adalah orang kedua yang mengucapkan itu, dan itu cukup membuat Lovely sangat bahagia. Dengan penuh cinta, Lovely memeluk anak semata wayangnya itu. "Terima kasih sayang!"


Malamnya, Lovely mendapat kejutan ulang tahun dari Levon. Sang kakak membuat pesta kecil-kecilan di rumah sebelum makan malam. Itu pertama kalinya, Lovely merasakan kehangatan keluarganya lagi setelah delapan tahun berlalu.


Meski selama kepergian Levon, Jenar selalu mengucapkan selamat ulang tahun tapi tak ada pesta di rumah. Mereka hanya mengucapkan kalimat itu saja tapi Lovely tak pernah mengeluh. Selama mereka masih ingat, baginya itu sudah cukup.


"Loly, kata ayah. Kamu tidak suka dengan pesta tapi rasanya kakak tidak bisa mengabaikan ulang tahunmu ini dan hanya mengucapkannya saja. Makanya kakak bikin pesta sederhana di rumah."

__ADS_1


Lovely melirik ayahnya yang tampak biasa saja kemudian kembali fokus pada Levon. "Aku memang gak suka dengan pesta karena menurutku itu cuma buang-buang waktu dan tenaga. Ucapan saja sudah cukup bagiku tapi apapun itu, aku senang kok Kak."


Levon tersenyum lalu menyodorkan sebuah kado untuk Lovely. "Ini hadiah kakak untuk kamu."


Lovely meraih kotak kecil itu dan membukanya. Ternyata sebuah anting berlian mahal. Lovely senang sekali menerima hadiah mahal dari kakaknya. "Makasih Kak! Akhirnya aku punya barang mahal juga."


Levon malah tertawa kecil mendengar ucapan adiknya. "Kalau kamu suka, kakak akan belikan lagi."


"Benar ya?"


Levon menangguk, dan melihat kelakuan Lovely yang manja padanya, mengingatkannya sewaktu mereka masih kecil. Rasanya ia masih melihat sosok anak kecil manja yang selalu merengek minta boneka dan permen kepadanya. Sekarang Lovely sudah dewasa dan sifat anak kecilnya itu masih ada. Levon senang karena adiknya tidak berubah meski sudah dewasa.


"Ayah juga punya hadiah sama kamu. Coba kamu lihat di depan rumah!" sahut Tuan Arman.


"Hadiah ayah itu," tunjuk Lovely ke arah Brey.


Tuan Arman juga kaget melihat Brey di sana tapi kemudian ia beralih melihat mobil baru yang terparkir di belakang mobil Brey.


"Bukan itu tapi di sana!" kata Tuan Arman sembari menunjuk ke arah mobil barunya.


Mata semua orang tertuju pada mobil itu. Dan Lovely yang melihatnya, terkejut sampai matanya terbuka lebar.


"Ayah kasih aku mobil?" tanya Lovely memastikan.

__ADS_1


Tuan Arman mengangguk. "Itu hadiah karena kamu menuruti ayah untuk menerima Brey."


Tak peduli lah dengan ucapan ayahnya yang menghadiahkannya mobil karena dirinya menurut, Lovely lebih baik menikmati hadiahnya.


Malam hari, Lovely dan keluarganya makan malam besar untuk merayakan ulang tahunnya. Meski bukan pesta besar tapi ia begitu bahagia karena akhirnya ia bisa merasakan kehangatan keluarganya yang sudah bertahun-tahun menghilang.


Pukul sepuluh malam, mereka semua istirahat di kamar mereka masing-masing. Namun Lovely tidak bisa tidur. Setelah menidurkan Hebat, ia malah melamun sembari memandang jendela kamarnya yang tidak tertutup horden. Pikirannya saat ini tertuju pada Alister. "Sepertinya aku salah paham sama Ali. Aku kira, dia seperti laki-laki lain yang tahunya senang-senang dengan wanita yang membuatnya penasaran tapi ternyata dia cukup perhatian. Pertama kalinya, aku merasakan kehangatan orang lain darinya. Padahal aku baru mengenalnya. Kalau dia sebaik itu padaku, berarti aku juga harus baik padanya."


Nafas panjang lolos dari mulut Lovely lalu melihat ke arah anaknya yang tertidur pulas. "Kalau mau menjalin sebuah hubungan, kedua pasangan harus sama-sama jujur. Ali tahunya Hebat anak adopsiku tapi sebenarnya bukan. Kalau dia bisa menerima masa laluku dan juga bisa menerima Hebat, berarti dia memang laki-laki yang pantas untuk aku dan Hebat."


Sebenarnya ketika melahirkan Hebat, Lovely tidak pernah memikirkan untuk memiliki pasangan. Ia takut jika lelaki yang bersamanya, tidak menerima Hebat. Oleh sebab itu, ia menutup hatinya selama hingga Alister datang. Ditambah Lovely memikirkan nasehat Nyonya Margaret dan Miss Briella.


Esok harinya, Lovely mengajak Hebat ke Mall untuk belanja pakaian. Hari ini, ia ingin menemui Alister dengan membawa Hebat. Lalu mengatakan pada Alister siapa Hebat. Namun sebelum itu, ia dan Hebat membeli pakaian baru. Setelah itu, mengajak Alister nonton film kartun yang diinginkan Hebat.


Tanpa diduga, saat Lovely keluar dari mall dan berjalan ke parkiran mobil, Lovely malah melihat Alister bersama seorang perempuan cantik. Bahkan Alister merangkul perempuan itu dengan mesra.


"Aku pikir, aku satu-satunya. Ternyata dia punya perempuan lain."


Lovely sangat marah dan ia tidak mau pergi begitu saja sebelum memberikan pelajaran pada Alister. Ia juga tak mau perempuan lain ditipu oleh Alister. Dengan amarahnya, ia mengambil minuman Hebat. Hebat malah terlihat bingung melihat ibunya tapi bocah itu tetap mengikuti langkah ibunya yang mendatangi Alister.


"Rasakan ini." Lovely langsung menyiram atas kepala Alister dengan minuman itu.


Alister dan sosok perempuan itu, terkejut. Terutama Alister yang begitu syok melihat Lovely datang menyiram minuman kepadanya.

__ADS_1


"Sayang!"


__ADS_2