
Lovely dan keluarganya sedang makan malam. Terlihat Tuan Arman tengah memperhatikan Lovely yang menikmati makan malamnya bersama Hebat di sampingnya. Ia memperhatikan Lovely karena penasaran mengenai perkembangan hubungan anaknya dengan Brey. Terlebih ia mendengar laporan dari pembantu bahwa Lovely tadi pagi keluar jalan bersama seorang pria yang datang menjemputnya di rumah, dan Tuan Arman mengira bahwa pria itu adalah Brey.
"Loly!" panggil Tuan Arman yang membuat Lovely langsung menoleh ke ayahnya tapi tidak mengatakan apapun. Perempuan itu menunggu ayahnya bicara. "Bagaimana hubunganmu dengan Brey?" tanya Tuan Arman kemudian.
"Baik Yah."
"Tadi pagi ayah dengar Brey sampai jemput kamu di depan dan kalian keluar jalan-jalan sama Hebat. Apa tidak masalah dengan Brey kalau kamu terus bawa anak itu ke mana-mana?" Tuan Arman bicara tanpa melihat Lovely. Ia bicara sembari mengiris daging miliknya dan memasukkan ke mulutnya ketika selesai bicara.
Sikap Tuan Arman yang bicara tanpa melihat Lovely, malah fokus dengan makanannya, mengartikan bahwa pria paruh baya itu sedikit tidak senang, dan Lovely sadar dengan sikap ayahnya yang sudah biasa ia lihat, bahkan ia tahu kenapa ayahnya tampak tidak senang. Alasannya karena Hebat.
"Biar bagaimana pun Brey udah tahu kalau Hebat anak aku? Meskipun dia nggak tahu kebenarannya kayak apa? Aku nggak bisa mengabaikan Hebat cuma karena mementingkan acara jalan-jalan. Lagipula, Brey nggak masalah kok kalau ada Hebat, bahkan dia senang kalau aku bawah Hebat." Lovely tidak meluruskan kesalapahaman ayahnya yang mengira bahwa pria yang tadi pagi menjemputnya adalah Brey melainkan laki-laki lain karena ia lelah berdebat dengan ayahnya. Apalagi ia tidak mau mengenalkan pria yang membuat perasaannya ragu. Ditambah pria itu tidak tahu asal usulnya, dan sebenarnya ia tidak mau tahu itu.
"Brey mungkin bisa menerima kehadiran anak itu tapi tidak tahu dengan orang tuanya. Jadi, kalau bisa kamu jangan bawa Hebat ketemu sama orang tua Brey dulu. Anak itu hanya akan membawa bencana untuk keluarga kita. Terutama untuk masa depanmu." Tuan Arman tak segan-segang mengatakan hal itu di depan semua orang, bahkan di depan Hebat yang sudah mengerti obrolan orang dewasa.
Lovely kesal mendengar ucapan ayahnya tapi ia tidak ingin berdebat hingga ia mengeluarkan nafasnya pelan untuk menenangkan emosinya lalu meletakkan sendok dan garpunya. "Aku sudah kenyang."
Makanan dipiringnya belum habis bahkan Lovely baru memakannya dua sendok tapi ia tiba-tiba kenyang karena mendengar ucapan ayahnya. Ia berdiri sambil menarik tangan Hebat sampai berdiri dari tempatnya kemudian pamit pada semua orang.
"Kak Arman, kita sedang makan malam. Kalau mau menegur Loly atau menasehati dia, sebaiknya selesai makan saja." Jenar memperhatikan makanan Lovely yang tidak dihabiskan hingga ia ikut menyahut untuk membela Lovely.
__ADS_1
"Aku tidak tahan melihat anak haram itu mengacaukan masa depan Lovely. Lagian kamu, jangan selalu membela Loly. Dia jadi begitu karena kamu manja. Coba aja kalau dari dulu kamu tidak membelanya atau menuruti semua keinginannya, dia tidak akan terjerumus pergaulan bebas sampai hamil di luar nikah. Ayah anak itu saja, dia tidak tahu. Dasar anak sial!"
Di Kediaman Sandero, Alister juga tengah makan malam bersama keluarganya. Namun, suasana di rumah itu lebih tenang dibanding di rumah Tuan Arman.
"Kakak!"
"Bicaranya nanti saja setelah makan." Alister menegur tanpa melihat adiknya, dan hanya fokus dengan makanannya.
Setelah makan, mereka duduk santai di ruang tengah sembari menikmati teh dan cemilan malam yang disediakan sang pembantu di rumah itu. Setiap hari minggu, Alister memang selalu menghabiskan waktunya bersama keluarganya. Ia biasa duduk menonton tv bersama mereka jika selesai makan malam.
"Tadi pagi kakak ke mana lagi sampai bikin Kak Jen nunggu lama di rumah?" tanya Iren penasaran.
"Aku sibuk main golf."
Alister yang tadinya fokus menonton tv, menoleh melihat Iren. "Memang cuma di hotel saja yang punya lapangan golf. Di tempat lain juga ada. Aku main golf di sana karena bosan main di tempat yang sama."
"Iya tapi kakak nggak pernah angkat telfonku dan telfon Kak Jen. Harusnya kakak kasih tahu sama tunangan kakak dong biar aku juga nggak direpotin tiap hari ditanya, kakak ke mana? Kakak ngapain?"
Alister pusing mendengar ocehan adiknya yang hanya membahas tentang Jen hingga ia berdiri dari tempatnya sembari menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Kakak mau ke mana?"
"Mau kerja. Kalau gua nggak kerja, lo mau makan apa?" Alister bicara sembari menatap tajam adiknya.
Iren terkejut melihat kakaknya dan ia tahu jika Alister sudah bicara dengan kalimat seperti itu dan dengan nada tegas maka kakaknya itu sudah sangat kesal. Bahkan ia terdiam kaku dengan mata melotot melihat Alister pergi. "Kakak udah kesal banget kayaknya Ma. Apa kata-kataku emang salah tapi kan, aku cuma menyampaikan pesan Kak Jenar?" kata Iren melihat ibunya yang malah duduk tersenyum di sebelahnya.
"Lagian kamu selalu saja ikut campur urusan pribadi Alister."
"Aku kan, cuma berniat baik Ma," kata Iren membela diri.
"Biarkan saja Iren. Kalau kakakmu memang senang dan suka sama Jenar, dia pasti akan peduli dengan Jenar tanpa kamu nasehati. Tidak mungkin mengabaikan wanita itu kalau dia suka. Dan kalau tidak suka, yaaa terserah dia. Masalah percintaan Alister, harus dia sendiri yang tangani. Tidak perlu kamu ikut campur. Lebih baik kamu urus masalah percintaanmu sendiri sana," ucap Nyonya Arvita yang tidak pernah membebankan anaknya dengan masalah jodoh mereka. Ia membebaskan mereka untuk memilih sendiri.
"Jadi mama nggak masalah kalau kakak putus sama Kak Jen? Apa mama nggak suka sama Kak Jen?"
"Mama ngomong seperti tadi bukan karena tidak suka sama Jenar. Mama suka kok sama Jen tapi mama bilang begitu untuk membuatmu mengerti kalau kamu tidak punya hak untuk ikut campur masalah mereka karena bukan kamu yang menjalani tapi kakakmu dan Jenar. Sudahlah. Mama mau ke kamar!" Nyonya Arvita pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju lantai dua tetapi ia tidak melangkah ke kamarnya melainkan mendatangi Alister yang berada di ruang kerjanya.
Kalau aku sih nggak mau. Aku udah respect sama Kak Jenar. Kalau ada wanita lain lagi, aku susah buat dekat lagi."
"Al, Mama boleh masuk?"
__ADS_1
"Masuklah!"
Alister menyimpan semua dokumen kerjanya ketika melihat ibunya berjalan mendekatinya. Tidak biasanya ibunya datang menemuinya langsung di ruangan itu kecuali ada hal penting, jadi jika ibunya datang, Alister akan menyingkirkan semua pekerjaannya dan hanya fokus pada ibunya.