Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Datang Meminta Maaf


__ADS_3

Malam hari setelah makan malam, Lovely naik ke kamarnya untuk menemani Hebat tidur. Namun, ia terganggu dengan suara dering ponselnya hingga Lovely terpaksa mendiamkan nada dering ponselnya. Terlebih ia tahu bahwa orang itu adalah Alister dan ia masih kesal pada Alister hingga tak mau mengangkat panggilan dari Alister.


Sementara orang yang menghubungi Lovely, berada di depan rumah. Alister sedang duduk di dalam mobilnya.


"Brengsek!" Seketika Alister memukul stir mobilnya karena kesal panggilannya tidak diangkat oleh Lovely. Meski kesal, Alister tetap berusaha menghubungi Lovely. Lovely masih tidak mengangkat panggilannya hingga Alister terpaksa mengirim pesan pada Lovely untuk turun ke bawah. Seperti biasa, ia mengancam wanita itu agar mau menemuinya.


Di kamar Lovely, Lovely membuka pesan dari Alister karena merasa sangat terganggu dengan bunyi pesan yang tidak berhenti. Lovely menghela nafas kasar setelah membaca isi pesan Alister tapi mau tidak mau ia harus turun untuk menemui pria itu, karena jujur, Lovely takut dengan ancaman Alister.


Lovely kini berada di depan rumahnya. Raut wajahnya tampak kesal melihat mobil Alister terparkir di depan rumahnya. Padahal biasanya, Alister memarkir jauh dari rumah. Tanpa menyapa Alister yang tersenyum di dalam mobil, Lovely masuk dan buru-buru menutup jendela kaca mobilnya. "Jauhkan mobilmu dari sini!"


"Oke. Sesuai keinginanmu!"


Alister melajukan mobilnya ke sebuah taman yang berada dekat dari perumahan itu. Di sana sepi jadi mereka bisa bebas bicara.


"Jadi katakan! Apa yang membawamu datang ke rumah?" tanya Lovely.


"Tentu saja untuk minta maaf atas perbuatanku tadi siang. Tadi siang, aku terlalu cemburu sampai memaksamu."


Deg!


Lovely terdiam. Mendengar ucapan rasa bersalah Alister padanya, membuatnya tersentuh karena selama ini ia selalu mengira bahwa Alister egois dan tidak akan minta maaf setiap tindakan yang dilakukannya.


"Sebagai bentuk penyesalanku, aku membelikanmu bunga mawar!" Alister pun mengambil bunga yang ia letakkan di belakang.


"Aku memang membeli bunga ini tapi aku sendiri yang merangkainya,"ucap Alister sembari menyodorkan bunga itu pada Lovely.


Bunganya seperti bunga biasa lainnya. Tidak ada yang spesial tapi ketika Lovely menerima bunga ditangan Alister, ia tampak senang. Apalagi mendengar bahwa Alister yang merangkainya sendiri. Meski terlihat berantakan tapi Lovely malah senang menerimanya. Namun Lovely menyembunyikan perasaannya itu karena tidak ingin menunjukkan di depan Alister bahwa ia wanita yang mudah dibujuk.


"Terima kasih!"

__ADS_1


Alister tersenyum mendengar ucapan terima kasih dari Lovely. Dan ia merasa lega melihat Lovely tidak membuang bunganya. Walau tampak dari wajah Lovely yang masih cemberut tapi seenggaknya Lovely menerima bunganya.


"Kalau aku bertemu dengan Levon, aku akan minta maaf sendiri karena memukulnya tapi sebenarnya dia juga salah karena tiba-tiba datang memukul wajahku. Jadi harusnya kamu nggak marah padaku gara-gara memukul Levon." Meski ada niat untuk minta maaf pada Levon tapi Alister adalah orang yang gengsian, tidak pernah meminta maaf duluan pada orang.


Lovely malah kesal mendengarnya. 'Sia-sia aku terima maafnya tadi. Ternyata dia tetap egois.'


"Oke. Aku nggak marah lagi. Sekarang boleh kita balik ke rumah!?" Lovely sebenarnya masih marah pada Alister tapi ia ingin secepatnya kembali agar ia tidak ketahuan sedang keluar rumah hingga ia terpaksa memaafkan Alister.


Alister senang mendengarnya hingga pria itu tiba-tiba mengecup pipi Lovely. Lovely terkejut. Ia memegang pipinya sembari menoleh melihat Alister dengan matanya yang terbuka lebar. Lovely kesal dengan pria itu tapi ia berusaha menahannya dengan menghela nafas pelan karena tidak ingin mempersulit dirinya sendiri. Ia membiarkannya begitu saja. Sementara Alister melajukan mobilnya meninggalkan taman itu.


"Cinta, besok siang aku jemput ya. Kita jalan-jalan lagi. Kamu boleh kok bawa Hebat kalau kamu senang bawa anakmu. Nggak masalah yang penting kita jalan bareng." Sebenarnya Alister senang jika ada Hebat. Semangatnya menjadi dua kali lipat ditambah Lovely yang mulai luluh padanya. Jadi ia sudah tak mempermasalahkan lagi mengenai Hebat yang ikut bersamanya.


"Lihat besok. Kalau aku nggak sibuk, ya kita pergi tapi kalau sibuk, mohon maaf!"


"Tapi aku bisa menebak kalau besok kamu tidak sibuk dan kita pasti jalan-jalan bareng!" ucap Alister yang senang menggoda Lovely.


"Oke. aku pulang ya. Selamat malam!" Alister kembali menyalakan mobilnya, sedangkan Lovely masuk ke dalam. Saat masuk rumah, Lovely bernafas lega karena tidak menemukan siapapun. Ia masih trauma ketika Jenar memergokinya di depan pintu. Jika Jenar, mungkin ia bisa mengelabuinya tapi jika Tuan Arman atau Levon, akan sulit membohongi kedua lelaki itu.


Dengan santai, Lovely berjalan menaiki tangga tetapi ia dikejutkan dengan Levon yang tiba-tiba berdiri di tangga atas. "Kak!"


Levon yang berdiri melipat kedua tangannya di dadanya, menatap heran dengan kening sedikit mengerut pada Lovely yang berdiri di depannya. "Aku cari kamu di kamar, kamu tidak ada. Kamu ke mana?"


Levon sulit dibohongi hingga Lovely harus tetap tenang menjawab kakaknya. "Aku di bawah Kak. Lagi makan kue. Lapar banget soalnya."


"Oooow, kirain kamu ke mana?"


"Ada apa Kak?" tanya Lovely penasaran.


"Besok pagi kakak masuk kantor. Mulai kerja di kantornya papa. Kakak mau minta kamu buat jadi sekertaris kakak," jelas Levon.

__ADS_1


"Aku udah jadi bawahannya Bibi Kecil."


"Oh gitu." Levon tampak kecewa.


"Gimana kalau aku cari asisten aja untuk kakak? Kalau sekertaris, kakak bisa pilih nanti di kantor. Ada dua sekertaris yang bisa kakak pekerjakan," ucap Lovely.


"Oke deh terserah kamu."


*********


Esok pagi, Lovely berangkat ke kantor bersama Levon karena ingin memperlihatkan lingkungan kerja yang belum familiar bagi Levon.


"Ini ruangan kakak?" tanya Lovely yang baru saja masuk ke ruang kerja manajer.


"Iya."


"Bukannya ayah mau kakak gantikan posisinya? Jadi harusnya, kakak ada di ruang kerja ayah."


"Semalam, ayah bilang kalau untuk sementara di sini dulu. Nanti kalau pekerjaan kakak makin bagus, ayah bakal pindahin kakak ke ruangannya."


Tuan Arman sebenarnya sudah lelah dan ingin istirahat saja di rumah hingga ia berniat menyerahkan perusahaan itu ke tangan Levon tapi Jenar tidak setuju dan meminta Tuan Arman menempatkan Levon ke bawah dulu untuk melatih kemampuannya. Hal itu ditanggapi positif oleh Tuan Arman tapi berbeda dengan Jenar yang tidak ingin Levon mengambil posisi ayahnya.


"Bagus sih tapi kakak kan, udah punya pengalaman kerja di bagian ini. Menurutku, kakak harusnya sudah duduk di kursi ayah."


Levon langsung menyentuh ujung hidung Lovely dengan jari telunjuknya. "Kamu nih, selalu saja protes dengan keputusan ayah. Dulu juga, waktu ayah kirim kakak belajar di luar, kamu protes."


Di saat yang sama, seseorang mengetuk pintu dan Levon segera membukanya.


"Bunga dari siapa?"

__ADS_1


__ADS_2